Beranda > bahan bacaan > Sekolah Gratis SPP, Wajib Belajar, dan Kemiskinan

Sekolah Gratis SPP, Wajib Belajar, dan Kemiskinan


Author: Suhadi

Kemiskinan banyak menyebabkan anak- anak berhenti sekolah dan terpaksa membantu orangtua mencari penghasilan tambahan. Program Wajib Belajar (Wajar) 9 Tahun yang ditargetkan tuntas pada 2009 barangkali tak akan berjalan mulus. Program tersebut terganjal angka putus sekolah SMP/MTs yang pada 2007 lalu masih cukup tinggi, yaitu 1,84 persen atau 211.634 siswa per tahun. Berhenti bersekolah barangkali dianggap dapat mengurangi pengeluaran ekonomi keluarga yang kurang mampu.

Meski sudah ada beberapa kebijakan yang merujuk pada kemudahan bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu untuk tidak membayar SPP, misalnya. Kenyataannya urusan biaya untuk bersekolah bukan saja menyangkut masalah SPP saja. Masih banyak biaya yang harus dikeluarkan orangtua yang tidak mampu. Misalnya saja biaya untuk keperluan seperti membeli seragam sekolah, buku pelajaran, buku tulis, atau biaya transportasi anak ke sekolah, dan uang jajan. Belum lagi biaya lain yang kadang membuat anak dari kalangan tidak mampu menjadi merasa tersisihkan dari interaksi sosialnya di sekolah. Dampaknya, anak-anak dari keluarga miskin sering kali malas datang ke sekolah dan tidak bersemangat. Mereka akhirnya putus sekolah.

Upaya untuk menurunkan angka putus sekolah, apalagi dalam rangka penuntasan program wajib belajar pendidikan dasar (wajar dikdas) 9 tahun, katanya kini memperoleh perhatian yang serius. Namun, kenyataan di lapangan, upaya-upaya tersebut tidak otomatis atau hampir bisa dikatakan tidak dapat menghilangkan keluhan keluarga miskin yang akses pendidikannya terhambat sehingga angka putus sekolah tetap merupakan persoalan yang melekat dalam pengelolaan pendidikan. Pemerintah pusat maupun daerah sebenarnya bertanggung jawab untuk dapat mengupayakan agar siswa (terutama pada jenjang pendidikan dasar) yang mengalami putus sekolah tersebut bisa bersekolah. Atau siswa-siswa yang terancam putus sekolah terbebas dari keadaan demikian.

Pendidikan di sekolah seringkali dianggap sebagai satu-satunya cara untuk lepas dari perangkap kemiskinan dan kebodohan. Pada kenyataannya banyak yang tidak terwujud. Kita tak usah membicarakan ini panjang lebar. Hitung saja berapa banyak pengangguran berpendidikan di sekitar lingkungan anda. Beberapa sosiolog pendidikan terkenal, seperti Everet Reimer, telah menggugat pendidikan persekolahan dengan mengatakan, school is dead. Tuduhan terhadap sistem persekolahan tersebut bukan tanpa sebab. Karena sekolah ternyata memberi banyak beban kepada anak didik, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga miskin. Beban tersebut bukan saja dalam urusan finansial yang besarnya membuat pusing keluarga tidak mampu, namun juga tekanan yang bersifat nonfinansial, seperti interaksi sosial di sekolah. Sering kali anak-anak yang tidak mampu tersebut merasa minder bila bergaul dengan teman-temannya di sekolah.

 

Sekolah sebenarnya dapat mengambil peran yang sangat strategis dalam menciptakan miniatur integrasi sosial. Pada dasarnya pendidikan itu merupakan proses untuk mengintegrasikan individu yang sedang mengalami pertumbuhan ke dalam integrasi dan kolektivitas sosial. Di sekolah individu-individu belajar bermasyarakat pada lingkup kecil. Mereka bisa bersosialisasi di lingkup kelas dan di lingkup lingkungan sekolah. Belajar di sekolah merupakan upaya untuk mengelola beberapa aspek pendidikan agar dapat menjamin proses tersebut dapat berlangsung secara optimal bagi perkembangan anak sehingga memberikan manfaat yang semaksimal mungkin, baik bagi mereka sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial.

 

Kita akan sangat bangga bila ada anak-anak dari keluarga miskin atau kurang mampu tersebut masih memiliki kemauan yang kuat untuk dapat terus mengenyam pendidikan di sekolah. Apalagi tak jarang mereka juga dianugerahi kemampuan akademis yang bagus. Menggiring mereka agar dapat terus mengenyam pendidikan harus disertai dengan kemampuan kita untuk mengeliminasi setiap beban yang mereka hadapi di sekolah, terutama menyangkut persoalan finansial.

  1. catra
    April 18, 2008 pukul 12:29 am

    sekarang sepertinya pendidikan hanya untuk orang kaya saja kayak nya pak, orang yang tidak punya uang untuk melanjutkan ke tingkat pendidikan yang lebih tinggi, seperti anak tamatan smp putus sekolah melanjutkan ke SMA(BOS SMA tidak ad)
    apalagi orang2 yang ingin menjadi sarjana tapi tidak punya uang,

    http://catra.wordpress.com/2008/04/05/dijual-ktm-itb-seharga/

  2. Juli 26, 2008 pukul 7:52 pm

    The oedipal vision exhibits a distinct patriarchal bias: it reduces politics to an activity of fathers and sons while relegating women to the role of passive objects of male desire.Jos%E9BrunnerJos? Brunner, 1998

  3. adrerai
    Januari 19, 2009 pukul 9:18 am

    suhadinet = kornet kah???

  4. adrerai
    Januari 19, 2009 pukul 9:20 am

    ampun bang.. ga cari ribut koq.. cuman joke..
    ^^

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: