Beranda > cerpen > Kalung Anyaman Kulit Kijang

Kalung Anyaman Kulit Kijang


Author: Suhadi

Gampit mendorong perahunya menuju rerimbunan pohon-pohon jingah yang tumbuh berkelompok-kelompok di rawa-rawa dengan menggunakan galah bambu yang ada di tangannya. Dengan susah payah perahu kecil itu bergeser, bergerak menyeruak rumpun-rumpun enceng gondok. Perlu tenaga ekstra untuk mendorong. Surutnya dasar rawa menyebabkan rerimbunan rumpun-rumpun enceng gondok itu seperti malas unuk bergeser memberi jalan. Walaupun akar serabutnya masih sekitar setengah meter dari dasar perairan rawa-rawa. Musim kemarau telah mulai menjelang. Hawa panas siang itu mengeringkan tenggorokan Gampit. Sekarang lagi musim ikan. Namun jika rawa yang luas ini mengering, maka ikan akan semakin susah untuk didapatkan. Inilah saatnya mengumpulkan uang untuk tabungan saat paceklik ikan beberapa bulan ke depan.
Kemarin ia telah mencoba memasang beberapa lalangit (semacam jaring penangkap ikan yang diletakkan beberapa senti dari permukaan air) di daerah sekitar sini, dan hasilnya lumayan. Puluhan ikan papuyu besar berhasil nyangkut di lalangit-nya. Hari ini ia kembali akan mencoba peruntungannya di tempat itu. Pemuda berbadan tegap dengan kulit legam terbakar matahari itu berkeringatan. Begitu tebal rumpun-rumpun enceng gondok yang harus ditembusnya. Keteduhan pohon-pohon jingah yang besar rupanya tak menghalangi enceng gondok untuk tumbuh dengan rapat di tempat itu. Atau barangkali juga rumpun-rumpun enceng gondok terbawa ke sini oleh angin kencang yang bertiup semalam.
Gampit terus mendorong maju perahunya. Sesekali dengan galah bambu di tangannya ia mendorong rerumpun enceng gondok itu agar tak menghalangi moncong perahunya. Alis hitam tebalnya hampir tertutup oleh topi dari anyaman purun (rumput air khas rawa dengan batang panjang berongga), pun demikian dengan wajahnya yang menyiratkan kegigihan dan kerja keras untuk mempertahankan hidupnya bersama Mak Alau, bibinya.
Mak Alau telah merawatnya sejak kecil saat ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Ya, Gampit memang pemuda yatim piatu yang telah ditinggal mati oleh ayah-bundanya. Sejak ia menginjak umur 9 tahun. Banyak cerita tentang masa kecilnya hanya didapatnya dari Mak Alau, bibi yang merupakan adik dari almarhum ayahnya. Hanya Mak Alau-lah sanak keluarga satu-satunya. Demikian juga dengan Mak Alau, hanya Gampitlah seorang tumpuan hidupnya. Tak ada sanak famili yang lain yang dimilikinya.
Gampit terus memasang lalangit pada tempat-tempat yang menurutnya kemungkinan besar ada ikan papuyu-nya. Ketika ia menebas-nebaskan parang untuk menempatkan lalangit, Gampit kaget setengah mati. Dilihatnya seekor buaya besar di antara rumpun-rumpun enceng gondok itu. Buaya itu memandang ke arah perahunya yang kecil dengan tatapan yang menakutkan. Perlahan buaya itu berenang mendekat. Ekornya mengibas berlenggok-lenggok di dalam air menimbulkan gelombang kecil di sela-sela rumpun enceng gondok. Seumur hidupnya ia tidak pernah bertemu dengan buaya di rawa. Dulu kata orang-orang tua, di rawa-rawa ini memang banyak buayanya. Tapi sekarang sudah tidak ada, sudah tergusur oleh manusia.
Gampit mengarahkan galah yang ada di tanggannya ke arah buaya yang semakin dekat itu. Tak ada senjata apapun yang dimilikinya kecuali sebilah parang yang dipakai untuk menebas enceng gondok dan rumput-rumput rawa untuk meletakkan lalangit. Galah bambu coba diarahkannya pada buaya. Tapi sama sekali tak membuat takut sang buaya. Gampit gemetar.
Buaya itu akhirnya menerkam ujung galah bambu hingga pecah dan hancur. Gampit melepaskan galah dan mengambil parangnya. Dalam hatinya dia membayangkan, barangkali ini adalah akhir riwayat hidupnya. Tangannya semakin gemetar. Digenggamnya erat-erat gagang parang. Menunggu buaya besar jika menerkam lagi. Ia akan menanti saat yang tepat.
Beberapa saat, buaya itu akhirnya menerkam kembali. Gampit mengibaskan parang ke arah punggung buaya., sepertinya kena. Tapi mungkin juga tidak. Tak urung bahu kirinyalah yang pasti terkena tumbukan moncong buaya. Bahunya terasa basah oleh cairan kental. Ada rasa perih di bahu kirinya. Bajunya sobek. Darah mengalir berwarna merah, bercampur air saat tubuhnya limbung dan jatuh ke dalam air rawa. Memerah dan beriak air di tempat mana Gampit jatuh. Gampit berada pada setengah kesadarannya. Berbagai macam gambaran muncul di matanya. Mak Alau yang memeliharanya yang sudah tua renta, dengan rambut putih yang menandakan kebijaksanaannya. Dibayangkannya wanita itu menepuk-nepuk punggungnya saat rebahan, ketika ia masih kecil. Mendongengkan berbagai cerita melengkapi malam-malamnya. Ia berumur sembilan tahun ketika ayah dan ibunya meninggal. Kata orang-orang, ayah dan ibunya mati diterkam buaya. Ia tak terlalu tahu cerita persisnya. Bibinya, Mak Alau, tak terlalu suka jika ditanya tentang peristiwa menyedihkan itu. Ah rupanya hari ini ia pun akan menerima nasib yang sama. Mati di makan buaya. Terbayang pula di ruang matanya, Galuh, sang gadis pujaan tersenyum kepadanya, memanggil-manggil namanya. Betapa cantiknya Galuh. Gadis yang menjadi rebutan setiap pemuda di desanya. Tinggal seminggu lagi hari pernikahan mereka akan dilangsungkan. Ah Galuh, kau….
Saat Gampit terjatuh ke dalam air, mencoba menyadarkan diri. Tapi semakin kuat usahanya semakin ia tenggelam. Jatuh. Ia tak tau apakah ia sudah mati. Barangkali ia sekarang sedang menuju alam arwah. Alam kematian. Perlahan-lahan di semuanya menjadi abu-abu, lalu putih…putih…putih dan semakin putih. Ahirnya Gampit tak ingat apa-apa lagi.

***
Perlahan-lahan Gampit membuka matanya. Cahaya putih itu, rupanya telah merangsang saraf-saraf matanya. Ia membuka kelopak matanya. Ia berada di sebuah ruang sederhana namun bersih dan rapi. Dinding rumah dari kayu yang berwarna kecoklatan, dengan lantai beralaskan tikar purun. Sebuah meja kecil di samping dipan di mana ia berbaring saat itu terdapat sebuah wadah berisi cairan berwarna hijau. Semacam obat-obatan. Seberkas cahaya matahari pagi mengenai wajahnya, menelisik masuk kamar setelah menerobos rimbunnya daun-daun pohon jingah di samping pondok di mana dia berbaring saat itu. Cahaya matahari itulah rupanya yang telah menyadarkannya. Gampit mencoba menyandarkan tubuhnya, tapi rasa sakit tiba-tiba menusuk di arah bahunya. Rupaya bahunya benar terluka, ada banyak sisa-sisa darah kering bercampur baluran obat dari ramuan tumbuhan-tumbuhan yang berwarna hijau. Ya, terluka oleh gigi-gigi menakutkan buaya itu… Berarti ia selamat.
“Diamlah dulu jangan Kakak banyak bergerak.” Terdengar suara lembut dari arah pintu kamar. Seorang gadis cantik berkulit putih-kuning dengan rambut hitam tergerai tersenyum masuk sambil membawa segelas minuman. Suaranya begitu lembut dan menenangkan. Matanya berkilat-kilat menunjukkan kecerdasan akal pikirnya.
“Nanti lukanya terbuka lagi.”
“Di manakah aku?”
“Tenanglah…Kakak di tempat yang aman. Minumlah ini, pasti Kakak akan merasa lebih bugar.” Gadis itu menyodorkan minuman hangat. Gampit mereguknya.
Gampit mencoba menenangkan diri. Keramahtamahan dan kecantikan gadis itu membiusnya beberapa saat.
“Buaya itu?”
“Ya buaya itu hampir saja membunuh Kakak. Lihatlah!” Gadis itu menunjuk ke arah luar dari jendela kamar yang langsung menghadap ke bagian teras pondok. Di dahan pohon jingah yang sangat besar dekat teras itu tergantung sesosok buaya besar. Moncongnya diikat dengan rotan. Buaya itu tak bergerak lagi, tampaknya sudah mati.
“Kata Kak Bandrang buaya itu akan ia ambil kulitnya.”
Gampit bangkit perlahan. Ukuran buaya yang besar itu menimbulkan keinginannya untuk melihat dari dekat.
“Ah Kakak keras kepala, jangan terlalu banyak bergerak!” kata gadis itu, tapi ucapannya itu hanya semacam basa-basi karena segera ia membantu Gampit bangkit dari dipan. Gampit dengan dituntun gadis itu berjalan menuju beranda depan. Mendekati dan mengamati buaya yang hampir saja membunuhnya itu.
“Besar sekali, dalam beberapa kali kunyah aku pasti sudah lumat.” Kata Gampit penuh kekaguman.
“Ya, untung ada Kakakku Bandrang. Kau sempat ditolongnya.”
“Kakakmu? Bandrang?”
“Ya, itu dia!” gadis itu menunjuk ke arah batang-batang pohon jingah yang tak jauh dari rumah mungil itu. Seorang lelaki tegap melambaikan tangan kepada Gampit. Gampit membalasnya. Walaupun dengan sedikit meringis menahan sakit dibagian lukanya. Laki-laki yang sedang mengikat perahu itu kemudian berjalan di titian dari beberapa batang bambu. Titian itu menghubungkan teras pondok dengan dermaga tempat dimana pemuda itu menambatkan perahunya. Ia mendekati mereka.
“Sudah enakan?” Pemuda berwajah tampan yang berkulit putih-kuning itu menyapanya dengan senyuman.
“Lumayan.”
“Syukurlah”
Dengan cepat Gampit dapat akrab dengan Bandrang dan Mayang yang merupakan kakak beradik itu. Mereka hanya tinggal berdua di pondok kecil namun apik di bawah lebatnya pepohonan jingah di tengah-tengah rawa yang sangat luas itu. Tak bisa dibayangkannya kenapa kedua kakak beradik itu tinggal terasing dari orang banyak. Tak berani ia menanyakannya. Toh itu bukan urusannya. Gampit juga tak tahu persis di bagian rawa mana ia berada. Seumur hidupnya ia telah mengenal dengan baik rawa di daerah Danau Panggang ini. Tapi tak pernah dia bertemu dengan Bandrang ataupun Mayang. Apalagi melihat tempat tinggal mereka ini. Ah barangkali saja aku memang telah sangat jauh dari desa, pikir Gampit.

***
Sudah lima hari Gampit tinggal dengan kakak beradik yang baik hati itu. Lukanya sudah mulai sembuh. Bahkan Gampit telah bisa membantu sedikit-sedikit pekerjaan Bandrang. Membelah kayu bakar, membantu Mayang menjemur ikan hasil tangkapan Bandrang, dan pekerjaan-pekerjaan kecil lainnya. Mayang begitu baik dengannya. Malah Gampit merasa, bahwa gadis berambut panjang dan selalu tergerai itu sepertinya menaruh hati padanya. Gampit bisa melihat itu dari cara Mayang menatapnya. Cara Mayang memperlakukannya. Bandrangpun sepertinya tak keberatan dengan sikap Mayang kepada Gampit. Gampit merasa Bandrang selalu memberi kesempatan kepada Mayang untuk berdua-duaan dengannya. Kalau pergi, Bandrang lama sekali, sehingga hanya Gampit dan Mayang di pondok kecil itu. Gampit yakin, lelaki manapun pasti akan sangat mudah jatuh cinta dengan gadis itu. Tawanya yang renyah dan jenaka gerak bola matanya selalu mencuri perhatian. Suaranya yang lembut serta penampilan fisik yang sangat mempesona. Tak pernah di desanya ada gadis secantik Mayang. Tidak ada. Tidak pula Galuh. Galuh… Tiba-tiba seperti tersentak dari semua yang membiusnya. Gampit teringat akan kekasihnya. Galuh, gadis yang selalu mendatanginya dengan membawa berbagai macam makanan dan kue-kue. Galuh, tiba-tiba kerinduannya akan Galuh menyeruak. Galuh tidak secantik Mayang. Kulitnya putih tak seputih dan semulus Mayang.
Gampit meraba lehernya, sebuah kalung dari anyaman kulit kijang yang dibentuk seperti tali. Kalung pemberian Galuh. Gadis pujaannya dan pujanan bujang-bujang di kampungnya. Kembang desa yang seminggu lagi akan dinikahinya. Seminggu lagi? Bukankah aku telah hampir seminggu di sini? Gampit semakin tersadar.
Kalung berwarna hitam itu masih melekat dilehernya yang kekar. Tersampir di atas dadanya yang bidang. Serasi dengan kulitnya yang berwarna coklat karena terpanggang matahari. Galuh…aku harus pulang.
Dibalik pintu, Mayang yang sedari tadi mengamati gerak-gerik Gampit menjadi gusar hatinya. Ia tahu pemuda gagah yang sudah hampir seminggu tinggal bersama mereka itu merindukan kekasihnya. Gampit akan meninggalkannya. Mayang masuk ke kamar mendekati Gampit yang sedang melamun.
“Kak Gampit, ada apa? Sepertinya ada yang merisaukan hati Kakak” tanya Mayang dengan penuh goda.
“Aku harus pulang Mayang. Ada bibiku yang pasti sudah cemas menungguku. Pastilah perempuan tua itu sangat risau hatinya. Kasihan dia.” Gampit mengatakan yang sebenarnya. Dia memang mengkhawatirkan bibinya, Mak Alau. Tapi tentu saja ia tak ingin menyakiti hati Mayang dengan mengatakan bahwa ia juga sangat merindukan Galuh.
“Tinggalah di sini saja Kak, bersama kami! Bukankah Kakak senang tinggal di sini?”
“Tentu aku senang Mayang. Kalian sangat baik padaku.Kau telah merawat lukaku sampai sembuh. Bandrang telah menyelamatkan nyawaku. Kalau tak ada Bandrang tentulah aku sudah mati.”
“Kalau begitu kenapa Kakak harus pulang?”
“Aku harus pulang Mayang. Kasihan bibi. Pastilah dia menangis terus. Dia sebatang kara Mayang.”
“Pasti ada sebab lain…kalung itu pemberian seorang gadis bukan?” Mayang menunjuk kalung di leher Gampit. Kali ini tampak jelas matanya berkaca-kaca. Mayang hampir menangis. “Kakak merindukan gadis itu, dan Kakak akan meninggalkan aku demi dia. Huu…hu…” Terisak-isaklah gadis itu.
“Ini?” Gampit
Mayang mengangguk, sambil sesenggukan.
“Baiklah, ini memang pemberian seorang gadis. Gadis yang sangat aku cintai. Aku telah berjanji menikahinya. Aku tak boleh mengingkari itu Mayang.” Gampit mencoba memberi pengertian pada gadis itu.
“Tidak!!! Kamu tidak boleh pergi. Kamu milikku!!!” Tiba-tiba Mayang melompat ke arah Gampit. Merenggut kalung hitam dari kulit kijang itu. Lalu mencampakkannya ke luar jendela kamar. Kalung itu jatuh ke dalam air rawa. Gampit berlari keluar pondok itu untuk mengambil kalung itu. Mayang mencoba menahannya dengan memegang lengan Gampit. Tubuh gadis itu sampai terseret karena Gampit tak memperdulikannya. Pegangan tangan Mayang terlepas. Tanpa pikir panjang pemuda itu langsung terjun ke air.
Byurrrr…… di kejernihan air rawa itu Gampit melihat kalung kulit kijang itu melayang-layang turun. Gampit menyelam sekuat tenanga. Aneh, pikir Gampit. Rawa ini seperti tak ada dasarnya. Batang-batang seroja itu, panjang sekali. Saling kait-mengkait. Tapi Gampit tak melihat dasar rawa yang harusnya tak sampai setinggi badan orang dewasa itu. Begitu jauh kalung kulit kijang itu melayang-layang perlahan. Gampit terus menahan napas, mengerahkan sekuat tenanganya untuk meraih kalung itu kembali. Menyelam sambil menyibak batang-batang seroja yang saling-silang kait berkait. Di belakangnya, tanpa di duga Mayang rupanya juga ikut bercebur menyelam mengejarnya. Suaranya terdengar lirih dekat permukaan, beberapa meter di atasnya.”Kembali Kakak Gampit, kembali…Aku mencintaimu…jangan tinggalkan Mayang Kak Gampit….” Beberapa saat saja sesosok tubuh lain memegangi tangan Mayang yang berusaha menyelam mengejar Gampit itu. Bandrang, pemuda itu yang tidak lain kakak Mayang itu mencoba menahan adiknya.
“Sudahlah Mayang! Biarkan dia pergi. Bukan tempatnya dia di sini Mayang. Ayolah Mayang! Relakan..biarkan ia kembali ke dunianya!”
Sekilas Gampit melihat, Mayang terus saja meronta-ronta, namun pegangan Bandrang yang kuat membuat gadis itu tak berdaya sama sekali.
Gampit terus berusaha mengejar kalung itu, tangannya mencoba menggapai-gapai kalung yang melayang-layang itu. Ia hampir kehabisan napas. Tekanan air terasa seperti akan memecahkan gendang telinganya. Tubuhnya terasa seperti akan terlontar ke permukaan karena jauhnya ia menyelam. Pada saat-saat terakhir…kalung itu tergapai jua olehnya. Lalu tiba-tiba semua kabur, semua tampak abu-abu, lalu berubah menjadi putih semakin putih semakin putih. Gampit akhirnya tak ingat apa-apa lagi.

***

Perlahan-lahan Gampit membuka matanya. Cahaya putih itu, rupanya telah merangsang saraf-saraf matanya. Ia membuka kelopak matanya. Ia berada di sebuah ruang sederhana namun bersih dan rapi. Dinding rumah dari kayu yang berwarna kecoklatan, dengan lantai beralaskan tikar purun. Gampit mengamati sekelilingnya. Ia takut. Takut sekali.
“Kak Gampit! Kakak telah siuman?” Jangan banyak bergerak dulu.
Gampit mengamati wajah gadis di depannya. Cantik dengan senyuman manis yang telah sangat dikenalnya.
“Galuh?”
“Iya Kak. Syukurlah Kakak bisa pulang dengan selamat” Mata Galuh bersinar-sinar karena kegembiraan yang meluap-luap.
“Kami semua sudah hampir putus asa. Lima hari kamu hilang anakku. Seisi kampung dikerahkan untuk mencarimu. Aku sudah hampir merelakanmu…Galuh hanya menangis saja. Untunglah salah seorang penduduk menemukanmu tersangkut di sebatang pohon jingah di tepi sungai dalam keadaan tak sadarkan diri” Mak Alau, bibinya yang sudah tua itu lalu memeluk Gampit dengan sangat erat.
Gampit tersadar, ia ada di kamarnya. Di kampungnya sendiri. Desa Sapala. Kini ia bersama orang-orang yang dicintainya. Gampit meraba lehernya, kalung dari kulit kijang itu masih melingkari lehernya. Dirabanya pula bahu kirinya, tak ada bekas luka karena diserang buaya besar.
Seminggu setelah kesehatan Gampit pulih seperti sediakala Ia menikah dengan Galuh. Sampai saat ini, jika orang-orang bertanya kemana ia menghilang selama lima hari. Gampit tak bisa menjawabnya. Ia pun tak ingin mengingatnya lagi. Walaupun, sampai saat ini ia tetap menyimpan sepotong kisah itu, kalung anyaman kulit kijang.

Danau Panggang, 13 April 2008.

 

  1. catra
    April 13, 2008 pukul 2:00 pm

    wahhh, kisah romatisme yang indah. si gampit tetap setia walau ada seseorang yang lebih dari calon istrinya, yang merawatnya. si gampit tetap teguh pada pendiriannya.

    cerpen yang keren,

    pak sepertinya di paragrafaf terakhir ada kesalahan ya?

    Seminggu setelah kesehatan Gampit pulih seperti sediakala Ia menikah dengan Mayang. Sampai saat ini, jika orang-orang bertanya kemana ia menghilang selama lima hari. Gampit tak bisa menjawabnya. Ia pun tak ingin mengingatnya lagi. Walaupun, sampai saat ini ia tetap menyimpan sepotong kisah itu, kalung anyaman kulit kijang.

    bukannya mau menikahi si galuh?

    to Catra
    Yup bener..
    Makasih atas koreksinya Cat.
    Btw, sebenarnya cerpen ini saya buat karena ngiri sama Pak Sawali Tuhutseya. Waktu saya lihat blognya, wuih..cerpennya keren-keren. Timbullah keinginan untuk belajar bikin cerpen..Lalu jadilah cerpen pertama saya ini….Thanks Pak Sawali…

    to Blogger yang lain yang berkenan membaca cerpen ini, jangan lupa kasih kritik n sarannya ya…

  2. April 15, 2008 pukul 3:11 pm

    cerpennya manis
    mungkin aga terlalu “lembut” bagi saya

    tapi tetap saja tidak menghilangkan kata: BAGUS !!

  3. maskun
    April 17, 2008 pukul 8:54 pm

    Khas gaya tulisannya, saya suka gaya penulisan yang berbeda dari yang lain. ditunggu yang lainnya pak

  4. Murti
    Juni 21, 2010 pukul 2:31 pm

    aku suka ceritanya,

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: