Beranda > bahan bacaan > Bila Guru IPA Mengajar Bahasa Indonesia—2nd Tittle

Bila Guru IPA Mengajar Bahasa Indonesia—2nd Tittle


Ini tahun kedua saya mengajar Bahasa Indonesia di Kelas VII. Kejadian tahun lalu terulang lagi di tahun ini:

 

“Anak-anak melakukan plagiat saat diberi tugas rumah membuat puisi. Menjiplak puisi orang lain lalu mengubah nama penulis aslinya dengan nama mereka.”

 

Saya mengenal dengan baik kemampuan berbahasa siswa saya. Jadi saya bisa menduga bila beberapa tulisan puisi di buku PR mereka adalah plagiat. Ada juga yang sungguh-sungguh membuat puisi sendiri, tapi ampuuunnn…. jelek sekali. Tak sesuai harapan saya. Ada juga yang lucu, di bait pertama menulis syair lagu Ungu, di bait kedua menulis syair lagu Peterpan, lalu di bait terakhir menulis syair lagu Letto. Ada-ada saja. Bikin marah dan kesal (untung bisa saya tahan waktu di kelas). Saya selalu gagal untuk kegiatan belajar-mengajar yang satu ini. Hermann…!?!?! (maksudnya heran)

 

Apakah salah jika saya meminta siswa menulis puisi untuk dikerjakan di rumah?

Apakah sebaiknya mereka saya minta menulis puisinya di sekolah saja?

Apakah ada cara yang bagus untuk mengajar siswa menulis puisi?

Apakah Anda pernah diberi PR menulis puisi?

Apakah Anda pernah melakukan plagiat juga seperti siswa saya?

Apakah Anda pernah mengetahui jika teman sebangku Anda dulu juga menjiplak puisi orang lain?

Apakah Anda tahu bagaimana mengajar menulis puisi yang baik untuk siswa smp?

Apakah Anda masih ingat bagaimana teknik guru hebat Anda waktu mengajar menulis puisi?

  1. Mei 29, 2008 pukul 12:02 am

    kebetulan saya termasuk dijadikan “tumbal” jika kekurangan guru. pernah saya mengajar fisika, matematika, kesenian, bahasa inggris, komputer, dan yg tak ketinggal bahasa Indonesia. Walaupun aslinya Kimia.
    Pengalaman bisa saling berbagi, walaupun belum tentu cocok dengan kondisi di sekolah Anda. Ketika masuk topik membuat puisi, saya bikin tema “buat puisi itu mudah”. Hampir semua hal dapat dijadikan puisi, termasuk hal-hal yang ada disekitar kita. Pertama saya meminta salah satu siswa menyebutkan benda di sekitar kelas untuk dijadikan tema puisi. Salah satu siswa menyebut lampu. langkah berikutnya saya menulis LAMPU di papan tulis. kemudian saya beri intruksi kepada seluruh siswa untuk menulis satu kalimat di bukunya masing-masing yang berkaitan dengan lampu. Kurang dari 5 menit semua siswa telah bisa membuat kalimat indah tentang lampu. Berikutnya secara bergantian siswa menuliskan hasil kaliamatnya tadi di papan tulis. Tidak dapat dielakkan papan tulis penuh dengan tulisan anak-anak tentang lampu. Ada yang mirip ada yang indah, pokoknya macam-macam. Dari kaliamat-kaliamt yang ditulis tadi, saya siswa bersama siswa memilih 20 kalimat yang bagus untuk dijadikan sebuah puisi tentang lampu, kemudian mengurutkan mana-mana yang didahulukan sesuai urutan logis.
    Siswa antusias sekali ketika saya berikan contoh membaca puisi. Tidak lupa saya berikan pujian pada siswa yang kalimatnya terpilih masuk menjadi puisi.
    pAda tugas kedua saya menyuruh siswa untuk mencoba mengulangi langkah pertama dengan memilih tema orang dekat dengan siswa. Salah satu siswa memilih IBU untuk dijadikan puisi. demikian seterusnya tugas kedua ini siswa semakin antusias. Dua tugas ini dapat selesaikurang dari 1 jam pelajaran.
    Tugas ketiga siswa saya suruh keluar ruangan untuk mencari inspirasi di tempat yang mereka suka (asal jangan di kantin) dan membuat puisi dengan waktu 25 menit.
    Sungguh diluar dugaan semua siswa dengan masing-masing telah selesai membuat puisi. Memang tidak semuanya langsung bagus. Dengan berlagak sok ngerti puisi, saya berikan tips bagaimana membuat puisi. Kemudian saya memberikan komentar pada puisi hasil karya siswa tersebut.
    Tugas keempat, setiap siswa saya suruh membuat puisi yang dikerjakan dirumah, untuk dibahas dan dibaca papda pertemuan berikutnya.
    mudahan bermanfaat.nguru tidak harus pintar membuat puisi, tapi pintar memaksimalkan siswa yang pintar dan memotivasi yangbelum pintar.

    to Pak Budi
    Wah…. Makasih Pak, strategi Bapak harus saya coba.
    Kemarin itu, saya cuma meminta siswa menyumbang kata-kata yang berhubungan dengan topik (waktu memodelkan cara membuat puisi kreatif), bukan dalam bentuk kalimat jadi.
    Mungkin untuk ukuran anak didik saya itu terlalu rumit. Langsung kalimat saja…(manggut-manggut).

  2. Mei 29, 2008 pukul 10:55 pm

    Halah … anak-anak suka bereksprimen, bisa jadi mereka belum paham apa itu jiplak-menjiplak, apalagi anak SD. Jangan dimarahi, minta lagi membuat puisi penganti puisi ‘kreasi’ tersebut. Insyah Allah akan baik, membelajarkan kreatif menulis, dan sekaligus membelajarkan kejujuran.

    Oh, ya saya mau kirim beberapa buku puisi. Alamat yang pas? Imbalannya? Saya akan bangga kalau blog saya ditautkan di blog Sampeyan ini. Itu saja.

    to Pak Ersis Warhamsyah Abbas
    (ngucek-ngecek mata)….what!!!!…..(gak percaya)
    (ngucek-ngucek lagi)….mimpi ‘ngkali saya ini….(ngucek-ngecek lagi dan lagi, nyubit pipi kiri-nyubit pipi kanan)….tarik napas…..
    baca pelan-pelan….Di! ………EMANG BENER!
    Makasih Pak.. Rencananya saya dah mau izin nautkan blognya Bapak, tapi masih belum pede.. (Maklum blog saya jelek) jadi saya tunda-tunda terus. Ee…syapa nyana…hari ini ditawarin, mo di kasih buku lagi….
    Wow…. seandainya saya burung kutilang, pasti saya dah terbang-tersanjung.
    Langsung Pak, saya tautkan.!
    Alamat saya kirim lewat e-mail ya Pak
    T’Makasih banyak.

  3. Mei 31, 2008 pukul 9:26 am

    Aq juga mo bwat puisi ah……………

    Ternyata

    Ku ambil secarik kertas
    Sebuah pena pun menemaniku
    Berusaha menggoreskan tinta
    Tapi tak bisaku ungkapkan
    Kupandangi sebuah jam
    Jarum jam pun terus berputar tanpa henti
    3 detik…
    2 detik…
    1 detik…
    Ternyata, aku tak bisa membuat puisi

    Bagus ndak yah?

    to t4rum4
    Bagus!
    Ditulisnya spontan lagi…😆

  4. Juni 20, 2008 pukul 5:48 pm

    wah, hebat sekali guru-guru ini. salut sama pak budi, pak ersis dan pak suhadi.
    jadi ingat dulu guru SD saya bilang puisi itu ada rimanya (rhyme kali ya maksudnya?). sejak itu saya terbiasa menggabungkan kalimat-kalimat dengan rima. eh, malah jadi pantun. 😆
    hikmahnya, sampai sekarang saya sering didaulat untuk bawa acara pertemuan para kolega karena apa-apa bisa saya jadikan pantun.

  5. Juli 19, 2008 pukul 3:35 am

    Mungkin salah satu proses kreatifnya dari situ pak..mencoba menjabarkan “isi kepala” nya melalui hasil karya yang pernah ada..comot sana comot sini..ehehe..blog bagus seperti ini pernah terpikir jika di hostingkan dan mengunakan domain sendiri pak? mungkin sebagai referensi bapak bisa mencoba layanan dari idbloghosting.com

  6. sutikno
    September 8, 2008 pukul 12:16 pm

    ngomong-ngomong soal mengajarkan puisi di smp..saya juga lg bingoeng nich..kebetulan saya juga mengajar b. indonesia di smp..soalnya puisi itu sebuah karya atau produk yang dalam membuatnya perlu langkah-langkah kreatif..oleh sebab itu saya coba dengan cara berpikir kreatif untuk mengajarkannya..anak-anak saya ajak untuk melakukan KOLASE atau mencari kata-kata sumber inspirasi untuk ditulis dalam puisi dari surat kabar atau majalah…di sana kan banyak kata-kata tuh…dikumpulin aja lalu bisa tuk referensi…setelah itu, dicoba mulai langkah kreatif yaitu: 1) inspirasi atau memunculkan gagasan sebanyak-banyaknya…2) klarifikasi atau menentukan pokok yang menjadi fokus yang akan ditulis…3) evaluasi atau memeriksa kembali fokus yang akan ditulis…4) distilasi atau memilih salah satu fokus yang paling baik…5) inkubasi atau merenung beberapa waktu secara bawah sadar (menerawang jauh) untuk memunculkan ide terbaik…dan 6) perspirasi atau menulis dengan semangat atau sungguh-sungguh…nah…setelah berjalan kegiatan menulis, bimbing anak tu jangan sampe keluyuran pikirannya…he3x…untuk mengawali menulis, buatlah 1 bait yang terdiri dari 5 baris saja…jangan panjang-panjang..selamat bereksperimen pada semua rekan-rekan yang sama dengan saya bingungnya…OK!

  7. i@R
    Agustus 16, 2009 pukul 4:49 pm

    ….ketidakpastian heisenberg membuatku berparadoks kucing schrodinger. lagi, paradoks anak kembar membuat dunia ini menjadi semakin relatif. Rasanya, aku perlu sebuah loncatan kuantum untuk segera pindah ke kulit yang lebih baik. meski dunia telah menjelma chaos, tak mengapa. karena kita telah menjadi supernova terindah dalam kehidupan ini…

    hehehe “begitulah kalo eksakta menjelma bahasa”

  1. Juli 7, 2008 pukul 2:24 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: