Beranda > bahan bacaan > Teori Kebutuhan Maslow, Pendidikan di Indonesia, dan Unjuk Rasa Yang Santun

Teori Kebutuhan Maslow, Pendidikan di Indonesia, dan Unjuk Rasa Yang Santun


\

Author: Suhadi

Masih ingat tentang Teori Kebutuhan Maslow?

Maslow, 1954, membagi kebutuhan manusia menjadi dua kelompok utama, yaitu kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh.

Kebutuhan dasar sebagaimana namanya berada di bawah posisi kebutuhan tumbuh. Kebutuhan dasar ini berturut-turut dari bawah ke atas adalah: (1) kebutuhan fisiologis, seperti makan, pakaian, tempat tinggal, dll; (2) kebutuhan akan rasa aman; (3) kebutuhan untuk dicintai; (4) kebutuhan untuk dihargai.

Sedangkan kebutuhan tumbuh hierarkinya berada di sebelah atas posisi kebutuhan dasar, berturut-turut dari bawah ke atas: (5) kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar); (6) kebutuhan keindahan; (7) kebutuhan aktualisasi diri.

Catat: Kebutuhan yang berada di hierarki lebih tinggi baru akan dirasakan bila kebutuhan yang ada di hierarki lebih bawah telah terpenuhi.

 

Nah, setelah mengingat kembali pelajaran saya waktu sma ini, saya jadi ketawa sendiri (adik ipar saya yang ada di kamar sebelah mungkin berpikir kalau saya sudah mulai gila). Mengapa ketawa sendiri? Saat saya menghubung-hubungkan teori Maslow ini dengan dunia pendidikan kita yang kualitasnya dicoba “ditingkatkan” dengan cara menaikkan standar kelulusan siswa pada UN 2008. Huh! Menaikkan kualitas pendidikan secara riil atau hanya semu dengan permainan angka-angka di atas kertas seperti yang selama ini pemerintah lakukan pada bidang-bidang lain?

 

Sebelum saya lanjutkan, tolong pembaca jangan berpikiran bahwa saya menulis ini karena saya takut siswa-siswa saya tidak lulus UN. Kami telah mempersiapkan mereka dengan sebaik-baiknya. Mereka telah belajar semampunya. Kami juga selalu berdo’a. Sembahyang hajat berjama’ah, mengadakan selamatan, bahkan mungkin karena putus asa, ada siswa saya yang pergi ke dukun untuk minta jampi-jampi supaya mendapat pencerahan saat menjawab soal-soal UN (wallahualam—siapa yang tau?).

 

Tulisan ini hanya sebuah bentuk “unjuk rasa yang santun” (mengutip istilah yang selalu disodorkan ke media oleh Wapres Jusuf Kalla saat ditanyai pendapatnya soal maraknya demo kenaikan harga BBM)—dari saya sebagi seorang guru yang dapat di gugu dan ditiru. Eit…tunggu dulu……..

Buat adik-adik mahasiswa, ibu-ibu rumah tangga, tukang ojek, tukang bajaj, tukang beca…..

Tukang beca?

Ya iyalah tukang beca juga harus ikut, soalnya ibunya anak-anak di rumah gak bisa masak dong di rumah kalau ndak ada minyak tanah, teruslah berdemo di jalan menentang kenaikan BBM yah! Biar para wakil rakyat lebih peka telinganya, dan pemerintah tak sanggup lagi menutup kupingnya.

 

Nah, sekarang saya lanjutkan…

Pentingnya teori kebutuhan maslow dalam pendidikan terletak pada hubungan antara kebutuhan dasar dan kebutuhan tumbuh. Jelas bahwa siswa yang kebutuhan dasarnya seperti rasa aman dan rasa dicintai tidak terpenuhi akan memiliki energi psikologis yang kecil yang dapat dikerahkan untuk belajar. Dengan kata lain siswa hampir tidak memiliki motivasi belajar. Sayangnya pemerintah tidak menyadari dengan tulus hal ini, kita seringkali melihat sekolah yang hampir ambruk atapnya, bocor kalau hujan, goyang kalau ada angin agak kencang, atau reot doyong ke kiri dan ke kanan. Pikirkan, apakah siswa akan merasa aman berada di dalam gedung sekolah yang demikian?

Catat: kebutuhan rasa aman adalah kebutuhan dasar dan hierarkinya berada di bawah kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar).

 

Saat kita menuju ruang perpustakaan sekolah masing-masing, kita bisa melihat berapa judul buku yang terdapat di katalog? Berapa eksemplar jumlahnya? Kalau kita amati lebih jauh, tahun berapa rata-rata buku itu dipublikasikan?

Kabarnya, sekolah-sekolah yang hanya beberapa blok saja dari Istana Negara, koleksi bukunya amat mengenaskan!

Menyayat hati! Tidak cuma hatinya guru pasti, hatinya siswa pasti lebih bisa merasakan itu!

Bukunya sobek-sobek, kumal, jamuran dan basi!

 

Saat kita menuju laboratorium IPA (itupun jika ada! Hitung berapa persen sekolah yang memiliki laboratorium!), lihat saja label alat dan bahan di buku inventaris, kapan terakhir barang-barang dan bahan itu dikirim? Pasti tanggalnya udah out of date! Puluhan tahun yang silam! Jangan-jangan tak ada lagi bahan praktikum di dalam lemari, hanya tersisa botol-botol kosong yang bertuliskan: Bersifat Korosif! atau Bahan Mudah Meledak! (Hah! Yang korosif itu adalah hati para guru dan siswa karena tidak bisa berpraktikum! Yang mudah meledak itu adalah mulut mereka yang marah standar kelulusan UN dinaikkan tanpa adanya peningkatan standar fasilitas laboratorium!

Gimana pula ujian listening Bahasa Inggris di SMU jika kabel-kabel laboratorium bahasa putus-putus karena sudah sedemikian tuanya?

 

Saat anak-anak macam Salomena harus bangun pagi-pagi sekali, berjalan kaki dua jam tanpa alas kaki, lalu berenang menyeberangi sungai berarus deras dengan balok kayu, basah kuyup kedinginan untuk menuju sekolah, kasih sayang bagaimana yang telah pemerintah tunjukkan kepada mereka supaya mereka lebih rajin belajar? Kira-kira apakah anak-anak macam Salomena merasa dicintai oleh pemerintah? Atau sebaliknya, merasa dianaktirikan? Bahkan mungkin merasa tidak dihargai?

Jika Salomena dan anak-anak lain yang dianaktirikan ini tidak merasa dicintai, apakah mereka bisa belajar dengan baik? Jawabannya tentu TIDAK!

Catat: Kebutuhan untuk dicintai dan dihargai adalah kebutuhan dasar dan hierarkinya berada di bawah kebutuhan untuk mengetahui dan memahami (belajar).

 

Bukankah orang-orang yang berkutat di Departemen Pendidikan Nasional itu orang-orang hebat! Profesor-profesor berseliweran di sana! Tapi, kok ya bisa lupa dengan Teori Maslow ini.

Lupa atau pura-pura lupa?

 

Jangan heran jika ada guru-guru yang berusaha membantu UN siswa-siswanya.

Catat: Itu tak lebih dari usaha guru-guru yang mencoba memberikan rasa aman bagi siswa-siswanya, yang mana rasa aman itu tidak bisa dijamin oleh pemerintah!

Itu tak lebih dari rasa kasih sayang mereka kepada siswanya yang telah dianaktirikan pemerintah!

 

Jangan heran jika siswa-siswa berkonvoi di jalan setelah menyelesaikan UN.

Catat: Itu adalah ekspresi rasa takut mereka! Rasa tidak aman mereka! Rasa bahwa mereka di anak tirikan! Itulah bentuk unjuk rasa mereka! Kalaupun itu—sekali lagi mengutip Wapres Jusuf Kalla “tidak santun”, itu adalah imbas dari kebijakan yang tidak bijak dari pemerintah sendiri.

 

Standarisasi dulu fasilitas sekolah kami!

Setelah itu silakan naikkan standar UN dengan adil!

Kami berani menantang itu!

 

Note: Gambarnya jelek, soalnya udah ngantuk berat waktu mbuatnya..

  1. Mei 15, 2008 pukul 9:59 am

    sepertinya pak suhadi sedang berunjuk rasa ya, dengan cara ia sendiri, tidak brutal seperti unjuk rasa jalanan yang rentan dengan bentrokan dan kekerasan,
    saya suka dengan tuntutan bapak di akhir tulisan :
    Standarisasi dulu fasilitas sekolah kami!
    Setelah itu silakan naikkan standar UN dengan adil!
    Kami berani menantang itu!

    Saya juga numpang unjuk rasa ya pak, “WAHAI PARA PENGAMBIL KEBIJAKSANAAN NEGERI INI, JANGAN SAMPAI ADA LAGI ORANG BERNASIB SEPERTI SALOMENA ATAU LINTANG YANG BERJUANG UNTUK MENDAPAT PENDIDIKAN, TAPI ANDALAH YANG BERJUANG UNTUK MEMBERIKAN MEREKA PENDIDIKAN.

    to Catra
    Monggo Cat, gantian berorasi Ya….
    Awas jatuh! Hati-hati naik ke atas podiumnya (di atas truk), megaphone pegang yang bener!😀

  2. Mei 15, 2008 pukul 4:52 pm

    pak.. saya nanti ngopy saja ya..
    dah lama gak nyatat.. dah terbiasa ngopy..🙂
    kalo nyatet suka ada yang terlupa pak.. jadi biar AMAN saya ngopy saja

    to Nindityo
    Kamu mahasiswa ya? Pas seperti saya dulu…
    Kalau dosen dah mo kluar kelas, buru-buru nyamperin, “Pak saya ngopy ya…”
    Saya benar-benar menunjukkan eksistensi sebagai guru yang suka nyuruh ncatat ya To?🙂

  3. SQ
    Mei 15, 2008 pukul 7:06 pm

    Yap…kebetulan saya tahu tentang modul ini🙂 pak.
    maka oleh itu pak Suhadi, (maaf) saya sudah tak tahu lagi mesti berbicara apa tentang pendidikan di negeri kita

    saya lebih suka berbagi pengetahuan, agar setiap individu menyadari kalau mereka adalah makhluk hidup yang luar biasa.

    dalam artian, mari bangkitkan aktualisasi diri yang banyak terkubur sekarang.

    to SQ
    Bener!
    Mari bangkit, aktualisasikan diri kita masing-masing…
    Di posisi manapun sekarang kita berada (mumpung momennya sekarang adalah 100 tahun kebangkitan nasional.
    Ah Pak SQ, saya jadi sedih, mampu gak ya bangsa kita bangkit kalau semua orang pada dengkul lemes kayak gini?

  4. JASMANSYAH
    November 24, 2008 pukul 10:12 am

    ASS. q-TA BUTUH GURU2 KREATIF KAYAK ABANG QTA YANG SATU INI. SALAM KENAL DARI SAYA. KUNJUNGI SAYA DI jasmansyah76.wordpress.com

  5. Februari 18, 2009 pukul 9:43 am

    hebat!!! unjuk rasa yang benar2 santun dari pak suhadi. tapi pak, kira2 apa solusi yang paling pas untuk menanggapi masalah ini?
    apa nunggu pemerintah kita sadar?(mungkin butuh waktu berpuluh2 tahun neh….)
    ato kita harus berinisiatif menanggulangi sendiri?(swadaya maksudnya…)

  6. nur hasan
    Maret 1, 2010 pukul 3:11 pm

    thaks ya pak atas infonya saya sangat setuju sekali seharusnya pemerintah lebih memuas diri tentang teori maslow ini,,,,,,,,, untuk mencapai sebuah pendidikan pemerintah harus memperhatiakn kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus diperhatikan oleh pemerintah.

  7. Februari 26, 2011 pukul 11:37 pm

    ide yg briliant….standarisasi dlu skolah kami dan tambahan satu lgi standarisasi dlu kesejahteraan guru. mengapa perlu? mari kita kaji, pangkal dari ketidakberesan sistem karna watak korup yg melekat dalm keseharian kita. mengapa korup pasti ada sebabnya yaitu karena pemerintah tidak bisa menjamin kehidupan/kebutuhan dasar kita sehingga mencari pendapatn lain dgn berbagai cara untk mnutupinya yang pada akhirnya anggaran yang seharusnya buat pendidikan hilang tanpa bekas…

  1. Mei 21, 2008 pukul 12:22 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: