Beranda > bahan bacaan > Kalau Guru IPA Mengajar Bahasa Indonesia

Kalau Guru IPA Mengajar Bahasa Indonesia


Author : Suhadi

 

Selain mengajar IPA yang memang sesuai dengan latar belakang pendidikan saya, setiap hari Senin dan Kamis saya juga mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas VII. Hal ini sebenarnya terpaksa dilakukan karena di sekolah saya sampai sekarang belum juga mempunyai guru yang berlatar belakang pendidikan Bahasa Indonesia sejak sekolah ini didirikan (tahun 1993). Bersama dua orang guru lainnya, kami membagi “beban” itu bersama-sama. Di dalam hati, sebenarnya saya kadang-kadang bisa menikmati mengajar Bahasa Indonesia ini, ada kepuasan tersendiri. Basicly, saya memang tertarik dengan mata pelajaran ini. Mungkin ketertarikan saya pada bidang ini tidak jauh berbeda dengan ketertarikan saya terhadap bidang biologi. Saya senang dengan guru-guru bahasa yang pernah saya mengajar saya dari tingkat SD sampai SMA. Rata-rata, mereka adalah pribadi yang menyenangkan. Dulu waktu SD dan SMP, bagian yang paling menarik menurut saya dari pelajaran Bahasa Indonesia adalah pelajaran mengarang. Walaupun saya tau persis, karangan saya jelek.

Kembali ke masalah kenikmatan mengajar Bahasa Indonesia di kelas VII: Hari Senin yang lalu misalnya, ketika saya mencoba mengajarkan “kata acu” dan “kata ganti” pada mereka. Ada hal tak terduga yang membuat pelajaran hari itu begitu menyenangkan. Seperti biasa, dalam pelajaran Bahasa Indonesia, anak-anak sering diminta membuat contoh kalimat. Begitupun hari itu, anak-anak, diminta mebuat contoh-contoh kalimat dengan kata acu dan kata ganti.

Baiklah, sebelum saya melanjutkan cerita saya, ada baiknya kita mengingat kembali sedikit pelajaran kita waktu di SMP dulu tentang kata acu dan kata ganti. Perhatikan contoh di bawah ini:

Kalimat pertama : Apakah kamu masih mempunyai ibu?

Kalimat kedua     : Kenapa Ibu tertawa?

 

Kata ibu pada contoh pertama adalah kata acu. Kata ibu di sini digunakan untuk menunjuk atau mengacu pada seorang wanita yang melahirkan kita. Kata ibu untuk pada kalimat pertama yang merupakan kata acu ini ditulis dengan huruf kecil. Sedangkan kata Ibu pada kalimat yang kedua dipakai sebagai kata ganti, dalam hal ini adalah kata ganti orang kedua. Sebagai kata ganti, kata Ibu diawali dengan huruf kapital.

Salah satu cara mudah untuk membedakan kedua kata ini adalah dengan mengujinya. Jika kata Ibu pada kalimat kedua diganti dengan kata kamu, maka kalimat tersebut masih masuk akal, yaitu menjadi:

Kenapa kamu tertawa?

 

Tapi, bila kata ibu pada kalimat pertama diganti dengan kata kamu, maka kalimatnya jadi kacau, yaitu:

 

Apakah kamu masih mempunyai kamu?

 

Nah, begitulah cara saya mengajarkan kedua jenis kata ini. Mudah-mudahan saya tidak salah. Saya tau saya sangat tidak layak mengajar Bahasa Indonesia. Tapi apa daya, tak ada rotan akarpun jadi. Begitulah prinsip kami, walaupun prinsip yang dipaksakan.

Okey, kita kembali ke cerita saya dan lupakan pelajaran Bahasa Indonesia dari saya yang mungkin salah. (Kalau di antara pembaca ada guru Bahasa Indonesia, tolong koreksi saya).

Setelah separuh waktu saya habiskan untuk memberi kesempatan kepada siswa untuk mengamati contoh-contoh kedua jenis kata (kaca acu dan kata ganti) pada buku ajar, saya menjelaskan, memberikan contoh-contoh, mengecek pemahaman mereka, lalu saya minta-lah mereka membuat contoh-contoh kalimat. Waktu itu saya minta mereka membuat contoh kalimat dengan ‘kata acu’ : paman. Saya kemudian memberi mereka sebuah contoh kalimat yang menggunakan kata acu paman. Kalimat yang saya tulis : Hari ini saya pergi ke rumah paman di Amuntai.

Kepada siswa-siswa itu,  kalimat yang dibuat saya minta untuk dituliskan ke papan tulis secara bergiliran. Orang pertama, orang kedua, sampai orang kelima maju bergiliran menuliskan kalimat yang mereka buat. Biasa-biasa saja. Malah ada kecendrungan mereka mengulang-ulang bentuk kalimat yang saya contohkan sebelumnya dengan hanya sedikit perubahan (variasi). Wah, gak kreatif ini. Ketika saya minta mereka berpikir ulang, saya mencek kalimat-kalimat yang mereka tulis di buku catatan. Kalimat-kalimat yang mengandung kata acu: paman tersebut bagi saya begitu-begitu saja. Betul, di buku catatan mereka, kalimat-kalimat yang ditulis rata-rata mengandung kata pergi, rumah, hari ini, hari esok. Pokoknya masih mirip dengan contoh yang saya berikan. Misalnya, ada yang menulis begini: Besok saya pergi ke rumah paman di Banjarmasin. Ada juga yang menulis : Andi pergi ke rumah paman.

Saya minta mereka lebih kreatif. Saya minta mereka membayangkan apa saja, mungkin buku cerita yang pernah dibaca, mungkin…mungkin….saya sempat kehabisan kata-kata. Akhirnya terlompat dari mulut saya: mungkin kamu bisa membayangkan kalimat-kalimat yang digunakan di sebuah sinetron, atau barangkali cerita khayalanmu sendiri. Saya beri mereka waktu lima menit.

Tik..tik..tik…tik…detik-demi detik saya tunggu. Lalu saya berputar, memeriksa meja setiap siswa. Ada kemajuan, tapi tidak banyak. Beberapa siswa mulai bisa membuat kalimat yang benar-benar beda dari kalimat yang saya contohkan. Kegembiraan itupun mulai muncul dalam diri saya. Misalnya saja ada yang menulis begini: Sejak bibi sakit, paman jadi sering melamun. Wow…luar biasa. Langsung siswa tersebut saya minta menulis kalimat tersebut ke papan tulis. Lalu ada lagi: Kemarin paman menemani saya bermain bulutangkis di halaman. Kemudian ada lagi dan menurut saya sangat luar biasa walaupun dengan kesalahan penulisan huruf kapital: Beberapa waktu yang lalu paman pergi ke sungai larangan. Langsung sepotong kapur saya sodorkan pada anak itu.

“Arjuni tulis punyamu!”

Melihat kalimat yang ketiga ini saya jadi ada ide. Sebelumnya saya minta dulu mereka mengoreksi tata penulisan pada kalimat tersebut, yang akhirnya setelah diskusi penulisannya menjadi: Beberapa waktu yang lalu paman pergi ke Sungai Larangan.

Kalimat tersebut walaupun benar dari struktur bahasa (mmm bener gak ya…), tampak aneh bagi saya. Di daerah sekitar saya mengajar tidak ada sungai yang namanya Sungai Larangan. Itu menggelitik saya untuk menanyakan kepada siswa yang menulis kalimat itu. Akhirnya dengan tersipu-sipu anak itu menjawab bahwa kalimat itu dibuat berdasarkan imajinasinya akan sebuah cerita khayalannya tentang Sungai Larangan. Sebuah sungai yang terlarang untuk didatangi. Saya tidak melanjutkan pertanyaan saya, takut kehabisan waktu.

Kata saya kepada mereka: “Baik anak-anak, Bapak tahu kalian sudah membuat kalimat-kalimat yang bagus dengan kata acu ‘paman’ di buku kalian. Bapak sudah periksa itu tadi dengan mencek berkeliling, jadi kalian tidak usah menuliskan kalimat itu di papan tulis. Sekarang perhatikan kalimat yang baru saja di tulis oleh Arjuni tadi. Bapak sekarang menantang kalian untuk membuat kalimat dengan kata acu ‘paman’, tetapi kalimat yang dibuat harus dapat dihubungkan dengan kalimat yang ditulis oleh Arjuni tadi.

Saya kemudian menulis sebuah kalimat di papan tulis. Berbunyi demikian: Beberapa orang melihat paman memancing di Sungai Larangan.

“Perhatikan! Bapak menulis demikian di papan tulis karena dalam pikiran bapak memancing di Sungai Larangan itu di larang. Bapak membuat kalimat tersebut sebagai sebuah kalimat yang berhubungan dengan kalimat yang dibuat oleh Arjuni tadi. Sekarang bapak akan tambahkan satu contoh lagi.” Lalu saya menulis lagi: Orang-orang kampung melaporkan paman kepada kepala desa.

“Kalian lihat, bapak buat lagi satu contoh kalimat. Kalimat yang berhubungan dan tetap mengandung ‘kata acu’ paman. Kalian bisa lihat ada alur ceritanya ya? Nah, coba kalian buat lagi kalimat-kalimat berikutnya. Terserah imajinasi, khayalan, kreativitas kamu!” Mereka akhirnya dapat menangkap maksud dan keinginan saya. Saya beri mereka waktu untuk berpikir. Beberapa saat kemudian salah satu siswa mengacungkan tangan.

“Saya coba Pak!” Anak itu saya persilakan menulis. Dia menulis:

Kepala desa bersama orang sekampung mendatangi paman.

Lalu ada lagi yang maju dan menulis:

Perbuatan paman dilaporkan ke polisi.

Kemudian:

Hari ini paman resmi menjadi tersangka.

Anak-anak yang menulis kalimat itu saya beri senyuman paling manis, ditambah lagak saya yang mengangguk-angguk, plus acungan jempol. Mereka tampak gembira. Mereka mulai berbisik-bisik dengan teman di samping, di belakang, atau di depannya. Mereka memikirkan, mendiskusikan, lalu cekikikan… happy. Beberapa anak menulis lagi di papan…yang di bangku memikirkan, diskusi, cekikikan…lalu ada lagi yang menulis…… yang di bangku memikirkan, diskusi, cekikikan…..happy.

Akhirnya, sekitar sepuluh menit di papan tulis terdapat berbagai kalimat berturut-turut:

Sebulan lamanya paman dimasukkan ke sel tahanan.

Akhirnya hari kebebasan paman datang juga.

Kami sekeluarga gembira paman sudah bebas.

Besok kami akan mengadakan acara selamatan untuk paman.

Bapak kepala desa juga hadir dan menyalami paman.

Orang-orang sekampung telah memaafkan perbuatan paman.

Ada juga kalimat-kalimat lain yang menurut saya masih biasa-biasa saja sehingga tidak saya tulis di sini. Tapi tak apa,toh mereka telah berusaha dengan keras. Saya tetap tersenyum dan mengacungi jempol untuk mereka, walaupun teman-teman mereka sepertinya sadar kalimat itu kurang memuaskan, kurang variatif, kurang kreatif.

“Luar biasa!” kata saya kepada mereka. “Sekarang lihat, betapa berbedanya kalimat-kalimat yang telah kalian buat. Bapak senang sekali. Sekali lagi bapak ingin kalian ingat. Kreatif, kreatif, dan kreatif. Berpikirlah bebas. Maka ide-ide aneh yang luar biasa akan muncul dengan sendiri di kepala kalian.”

Beberapa saat kemudian terdengar lonceng pergantian jam pelajaran. Saya pamit dengan mengucapkan salam. Sambil berjalan menuju ruang kantor saya berpikir, boleh ndak ya saya mengajar dengan cara demikian?

  1. catra
    April 9, 2008 pukul 11:36 pm

    selain mengincar posisi pertamax di komen ini, saya juga ingin bilang kalau postingan ini mengingatkan saya dulu waktu saya masih SMP.

    *kangensaatsaatitu*

    to Catra
    Makasih Cat, aku yakin kamu orang yang paling sering ngunjungin blog jelek ini. Hehe…dan kamu…. Berhasil! Berhasil! Berhasil! (Dora and de genk)
    Ehmmm masa-masa SMP, masa-masa yang menyenangkan ya? Kamu di mana saat itu? Sumatra ya? Bagi saya masa-masa SMP adalah saat saya bertemu guru-guru hebat, banyak di antara mereka yang secara tidak langsung mempengaruhi jalan hidup saya, menginspirasi saya hingga semakin kuat cita-cita untuk menjadi guru

  2. April 10, 2008 pukul 9:58 am

    wah, mesti bukan guru bahasa indonesia, menraik juga metode yang pak hadi gunakan. btw, ttg kata acuan dan kata sapaan, memang masih sering membingungkan anak2. penggunaan contoh dalam kalimat seperti yang pak hadi gunakan akan lebih mengena daripada menyampaikan teorinya. harus diakui, aelama ini anak-anak belum belajar berbahasa, tetapi baru belajar ttg bahasa. yups, salam kreatif.

    to Pak Sawali
    Salam kreatif juga!
    Saya kreatif PaK? Hehehe…makasih..(hidung kembang-kempis)

  3. April 10, 2008 pukul 7:36 pm

    mbaca jawaban para siswa bikin senyum geli
    *mungkin itu sebabnya saia juga nilai saya aga rendah di bahasa indonesia.. soale sering bikin binun

    to lainsiji
    Hehehe…saya dulu juga pernah gak lulus mata kuliah Bahasa Indonesia waktu TPB

  4. April 11, 2008 pukul 9:23 am

    great job n willing pak.. semoga sukses mencerdaskan kehidupan bangsa

    to Suryo
    Makacih…amin 3000x

  5. rickisaputra
    April 11, 2008 pukul 2:23 pm

    wuaahh… posisi pertamax dah didahului catra.. hehehe..😀

    mas suhadi, mengarang, bagi saya, merupakan bagian terpenting dari pelajaran bahasa indonesia, selain karena saya memang menyukai menulis dan mengarang cerita, tapi juga karena melalui mengarang kemampuan bahasa seseorang dapat dinilai dan diamati perkembangannya..🙂

    great blog.. best regard

    to rickisaputra
    Pantas tulisanmu bagus-bagus! Posisi pertamx? (loe ngincer juga…? Jadi geer dah saya)
    Blog kamu lebih keren

  6. sahabat88
    April 11, 2008 pukul 2:34 pm

    terima kasih ceritanya..
    sangat bermanfaat
    pantang mundur mass….eh pak guru?
    😀

    to Sahabat 88
    Sukur dah kalau ada manfaatnya. Makasih mau berkunjung ke blog saya
    Siap!! Pantang Mundur!!!

  7. April 11, 2008 pukul 7:05 pm

    wah guru ipa Pak? Mau dong diajarin…nilai saya jelek mulu nih TO ipa nya. haha.

    to Ayaelectro
    Kalau liat kacamatamu kayaknya gak tuh!!
    Kamu kan paling seneng matematika? Masih sodaraan sama IPA kok. haha..ha juga

  8. April 13, 2008 pukul 10:24 pm

    Luar biasa. Guru pelosok kualitas metropolis. Ngajar yang bukan backgroundnya saja sehebat itu, apalagi ngajar IPA. Saya sering natar guru-guru Jakarta untuk nulis modul SMP/SMA Terbuka. Belum pernah nemui guru IPA jago nulis bahasa spt ini. Ternyata guru2 Jakarta kalah hebat dengan guru pelosok (yg bener??). Salut.
    Ohya, makasih telah berkunjung ke blog saya. salam kenal juga.

    to Aristo
    Ya ndak mungkin lah Pak guru metropolis kalah sama guru pelosok.
    Sering-sering berkunjung ya Pak.

  9. imoe
    April 14, 2008 pukul 12:01 am

    Waduhhhhhh jadi GURU itu emang nikmat…saya hampir saja jadi guru, udah kuliah AKTA IV…IPK 3,7…tapi pas tugas akhirrr saya berhenti karena saya lihat banyak guru kita sekarang yang tidak tulus lagi…tidak berorientasi kepada anak didik. Jadi saya memilih menjadi guru dengan cara lain…CATRA teman dialog saya sejak dia masih kelas II SMP, sekaligus guru bagi saya…. BERBAHAGIALAH MENJADI GURU YANG TULUS….

    to imoe
    wow…dah diskusi sejak kelas II smp. Sohib kental donk!
    Yup, kamu bener…jagi guru gak musti di sekolah..ngajarin temen belajar kalkulus juga berarti kita jadi guru…ato…ngajarin ibu mbetulin kompor?
    Saya senang sekali bisa kenal sama kalian

  10. heri
    April 14, 2008 pukul 2:14 pm

    sudah siplah

    to heri
    alhamdulillah…pelan-pelan Her

  11. Juni 28, 2008 pukul 10:08 pm

    Wah, pengalaman yang unik, Pak. Tetapi memang semua pelajaran selalu berhubungan dengan ilmu bahasa, bukan?
    Saya adalah guru bahasa Indonesia SD dan SMP yang berusaha meramu satu atau dua pelajaran saat mengajar. Mungkin kita bisa berbagi pengalaman?

  12. Putri_Pratama
    Juni 29, 2008 pukul 9:48 am

    Wah, menarik juga pengalaman Anda, Pak. Tidak perlu bimbang maupun ragu, Pak, bukankah semua pelajaran memang berhubungan dengan bahasa? Saya yakin murid-murid menyukai cara mengajar Bapak karena itu dapat memacu kreativitas berpikir mereka.
    Oh ya, saya adalah guru bahasa Indonesia untuk jenjang SD dan SMP dengan latar belakang pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Mungkin saya tidak akan berani seperti Bapak, mengajar IPA, sedangkan saya guru bahasa Indonesia!

  13. Juni 7, 2009 pukul 10:38 pm

    Selamat atas kesediaan pak Suhadi mengajarkan siswa pelajaran bahasa Indonesia walaupun latar belakang pendidikannya Biologi. Semoga diteladani oleh bapak-bapak dan ibu-ibu guru lain, apalagi yang berlatar belakang sastra Indonesia/pengajaran bahasa dan sastra Indonesia. Saya juga pengajar bahasa Indonesia di Depok Jabar memberi penghormatan yang tulus kepada pak Suhadi dan juga salam kenal.

  14. Geria
    Juni 15, 2009 pukul 4:40 am

    You’re the best creative teacher

  15. nina tampubolon
    September 18, 2009 pukul 2:22 pm

    terima kasih Pak buat ilmunya……………
    saya guru Bahasa Indonesia untuk tingkat SD, jujur Pak semenjak ngajar di SD ilmu yang ada semakin terlupakan mungkin karena yang saya hadapi anak SD.

  16. Oktober 11, 2009 pukul 12:51 am

    Sangat menarik cerita pengalaman Pak Suhadi.
    Jangan bosan untuk terus berbagi pengalaman pak, terima kasih

  17. kartina
    November 18, 2009 pukul 5:59 pm

    wah bagus sekali ceritanya , aku aja yang guru bahasa indonesia tidak bisa mengajar kayak to, sukses selalu…………..

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: