Beranda > cerpen > Rahasia Halaman Belakang

Rahasia Halaman Belakang


balaibahasabandung.web.id

Author: Suhadi

 

Pardi tidak suka melakukan pekerjaan merawat tanaman di halaman belakang. Memangkas rumput dan ranting-ranting bugenvil yang berduri tajam. Atau memotong daun-daun kering aneka helikonia dan tangkai-tangkai bunga tuanya yang telah lepas mekar. Selain tanaman-tanaman itu, Pardi lebih tidak suka saat harus membuang beberapa tunas muda pada bagian pangkal pohon-pohon pinang merah di sudut kanan halaman itu. Heran, tunas-tunas muda itu begitu cepat bermunculan membentuk rebung belakangan ini. Dan Mbak Ivonne langsung marah-marah bila taman belakang itu tak digarapnya. Huh…padahal siapa sih Mbak Ivonne. Dia kan cuma pacarnya Pak Amin, suami majikan Pardi yang juga pemilik rumah besar ini. Sejak Bu Terry  tak ada lagi, Mbak Ivonne makin menjadi-jadi kelakuannya. Sok bertingkah seolah-olah dialah yang punya rumah.

 

Tebal, tinggi dan dinginnya tembok beton yang membatasi halaman belakang rumah besar ini dengan halaman belakang tetangga juga sangat tidak dia suka. Selalu mengingatkan pada sebuah rutan dan sel tahanan yang pernah dihuninya lebih dari lima belas tahun. Ya, Pardi pernah dipenjara karena sebuah kasus pembunuhan berencana.

 

Karena itu cepat-cepat ia mengerjakannya. Setelah selesai, segera ia menutup pintu belakang. Kemudian menyalakan lampu taman. Hari sudah mulai gelap ketika ia mencuci tangan dengan sabun di sebuah wastafel di depan jendela dapur. Lewat kaca jendela dapur itu, Pardi dapat mengarahkan pandangannya ke seluruh bagian halaman belakang. Ia memastikan lampu taman telah menyala. Hari memang cepat sekali gelap, apalagi mendung hitam yang sedari tadi bergelayut semakin menebal. Hujan lagi, hujan lagi. Pardi benci hujan.

 

Akhir-akhir ini halaman belakang yang sebenarnya asri itu seringkali memunculkan bayangan-bayangan kengerian di matanya. Seorang lelaki berbadan tegap dengan sebuah sekop di tangan kiri sedang menyeret sebuah buntalan besar berbungkus kantong plastik sampah hitam dengan tangan kanannya. Di bawah cucuran hujan yang deras dan sesekali gelegar guntur serta benderang kilat menerangi wajah dan badannya yang basah oleh hujan, laki-laki itu mulai menggali tanah dengan cepat. Ia menggali tepat di bawah pohon-pohon pinang merah itu. Begitu dekatnya dengan pohon-pohon pinang merah, hingga beberapa tunas muda yang mencuat dari permukaan tanah berumput itu ikut terpotong dan tercerabut. Laki-laki itu terus menggali. Keringatnya menyatu dengan butir-butir hujan, hingga tak dapat terbedakan.

 

Akhirnya, selesai juga sebuah lubang yang cukup besar dan dalam untuk mengubur buntalan di kantong plastik sampah. Buntalan hitam besar yang kadang-kadang bergerak-gerak meronta. Di akhir pekerjaannya menggali lubang besar, sekilas si laki-laki tegap basah kuyup itu melihat juga bahwa buntalan bergerak meronta. Maka “Buk!!! Buk!!! Buk!!!!” Tiga kali ayunan keras sekop ke salah satu ujung buntalan telah dengan efektif menghentikan rontaan dari dalam buntalan plastik. Cairan merah—darah merembes di sela-sela sobekan plastik kantong sampah akibat pukulan sekop. Namun dengan segera memudar. Bercampur—mengencer, menjadi satu dengan derasnya air hujan yang turun dari langit kelam malam. Meresap di antara hijaunya daun-daun rumput taman. Tanpa meninggalkan sisa noda yang berarti. Lalu tangan kokoh berlepotan tanah melumpur—basah karena hujan itu segera menarik buntalan kantong hitam. Memasukkannya ke lubang. Dan mulai menimbun untuk kembali menutup lubang besar dengan menggunakan sekopnya. Sesekali benderang kilat menerangi wajah dan tubuh tegap—basah itu, diikuti dengan guntur yang sambung-sinambung.

 

Pardi tersentak dan dengan cepat menutup gordin jendela. Tak ingin ia meneruskan melihat kejadian di halaman belakang itu lagi. Hatinya mulai berdebar—gentar. Di rumah yang besar bagai istana ini ia lebih sering sendiri. Majikannya yang sekarang, Pak Amin dan Mbak Ivonne lebih sering berada di luar rumah. Jarang pulang. Mereka lebih suka tinggal di Jakarta daripada di Bandung ini. Paling-paling cuma sekali seminggu mereka ke sini. Itupun cuma sebentar. Mencari-cari sesuatu di kamar tidur utama. Barangkali sisa-sisa perhiasan Bu Terry atau surat-surat berharga lainnya. Lalu pergi lagi.

 

Pardi menyeduh secangkir kopi. Lalu duduk di kursi setelah mengambil beberapa potong biskuit dan meletakkannya dalam piring di meja makan. Biasanya secangkir kopi manis yang panas cukup ampuh untuk menenangkan pikiranya. Pikiran yang kusut berpintal-pintal jadi satu. Begitu banyak masalah dalam hidup. Heh.., kata orang hidup adalah pilihan. Lalu dengan berpandangan begitu, perjalanan hidup dapat menjadi lebih enteng dan menyenangkan. Tapi kenapa hidupnya seringkali dihadapkan pada pilihan-pilihan yang sulit. Tak ada pilihan hidup yang dengan enteng dapat diambilnya. Apalagi pilihan hidup yang menyenangkan. Jauh. Jauh sekali.

 

Teringat Pardi akan istrinya di kampung yang tinggal dengan mertuanya. Sawah kebun mereka habis terjual karena hobi judi ayah mertua. Hobi yang menyenangkan katanya. Tapi jelas-jelas mendorong keluarga ke dalam jurang kemelaratan. Bagaimana tidak menyenangkan, terbukti dari tak henti-hentinya permainan dilakukan. Ayah mertuanya tertawa-tawa saja kalau pulang. Kalah atau menang tak beda kesan, mabuk dan pulang malam. Sabung ayam, lempar dadu, sampai kupon putih togel tak pernah dilewatkan. Ayah mertua Pardi pernah bilang kalau ia sudah kecanduan. Apalagi katanya kalau menang. Bisa dapat uang banyak tanpa capek-capek bekerja. Cuma sayang, kalaupun sesekali menang, uang bukan untuk bayar utang. Huh, namanya juga uang panas. Cepat habis menguap tanpa sisa dan alasan jelas. Kemiskinan mereka harus ditambah lagi cekikan tak berputusan dari rentenir—karena istrinya terpaksa berutang untuk makan.

 

Sering Pardi merenung. Apakah semua ini terjadi karena ia memang salah menentukan pilihan dalam langkah-langkah awal kehidupannya. Atau ini adalah kutukan yang harus ditanggung karena dirinya terlahir sebagai anak haram yang tak berketentuan ayah. Seorang anak haram dari rahim seorang perempuan lacur. Di akhir perenungannya Pardi sering tertawa sendiri. Tawa berbungkus kegetiran.

 

Tiba-tiba dari lantai atas, di kamar tidur utama terdengar suara majikannya.

“Di…..! Pardi!”

“Iya.. sebentar Bu.” Pardi meletakkan cangkir kopi di tanggannya. Lalu bangkit tergesa menaiki anak tangga dan menuju kamar tidur utama. Majikannya memanggil. Pasti ada-ada saja yang diminta. Sesuatu yang seringkali membuat pertentangan-pertentangan tak berkesudahan di hati Pardi.

Sesampainya di depan pintu.

“Ada apa Bu?”

“Masuk Di.”

“Ya Bu.”

Pardi mendorong pegangan pintu hingga pandangannya dapat leluasa mengitari seluruh ruangan. Di lihatnya perempuan setengah baya itu sedang duduk di depan meja rias.Membelakanginya. Balutan baju tidur longgar tak membuat lekuk indah tubuh perempuan itu tersamar. Rupanya ia sedang menyisir rambut hitamnya. Lampu kamar bernuansa jingga membuat jenjang lehernya semakin menggoda. Kulitnya halus dan lembut bagai mentega.

 

“Ada apa Bu?”

“Tolong pijitin bahu saya Di!”

Dengan ragu-ragu Pardi melangkah maju. Jantungnya berdebur kencang bagai ombak laut di pesisir Pelabuhan Ratu. Tangannya gemetar meraih pundak sang majikan. Pardi mulai memijit-mijit perlahan. Segala rasa berkecamuk di dada Pardi.

“Pak Amin kapan pulang dari Jakarta, Di?”

“Saya ndak tau Bu.”

“Biasanya kamu tau.”

“Iya Bu, tapi Pak Amin tidak bilang apa-apa. Ibu sendiri tidak tau?”

“Mana pernah lagi dia bicara dengan saya. Sejak ada pelacur bernama Ivonne itu, aku seperti bukan siapa-siapa lagi bagi Pak Amin.”

“Yang sabar saja ya Bu.” Pardi sekedar menenangkan majikannya. Sekedar basa-basi barangkali. Tapi, ia tak tahu kenapa. Kadang-kadang muncul juga rasa kasihan terhadap perempuan ini. Mungkin karena majikan Pardi yang sesungguhnya adalah Bu Terry. Bukan Pak Amin atau Mbak Ivonne. Mungkin karena ia tak tega melihat harta benda perempuan cantik ini dikuras oleh suaminya sendiri. Mungkin ia tak tega melihat Bu Terry selalu dikhianati, di depan mata Bu Terry sendiri.

 

Pardi terus memijit. Tapi tangannya kini mulai berani. Memang itu yang sesungguhnya diminta majikannya. Entah sudah berapa kali adegan macam ini terulang dan berujung di tempat tidur. Awal-awalnya Pardi selalu berusaha menolak. Tapi ancaman akan diberhentikan kerja membuat Pardi tak berdaya. Ratna, anak perempuan satu-satunya kini membutuhkan banyak biaya untuk tahun terakhir kuliahnya di Fakultas Kedokteran. Tak akan Pardi hancurkan cita-cita dan kesempatan hidup layak—terhormat bagi putri yang amat dicintainya itu. Pun, Pardi tentu pada akhirnya takkan kuasa membendung pesona birahi seorang perempuan secantik majikannya ini. Pada akhirnya ia berdamai juga dengan hatinya. Biarlah ia melakoni hidup tak bermartabat seperti ini. Biarlah apa yang dilakukannya kini, sering membuatnya merasa semakin hina. Toh dari dulu ia bukan orang baik-baik. Bahkan asal-muasal benih kehidupannyapun adalah najis yang datangnya entah darimana. Pernah pula lima belas tahun lebih terpenjara sebab membunuh berencana. Hanya karena masalah sepotong celana jins di masa remajanya. Seorang laki-laki yang terlahir dari seorang pelacur kaki lima. Mudah-mudahan putrinya bisa memutus rantai kehidupan yang papa.

 

“Hmmm……Pardi…”

“Ya Bu…..?” Pardi terus memijit lembut. Tangannya makin nakal. Ia menoleh ke cermin meja rias di depan perempuan itu. Biasanya akan ada isyarat dari majikannya jika acara ini ingin dilanjutkan ke tahap berikutnya.

 

Tapi alangkah kagetnya Pardi. Jantungnya seakan berhenti berdetak.

Wajahnya!

Sungguh mengerikan!

Perempuan itu menyeringai. Kulitnya yang tadi mulus dan lembut seperti mentega telah berubah menjadi kulit basah menghitam legam—mati. Tangan Pardi pun kini terasa lengket oleh cairan berlendir berbau busuk yang keluar dari pundak perempuan yang pijitnya itu. Lendir lengket ternyata tak cuma ada di pundak, tapi juga di kepala, tangan, dan sekujur tubuh perempuan yang tadi adalah sosok majikannya. Pardi tersadar. Bukankah seharusnya tak ada siapa-siapa di kamar ini. Apalagi majikannya. Pardi meloncat mundur dan terjengkang. Jatuh terduduk di lantai. Ketakutan.

 

Perempuan itu berpaling ke arahnya dan tersenyum penuh kesenangan. Ia seolah telah beroleh kemenangan.

“Hii…hii…hi…. kau ini sungguh keterlaluan Pardi! Sungguh kau keterlaluan! Buka matamu lebar-lebar Pardi. Buka! Dan lihatlah itu Pardi!” Tangannya menunjuk ke arah pintu kamar. Pardi mengalihkan pandangannya ke sana.

“Tolong Pardi…. too..long…” seorang perempuan yang tak lain dan tak bukan adalah majikannya sedang diseret dan ditendang-tendang oleh seorang lelaki berbadan tegap. Laki-laki yang tadi dilihatnya di halaman belakang. Tangan majikannya melambai-lambai meminta pertolongan. Tatap matanya jelas memohon bantuan. Tapi Pardi hanya bisa terpaku di tempatnya berdiri.

“Tolong…..jangan sakiti saya.” Majikannya terus menghiba kemudian memeluk kaki laki-laki berbadan tegap. Memohon ampun dan kasihan.

 

Laki-laki berbadan tegap itu tak perduli. Ia terus menendang-nendang. Sesekali dada, lalu beralih ke punggung. Kepala majikannya dibenturkan ke daun pintu atau tembok kamar. Kemudian beberapa tamparan keras mendarat di pipi. Tubuh berwajah cantik itu terkapar di lantai kamar. Bercak-bercak darah sudah mulai menghias karpet impor mahal—asli Turki. Laki-laki berbadan tegap berjongkok. Menjambak rambut majikannya. Menarik dengan keras hingga wajah majikannya hampir beradu dengan wajahnya.

“Ini kan yang kau suka hei jalang!”

Majikannya nampak sangat ketakutan. Tampak betul dari gemetar tubuh dan sinar matanya. Laki-laki tegap lalu melumat-lumat kasar bibir majikannya. Mencampakkan baju tidur. Menindih dan memperkosa. Majikannya meronta-ronta hingga akhirnya lemas tak berdaya. Semua terjadi di depan mata Pardi, yang berdiri mematung tanpa kata.

 

“Kau lihat itu Pardi!…Hii…hi..hi..hi….” sosok perempuan menyeramkan itu tertawa kesenangan. Pardi semakin ketakutan. Segala kekuatannya dikerahkan. Ia bangkit dan berlari. Meloncati pergumulan di depan pintu. Pardi menuruni tangga. Ia menuju dapur. Menenangkan diri di ruang itu.

Pardi kembali duduk di kursinya. Menyeruput kopi yang telah menjadi dingin.

 

Itu khayalanmu saja Di. Katanya di dalam hati. Diseruputnya lagi kopi itu hingga kini ia benar-benar tenang. Tapi hanya sesaat.

 

“Duk! Duk! Duk! Duk!” suara sebuah benda berat jatuh menggelinding dari tangga lantai atas.

Pardi tegang dan mencoba mengendap-endap perlahan. Mengintip dari ruang dapur. Tampak laki-laki berbadan tegap setengah berlari menuruni anak tangga. Sesampainya di dekat tubuh tanpa daya itu ia mengambil sesuatu yang telah disiapkan di balik bajunya. Sebuah kantong plastik sampah hitam besar tampak di tangan laki-laki berbadan tegap.

 

“Hii..hi…hi….” suara tawa terdengar persis di belakang kuping.

Pardi kaget.

Pardi menolehkan kepalanya. Sosok perempuan menyeramkan itu ternyata persis ada di belakangnya. Dekat sekali. Hingga aroma busuk dendam memenuhi seluruh lubang hidungnya. Perempuan dengan sosok menyeramkan itu tersenyum. Lagi-lagi sebuah senyum mengejek penuh kemenangan.

“Menarik bukan? Mari kita teruskan pertunjukkannya Pardi! Hii..hi..hi….”

 

Pardi hampir tak dapat bernapas.

“Lihat Pardi…! Hi..hi..hii…hi..”

Laki-laki berbadan tegap telah memasukkan tubuh setengah telanjang ke dalam kantong sampah. Ia kemudian menyeretnya. Butiran-butiran keringat sebesar biji jagung meleleh dari kening dan dagu. Bajunya pun basah oleh keringat. Ia terus menyeret hingga masuk ke ruang dapur di mana Pardi dan sosok perempuan menyeramkan itu berada. Melewati Pardi dan membuka pintu belakang.

 

Di luar, hujan masih turun dengan lebat bagai ditumpahkan dari langit. Gelegar guntur dan benderang kilat sambung menyambung. Laki-laki tegap terus menyeret kantong plastik hitam melewati tebalnya rumput taman. Lalu berhenti tepat di bawah pohon-pohon pinang merah di sudut taman. Ia mengambil sekop yang telah disiapkan dibalik rerimbunan helikonia.

 

“Hentikan semuanya!!!” Pardi berteriak histeris.

“Hii..hi..hi..hi…” Perempuan dengan sosok menyeramkan itu tertawa senang.

Pardi meloncat dan melarikan diri dari pemandangan mengerikan itu. Tak perduli perabotan yang tunggang langgang tersenggol tangan dan terantuk kaki yang setengah mati ketakutan. Diterobosnya ruang tengah, ruang tamu, halaman depan dan pintu gerbang. Di bawah curah hujan dan hitam malam. Lari tak berketentuan.

 

***

 

Pardi terus berlari tanpa henti. Entah sudah berapa lama. Badannya telah letih dan basah kuyup oleh hujan. Sebuah pos penjagaan polisi tampak di perempatan. Dengan napas tersengal tak beraturan akhirnya ia sampai.

“Tolong saya Pak! Tolong saya! Nama saya Pardi, telah melakukan pembunuhan terhadap Nyonya Theresia Sugandi di rumahnya di Jalan Kemuning No.5, atas suruhan suaminya.”

 

Alabio, 15 Juni 2008

Cerpen ke-4 saya. Diinspirasi oleh sebuah kasus pembunuhan.

Mohon kritik dan saran Anda karena saya masih dalam tahap belajar.

  1. Juni 15, 2008 pukul 4:20 pm

    wah, sampe nahan napas.
    bagus sekali cerpennya, suspense, horor, thrilling, bikin penasaran. alur ceritanya bagus. bahasanya baku, tapi gak membosankan. salut, pak.
    bener bapak guru ipa? bukan guru sastra? coba cek lagi, pak. kali salah inget.

    ======================
    To Marshmallow
    makasih pujiannya..😀
    Saya masih belajar kok
    apa bukan kamu yang salah liat he…he……

  2. Juni 15, 2008 pukul 4:39 pm

    maok jadih cerpenis nich pak? 😛

    ==================
    to Abeeayang
    Maok! Maokh bangethh!!:mrgreen:

  3. Juni 15, 2008 pukul 6:12 pm

    bagus pak..keep on writing..tapi sebisa mungkin yang isinya bisa membuat orang menjadi lebih baik ya.. , biar berhasil dan berdaya guna tulisannya🙂

    ==================
    To Ummu Mumtazah
    Makasih Bu, untuk sarannya..
    Mudah-mudahan cerpen yang ke depan (mana? *yang lain nantinya*) bisa lebih bernilai. Ada pesan moral gitu kan Bu?

  4. Juni 15, 2008 pukul 6:30 pm

    bintang lima, deh, untuk pak suhadi.
    novelnya bagus sekali, bahasanya mengalir, alur ceritanya mengikat pembaca untuk meneruskan membaca.
    akhir ceritanya bagus sekali, kalimat pendek yang menjelaskan semuanya.
    top banget, deh, pak.

    =========================
    to Kucing Pemalu
    Haks..jadi pengen terbang nangkep tu lima bintang
    Makasih pujiannya. Jangan kebanyakan ntar saya jadi ke-ge-er-an
    Kritiknya mana?

  5. Juni 15, 2008 pukul 7:43 pm

    ini dia yang saya suka dengan cerpen karangan pak suhadi. alurnya jelas, deskripsi pelaku satu persatu sangat detail, gambaran-gambaran tempat bisa kita bayangkan dengan deskripsi tempatnya.

    =====================
    to Catra
    Makasih Cat.
    Deskripsi…?!?! Ya.. pendeskrisian tempat ya Cat. Mudah-mudahan untuk cerpen berikut deskripsi tempat bisa lebih baik dari yang sudah baik ini ya Cat.

  6. Juni 15, 2008 pukul 9:16 pm

    hahahahaha pak suhadi pak suhadi…mending bikin novel pak ayooooooooooooooooooo

    ===================
    to Imoe
    Kamu penyemangat-motivator yang hebat Moe. Sudah pernah bikin seminar tentang motivasi..belom? He..he….
    Moe..Moe…, bikin ini aja aku perlu waktu berjam-jam. Kalau bikin novel, berapa puluh taon yaks?
    Trus kalo dipublish gak ada yang beli, kamu berani borongan..?
    Anyw…Thanks a lot Pal

  7. Juni 16, 2008 pukul 2:38 am

    wah, kisah yang menarik pak, sudah sangat layak dimuat di koran. pernah kirim belum, pak. ceritanya serem, haks😆

    ================
    to Sawali Tuhutseya
    He…he… belum pernah satupun kirim tulisan ke koran Pak. Belum PeDe. Kan baru belajar. Ini baru yang keempat lo Pak

  8. Juni 16, 2008 pukul 7:37 pm

    Aku sutradarain ya filmnya.

    ===================
    to Ubadmarko

    Kita cari produsernya dulu yah…😀
    Makasih Pak

  9. Juni 16, 2008 pukul 8:53 pm

    Ihhhh jdi mrinding bacanya… Pak kalo dikirim ke stasiun tv, pasti diangkat jadi film horor deh….. Ini crita horor yg kedua yg saya baca disini

  10. Juni 16, 2008 pukul 8:58 pm

    To Rita

    Makasih Bu.
    Eit! yang juara tenis di posting Ibu itu, anak Ibu sendiri ya?

  11. Juni 16, 2008 pukul 11:35 pm

    Wah wah tinggal kasih kata pengantar … jadi deh kumpulan cerpen. Asyiiiiiiiik.

    =====================
    to Pak Ersis Warhamsyah Abbas

    Moga jadi do’a ya Pak…

  12. Juni 16, 2008 pukul 11:43 pm

    Salam
    Aduh pak saya sampai nahan nafas, tak sabar sampai di akhir ceritanya, bagus banget Pak, salah satu jenis cerita yang saya suka klo baca fiksi , trims ya

    ====================
    to Nenyok

    Maksih pujiannya. Gak nyangka Nenyok juga suka.

  13. Juni 17, 2008 pukul 2:21 pm

    jadi ingat kasus pembunuhan yg lagi ramai di Jakarta nih, pembunuhan pengusaha perempuan asal Thailand. Konon dibunuh pembantunya atas suruhan sang suami.

    Tapi kenapa ya, pihak yg salah selalu si tokoh perempuannya? Kesan yg sama jg sy bc pada kasus pembunuhan pengusaha wanita itu.

    ========================
    to Kucing Keren

    Kamu tepat Cing… Inspirasi penulisan cerpen ini berasal dari kasus pembunuhan wanita pengusaha Thailand itu.

  14. Juni 17, 2008 pukul 8:15 pm

    Aih, deskripsinya jelas. Seolah tervisual. Mesti dikirimkan di media ini. Atau, mesti dibukukan. Mantap!🙂

  15. Juni 18, 2008 pukul 9:15 am

    wah jalinan cerita yang hebat Pak, karena terdesak keadaan ekonomi kesempatan apapun diambil meski itu menjurus pada kejahatan.
    semoga mereka *juga kita* yang tersesat bisa bertobat sebelum dihantui kejahatannya sendiri:mrgreen:

  16. Okta Sihotang
    Juni 18, 2008 pukul 8:42 pm

    bintang berapa mas ??
    jangan katakan klo bintang dilangit yak..😉

  17. Juni 18, 2008 pukul 9:45 pm

    Pak, mohon ijin. Aku harus copy-paste-print tulisan ini.
    coz, semua perasaan tercurah. Pokok-e ssiiipp.

  18. suhadinet
    Juni 18, 2008 pukul 10:54 pm

    To namakuananda.. Monggo Mas

  19. Juni 19, 2008 pukul 10:43 am

    wah bagus cerpennya🙂

  20. Juni 19, 2008 pukul 1:39 pm

    mantep Pak🙂

  21. suhadinet
    Juni 19, 2008 pukul 10:02 pm

    To Achoey Sang Khilaf…
    Makasih ya..
    =================

    To Yoyo
    Makasih juga……..

  22. Juli 9, 2008 pukul 7:59 pm

    Wahhh…ampe menghentikan acara makan malam buat baca cerpen Pak Suhadi…bagusss ceritanya. Mau tanya dikit, sambung sinambung sama ya dengan sambung menyambung? saya tumben dengernya..makasi…

  23. niena
    Desember 27, 2008 pukul 12:23 pm

    huebat puol wes pkok’e….. napa ga’ dikirim keredaksi majalah az pak??? yow moga always sukses dech

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: