Author: Suhadi
Saat kita berbaring di sini
Kita telah membuat lagu
Kita telah mencipta syahdu
Kita telah memaknai satu
Inilah keajaiban itu
Saat tak ada kau dengar denting gitar
Kutlah mainkan dawai-dawaimu hingga bergetar
Kubuat kau berbinar-binar

Beberapa waktu yang lalu seorang sahabat saya,
Daniel Mahendra bilang, saya akhir-akhir ini romantis….
Terserah deh… Peduli adul, ha..ha…
Author: Suhadi
Perahu ini telah melempar sauh
Tak kan lagi menjauh
Biarkan lunas berlubang
Ku karamkan
Pada pasir putih sukma di setiap siangmu
Perahu ini telah melempar sauh
Tak kan lagi menjauh
Biarkan lapuk mencucuk
Ku benamkan
Pada banyu biru pantai raga di setiap malammu
Perahu ini telah melempar sauh
Tak kan lagi menjauh
Biarkan tambat berkarat
Ku gembok
Anak kuncinya kutitipkan pada nelayan yang pergi malam
Oi….! Pergi ke samudera terdalam
Lemparkan!
Perahu ini telah melempar sauh
Tak kan lagi menjauh
Teduh
Pada naungan berlaksa daun pintu hatimu yang selalu terbuka
Hangat
Oleh semburat matahari pagi semangat jiwamu yang selalu ada setia
(Untuk istriku tercinta: Nove Hasanah)
Author: Suhadi
Pada aspal hitam panas berfatamorgana
Dan atmosfer berasap mesin-mesin kota
Di perempatan jalan rimba
Serta di bawah sergap halte buas berbahaya
Kaki-kakimu kecil tertatih letih tak punya kuasa
Dialasi sandal jepit hijau-biru tak rata
Haruskah selamanya kamu berlari berebut masuk ke pintu kesempatan?
Menjual belas kasihan
Yang terbaca lewat headline-headline koran
Yang terdengar lewat kecek-kecek tutup botol minuman
Yang terpandang lewat kulit berbakar matahari
Yang tercium lewat dekil baju berpeluh daki diperam hari
Jikalau titian makin terus tampak mendaki
Kapan kamu akan bisa membebas diri?
Alabio, 7 Agustus 2008. (Belajar menulis puisi)
Komentar Terbaru