Beranda > Uncategorized > Rawaku yang Terlantar

Rawaku yang Terlantar


Tadi siang saya melayat ke rumah famili yang meninggal dunia di Desa Telaga Mas. Saat menyusuri titian panjang dari papan kayu ulin selebar lebih kurang 150 cm yang terentang dari Desa Bitin ke Desa Telaga Mas di Kecamatan Danau Panggang sepanjang kira-kira 3 kilometer tadi siang terpikir oleh saya betapa luasnya kawasan rawa di daerah saya. Setelah saya buka-buka di sini, betapa bertambah kagumnya saya. Dari keseluruhan luas wilayah Kabupaten Hulu Sungai Utara sebesar 892,7 km2, ternyata 570 km2 (63,85%) adalah rawa dan diakui oleh situs resmi Pemda Kab. HSU ini bahwa lahan rawa ini belum digarap secara optimal. Lebih rinci penggunaan lahan di Kab. HSU adalah sebagai berikut: (1) kampung/pemukiman penduduk 4.283 ha; (2) sawah 23.853 ha; (3) kebun campuran 1.859 ha; (4) hutan rawa 29.711 ha; (5) rumput rawa 22.768 ha; dan (6) penggunaan lainnya yang  tidak dirinci seluas 1.224 ha. (Hi..hi..hi…., satuan luas yang dipakai beda, untuk konversi dari ha ke km2 bisa lihat di sini. Hitung sendiri ya, bener gak data orang pemda itu?)

 

Saya ingin menggarisbawahi kata-kata belum digarap secara optimal di atas. Menurut saya itu pengakuan yang sungguh memalukan. Heh, selama ini pemda HSU terlena dengan pendapatan daerah dari sektor pertambangan batubara—walaupun manfaat penambangan batubara untuk masyarakat HSU sendiri tak begitu dirasa. Batubara lebih banyak diekspor ke negara pemilik modal besar dan menyisakan kerusakan lingkungan bagi kami. (Ingat-ingat dong! Bangsa kita sedang krisis energi!) Setelah daerah penghasil emas hitam itu memisahkan diri dari Kab HSU dan membentuk kabupaten baru—Kabupaten Balangan baru Pemda HSU gigit jari.

 

Sebenarnya, kalau orang meminta pendapat saya (sayang gak ada yang minta), apakah pemda sudah menggarap lahan rawa yang luasnya 63,85% itu? Saya berani katakan BELUM. Seumur hidup saya, dari dulu keadaan rawa-rawa yang luas itu begitu-begitu saja, malah cenderung menjadi rusak oleh penebangan pohon khas rawa macam galam dan belangiran. Rawa itu sama sekali tidak digarap oleh pemerintah daerah, belum diberdayakan. Padahal potensi perikanan darat yang milikinya sangatlah besar. Dalam perjalanan saya menyusuri titian panjang dari kayu ulin yang menghubungkan desa-desa di tengah rawa macam Telaga Mas, Sarang Burung, Kalumpang, kondisinya sangat memprihatinkan. Akses jalan yang hanya bisa dilewati oleh motor ini sudah sangat rusak. Papan-papan ulin banyak yang patah. Sampai-sampai sepanjang perjalanan saya takut ban motor saya bocor kena paku yang mencuat dari papan-papan ulin itu, atau takut ban motor saya masuk ke lubang patahan-patahan papan yang panjangnya bisa mencapai 40 cm atau mungkin 50 cm. Wah, kalau terperosok ke lubang itu….. Gemetaran saya jadinya. Titian dari kayu ulin ini setiap hari digunakan oleh banyak penduduk, ada anak-anak yang pergi sekolah ke Danau Panggang, ada nelayan yang harus menjual ikan hasil tangkapan mereka, dan keperluan lainnya.

 

Sayang sekali, potensi perikanan di daerah rawa tidak dikelola sama sekali oleh pemda. Padahal entah berapa ton setiap harinya ikan-ikan perairan darat macam biawan (Melastoma temincki), sepat siam, papuyu (Anabas testudius), gabus, nila, belut, berasal dari daerah ini dan dijual ke daerah-daerah lain hingga mencapai Banjarmasin. Nelayan menangkap ikan-ikan yang hidup bebas di rawa. Ada juga sedikit keramba tauman dan patin, tapi tidak banyak. Sepengetahuan saya mereka tidak pernah dibina. Kemelimpahan ikan liar di perairan yang sangat luas ini, tentu akan habis juga pada akhirnya. Sekarang kita bisa menemukan masyarakat yang menggunakan setrum untuk menangkap ikan. Kalau ditanya, kenapa mereka menggunakan setrum? Maka kita akan memperoleh jawaban bahwa ikan sekarang tidah sebanyak dulu lagi. Dan ini sudah berlangsung sejak sekitar lima sampai sepuluh tahun yang lalu. Sesekali tindakan represif dilakukan aparat kepolisian. Nelayan yang menangkap ikan dengan setrum ditangkap, dipenjarakan, barang-barang bukti seperti perahu dan alat setrum disita. Tidak ada efek jera bagi masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup yang semakin mencekik seperti saat ini.

 

Menurut saya tindakan aparat kepolisian sedemikian bukan pembinaan. Alangkah baiknya, jika pemda menunjukkan secara persuasif akibat setrum bagi jumlah populasi ikan di peraian rawa. Beri bukti, bahwa itu mengancam mata pencaharian mereka sendiri. Saat ini yang nelayan tahu, menggunakan setrum itu melanggar hukum. Itu saja. Mereka tidak diberi kesadaran pentingnya menjaga kelestarian ikan-ikan tersebut. Ada anggapan di masyarakat bahwa ikan tidak mati kalau disetrum, mereka cuma lemas untuk beberapa saat. Itupun hanya berlaku bagi ikan-ikan besar. Tidak bagi ikan-ikan kecil. Saya pikir pihak terkait macam Dinas Perikanan perlu turun tangan dalam hal ini. Lakukan penelitian sungguh-sungguh tentang efek setrum bagi populasi ikan di rawa. Ini sangat urgen! Beri bukti jika memang setrum membahayakan kelestarian kehidupan ikan-ikan tersebut.

 

Pembinaan dalam kaitan teknologi pasca produksi juga perlu diberikan—misal menjaga ikan tetap hidup sampai ke tangan pembeli, pengawetan ikan agar hasilnya bermutu, manajemen penjualan, menggerakkan koperasi (jangan panas-panas tahi ayam!), penyediaan fasilitas macam tempat pelelangan ikan juga tidak ada. Harga ikan dari nelayan berada dalam posisi tawar yang sangat lemah. Akibatnya, dengan murahnya harga ikan tentu berujung pada rendahnya tingkat kesejahteraan mereka. Dalam perjalanan saya ke sekolah tempat saya bekerja, di Pasar Selasa, ikan-ikan dibeli oleh tengkulak dengan harga murah, jauh beda dengan harga ikan di Amuntai (hanya sekitar 10 km dari Pasar Selasa). Jika di Danau Panggang kita bisa membeli sekilo nila ukuran sekitar 300 gr s.d. 500 gr dengan harga Rp. 8.000,-/kg, maka di Amuntai kita harus membeli dengan harga Rp. 14.000,- s.d. p. 16.000,-/kg. Selisih yang sangat besar! Sepertinya keuntungan jauh lebih banyak dikantongi para tengkulak. Nelayan cuma dapat capeknya saja!

 

Saya juga tidak melihat adanya pembinaan bagi petani-petani keramba. Saya melihat dengan jelas keramba-keramba dipelihara seadanya. Diberi pakan sebisanya. Kalau terserang penyakit, ya ikannya pada mati, tidak tahu harus diberi pengobatan apa. Mereka tidak pernah diberikan pembinaan intensif. Mereka bejuang sendiri melawan kemiskinannya.

 

Saat awal musim kemarau seperti bulan-bulan menjelang, kita juga akan melihat pinggiran-pinggiran rawa yang lebih surut akan ditanami padi (sekali setahun). Dari dulu teknologi bertani mereka begitu-begitu saja. Tak ada kemajuan. Kalau memupuk, pupuk sekehendaknya. Kalau menyemprot hama, semprot sekehendaknya. Ampun.

 

Lahan rawa yang sangat luas ini, seperti disebutkan di atas juga terdiri dari rawa rumput yang cocok untuk peterakan kerbau rawa/kerbau kalang (Buballus bubalis)). Setahu saya, tidak pernah peternak-peternak ini dibina. Mereka beternak kerbau rawa berdasarkan ilmu turun-temurun sejak tetua mereka mulai menghuni rawa-rawa ini. Pada musim-musim tertentu (biasanya saat rawa meluap di musim hujan), kerbau-kerbau ini banyak yang sakit mendadak. Berputar-putar, lalu mati. Saya tidak tahu penyakit apa persisnya, juga para peternak itu. Mungkin berkaitan dengan serangan suatu bakteri atau virus pada susunan saraf pusat kerbau. Kalau diingat-ingat, mirip ciri-ciri penyakit antrak ya? Ironisnya, pemda HSU dengan bangga menjadikan hewan besar hitam ini menjadi maskot Kabupaten Hulu Sungai Utara untuk bergandengan dengan itik Alabio yang lebih beruntung karena mendapat banyak perhatian Dinas Peternakan.

 

Kapankah pemda HSU memberdayakan (bukan memperdaya) sumber daya alam yang diberikan Allah bagi masyarakat ini?

  1. Mei 27, 2008 pukul 11:00 pm

    Ironis sekali,pak.

  2. Mei 28, 2008 pukul 11:17 am

    harusnyah bisak di berdayakan dengan baik, ya pak?

    to Langit Jiwa
    Tul..ironis

    to Abeeayang
    Ya itu, berdayakan semua anugerah yang diberi Allah untuk kesejahteraan masyarakat. Jangan cuma mengeksploitasi SDA yang hanya dinikmati sebagian kecil masyarakat. Tugasnya pemerintahkan mensejahterakan..

  3. aminhers
    Mei 28, 2008 pukul 3:42 pm

    Apa tidak ada Pemerhati lingkungan sejenis LSM yang tergugah untuk membenahi lingkungan di sana pak❓

    to Aminhers
    setahu saya tak ada..

  4. Mei 29, 2008 pukul 7:47 pm

    saya ada usul pak…

    gimana kalau ibukota negara dipindahkan ke kalimantan

    seperti wacana zaman bung karno dulu

    to Catra
    Kamu ada-ada saja, jadi ingat teori konspirasi itu…(halah!)
    Apa nanti orang Minang gak marah/demo?

  5. poniran
    Mei 29, 2008 pukul 9:33 pm

    dimana nih contoh penelitian tindakan kelasnya kok aku buka tidak ada apa saya yang tidak tahu ya mohon masukan pah suhadinet. au sangat menunggu dan merindukan contoh penerlitian tindakan kelas
    terimakasih

  6. suhadinet
    Mei 29, 2008 pukul 10:05 pm

    Untuk Pak Poniran
    Contoh ptknya di sisi kanan halaman ini ada menu “tulisan yang paling sering dibaca pengunjung”, nah di bawahnya itu ada tulisan “Meningkatkan Minat Siswa SMP…dst” atau Meningkatkan Minat dan Motivasi Siswa…dst” atau ” Meningkatkan Hasil Belajar Biologi…dst”. Tinggal klik Pak. Itu contoh PTK-nya. Kalau gak cocok coba cari di http://jurnaljpi.wordpress.com atau di http://ptkguru.wordpress.com

  7. riddickqu
    Juni 24, 2008 pukul 4:51 pm

    Salut buat pian Pa.. atas perhtian pd daerah.
    Tp Pa datanya jgn spengatuhan n sepenglihatan aja., wawancara beberapa warga gitu jd data valid.
    Sy kira lambat berkembangnya teknologi pertanian, pternakan, prikanan,dll juga proaktif masy yg kurang dlm pengembangan, penddkan yg rendah shg masy kekeh dg pengalamannya dlm btani.,ternak,. Yah nggak smua juga begitu.
    Namun smua tetap kembali ke pmrnth dharapkan atas perannya, ddukung masy-nya.
    Sy jg masy. biasa dan tggl dlingk peternak neh.

    ======================
    to riddickqu

    Dari tanggapan pian, ulun jua kawa menduga kalau pian tu urang nang perduli dengan daerah kita. He..he… ya, semua memang harus saling dukung. Saya setuju. Eniwei, kalau ulun harus wawancara… wah ngalih banar tu.. mungkin malah jadi kada objektif lagi, soalnya ulun kan kada kawa mewawancarai banyak urang. Jadi kada cukup sampling. Tulisan ulun ni hanya berupa persepsi ulun terhadap perhatian pemerintah terhadap lahan rawa kita. Tapi persepsi ulun tu di dasarkan saat ulun tinggal beberapa tahun di Sapala, sampai sekarang bolak-balik Alabaio-Danau Panggang. Kadang lewat Babirik, atau Banyu Hirang. Ulun kira lewat pengamatan sudah cukup mewakili. Salam

  8. Oktober 8, 2008 pukul 11:49 am

    Salam bapak…

    Baru menemui blog ini. Ternyata ada lagi guru yang blogger di Kalsel. Terus menulis pak..

  9. Hafif
    Oktober 29, 2008 pukul 3:54 pm

    Aq pnah k krbau rawa kira2 thn 2006, mnurutku krbw rawa mrpkn potensi wisata yg menarik bgt, gak ad t4 kayak gt d daerah aslku di jawa, wah keren bgt, jmbtn dr kyu yg pnjang plus pmandangan rawa sbts mata memandang n krbau2 yg sdg berendam, it’s a nice scenery,, ayo bwt wrga hsu tngktkn potensi itu..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: