Beranda > Uncategorized > Angels or Just Another Ordinary Moslems from Pakistani

Angels or Just Another Ordinary Moslems from Pakistani


Kota Mekkah, sekitar jam 09.15 di awal Bulan Desember, 2007.

Kumantapkan langkah kakiku menyusuri koridor penginapan 312 di Distrik Jumaijah kota Mekkah. Baru satu malam aku berada di kota ini. Ibuku yang sakit setelah menempuh cuaca dingin menggigit dalam perjalanan 9 jam dari Medinah, tergolek tak berdaya di kamar. Ah.. aku harus menguatkan hati. Tawakkal kepada Allah. Menyerahkan segalanya kepadaNya, pemilik seluruh alam. Beberapa rekan jama’ah satu penginapan yang kebetulan berpapasan denganku, tersenyum. Aku membalasnya dengan kaku..

Salah seorang menyapa, “sudah umrah wajibnya?”

Aku hanya menjawab dengan singkat, “belum.”

Sekali lagi kumantapkan hati, menyerahkan segalanya kepada Rabb, mempercayakan ibuku yang sedang sakit kepadaNya, dan mempercayakan arah jalan langkahku menuju Masjidil Haram yang untuk pertama kalinya akan kudatangi.. Ya Allah aku datang memenuhi panggilanMu..

Aku tak tau jalan.. Kata rekan jama’ah satu kamar, jarak Masjidil Haram ke penginapan kami sekitar 2-3 km. Jarak yang lumayan jauh. Aku memang belum menunaikan umrah wajib yang harus dikerjakan oleh setiap calon jema’ah haji yang baru pertama kali tiba di Mekkah setelah selesai mengerjakan ibadah arba’in (shalat wajib 40 waktu) di Masjid Nabawi Medinah, sebelum mengerjakan haji. Rekan-rekan satu kloter sudah menyelesaikan ibadah umrah wajib tersebut dini hari setibanya kami dari Medinah. Sementara itu, ibuku yang sakit dan aku tak dapat mengikuti ibadah tersebut dan harus bertahan di penginapan.

Karena itu pagi ini, setelah rekan-rekan sekamar beristirahat sepulang dari Masjidil Haram, aku menguatkan hati untuk mencoba ke Mesjid sendiri. Tanpa bergantung pada para pembimbing dan petugas kloter. Walaupun sewaktu di kamar, beberapa rekan menyarankan agar aku mengajak seorang pembimbing atau petugas kloter, aku tetap dengan keputusanku, pergi sendiri. Bukannya apa-apa, aku cuma tak suka merepotkan mereka yang pastinya sudah kelelahan. Mereka kan baru pulang ke penginapan sekitar 1 jam yang lalu.

Kudorong pintu kaca penginapan, keluar menerobos udara Mekkah yang masih hangat. Jauh lebih hangat dibanding Medinah. Kumantapkan hati dan kuucap bismillahirrahmanirrahiem.. Kuturuni anak tangga penginapan menuju trotoar dan berjalan ke arah yang telah diwanti-wanti oleh rekan-rekan sekamar padaku.

“Labaikkallahuma labaik!!!”

Tak pernah aku sereligius saat itu. Dadaku terasa plong. Aku yakin Allah akan bersamaku. Di sepanjang jalan, kepada hampir setiap orang yang kutemui di persimpangan jalan, atau ketika aku merasa agak ‘terasing’, aku bertanya.

“Excusme, am I on right direction to Masjidil Haram?” Kugunakan Bahasa Inggrisku yang jelas kacau balau… Dengan senyum ramah mereka menggangguk atau menjawab “yes”, dan beberapa bahkan menjawab dalam Bahasa Indonesia.

Dipersimpangan jalan tepat di bawah jembatan Assulaimaniyah, aku berpapasan dengan dua orang pemuda, bukan orang Indonesia yang pasti. Aku kembali bertanya arah Masjidil Haram pada mereka. Tidak ada kesulitan dalam komunikasi dengan mereka. Kamran dan Nousad, dua orang pemuda Pakistan berusia sekitar 25 tahun sampai 30 tahun dengan wajah bersih menyiratkan kesejukan.

Keduanya baru pulang dari Masjidil Haram dan akan kembali ke penginapan. Tapi dalam perbincangan kami yang singkat, mereka merubah arah: Mereka akan menemaniku mengerjakan umrah. Ya Rabb, betapa leganya hatiku. Aku yang tak tau jalan, diberikan penunjuk jalan. Aku yang bukan orang ahli agama, kurang bekal ilmu dalam menjalankan ibadah umrah dan haji tiba-tiba diberi teman sekaligus pembimbing dalam melaksanakan ibadah. Tepat di saat pikiranku ‘agak kacau’ karena teringat ibu yang sakit yang kutinggalkan di penginapan.

Berkali-kali aku bertanya untuk meyakinkan diri bahwa mereka ikhlas mengantar aku berumrah. Sampai akhirnya aku bertanya mengapa mereka mau melakukan itu untukku. Kamran menjawab kepadaku, mereka berdua tidak ingin aku seperti mereka. Kebingungan di saat melaksanakan umrah pertama. Aku bisa maklumi itu. Akupun pernah mengalami hal yang sama ketika hendak ke Raudhah di Masjid Nabawi untuk pertama kali. Bersusah payah mencapai Raudhah, tapi ketika tiba di tempat itu aku cuma ikut berdesak-desakan lalu keluar, tanpa sholat di tempat mana do’a kita dimustajabah oleh Allah SWT. Dan sekarang aku memang ‘tak punya otak’ untuk mengerjakan umrah, walaupun manasik telah kuhafal dan kupahami sewaktu di tanah air.

Wah, jadi mereka kebingungan saat umrah pertama dan tidak ingin kejadian seperti mereka alami terjadi padaku. Mereka rela balik ke Masjidil Haram dan mengurungkan niat untuk kembali ke penginapan. Subhanallah, alhamdulillah. Aku tak ragu lagi. Kuikuti mereka, yang menarik tanganku di sepanjang trotoar. Beberapa petunjuk mereka berikan padaku, di antaranya kalau aku diminta menunduk ke lantai maka aku harus turuti, dan baru setelah mereka memberi aba-aba untuk melihat ke depan baru aku boleh mengangkat wajahku.

“Bukan apa-apa,” kata Kamran yang lebih banyak bicara,”supaya saat masuk Masjidil Haram dan saat pertama kali melihat Baitullah Ka’bah kamu dapat langsung berdoa. Tahukah kamu saudaraku, bahwa doa yang kita ucapkan saat pertama kali melihat Ka’bah adalah doa yang sangat mustajab. Berdoalah, semoga doa-doa yang kamu panjatkan keHadiratnya selalu diterima, berdoalah agar ibumu cepat sembuh, dan doa-doa lain yang kamu ingin sampaikan, berdoalah semoga kamu mendapat haji yang mambrur.”

“Oo, jadi aku harus menundukkan wajah ketika mendekati Masjidil Haram, dan pada saat yang tepat, saat aku telah siap dengan doa-doaku kamu akan memberiku aba-aba untuk mengangkat wajah?”

“Ya, benar saudaraku. Banyak orang yang tak tau harus berkata apa saat pertama kali melihat Baitullah. Suatu pemandangan yang luar biasa indah.. Tak ada dan tak pernah kulihat pemandangan seindah pertama kali melihat Baitullah saudaraku. Sering lidah mereka kelu..mereka hanya menangis melihat keindahan luar biasa itu. Sangat sayang sekali. Kau boleh menangis, tapi ingatlah berdoa. Kami tidak ingin kamu melewatkan itu.” Kamran memberi penjelasan padaku. Nousad mengangguk dan tersenyum.

Sesampai di halaman Masjidil Haram aku diminta mulai menundukkan wajah. Hanya ujung jariku yang kulihat. Sepenuhnya aku berada dibimbingan kedua pemuda Pakistan tersebut. Beberapa orang menawari wheel chair karena mengira aku buta dan sakit sehingga harus dituntun berjalan oleh dua orang.

Memasuki Masjid, hatiku berdebar-debar. Aku katakan pada Kamran, bahwa aku begitu merasa excited. Aku takut tak bisa melihat pemandangan indah itu. Aku takut tidak bisa melihat Baitullah. Aku begitu penuh dosa. Tak berilmu agama. Kamran dan Nousad tanpa menertawakan, tapi malah memegang tanganku dengan lebih erat berhenti sejenak. Kamran berkata dengan lembut, “Semua orang pernah berbuat dosa saudaraku. Mari, kita hampir sampai. Ingat jangan mengangkat wajah bila belum kuberi aba-aba.”

“Okey.” Hatiku menjadi lebih lega, tapi tak menghilangkan debaran itu.

Beberapa langkah kemudian Kamran dan Nousad berhenti sehingga aku juga ikut berhenti. Kutatap ubin lantai Masjidil Haram. Mataku menghangat, lalu basah. Segala perasaan berkecamuk. Kamran mengingatku kembali akan doa-doa yang akan kupanjatkan sesaat nanti melihat Ka’bah.

“Saudaraku, angkat wajahmu dan lihatlah keindahan itu.”

Aku mengangkat wajah, aku berdoa… lalu aku mengucap syukur “Alhamdulillah”, aku bisa melihat keindahan luar biasa itu. “Subhanallah.” Aku tersenyum kepada Kamran dan Nousad, mereka juga tersenyum padaku.

Selanjutnya kami menuruni anak tangga di babul fath dan di bawah bimbingan Kamran dan Nousad aku melakukan tawaf, shalat sunat tawaf di belakang maqam ibrahim, berdoa di belakang Multazam, minum air zam-zam, lalu sa’i, dan bercukur.

Kamran dan Nousad kemudian pamit dan kami berpisah. Sepanjang perjalanan pulang, aku bertanya pada diriku sendiri. Kamran and Nousad, are you angels or Moslems from Pakistani?

  1. catra
    Maret 31, 2008 pukul 6:59 am

    pengalaman yang indah…. walau orang tua bapak sakit disana.
    semoga ibadahnya dan doa nya disana diridhoi allah SWT.

    to catra
    makasih cat Amien. Mang bener perjalan ibadah tersebut sangat berkesan (bukannya ingin membanggakan diri atau apa, tapi itulah kenyataannya yang saya alami).
    😛

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: