Beranda > cerpen > Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 2)

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 2)


Author : Suhadi

 

Dua minggu berlalu. Tak ada satupun usahaku untuk menarik perhatian Marni berhasil. Cewek mungil berambut ikal yang lincah bagai burung kenari itu seakan tak perduli. Perduli dalam artian menganggapku sebagai seorang laki-laki yang cukup dewasa yang pantas dijadikan pacar. Marni tidak menunjukkan emosi yang sama seperti yang kutunjukkan padanya. Mungkin karena aku sama sekali tak berpengalaman. Aku tak tau apa yang harus dilakukan seorang cowok untuk mendapatkan perhatian cewek yang diinginkannya. Dia super cuek dan malah terkesan mengejek. Ngenyek! Ada kesan yang kutangkap kalau Marni menganggapku masih sebagai anak kecil. Huh!

Sekarang sudah jam pulang. Jam 14.15. Anak-anak baru saja bubar, guru-guru juga. Aku memang tadi sengaja berlambat-lambat sampai akhirnya semua warga sekolah pulang. Si Adi, teman se-genk-ku yang tadi mau ngajak pulang bareng (baca: mbonceng) terpaksa pulang jalan kaki dengan kesal. Heh, salahnya sendiri. Maunya mbonceng terus, lama-lama gue jadi kayak ojek langganannya. Sorry lah-yaw!!

Rasanya hari ini aku lemas sekali. Tak punya energi. Bukan karena tak makan atau dehidrasi dan kekurangan ion tubuh. Tidak. Aku tak punya energi karena tak punya semangat. Kan tadi sudah kukatakan kalau sudah dua minggu ini tak ada satupun usahaku yang berhasil menarik perhatian Marni.

Tak ada siapa-siapa lagi di sekolah. Lonceng dari besi bulat bekas mesin penggilingan padi yang dibeli Pak Gazali dari Haji Dullah seharga lima ribu perak (Aku tau persis, soalnya aku yang disuruh ngangkat dari penggilingan padinya Haji Dullah) berderik-derik bunyinya, tergantung dan bergerak-gerak dihembus angin yang cukup kencang. Aku mendongak ke langit. Mendung berarak dari arah timur. Hujan akan turun barangkali. Angin semakin kencang. Parkiran sepeda sudah kosong melompong. Aku bangkit dari bangku panjang di parkiran yang sepi itu. Kalau beberapa waktu tadi ramai dan riuh rendah dengan anak-anak yang saling bercanda saat mengeluarkan sepeda masing-masing, sekarang tak satu batang hidungpun tampak.

Sepasang burung gereja kecil yang abu-abu kecoklatan warnanya hinggap sangat dekat dengan posisiku di bangku panjang. Sepasang burung gereja kecil itu berkejaran melompat-lompat dari pagar ke bangku panjang, terbang ke pagar lagi, lalu ke bangku panjang lagi. Mencicit-cicit.

Sialan! Burung gereja sedang pacaran! Hanya dua ekor, tapi bunyi cericitannya yang bersahut-sahutan sangat bising. Sangat mengganggu. Bikin aku ngiri saja! Burung gereja yang pacaran itu jelas-jelas mengejekku.

Tiba-tiba….

Sekelebatan bayangan berpakaian hitam-hitam muncul di hadapanku.

Pangeran Kegelapan musuh bebuyutanku!

 “Hua..ha..ha…ha..ha…ha..ha…… cacingan deh lu!” Telunjuknya digerak-gerakan. Isyarat ejekan yang sangat kubenci walaupun sangat umum dipakai kawan-kawanku untuk mengejek. Lalu katanya lagi…

“Ha….ha….ha…. Burung gereja kecil itu saja pandai merayu pujaan hatinya, kamu?”

Katanya sambil mengarahkan aku untuk kembali memandang burung gereja yang bercumbu di bangku panjang parkiran sekolah. Kemudian telunjuknya mengarah ke mukaku. Mengejek!!!

“Masak menaklukkan Marni kamu tidak bisa… Pekerjaan begitu mudahnya tak bisa kau lakukan he! Wajah…….. ganteng, uang saku……. tebal, otak………. lumayan, tapi kok lagakmu di depannya selalu kayak kambing ompong! Coba kalau aku yang harus menaklukkan cinta Marni, satu hari saja kau beri aku waktu. Aku pasti berhasil menggaetnya jadi pacarku”

“Marni bukan cewek gampangan. Tak mudah meraihnya!”

“Siapa bilang..?”

“Kawan-kawanku se-genk..”

“Ah itu kan cuma untuk menyenangkanmu…..gubluk!”

“Don’t call me gubluk ok! I hate that word!”

“Halah…kalau menaklukkan cewek macam Marni gak bisa, itu namanya gubluk!” Pangeran Kegelapan makin lantang mengejek.

“Aku tidak gubluk!”

Gubluk!

“Tidak!”

Gubluk!”

Tidak!!!!!!!!!!!!!”

Gubluk!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!”

“Grrrrr….rrrrhhh” Aku marah luar biasa.

“Gggggrrrrrrrrrr…..hhhhhhh” Pangeran kegelapan menirukan gayaku marah. Mengejek, lagi-lagi!

Aku semakin marah. Tanganku terkepal. Bergetar. Darahku mendidih. Menggelegak, meletup-letup menimbulkan gelembung-gelembung gas sulfur diubun-ubunku. Bagai semburan gas lapindo di Desa Siring Sidoarjo yang telah tersulut, mengobarkan api amarah yang asapnya membumbung tinggi ke angkasa. Menyemburatkan bau kebencian yang luar biasa pekatnya. Menusuk hidung. Urat-urat leherku menegang-membaja menahan amarah yang hampir meledak. Aku tak tahan lagi…….(Mungkin aku darah tinggi kali yah?).

Kakiku ku buka untuk pasang kuda-kuda. Tangan menghimpun tenaga dalam, yang kanan kuputar di depan dada sejauh 360 derajat. Sedangkan yang kiri ditarik sedikit ke belakang, siap menerima seluruh aliran tenaga yang kuhimpun untuk menghantamkannya ke sosok hitam-hitam di depanku yang berdiri tegak dengan senyum mengejek.

“Heey….yaaaaaaaa!!!!!!!” Tangan kiriku kusorongkan ke depan. Mengarah ke jantung Pangeran Kegelapan yang berdiri mengejek. Serangan pembuka yang lumayan untuk pemanasan. Mungkin ini akan jadi pertarungan dashyat kesekian-kaliku dengan Pangeran Kegelapan.

Sosok berpakaian hitam-hitam itu menyerongkan sedikit tubuhnya ke kanan.

“Bless!” Pukulanku lewat di samping kiri bahunya. Tak kena sasaran. Sudah kuduga itu. Tadi sudah kukatakan ini hanya serangan pembuka untuk pemanasan.

“Ha..ha…ha…….begitu sajakah Satria Bertangan Seribu? Mana jurus kambing kencingmu yang dulu itu? Ayo keluarkan! Biar kurasakan sekali lagi!”

“Pasti…dan dengan amat segera Pangeran Jelek!” Kata-kataku kulontarkan dan sama sekali tak berselang waktu dengan tendangan yang segera kususulkan ke arah punggungnya. Pangeran Kegelapan menunduk dan tendangan itu lewat hanya beberapa senti di atas tubuhnya.

“Hampir saja…” Tak urung  terlontar juga kata-kata itu dari bibir Pangeran Kegelapan, walaupun hanya dalam bentuk gumaman kecil.

“Ya…hampir saja, dan tak lama lagi kau akan rasakan kehebatanku Pangeran Jelek!”

“Cih…tak-lah…tak mungkin!”

Aku tak membiarkannya berlama-lama bersiap. Aku takkan memberi sedikitpun kesempatan padanya untuk menyerang. Sekali aku mengambil jeda serangan, pastilah ia akan segera balik menyerangku. Aku takkan beri kesempatan….

Segera kubalikkan badan. Kusiapkan diam-diam tapi segera, Hempasan angin Pukulan Seribu Badai.

Seakan-akan mau maju ke depan, tapi aku tidak maju. Gerakan menipu. Aku membuat gerakan tiba-tiba yang kuharap tak terduga bagi Pangeran Kegelapan. Dengan mengambil sedikit tumpuan di kaki kanan, aku melenting ke belakang. Beberapa tombak di atas angin. Pangeran kegelapan, seperti dugaanku…kaget setengah mati. Kepalanya mendongak. Tenaga dalamnya yang tadi disiapkannya sebagai tameng untuk seranganku terlepas tanpa sengaja. Kini dia  sedang kosong. Tanpa sedikitpun perlindungan! Inilah saatnya Satria, gumamku dalam hati. Kamu harus menggunakan momen ini!

“Hiiieeeyaaaaaa!!!!”

Kedua belah tanganku kudorongkan ke depan. Meluncur turun dengan seluruh kekuatan.

“Duaarrrrrrrrrrrr”

Pukulan Hempasan angin Pukulan Seribu Badaiku menghantam tubuh berpakaian hitam-hitam itu.

Sekilas sebelumnya, kulihat sorot matanya memohon belas kasihan.

Tapi sudah terlalu terlambat. Dalam hitungan waktu yang tak sampai sepersejuta-milisekon berselang, tubuh musuh bebuyutanku itu sudah hancur. Berhamburan membentuk butiran-butiran kecil seperti pasir dan tepung. Sebagian tertiup angin. Sebagian lagi jatuh berserak. Beberapa mengenai atap seng parkiran sekolah menimbulkan bunyi yang terasa ganjil dan merindingkan bulu roma.

Dalam lamunan di kegamanganku butiran-butiran bening itu jatuh.

Hujan!

Aku tersadar dari khayalanku. Bunyi itu, bukan serpihan-serpihan tubuh Pangeran Kegelapan yang menimpa atap seng parkiran sekolah. Tapi butiran-butiran air hujan!

 

***

Dengan malas kuseret motorku keluar parkiran. Rintik hujan membasahi seragam putih-biruku.

Pulang? Paling di rumah  lihat muka kakak yang sok alim dan sok pintar!

Aku segera meloncat ke atas motor. Pasang helm. Memutar kunci, dan memencet starternya. Mencari tempat berteduh terdekat.

Kantin Bu Warti masih buka, walaupun si empunya terkantuk-kantuk di belakang meja di pojok kantin.

Nyantai dulu ah di sana. Kali aja dapat ide. Sambil minum teh hangat, mikirin rencana hari-hari ke depan.

 

***

 

Memberi bunga? Gaklah….norak.

Kasih coklat? Kan gak valentinan.

Kasih hadiah Tedy Bear? Marni gak ulang taun.

Huhhh!!! Gak pas momennya buat ngasih-ngasih.

Kirim surat? Basi kalee!!!

SMS? Ntar inbox-nya ditunjukin sama teman-temannya dan aku bakal jadi bahan tertawaan.

Call her? Takut salah ngomong.

Datangin ke rumah? Aku tak seberani itu.

Pusing….!!!!

“Ada apa Satria?” Seorang pemuda dengan dandanan nge-punk mendekatiku. Dialah Bang Jeffry yang nama aslinya Japri. Pemuda gak tamat SMP, tapi merupakan orang paling metal sekampung. Rambutnya dibentuk kaya indian mohawk dicat warna-warni, anting di telinga, celana jins belel kedodoran dengan lubang menganga di kedua bagian dengkul, kaos hitam bergambar tengkorak atau apalah….dan berbagai atribut lainnya membuat penampilannya benar-benar tampil beda.

“Mikirin cewek ya?”

Heran ni orang. Pertanyaannya langsung mengena. Tapi aku diam saja.

Sedari kecil aku tak pernah dibentuk untuk jadi berandalan oleh kedua orang tuaku. Reputasi Bang Jeffry yang jelek di kampung bikin aku sedikit menaruh curiga padanya.

“Cewek itu macam-macam tipenya.” Bang Jeffry bicara lagi sambil mendekat dan duduk di sampingku. Aku masih diam, menyeruput teh hangat sambil memandangi tempias air hujan yang terbawa hembus angin hingga sampai ke dalam kantin dan mengembuni ujung sepatuku, walaupun kudengarkan juga bicaranya. Lalu katanya lagi..

“Ada yang senang cowok pintar, kutu buku, ranking satu. Ada juga cewek yang senag dengan cowok kaya, banyak uang, suka ngasih hadiah, ngasih baju, jalan-jalan, matre gitu. Ada juga cewek yang…..”

“Bang Jeffry kenal Marni, anaknya Haji Sulaiman yang dekat kantor kecamatan itu, yang dekat rumah Abang?” Akhirnya aku bertanya dan mulai masuk dalam perangkapnya.

“Marni? Cewek imut dari Banjarmasin itu? Yang kalau ke sekolah naik sepeda warna biru itu?”

“Iya Bang”

“Ya kenal. Kenal banget.”

“Memang kenapa?”

“Kira-kira suka gak ya Marni sama saya?”

“Kamu? Ha…ha..ha….”

“Kenapa Bang, ada yang lucu?”

“Tidak, tidak ada yang lucu, cuma…”

“Cuma apa Bang?”

“Aku ndak yakin Marni suka sama kamu. Bukan tipenya. Tapi Marni bisa dibikin suka sama kamu. Kamu dah punya modal. Tampang keren. Dandanan oke. Cuman sedikit kurang pede.”

Tak urung aku senyum juga mendengar pujiannya.

 “Bener gak dugaanku kalau kamu kurang pede?”

“Iya kali Bang. Saya suka gugup kalau ketemu dia. Suka salah tingkah. Kalau bicara, selalu salah kata.”

Bang Jeffry tersenyum. Lalu sambungnya..

“Nah penyakit kurang pede ini perlu diobatin dulu. Lu liat gue. Dandanan kayak gini…” Bang Jeffry mengelus-elus rambut mohawknya, menjentik-jentik anting di hidung dan telinga, berdiri mempertontonkan pakaiannya…”Gue tetap pede. Biar kata orang apa. Gue ya gue. Gue telah menjadi diri gue sendiri, bukan orang lain. Kamu pasti sering dengar istilah be your self. Nah itu gue. Dan elu belum… Belum jadi dirimu sendiri!, jadinya ya tidak pede.”

Aku mengangguk-angguk setuju.

“Trus gimana caranya biar pede Bang?” Aku tanpa sadar semakin masuk jeratnya.

“Pakai ini…!!” Bang Jeffry merogoh saku celananya. Mengeluarkan tiga buah pil kecil berwarna merah terbungkus plastik kecil.

“Tiii..ti….tidak mau Bang. Itu kan obat-obatan terlarang.” Kataku mulai takut.

 

***

 

(To be continue….)

  1. zulfaisalputera
    April 25, 2008 pukul 11:13 am

    Cepet sambungannya, ya Bang!
    Ntar penyerahan pil-pili itu ketauan yang berwajib.

    Aku tunggu!

    Tabik!

    to Zul
    Makasih…idenya boleh juga.
    Ntar Si Mohawk kita serahin ke polisi..
    Makasih

  2. April 25, 2008 pukul 12:18 pm

    Wah..makin seru nih. Ditunggu kelanjutan ceritanya lho!

    to eswee

    Yoo… Berkat dukungan Anda.

  3. catra
    April 26, 2008 pukul 9:58 pm

    akhirnya yang kedua dirilis juga, tapi masih belum tamat ya, pak suhadi pandai mengobok-obok rasa penasaran pembaca

    to Catra
    Saya tau, kadang-kadang pujian kamu berlebihan…
    Tapi gak papa, saya senang kok dipuji..
    He..he…

  4. April 27, 2008 pukul 4:19 pm

    selanjutnya……….part 3…………. terakhirnya bahagia apa sengsara pak santri
    tak tunggu tulisan serie 3
    salam kenal
    berawal dari memilah mana yang baik dan mana yang buruk, selanjutnya mengambil sebuah keputusan, jika telah mengambil keputusan tidak boleh kecewa dengan pilihanNya…….
    salam eka pratiwi bloger junior tidak punya tulisan.

    to Eka Pratiwi
    First….namamu bagus
    Menurut kamu bagusnya apa endingnya happy or sad ending?
    Makasih mau nungguin ya…
    Yap kamu benar sekali Eka…gak boleh kecewa dengan pilihanNya…toh kita udah bikin pertimbangan-pertimbangan dan ingat sama Yang Di Atas…
    Sama-sama newbie donk
    Ntar kamu juga punya tulisan kok..saya aja masih tertatih-tatih nulisnya…
    Sukses buat kamu
    Last but not least…Salam kenal balik..

  5. April 27, 2008 pukul 9:29 pm

    sukses yaaa….
    nice story….salam jua nah dr Egypt

    to hafidzi
    makasih jauh-jauh dari Mesir ngunjungin blog urang danau panggang nih

  6. April 28, 2008 pukul 12:03 am

    cerita yang bagus, pak suhadi, saya suka dngan pangeran kegelapan itu. ada bumbu surealisnya. gara2 marni, tokoh “aku” mesti bertemu dg musuh bebuyutannya. nah, trend cerpen indonesia mutahir sekarang kayaknya memang akan lebih banyak menonjolkan unsur2 lokalitasnya. dus, cerpen bisa ikut berkiprah untuk mengangkat nilai2 kearifan lokal itu ke dalam khasanah busaya nasional kalau pak suhadi tinggal di kalsel, wah, pasti di sana banya nilai2 lokal, seperti mitos atau tradisi lain yang bisa diangkat ke dalam sebuah cerpen. ok, pak suhadi, salam kreatif!

    to Sawali
    Makasih udah ngasih masukan…
    Lain kali saya minta yang lebih pedas Pak!
    He…he….
    Salam kreatif

  7. catra
    April 29, 2008 pukul 8:14 am

    to Catra
    Saya tau, kadang-kadang pujian kamu berlebihan…
    Tapi gak papa, saya senang kok dipuji..
    He..he…

    memuji itu sunnah rasul pak,

    berlebihan??ahh itu perasaan bapak saja, heehe

    to Catra
    Makasih ya..

  8. April 29, 2008 pukul 8:18 am

    Wah..Saya ‘iri’ dengan Bapak dalam hal penulisan cerpen. Saya punya mimpi dan keinginan Saya dapat belajar banyak dari Bapak dan minta doanya.

    to Sandy Guswan
    Saya juga nulis berawal dari liat tulisannya Pak Sawali Tuhutseya…
    Saya belum bisa dikatakan “bisa nulis”
    Masih banyak kurangnya
    Nulisnya aja baru dua cerpen.

  9. Benny N. Trisna
    April 29, 2008 pukul 4:47 pm

    Sejak kapan best friend-ku yg satu ini seneng nulis cerpen. Bagus! Salut!
    Terusin nulisnya…
    Eh, ada usul… “Buat cerpen atau cerita fiksi yang ‘berbau’ IPA, biar belajar IPA lewat cerpen…”
    SUKSEEEEESSSSSS….🙂

    to benny
    Ben…kapan lagi kita nyanyi malam-malam di atas atapnya kos-kosan om gendut, trus dilempar batu sama tetangga?

  10. April 30, 2008 pukul 10:46 pm

    hayo pakkk lagi…tapi tetap pertahankan yang ringan ya…jangan serius…karena menurut saya masa pubertas itu happy, jadi mesti happy juga dong kisah nya……..hahahahaha

    to imoe

    Ya…yang ringan-ringan aja.
    Tuh part 3-nya udah keluar moe

  11. Mei 3, 2008 pukul 1:55 am

    Wah Saya jadi teringat waktu masih Bujangan dulu ooo eyyy

  12. Juni 16, 2008 pukul 7:43 pm

    “Ada apa Satria?” Seorang pemuda dengan dandanan nge-punk mendekati Satria.

    yang ini mungkin silap menyebutkan tokoh utama sebagai orang ketiga ya, pak?
    tapi keren, cerita pak suhadi sangat terasa pernghayatan tokohnya.

    *nyambung baca episode ketiga*

    ========================
    to Marshmallow
    Harusnya saya nulis gini ya:
    “Ada apa Satria?” Seorang pemuda dengan dandanan nge-punk mendekatiku.
    Makaci untuk koreksinya

  13. Juni 16, 2008 pukul 7:53 pm

    Makasih,
    Saya setelah membaca komentar kamu dan teman-teman di cerpen ke-4 saya Rahasia Halaman Belakang, merasakannya juga.
    Banyak kekeliruan.
    Saya selalu berusaha untuk koreksi dengan refleksi.
    Senang kalau Marshmallow mau terus mengiring dan mengawal proses belajar saya.
    Kritik terus ya. Jangan takut.
    Saya sangat terbuka.
    Thanks

  14. Juni 25, 2010 pukul 10:18 am

    salam kenal…

    blognya keren , artikelnya juga keren keren dan mantap mantap,,

    thanks, di tugggu kunjjungan baliknya

  15. dana
    Agustus 19, 2010 pukul 8:13 pm

    ^_^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: