Beranda > Uncategorized > Dalam Pemikiran “Seorang Gila”

Dalam Pemikiran “Seorang Gila”


Author: Suhadi

Pagi ini lumayan cerah, setelah beberapa hari yang lalu saya selalu disiram hujan saat berangkat ke sekolah. Wah, lumayan, sambil nyantai naik motor menghirup udara pedesaan yang segar. Jalan Alabio – Sungai Namang (Kec. Danau Panggang) sepanjang lebih-kurang 20 km yang sudah lama rusak makin tambah rusak dengan lubang-lubang lebar dan dalam masih menyisakan genangan-genangan air bak kolam lele yang baru habis dipanen. Sepanjang jalan, motor saya harus meliuk-liuk,ke kiri-kanan jalan untuk menghindari genangan-genangan air itu. Kayak lagi ikut tes bikin sim di Polres aja. Slalom men…!
Nah, dalam perjalanan itu, ketika saya melewati bagian ruas jalan yang teramat rusak di sekitar Desa Rantau Bujur Hilir, ketika saya kembali harus melewati sebuah genangan besar… saya dikagetkan oleh ulah seorang gila.  Laki-laki berumur kurang-lebih 60 tahun dengan

 memakai seragam hijau tentara (atau: hansip barangkali…dilengkapi dengan berbagai atribut dari plastik bungkus makanan ringan yang ditempel di bahu kiri-kanan, dan dada dengan maksud sebagai emblem) melambai-lambaikan tangan seperti seorang polantas yang sedang mengatur lalu lintas. Terpancang mata saya pada lelaki tua itu (bukan pada seragamnya, tapi lebih kepada raut wajah tua yang kelihatan serius dengan aktivitasnya itu). Hampir-hampir motor saya masuk ke genangan besar.
Sepanjang perjalanan pikiran saya jadi terpaut pada lelaki tua gila tadi. Gila! Kita menyebut dan mencap orang-orang yang berperilaku aneh semacam itu sebagai orang gila. Bukan pada cara dia melambai-lambaikan dan menggerak-gerakkan tangan saat mengatur lalu-lintas. Tapi pikiran saya terpaut pada alasan atau kebiasaan atau keputusan kita yang serta-merta mencap orang sedemikian sebagai orang gila.
Saya jadi ingat kelakar seorang teman, salah seorang guru di sekolah saya, saat kami membicarakan tentang orang gila yang lain (bukan lelaki tadi). Katanya, “Kita menganggap orang gila itu gila, sebenarnya dalam pikiran orang gila, justru kitalah yang gila.”
Barangkali benar apa kata teman saya tadi. (Saya mulai meyakini kebenaran kata-kata yang diucapkannya dalam bentuk kelakar itu). Saya bukan ahli psikologi, tapi boleh dong sesekali menganalisis?
Seorang gila, adalah seorang yang sangat asyik dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Misalnya: lelaki 60 tahun tadi, barangkali di dalam alam pikirannya dia adalah seorang polantas. Saking asyiknya dengan alam pikirannya (dunianya) sendiri, dia melupakan dunia realita (alam pikiran orang jamak). Akibatnya, karena alam pikirannya berbeda dengan dengan alam pikiran orang banyak, maka orang banyak tidak lagi dihiraukannya. Tenggelam dan melupakan alam pikiran-alam pikiran orang banyak.
Menurut pemikiran saya, semua orang mempunyai alam pikiran yang berbeda-beda. Tidak ada yang sama. Oleh karena itu, interest sesorang terhadap sesuatu bisa berbeda dalam kadar dan arah. Oleh karena itu setiap orang punya perilaku yang berbeda. Karena itu juga, dalam menghadapi sesuatu hal, orang-orang dapat mengambil keputusan yang berbeda. Persepsi yang berbeda. Kepribadian yang berbeda.
Nah, seberapa jauh tingkat perbedaan alam pikiran tiap orang akan menentukan apakah orang itu akan dianggap gila atau tidak oleh orang lain (dalam hal ini oleh orang banyak yang punya tingkat perbedaan alam pikiran tidak terlalu jauh berbeda).
Orang gila (orang yang kita anggap gila) mempunyai tingkat perbedaan alam pikiran yang sangat berbeda dengan kita (yang punya tingkat perbedaan alam pikiran tidak terlalu jauh berbeda satu sama lain). Jadi kita akan menganggap seseorang ‘gila’ karena orang itu, yang dalam bertindak diarahkan oleh alam pikirannya, melakukan hal-hal yang tidak akan kita lakukan. Tindakan orang gila tidak masuk akal bagi kita, tapi sebenarnya masuk akal bagi mereka..
Bagi mereka ‘orang gila’, kitalah sebenarnya yang gila. Alam pikiran kita terlalu jauh berbeda dengan mereka. Bagi orang gila, tindakan-tindakan yang kita ambil sebenarnya mungkin tidak masuk akal bagi mereka. Barangkali kata mereka di dalam hati, “Seandainya aku jadi kamu (orang waras), maka aku tidak akan bertindak begitu.” Jadi ini sebenarnya hanya soal persepsi, sudut pandang.
‘Orang gila’ dan ‘orang waras’ punya persepsi yang saling ekstrim-berbeda. Jadi seperti kata teman saya, “Dalam pemikiran orang gila, kitalah yang gila.”
Wua…kak..kak…kak…Jangan-jangan saya dah gila.

Kategori:Uncategorized Tag:,
  1. zulfaisalputera
    April 4, 2008 pukul 1:30 pm

    Beda orang gila dan orang waras itu sangat tipis.
    Seorang yang ‘waras’ jika berada sendirian di tengah puluhan orang ‘gila’, maka sesungguhnya yang gila itu adalah dirinya. Sebaliknya, jika seorang ‘gila’ berada di tengah puluhan orang ‘waras’, maka dia makin mengukuhkan kegilaaannya. Gila tak lebih dari sekadar berbeda sendiri dari orang kebanyakan. Ide gila, tampilan gila, atau kreativitas gila, adalah karena mampu hadir sendiri dan berbeda dengan ide, tampilan, atau kreativitas orang kebanyakan. Jadi, di termasuk manakah kita sesungguhnya: gila atau waras? Tergantung di mana kita memposisikan diri.

    Hidup orang ‘gila’!

    Tabik!

    to Zulfaisalputera
    Wow….that’s what I mean. Anda menuturkannya dalam bahasa yang lebih mudah dipahami. Thanks… for your comment.
    Tabik!

  2. mriza
    April 4, 2008 pukul 2:51 pm

    Lam knal kembali pak guru😀

    Hm Menarik… mungkin cara termudah memahami suatu kaum adalah dengan cara menjadi bagian dari kaum tersebut.

    Jika kita ingin faham apa kata orang jawa kita harus bisa bahasa jawa jika ingin mengerti apa kata orang inggris kita harus bisa ngomong inggris.

    Nah… jadi kalau kita ingin bisa faham dengan fikiran orang gila, kita juga harus menjadi gila..
    Apa iya begitu yah..?😀

    to mriza
    Bisa jadi begitu za… BTW, dengan memahami orang lain, kita akan selalu menghargai seseorang atau suatu kaum. Walaupun, kita berbeda pendapat, pemikiran, dan persepsi.

  3. April 5, 2008 pukul 9:30 am

    orang gila itu adalah orang yang tidak lagi bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk……cuek bebek……tenggelam dalam hayalannya…..salam kenal…senang ketemu guru dalam dunia maya

    to nexlaip
    salam kenal baik, senang juga ketemu Anda

  4. bulistin
    April 10, 2008 pukul 1:13 pm

    Hai Pak Suhadi, saya masih ingat waktu kita Lomba Inovasi Pembelajaran di Kinasih Resort Bogor- Sukabumi dalammapel IPA, rupanya masih suka menulis juga ya, bagaimana kabarnya sekarang? Kapan kita ketemu di Tingkat Nasional lagi ?

    to Bu Listin
    Wah…senang sekali Ibu masih ingat saya. Waktu kita ngomong sambil minum bandrek sama makan kacang rebus ya Bu.. Kapan ya? Mudah-mudahan ada kesempatan lagi ketemu Ibu. Ibu orangnya menyenangkan. Selalu ceria. Itu yang ada diingatan saya tentang Ibu. Gak nyangka bisa ketemu Ibu di dunia maya

  5. April 13, 2008 pukul 11:10 pm

    salam kenal Pak Suhadi,,,,
    saya sangat berterima kasih Pian sudah mau berkunjung ke tmp coret2an didunia maya saya + sudah diberi komentar dan sekaligus do’a dr seorang guru yg “JEMPOLAN” spt Bapak, saya sangat salut….!!!!
    Handak umpat mambari komentar gasan tulisan pian jua Pak lah, soalnya menarik dan lucu banget. Melihat dari tulisan pian, jelas pian orgnya “ceria,bijaksana,dan bersemangat”.Indonesia perlu Org spt Pian….!!!
    Analisis ttg “org gila” diatas mungkin lbh cocok utk menjelaskan ttg pengertian org yg mengalami “Autis”, dan ini tentunya sangat berbeda dg pengertian “Org Gila” itu sendiri. Saya pernah punya pengalaman dg kata “Org Gila” saat saya kuliah di fak.Psikologi dulu dan saat itu kami lg berkunjung ke salah satu RSJ di Jawa Timur dan saat itu juga kami mjd kaum minoritas diantara org2 yg spt itu. Pada saat itu saya keceplosan ngomong, pdhl niat saya cuman bercanda sama tmn2 yg lain, atau saat itu juga saya sedang syok berat krn sdng brd didunia mereka. Kebetulan saat itu seorang Dosen mendengar kata2 saya dan lgsng menegur saya krn kata2 itu. Org itu adalah Pak Dekan, kata Beliau “kamu jgn menyebut lg kata ORG GILA, itu, mereka bukan org yg gila tp org yg sedang “Sakit Jiwa”nya. Kata Beliau juga “gak ada tuh yg namanya RSOG” (rmh skt org gila,red). Pada saat itu juga persepsi saya ttg ssorg yg “spt itu” berubah, padahal sblmnya saya sempat sewot dan bergumam dlm hati kpd Dekan saya itu “GILA” nih org kali ya…??? pikir saya. Ternyata seorang yg “Skt Jiwa” pun hrs kita hormati dan kita tolong. Jgn juga mlh kita yg jd ikut2an spt itu, trs sapa lg yg dpt menolong Mereka kalau kt juga kurang lbh sama spt mereka….??? ini mungkin sama halnya kalau kita membicarakan ttg profesi seseorang, misalnya kalau smua org gak ada yg mau jd Petani, trs sapa lg yg menanam padi utk kita makan sehari-harinya…????
    mungkin itu dulu Pak, celotehan dr saya…..
    Wassalam…..
    Hormat dr saya yg ingin maju spt Bapak….

    to Rudi
    Kada manyangka nah, tatamu kam nang tahu masalah psikologi. Dulu aku tu cita-citanya kalau kada jadi guru ya psikolog. Pasti menariklah kuliah di fakultas psikologi tu.

  6. April 14, 2008 pukul 3:58 pm

    Gila. Kata yang kedengarannya sangat riskan ditelinga orang waras. Akan tetapi gila sendiri merupakan anugerah bagi manusia. terkadang kita akan marah jika dikatain gila. Lain halnya dengan orang yang sudah gila, dia selalu tersenyum dan bersyukur akan kegilaannya. Baru bisa hadir, pak.🙂

    to Gama
    Yo i…kalau orang ila dikatain gila malah ketawa atawa senyum-senyum ya Pak…
    Makasih

  7. April 17, 2008 pukul 7:58 pm

    woww bagus ya ceritanya

    salam kenal pak hadi.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: