Cerita Pendek yang Jadinya Gak Pendek: Pubertasnya Muhammad Satria Pamungkas (Part 4—Tamat)
Author : Suhadi
Aku tak tau butuh waktu berapa lama sampai akhirnya sebutir pil merah itu membuat reaksinya. Mungkin sekitar 20 menit atau mungkin 30 menit. Benar-benar tak tau.
Yang jelas, saat aku bangkit dari tempat tidur, aku mengambil jaket levi’s kesayanganku dari gantungan baju dan bergegas menuju motor yang tadi siang kuparkir di halaman rumah. Di bawah rerimbunan pohon mangga harum manis yang buah lebatnya bergelantungan hingga menyentuh kepala.
Pil ini rupanya benar-benar telah mempengaruhi caraku berpikir.
Atau bahkan barangkali telah mengambil alih dan menguasai pikiranku. Oh man!
Mungkin otakku telah mbrojol, copot, dan keluar dari batok kepalaku, aku hampir bisa melihatnya melayang-layang sejengkal tingginya di atas kepalaku.
Rasanya sangat aneh dan tidak enak sama sekali. Aku tak bisa mendeskripsikannya dengan kata-kata.
Tak kumatikan dvd player itu saat kutinggalkan. Mungkin ia telah memainkan track yang kesekian puluh…
Entahlah. Aku harus pergi untuk sesuatu hal yang jauh lebih penting dalam hidupku. Cinta pertamaku. Walaupun mungkin hanya sekedar cinta monyet. Aku tak ingin menunda sedikitpun apalagi melewatkan waktu untuk segera sampai di sana.
Hari telah begitu sore.
Dengan langkah terhuyung-huyung limbung karena kepalaku yang terasa ringan luar biasa, aku memutar motor. Lalu mencoba memasukkan anak kunci dengan susah payah.
Ada banyak lubang kunci….3 lubang…bukan 5 lubang….. eh 7 lubang ding…..!
Ha…ha….ha…….anak kunciku juga jadi banyak….jari-jariku lebih banyak lagi, dan hampir seluruhnya lebih dalam bentuk blur, kabur. Aku coba pilih salah satu yang paling jelas—setelah berkali-kali gagal.
Akhirnya berhasil juga!
Tiba-tiba dari arah samping kiriku terdengar suara tawa terkekeh.
“He..he..he…kita balapan yuk! Aku yakin kamu, Satria Bertangan Seribu takkan sanggup melawanku. Aku akan tiba duluan di rumah Marni!”
Pangeran Kegelapan! Read more…



Komentar Terbaru