Beranda > bahan bacaan > Seandainya Salomena Tidak Lulus UN

Seandainya Salomena Tidak Lulus UN


Tayangan Sosok di SCTV di hari Minggu tanggal 4 Mei lalu benar-benar membuat saya trenyuh.

Saat program acara tersebut menampilkan seorang Salomena, siswi kelas 3 SMA Negeri 1 Asologema di Wamena Papua. Dengan penerangan seadanya berupa lampu teplok, Salomena beralaskan jerami di dalam honainnya sedang belajar dan menekuri buku catatannya.

Belajar Bahasa Inggris untuk mengikuti Ujian Nasional esok harinya.

Belajar Bahasa Inggris dari buku catatan? Barangkali tak ada buku teks di sekolah itu. Saya bisa bayangkan bagaimana fasilitas seadanya yang tersedia di sekolah Salomena. Satu-satunya SMA yang ada di dataran itu.

Siapapun pasti bisa menyadari betapa sulitnya belajar kalau hanya lewat buku catatan. Berapa banyak kosakata yang bisa ditulis di buku itu?

Berapa banyak contoh-contoh kalimat yang bisa dipelajari, jika waktu belajar mereka di kelas lebih banyak dipakai untuk mencatat? Bagaimana dengan pelajaran matematikanya? Fisika-Biologinya? Atau Bahasa Indonesianya? Apakah semuanya juga harus dicatat—tanpa punya pegangan buku teks?

Masya Allah, saya yang tinggal di pelosok Kalimantan dan berprofesi sebagai guru langsung merasakan adanya suatu ketidakadilan bagi anak-anak macam Salomena. Rasanya ada pisau mengiris-iris nurani saya.

Lalu, kalau apa yang kita (baca: pemerintah) berikan kepada Salomena hanya sebegitu, salah siapa kalau seandainya Salomena tidak lulus UN nanti?

Salomena saat ini memikul beban berat di pundaknya. Sebagai putri dari seorang kepala suku yang bernama Larekma, ia bakal diserahi tanggung jawab sebagai pengganti kepala suku. Ia adalah harapan Larekma. Salomena adalah putri kebanggaan sang ayah yang saat ini masih memakai koteka.

Bila seandainya Salomena tidak lulus UN, apa itu berarti cita-citanya untuk menjadi seorang dokter harus pupus?

Dihargai apa perjuangannya selama ini?

Saat pergi-pulang ke sekolah, setiap hari ia harus melintasi sungai dengan berenang, kedinginan, basah kuyup, dan kadang kala harus kehujanan. Bagaimana kalau di tengah perjalanan gadis ini bertemu binatang buas, ular barangkali, atau buaya, atau arus deras sungai saat musim hujan?

Dihargai berapa perjalanan dari pukul 4 subuh-nya saat orang-orang masih terlelap, menaiki dan menuruni bukit tanpa alas kaki selama 2 jam?

Saya yakin banyak anak-anak Indonesia yang lain dan berada dalam kondisi seperti Salomena.

Seandainya Salomena tak lulus UN, kepada siapa Salomena akan menuntut ketidakadilan ini?

 

***

 

Salomena,

Saya mendoakan

Semoga kamu selalu dalam lindungan-Nya

Semoga beasiswa kamu dari World Indonesia Vision terus berlanjut

Semoga cita-cita luhurmu untuk menjadi dokter dapat tercapai

Semoga perjuanganmu mendapat balas

Semoga kamu lulus UN, nak.

 

(dari seorang guru yang tak dapat berbuat apa-apa untukmu)

  1. Mei 7, 2008 pukul 11:51 pm

    Trus berjuang salomena!

  2. Mei 8, 2008 pukul 12:11 am

    Assalamualaikum pak suhadinet. Anda sebagai seorang guru tentunya bisa menilai bagaimana perjuangan seorang siswa yang di daerah terpencil begitu berusaha keras untuk mendapatkan pendidikan. Sehingga ia harus menyebrang sungai dengan balok kayu yang kapan saja bisa menghanyutkannya. Menengok di samping Salomena yaitu pelajar Indonesia di kota besar yang serba mudah dijangkau. Menurut bapak, bagaiman pandangan bapak antara Salomena dengan siswa di kota besar yang hanya bisa membantah perintah orang tua, hura-hura dan maksiat lainnya?

    to Farhan
    Sayang sekali ya, pelajar-pelajar kita yang punya fasilitas, seringkali lupa pada tugas utamanya untuk belajar.

  3. Mei 8, 2008 pukul 9:16 am

    semoga fasilitas pendidikan di indonesia bisa merata, tak hanya di pulau jawa tapi juga bisa menyentuh papua.

    http://www.sutanmudo.co.cc

    to sutan mudo / catra
    Weleh, kamu ndaftar di co.cc ya? Saya pernah coba, tapi gak bisa ngisi formnya di step yang kedua.
    Soal fasilitas pendidikan…Amin-amin-amin.

  4. Mei 8, 2008 pukul 6:53 pm

    UN… segitu dapet segitu mungkin cocok menggantikan kata WAJAR. Manuver cantik diperagakan pemerintah kita selama 3 tahun lebih. Tapi sayang para pelajar kita masih sebagian yang bisa mengaplikasikannya. Salomena … bak seorang yg haus belajar tapi dikebiri oleh manuver itu. Semoga dunia pendidikan di pelosok ibu pertiwi semakin diperhatikan pemerintah kita. Pliss donk ah.🙂

    to gama-learning evolution (soalnya ada dua gama nih)
    bener coy! Perhatikan pelosok dong! Banyak anak-anak cerdas di sini cuma tak terakomodasi.

  5. imoe
    Mei 8, 2008 pukul 9:52 pm

    Pantaskah cita-cita salomena di renggut oleh system yang tidak berpihak kepada rakyat ?

    to imoe
    Saya bangga bisa kenal dengan orang macam kamu moe!
    Masih banyak Salomena-salomena yang lain moe.

  6. Mei 8, 2008 pukul 10:01 pm

    waduhh pak saya juga ikut sedih membaca artikel ini….duhh gak tahu mau ngomong apa….kayak benang kusut yg harus diluruskan….
    tp semoga Salomena si anak luar biasa tabah ini dan selalu mendapat jalan utk mendapatkan pertolongan.. semoga orang terdekat disana perduli, memperhatikannya. Semoga lulus ujian dan semoga mendapatkan perhatian lebih dari pemerinta… Semoga Allah selalu melindunginya, dan tercapai cita-citanya…. amiennn
    salam kenal ya pak….

    to Rita NI
    makasih dah ikut mendoakan Salomena.
    Salam kenal juga

  7. Mei 9, 2008 pukul 8:51 am

    Semngat Salomena!!!

    to hanggadamai
    Semangat!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  8. Mei 9, 2008 pukul 7:00 pm

    Wah mang pak, itulah kejelekkan pendidikan bangsa kita. Pelajar dipaksa mengikuti Standar yang ditetapkan pemerintah sedangkan pemerintah ga mo tau gimana sistem pendidikan Bangsanya.
    Smangat Plajar Indonesia!! Jangan Menyerah gali ilmu!! ( ” wah jadi sok, he… he…😆 ” )

    to pujangga
    Kamu betuuuullllllll sekali.
    Pemerintah kita mo menang sendiri.
    Sekolah-sekolah diakreditasi, banyak yang nilainya jeblok: C atau D, tapi tindak lanjut berikutnya gak ada. Mereka cuma memberi label, ini sekolah jelek, ini sekolah tidak bagus, tapi cuma berhenti sampai di situ. Gak dikasih perbaikan. Sekolah-sekolah yang dapat nilai akreditasi C dan D itu ya karena tak punya fasilitas gedung yang memadai, tak punya buku, tak punya guru anu, dan tak punya anu-anu yang lain……..

  9. Mei 9, 2008 pukul 8:18 pm

    terimakasih juga mas sudah mampir……
    oya keep in touch… mas…

    to Rita NI
    okay…keep in touch

  10. Mei 9, 2008 pukul 8:49 pm

    semoga para tikus2 pemerintah membaca tulisan ini…
    dan semoga Allah menurunkan azab-Nya…

    Salomena… semangat!!

    to ashardi
    Semangat!!!!!!!!!!!

  11. Okta Sihotang
    Mei 10, 2008 pukul 12:04 pm

    ayo Salomena, berjuanglah
    okta dukung dari belakang degh

    to okta sihotang
    ayo dorong rame-rame!!!!

  12. Mei 11, 2008 pukul 2:44 am

    Saya koq tidak setuju dengan UN yah… apanya sih yang mau distandarkan?

    to Rindu
    Ya itulah pemerintah, gak mikir sekolah yang fasilitasnya jauh di bawah standar

  13. Mei 11, 2008 pukul 1:11 pm

    makanyah sayah pikir kalok UN seharusnyah diadain per daerah sahaja…menyesuaikan sapras sekolah, lha kalok di nasional kan seperti inih, harusnyah sarana prasarana sekolahan lebih adil dan merata pendistribusiannyah,,….

    to Abee
    Setuju!

  14. Mei 11, 2008 pukul 1:43 pm

    ya ampunnn.. ikut sedih membacanya pak, saya ikutan berdoa mengamini do’a bapak…
    Amin…

    to Gempur
    bener mas, bikin cakit ati! Kacian anak-anak itu

  15. Mei 11, 2008 pukul 7:50 pm

    Penyeragaman sistem tanpa penyeragaman kondisi, situasi dan fasilitas.
    Salomena harus berjuang keras bersaing dengan para siswa di jakarta yang telah memasuki era interbet. Padahal saya yakin, di Papua buku masih merupakan barang langka.
    Sepertinya kita perlu prakarsai sumbangan buku bekas ke daerah terpencil pak…siap memulai?

    -BUBARKAN UN
    Ujian Nasional
    United State-

    to Ompiq
    Nah lho! Ayo Pak-Pak yang ada di diknas, gimana nie?

  16. mriza
    Mei 12, 2008 pukul 10:37 am

    Aamiin..
    Semoga lulus UN yah..

    to mriza
    Amiiiiiinnnnnnnnnn

  17. deddyondol
    Mei 17, 2008 pukul 12:19 pm

    Pengalaman yang baru kurasakan saat melihat siswa2 mau mengahadapi UN beberapa waktu lalu, kulihat raut muka yang buram, terlihat sekali ketidaksiapan mereka dari raut muka mereka. negatifnya setelah melewati 3 hari UN dan dilanjutkan dengan UAS mereka seperti tdk punya beban lagi bukan maksud memberikan beban pd mereka, tapi begitulah dampaknya mereka cuma mempersiapkan mt peljrn yg d UNkan saja…mereka menganggap UAS pasti dibantu sekolah. doaku mudah2an tahun pertama menghadapi UN yg lgsung menghadapi 6 mt peljrn di sma dp, persentase kelulusan’y >50%, Aamiiiiiiin.

    to deddyondol (mang pala loe botak he)
    Wah mereka juga siswa saya dulu, hampir 5 semester saya ikut mbimbing siswa-siswa itu kan?
    Jadi teringat saat setahun mereka gak punya guru, sekolah gedungnya nebeng…hu…hu….(nangis). Trus kamu datang (tapi guru masihhhh kurrraaaaaaangggg!!!!!!!!!!!!)
    Anak-anak sma 1 danau panggang banyak yang pinter-potensial, Fauzi, Salmiah, Sumiyani…
    Mudah-mudahan semua lulus, dari yang bandel-bandel (tapi ngocol-kayak bahruddin) sampai yang cerewet-pintar kaya Fadiansyah). Amin 3000000000000kali

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: