Beranda > cerpen > Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 3)

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 3)


 Author : Suhadi

 Di kamar pulang dari sekolah, sehabis shalat dzuhur, mandi dan makan siang yang sudah kelewat kesorean, aku mengambil sekaleng sprite dari kulkas.  Dengerin lagu oldies-nya Frank Sinatra “All the way”. Lagu lama yang keren. Terutama pada bagian liriknya. Pas banget dengan suasana hatiku yang lagi falling in love.

Asyik, bergaya di depan cermin seperti penyanyi flamboyan itu. Akulah Frank Sinatra…. Dan Marni adalah gadis dengan rambut pirang yang ikal, memakai bandana putih di kepalanya…. tersenyum padaku di antara ratusan penonton di balkon VIP, melambai-lambaikan saputangan putihnya yang senada warna dengan bandananya di sela-sela gadis-gadis cantik pirang lain berteriak dengan histeria luar biasa….Gegap gempita seisi ruangan besar nan megah itu. Satria…!!!!! Satria….I love you !!!!!!! Frank….!!!!!!! Frank…..!!!!!!! Satria…..!!!!!!!! I love you !!!!!!! Satria………!!!!!!!!! Kulemparkan senyuman paling mematikan ke segenap penjuru ruang theater. Senyuman yang jauh lebih mematikan dari racun viver—si ular gurun yang amat berbahaya. Ku ambil sisir dan kujadikan mikrofon…..

 

When somebody loves you

It’s no good unless she loves you—all the way

Happy to be near you

When you need someone to cheer you—all the way

 

Taller than the tallest tree is

That’s how it’s got to feel

Deeper than the deep blue sea is

That’s how deep it goes—if it’s real

 

When somebody needs you

It’s no good unless she needs you—all the way

Through the good or lean years

And for all the in—between years—come what may

 

Who knows where the road will lead us

Only a fool would say

But if you let me love

It’s for sure I’m gonna love you

All the way

All the way

 

Ah…andai saja Marni merasakan seperti yang kurasakan.

Andai aku Frank Sinatra dan Marni adalah gadis berbandana putih di antara ratusan penggemar di gedung pertunjukan itu. Andai Marni adalah the biggest fan di antara lautan penggemar yang meneriakan histeria I love you!

Andai saja…..

“Duk!!! Duk!!!! Duk!!!!! Satria bisa kecilin volumenya ndak….!!!!” Kakak membuka sedikit pintu kamarku, cukup untuk nongolin kepalanya..

“Apa?”

“Aku lagi belajar Sat. Kecilin dong volumenya.”

“Ganggu aja!”

“Yang ganggu tu kamu.” Mukanya mengekspresikan sedikit rasa kesal oleh ulahku.

“Oke bos!”

Aku naruh sisir, ngambil remote lalu mengecilkan volume speaker di sudut-sudut kamarku yang terhubung dengan dvd player di meja kecil dekat tempat tidur. Hingga akhirnya hentakan track-nya Linkin Park yang digawangi Chester, Bennington, Phoenix, Joe Hahn, Brad Delson, Rob Bourdon, dan Mike Shinoda ini menjadi lebih nyaman di telinga orang-orang yang tak punya sense of music kayak kakakku itu. Lagu yang berjudul What I’ve Done yang kucomot dari album ketiga mereka Minute to Midnight di tahun 2007 lalu itu tak lagi terdengar di luar teritorialku—kamarnya kakak! Kepalanya yang tadi nongol di antara daun pintu udah hilang, setelah sebelumnya mengucapkan thanks.

Aku memang suka berbagai jenis lagu. Gak cuma rock, oldies, country, lagu Indonesia, barat, dangdut aku juga suka, dari yang major label, yang indie hingga musik underground. Kalau dengerin musik aku suka pilih mode shuffle pada player. Aku masukin buaaanyak lagu  dari semua jenis musik ke playlist. Jadi setelah lagu Santai dari Rhoma Irama, bisa aja aliran musiknya berubah drastis ke musik-musiknya Jay-Z atau Josh Stone. Kadang-kadang setelah lagunya Inul Daratista yang Ayam Jago, keluar lagunya Billy Gilman yang country-balad macam Oklahoma dan Umbrella-nya Rihanna. Aku biasanya mem-burning sendiri cd itu untuk mengumpulkan track-track terkeren.

 

Jatuh cinta……

Rasanya aneh….

Susah untuk dijelasin.

Aku merasa seperti orang yang sedang memakai celana jins baru yang kepanjangan karena belum dipermak!

Seperti makai baju batik saat pergi ke Amuntai Plaza. Seperti makan klepon tapi pakai petis dari Bangkalan-Madura.

Kayak denger lagu Prahu Layar yang di-compose ulang dengan aransemen seriosa. Gak karu-karuan rasanya.

Mungkin ini yang kata orang: makan tak nyenyak tidur tak enak!

Berdiri sama rendah, duduk apalagi! (Loh…apa hubungannya?)

 

Ku tenggak sprite kaleng itu hingga tinggal separo…..

Kupandangi sekeliling dinding kamar….Poster Film Spiderman 3 yang walaupun udah basi tapi tetap keren abis, Foto saat TK—memakai seragam tentara saat aku ikut karnaval 17 Agustusan yang tersenyum manis, Poster Aang dari kisah Avatar—The Legend of Aang  dengan jurus pengendali udara-nya. Deretan buku-buku dan komik Detektif Conan, koleksi CD di atas rak kayu, …….gantungan baju-celana di belakang pintu……

Aha!

Baru aku ingat!

Di saku celana seragam itu…!

Aku meraih dan merogoh saku celana biru, tiga buah pil kecil berwarna merah dalam bungkus plastik….

Pil-pil yang dijejalin dengan paksa oleh Bang Jeffry tadi siang sepulang sekolah saat terjebak hujan di Kantin Bu Warti. Aku harus cepat-cepat membuangnya. Jangan sampai ketahuan.

 

***

 

It’s free bro. Just for you. Try it, and next…you will be yourself ! You’ll get your personality

Aku menolak dengan mengatakan takut. Aku tahu persis apa yang disodorkan si metal bergaya mohawk ini pastilah obat-obatan terlarang. Reputasinya di kampung tak jauh-jauh dari yang namanya drugs.

“Gak Bang Jeff. Aku ndak berani..!”

Bang Jeffry tetap menjejalkan bungkusan kecil itu ke saku celana seragam biruku.

Aku tak bisa membantah. Aku terlalu shock dengan kejadian yang begitu cepat itu.

Just take it bro!. Free….!!!! Sorry Coy if my english breaking your heart….He…he…he….” Katanya tertawa.

Huh.. Tak ada yang salah dengan english-nya. Atau kalaupun salah, aku tau apa… Aku bukan english teacher.

Aku gagap. Tak tau mau ngucap apa…

Lalu lanjutnya lagi.

“Simpan aja, gratis! Gue pengen lu jadi orang yang percaya diri. Gak kayak gini. Lesu. Gak semangat. Gak sesuai dengan label kamu yang keren: Muhammad Satria Pamungkas itu. He…he…he… Biar lu bisa meraih cewek impianmu, Pal !”

“Tapi Bang….”

“Sssttttt….simpan aja dulu. Kalau lu gak mau makai. Ntar lu buang aja!”

 

***

 

Aku menimang-nimang dan mengamati pil-pil kecil merah itu. Jadi teringat pelajaran IPA-nya Pak Sogi beberapa bulan yang lalu.

“Anak-anak, drugs exist to help, no to be abused! Obat-obatan sebenarnya dibuat untuk menolong orang yang sakit, bukan untuk disalahgunakan!”

Guru IPA favorit kami itu menjelaskan lagi…

“Ada beberapa macam obat-obatan yang sering disalahgunakan, umumnya dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu yang bersifat stimulan, depresan, dan halusinogen. Salah satu contoh jenis stimulan adalah amfetamin dan kokain. Dalam bentuk ilegal biasa disebut sebagai pep pil, upper, speed, atau crank, atau ice, atau istilah-istilah lainnya. Stimulan menimbulkan efek ledakan energi, make you feels high, merasa enak—atau istilahnya feeling of well-being. Obat ini akan mempercepat denyut jantung, tekanan darah, pernapasan. Kalau digunakan terus menerus, maka penggunanya akan mengalami adiksi—ketergantungan. Dosisnya akan selalu minta nambah, nambah dan nambah terus. Selanjutnya taukah kalian apa efeknya?”

Pak Sogi  berdiam sebentar, memberi kesenyapan. Memandang ke setiap penjuru kelas. Ke setiap anak.

“Penggunanya akan menjadi gelisah, merasa seakan-akan ada orang yang ingin mencederainya, menjadi depresi, lalu penggunanya akan mengambil obat ini lebih banyak lagi, lebih banyak lagi sampai akhirnya…”

Beliau berdiam lagi. Anak-anak menunggu….

“Sampai akhirnya….saat jantung berdetak lebih kencang, tekanan darah lebih tinggi, pembuluh-pembuluh darah pecah, dan terakhir…? Kematian yang tiba-tiba karena serangan jantung!”

Anak-anak menarik nafas.

“Bagaimana dengan depresan Pak?” tanya Adi teman se-genk-ku. Tumben ni anak punya perhatian terhadap pelajaran.

“Pertanyaan yang bagus!” Pak Sogi mengacungi jempol ke arah Adi. Si Adi jadi ke-ge-er-an. Aku cuma tersenyum geli melihat polah-tingkahnya.

“Depresan…punya efek sebaliknya. Penggunaan obat ini akan melambatkan kerja sistem saraf pusat. Alkohol, obat tidur, tranquilizer, dan kelompok obat-obatan yang disebur barbiturate termasuk ke dalam golongan depresan. Istilah kerennya downers atau angel dust. Depresan memperlambat atau bahkan menghambat jalannya impuls pada sinapsis—suatu celah yang menghubungkan antara serabut sel saraf yang satu dengan saraf saraf yang lainnya. Apa efek selanjutnya? Efek selanjutnya adalah detak jantung dan pernapasan akan melambat, pembuluh darah melebar, dan tekanan darah akan turun. Orang yang berada dalam pengaruh depresan akan tampak seperti orang bingung. Linglung. Kehilangan koordinasi. Gerak refleks-nya jadi sangat lamban. Overdosis penggunaan depresan dapat menyebabkan koma atau bahkan kematian, karena jantung dan sistem saraf pusat berhenti bekerja.”

“Kalau halusinogen, bagaimana pula ciri-ciri efeknya Pak.” Santi bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu mewakili siswa-siswa lain yang tak kalah ingin tahu.

“Halusinogen adalah kelompok obat-obatan yang dapat mempengaruhi persepsi pemakainya terhadap dunia yang ada di sekitarnya.”

“Maksudnya gimana tu Pak?” Tanyaku juga ingin tau.

“Maksudnya begini, di bawah pengaruh halusinogen, pemakai seringkali mengalami suatu sensitivitas yang berlebihan terhadap rangsangan cahaya, suara atau bunyi, rasa, atau bau. Sensitivitas berlebihan ini akhirnya menimulkan kebingungan bagi pemakai. Dia akan jadi confuse dengan apa yang ada di sekitarnya. Mereka tidak dapat membedakan antara realita dan fantasi. Pengguna halusinogen akan punya perilaku yang unpredictable, seringkali bersikap kasar baik pada orang lain maupun pada dirinya sendiri. Jika penggunaan berlanjut, ujung-ujungnya sama……………….. KOIT!”

 

***

 

Pil-pil merah ini….

Stimulan-kah?

Depresan-kah?

Atau halusinogen-kah?

Inikah pil ekstasi itu? Atau ini hanya obat-obatan kelas kacang goreng macam yang disebut sebagai pil koplo itu?

Muncul rasa penasaranku.

Aku jadi berpikir ulang mengenai Pak Sogi yang dengan gamblang menjelaskan penyalahgunaan obat-obatan terlarang macam ini di depan kelas beberapa bulan yang lalu. Mungkin sebaiknya beliau gak usah kasih penjelasan ke kami.

Mungkin cuma aku yang punya rasa ingin tahu sebegini besar.

Mungkin teman-temanku menjadi sangat takut dengan drugs setelah mendengar penjelasan beliau. Sehingga mungkin itu jadi salah satu cara terbaik untuk menghindarkan kami dari narkoba. Menghindarkan kami dengan cara memberi tahu bahwa drugs sangatlah berbahaya!

Entahlah…

Adalah benar bahwa penjelasan beliau memunculkan rasa takutku terhadap pil-pil merah ini.

Tapi…. penjelasan itu sekaligus memunculkan rasa ingin tahuku yang luar biasa.

Ini seperti dua sisi keping uang logam, efek baik dan buruk yang saling berlawanan dan muncul pada saat bersamaan.

Aku ingin mencoba.

Hanya ingin mencoba. Sedikit saja.

Bagaimana kalau aku coba minum satu? Aku tak akan mengalami adiksi, kecanduan… Cuma satu.

Aku akan tau ini stimulan-kah? Depresan-kah? Atau halusinogen-kah? 

Aku akan tau bagaimana rasanya ­ feels high, over sensitive, berhalusinasi….. Istilah-istilah yang keren….

Aku menimang-nimang bungkusan kecil itu.

Dengan perasaan sangat gamang ku sobek sedikit ujung bungkus plastik itu…..

Kukeluarkan satu pil dari lubang sobekan kecil itu……

Segera kusembunyikan dua pil yang terisa di antara halaman-halaman buku teks Matematika-ku.

Satu pil merah kecil di telapak tanganku…

Ayah…..

Ibu…..

Pak Sogi…..

Satria cuma ingin tau…..

Kuraih kaleng sprite di atas meja..

Kulemparkan pil merah itu ke dalam kerongkonganku dan mereguknya bersama separuh sisa sprite di kaleng itu……

 

***

(To be continue…… )

  1. Mei 2, 2008 pukul 3:42 pm

    ceritanya sangat menarik….harat pian baulah kaini lah
    munnya di ulah mudil novel kayak nya bonafit tuh….tinggal nyusun kerangka cerita sampe beberpa Bab…..terus berkarya. mohon doanya aja nah:)

    wassalam,

    to hafidzi
    Makasih pujiannya.
    Kalau dapat peran di film ketika cinta bertasbih, kasih kabar kamu dapat peran apa, trus di scene yang mana,,, biar aku tonton dengan teliti aktingmu!
    Wassalam

  2. Mei 2, 2008 pukul 5:22 pm

    penasaran nunggu lanjutannya🙂

    to lainsiji
    part 4 sudah keluar…
    dan tamat. Baca ya…!

  3. imoe
    Mei 2, 2008 pukul 9:23 pm

    lanjutttttttttt pakkkkkkkkkkkk jangan lama-lama…………..

    to imoe
    part 4-tamat dah published lho……………………

  4. SQ
    Mei 3, 2008 pukul 9:38 am

    Halo, maaf baru berkunjung…saya lagi buka blog baru setelah absen 6 bulan lebih, nggak nyangka, ada cerita dan blog bagus kaya ini dengan admin dari danau Panggang.

    Luar biasa, saya tunggu lanjutannya…

    to SQ
    makasih dah muji blog saya…..
    Kita tukar link- yuk!

  5. September 22, 2008 pukul 5:47 pm

    Lanjut pak mantep abis . .!!

  6. Maret 29, 2010 pukul 11:37 am

    lanjut mas keren tu
    nitip backlink nya
    link anda sudah saya pasang di blog saya

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: