Beranda > cerpen > Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 1)

Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 1)


Author : Suhadi

 

“Hyaaattttt…………..!!!!!!”

Aku bergerak sangat cepat, melompat tinggi. Beberapa tombak melambung ke udara. Dengan ilmu meringankan tubuh yang kumilki, tak terlalu sulit melakukan itu. Kulihat musuhku, si Pangeran Kegelapan kebingungan di bawah sana. Kepalanya celingukan. Kehilangan musuhnya.

“He lari kemana kau Satria tengik!”

“Satria Bertangan Seribu tak pernah lari dari musuhnya bodoh!!!”

“Haa!!!!”

“Rasakan ini, Pukulan Seribu Badai!!!!”

Aku meluncur turun mengarahkan pukulan terbaikku. Tenaga dalam yang kuhimpan saat menghela napas saat meluncur turun kualirkan ke tangan kanan, terpusat di kelima jari. Siap menghentak dan merontokkan hingga tulang belulang sekalipun. Ku yakin Pangeran Kegelapan akan jatuh takluk kali ini.

“Ciiiaat!!!!”

“Hup….heya…!!!”

Dugaanku meleset. Sama melesetnya dengan pukulanku. Rupanya si jelek rupa itu telah mempersiapkan diri dengan mundur dua langkah ke belakang. Sial..rutukku dalam hati. Gagal.

Hempasan angin Pukulan Seribu Badaiku yang mengenai tempat kosong tak pelak menimbulkan angin menderu dan membuat debu-debu menjadi beterbangan. Aku segera merubah posisi turunku secepat kilat dan mendarat dengan sempurna.

“Hap!” Kedua tangan bersedekap di dada, kaki kiri sedikit maju ke depan bersama-sama kaki kanan membentuk kuda-kuda. Mata lurus ke depan. Mengawasi setiap gerakan, sekecil-kecilnya gerakan. Aku siap mengantisipasi. Aku yakin musuh bebuyutanku, Pangeran Kegelapan, akan segera mempersiapkan serangan balasan.

“Ha..haha..ha…ha….!!!!, nggak kena………nggak kena!!! ”

Pangeran Kegelapan mengejekku. Matanya mengerdip. Melecehkan.

“Tunggu saja, dalam sepuluh jurus kau akan roboh Pangeran Jelek!!!”

“Ha? Sepuluh jurus? Ha…ha…ha…”

“Iya sepuluh jurus” kataku meyakinkannya.

“Ha..ha..ha…!!! sampai saat ini sudah dua puluh lima jurus, dan tak satupun angin pukulanmu yang jelek itu mengenai ujung rambutku. Lalu sekarang kau berkoar akan menjatuhkanku dalam sepuluh jurus ke depan? Ha..ha…cacingan deh lu!!!!”

“Tadi aku masih main-main goblok!!”

“Main-main katamu? Duh Satria Bertangan Seribu, gak salah tu?”

“Ya, aku masih main-main” kataku panas.

“Akulah yang main-main. Aku tidak bersungguh-sungguh menghajarmu. Aku lagi tak bernafsu!”

Aku kehabisan kata-kata. Pangeran Kegelapan memang pandai bicara, sepandai ilmu silatnya. Aku mepersiapkan lagi jurus terbaikku yang lain, Hempasan Angin Kepak Naga Utara! Kusilangkan tangan di depan dada, kaki kanan disorong ke samping, badan sedikit condong ke belakang. Aku kembali mengimpun tenaga dalam. Menyedot hawa murni dari atmosfir di sekelilingku. Hawa murni masuk melalu pori-pori kulitku. Mengalir dalam darah….

“Ha..ha..ha…, jurus apa lagi yang kau keluarkan Satria bodoh. Jurus kambing kencing???”

Pangeran kegelapan mengejekku lagi. Ia tertawa terbahak-bahak sampai keluar air mata. Kedua tangan memegangi perut.Aku tak menghiraukannya. Rasanya, darahku sudah menggelegak. Sampai ke ubun-ubun. Awas kau Pangeran Kegelapan! Kau hanya mencoba merusak konsentrasiku! Dengan penuh kebencian aku merangsek maju.

“Ciaaattttt!!!!!”

Aku mengarahkan pukulanku di saat Pangeran Sialan itu sedang ngakak mentertawakanku.

“Buuk!!!!”

Jidatnya langsung terkena bogem mentah. Lalu kususulkan..

“Bukk!!!! Dukk!!!”

Perut, dada, semuanya terkena pukulan dan tendanganku berturut-turut.

“Gedebuk”

Pangeran Kegelapan jatuh tersungkur meminta ampun.

“Satria…!!!!…Aduh sakit tau!!!! Kok aku di tendang!!???”

“Heh….emang enak!!” balasku dengan senyum mengejek dan sinis.

“Dasar anak malas, tukang ngigau!!! Ayo bangun! Sudah hampir jam enam!” bantal dilemparkan ke wajahku.

Aku mengucek-ngucek mata. Pangeran Kegelapan, ee bukan, Kakakku yang terjatuh itu mencibir.

“Anak yang aneh? (ekspresinya seperti candaan Tora Sudiro ‘n friends di Extravaganza). Bangun!!! Ntar subuhnya habis. Hampir jam enam. Gak shalat lagi kamu!”

“Hahh, jam enam ya Kak?” Aku melongo kebingungan.

“Iya..makanya jangan kebanyakan nonton kartun, baca komik, main game. Belajar tu tugasmu!”

“Wueek!”

Aku bangkit, sembari balas mencibir sekedar menutupi rasa maluku karena mengigau lagi. Ini bukan yang pertama. Paling tidak seminggu sekali aku mengigau dan bermimpi sebagai Satria Bertangan Seribu. Kalau mau jujur, memang agak aneh.

Buru-buru aku menuju kamar mandi di belakang. Pangeran Kegelapan, eh Kakakku Cuma geleng-geleng kepala.

“Ntar kalau minggu depan Ayah dan Ibu pulang dari Palangka Raya kulaporin kamu Satria!!!”

“Laporin aja! Emang gue pikirin! Dasar sok alim, sok rajin, cari perhatian!!!”

Aku masuk kamar mandi. Menutup pintu. Lalu mengguyur badan hingga terasa segar.

Sebenarnya jauh di dalam hatiku aku sering merasa salah karena selalu mengolok-olok dan kadang-kadang membantahnya. Aku memang nakal. Dan kenakalanku masih dalam batas-batas yang wajar menurut seorang Muhammad Satria Pamungkas. Sebenarnya aku cuma ngiri. Ngiri kalau aku tak sepintar dia di sekolah. Ngiri kalau wajahku tak setampan dia (walaupun sebenarnya wajahku tak jauh-jauh beda dari Glenn Alinsky). Ngiri kalau Ayah dan Ibu sepertinya lebih sayang dia daripada aku. Ah….pasti itu cuma perasaanku. Aku memang lebih sering ngerepotin Ayah dan Ibu. Aku suka minta macam-macam. Seperti bulan lalu,  handphone terbaru dari Sony, celana dan baju baru ber-merk…..setiap mereka pulang dari bepergian. Tapi kupikir kadang-kadang itu hal yang wajar. Mereka kalau pergi lama. Hanya untuk urusan bisnis di Palangka Raya.Itu kompensasi yang wajar yang harus aku dapatkan! Toh mereka cari uang buat aku dan kakak. Selesai mandi lalu aku mengambil air wudhu. Walaupun badung, aku jarang bolong shalat. Kecuali kalau pas bangun kesiangan gara-gara main “strategy game” di notebook-ku sampai larut malam.

 

***

 

Saat bel istirahat pertama berbunyi, Pak Gazali yang kumisnya kaya pemain pilem India mengakhiri pelajaran Matematika yang kali ini tak dapat kutangkap dengan baik. Aneh, akhir-akhir ini pelajaran sekolah lebih banyak ‘mantul dari otakku. Persis pemukul beduk Bang Jamin saat dipakai sesaat menjelang azan.  Semakin aku berusaha keras, semakin pusing kepalaku. Pokoknya ‘mantul. Gak mau masuk-masuk. Padahal dulunya di SD aku termasuk anak yang lumayan pintar, kalau ndak rangking dua, ya ranking satu di kelas. Walaupun nilai-nilainya tak sebagus nilai rapor kakak.

Kupakai headset bluetooth. Kurogoh saku celana biru, ngambil handphone sony-ku, dan medengarkan stasiun radio FM favorit. Rentetan syair lagu jikustik terbaru!….Selamat Malam. Asik.

 

Jantungku berdetak cepat

Inilah waktu yang tepat

Segera aku bersiap

Jangan sampai kuterlambat

Malam ini malam minggu

Kau menunggu di rumahmu

 

Selamat malam dunia

Kusiap ‘tuk berpesta

Tunggu aku di sana

Bertemu oh baby

 

Selamat malam dunia

Gairahku berpesta

Kita lewati malam

Berdua oh baby

 

Gayamu sungguh maksimal

Tak seperti yang kukenal

Malam ini malam cerah

Makin larut makin indah..

 

Kupikir Jikustik telah melakukan sebuah revolusi. Memberikan nuansa baru dalam musiknya. Hentakan musiknya benar-benar beda. Beda banget. Gak seperti lagu-lagu di album sebelumnya. Aku tak pernah menyukai lagu-lagu mereka sebelumnya sampai akhirnya beberapa minggu yang lalu kudengar singel yang satu ini. What more can I say….? Cool !!

Gak kayak teman-teman, tali kabel berseliweran kemana-mana. Ribet. Dengan headset blutooth aku makin gaya, serasi dengan tampang kerenku. Apalagi kalau cuma di sekolah kampung macam sekolahku ini. Dijamin one hundred percent akulah cowok paling keren. Muhammad Satria Pamungkas gitu loh. Aku melangkah penuh percaya diri. Menunggu Marni, gadis pujaan di kantin Bu Warti.

Di sapa teman-teman se genk di kantin

“Halo men! Tumben nih rapi. Seragam licin disetrika. Tampang klimis. Kayak anak baik lu!!”

“Mang gue anak baek! Gak korengan dan gak kudisan!”

“Wuuu…apaan tu Sat!!???”

“Liat donk!”

Aku mengambil headset di telingaku, memamerkan dengan mengedarkan benda itu berkeliling sekilas di depan wajah-wajah mereka, lalu memasangnya kembali.

“Ya… udah diliat kan?” Semua melongo, kagum dan tentu ditambah rasa ingin memiliki.

“Nah karena masih baru dibelikan Emak, jadi belum boleh dipegang…apalagi dipinjam.”

“Wuuu…dasar pelit!”

“Eit..ntar gak gue pinjamin lu!”

Adi, salah satu teman segenk-ku cuma melengos mendengar jawabanku. Yang lain cuma mesem-mesem. Aku menang, yakin mereka takkan marah. Soalnya sudah jadi kebiasaan kami bercanda. Walaupun di antaranya kadang-kadang sampai kelewatan. 

“Hari ini semuanya boleh ambil apa aja, aku yang bayar!” kataku ngajak damai. Tak ada ajakan damai macam ini yang pernah mereka tolak. MAKAN GRATIS SEPUASNYA DI KANTIN BU WARTI!

“Horee!!!!”

Dan akhirnya semua ribut pesan ini-itu dengan Bu Warti.

Just a few second….

Yang kutunggu akhirnya datang juga. Marni, anak baru pindahan dari Banjarmasin yang setengah bulan lalu masuk di kelasku itu benar-benar membuatku selalu salah tingkah. Kabarnya ayah Marni, Haji Sulaiman, yang dulu pedagang sukses di Banjarmasin sekarang bangkrut karena kena tipu. Oleh sebab itulah mereka sekeluarga kembali ke Danau Panggang. Memulai lagi usaha dari bawah.

He.he…he…gue jatuh cinta men! Dan ini adalah cinta pertamaku. Seumur hidupku, sampai telah 14 kali berulang tahun baru kali ini merasakan debar-debar aneh. Dan itu selalu terjadi tiap aku berpapasan dengannya, memandangnya, atau yang paling luar biasa saat cewek imut itu tersenyum kepadaku. Rasanya dunia jadi colourfull. Merah, kuning, hijau, biru…..merah muda, dan ungu. Selain colourfull, kadang-kadang bisa pula menimbulkan sensasi yang lain. Dinding-dinding, lantai, dan jendela-jendela kaca ruang kelas VII bagai bergetar. Seakan mau ambruk oleh dahsyatnya ledakan-ledakan bom emosi di dadaku.

Selama dua minggu ini, hormon-hormon dari kelenjar kelaminku mulai aktif bekerja. Sesuai umurku yang mulai menginjak pubertas. Adrenalinku, testosteronku…wow!! menimbulkan desir-desir dengan sensasi luar biasa pada aliran-aliran darahku. Kalau malam aku suka menghayalkannya. Bercanda di taman, menyelipkan bunga di telinganya, gandengan tangan……. truss cium………Ih…norak ‘n parno! Buru-buru aku menepiskan pikiran tersebut dari batok kepalaku.

Marni dan Santi, teman sebangkunya duduk di bangku panjang di depanku. Segera kusapa semanis-manisnya.

“Halo Marni..mau beli apa?” Sambil pasang senyum paling yahud.

“Oo yang jualan dah ganti yach?” Marni tersenyum dan mendelik ke arah Santi.

“Perasaan kantin ini kemarin masih milik Bu Warti-kan?” Tambah Santi sembari membalas tersenyum dan mendelik ke arah Marni.

“Hua..ha…ha……!!” Teman-teman se-genk meledak tawanya.

Aku jadi salah tingkah. Garuk-garuk kepala. Maluuuu!!!!

(to be continue? I am not so sure about it)

 

***

 

Note: Saya tak tau apa saya akan melanjutkan cerita ini, kita liat aja ntar yah…. soalnya awalnya saya mau bikin cerpen (cerita yang pendek saja) tentang anak SMP yang menginjak pubertas, tapi tanpa sadar kok udah panjang ketikannya dan cerita belum selesai-selesai juga… Tapai dehhh. (Harap maklum, masih belajar).

Kategori:cerpen Tag:, ,
  1. April 19, 2008 pukul 4:27 pm

    wah bapak hebat juga ya bikin cerpennya..saya gak bisa lo pak bikin cerpen, tapi suka bacanya. Eh ya saya ada link blognya pemuda banjar yang sedang belajar di al azhar yang suka nulis juga, dia ada postingan ttg bagamana menulis tuh pak. Biar cerita bapak bisa selesai.

  2. April 21, 2008 pukul 3:00 pm

    cerpennya bagus, sayang kalau tidak dilanjutkan Pak Hadi. Sebenarnya ini kisah tentang apa? Jangan biarkan saya mati penasaran Pak!

  3. imoe
    April 21, 2008 pukul 11:07 pm

    bisa jadi kayak bastian tito tuh pak…saran saya, ceritanya di lanjutin, tapi jangan yang serius…yang lucu ya….

  4. catra
    April 22, 2008 pukul 12:33 am

    saya juga mati penasaran nihhh

  5. suhadinet
    April 22, 2008 pukul 2:59 pm

    to eswee, muhammad faiq, catra, n imoe

    Makasih untuk supportnya. Ceritanya akan dilanjutkan.

  6. kun
    April 22, 2008 pukul 4:59 pm

    jadi inget kho ping hoo. ditunggu versi jilidnya pak

    to Kun
    Bapak bisa aja (tersapu-sapu milu)

  7. Fitri Jamilah
    April 22, 2008 pukul 5:28 pm

    cerpennya bagus….
    gak ngira kalo kamu bisa bikin cerpen..
    kirain cuma bisa nulis hal-hal ilmiah aja tuh..he..he..he..soalnya tampangnya kayaknya serius gitu..
    Hal yang tersulit dalam membuat cerpen adalah membuat endingnya..,gimana kalo endingnya di mintain pendapat sama yang baca, pasti banyak request tuh…, lumayan sebagai bahan inspirasi…
    keep fight…
    siapa tahu akan lahir seorang “Andrea Hirata” baru dari Danau Panggang…

    to Fitri Jamilah
    Makasih Fit….
    Akhirnya kamu mbaca juga blog saya. Selamat ya, yang mau ke Malang Mei nanti..Moga kamu berhasil di diklat penjenjangannya…

  8. Noraina
    April 22, 2008 pukul 5:35 pm

    cerita yang OK punya….
    kirain yang nulis guru bahasa Indonesia taunya guru IPA….
    ditunggu endingnya ya….

    to aina aja gin kalu?
    makasih…
    Salam kenal ya.

  9. Misrita
    April 24, 2008 pukul 2:25 pm

    salam kenal…
    sebagai guru bahasa indonesia, saya salut dengan cerpen yang bapak buat.
    terus berkarya ya pak hadi…
    di tunggu kelanjutan cerpennya

    to misrita
    Salam kenal balik.
    Trims sudah ikutan baca dan kasih semangat.
    Part 2-nya dah nongol tuh!

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: