Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4)
Author: Suhadi
Bila Anda tergesa-gesa tapi berkenan untuk membaca, silakan di save lebih dulu. Posting ini cukup panjang.
Ada baiknya Anda baca secara berurut dari Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 1), sebelum membaca Dongeng Tentang Wanita Tukang Tenung (Part 4-Tamat) ini
Kepala Madi masih terasa sakit. Keras sekali pukulan di belakang kepalanya tadi. Sudah lewat tengah malam saat ia tersadar dari pingsan. Badannya pegal-pegal karena ikatan tangan dan kakinya di kursi itu sangat kencang dan kuat. Ia tak bisa bergerak. Bulan dan Pak Ramdani—yang sekarang berupa sosok sangat mengerikan itu—telah meninggalkan mereka bertiga dalam keadaan terpasung. Ada segumpal penyesalan di hati Madi. Diamatinya keadaan Rudi yang tertembak di bahu kanan. Darah sesekali masih keluar dan merembes membasahi bajunya. Ah mudah-mudahan anak itu bisa bertahan, tak kehabisan darah. Wajahnya sudah nampak pucat. Sementara itu, Galih dengan kacamata minusnya masih tergolek-tengadah. Mulutnya setengah terbuka. Kacamata minusnya tampak sedikit retak di sudut bawah belahan lensa kirinya. Dipukul seperti dia-kah anak itu sehingga sampai sekarang tak sadar-sadar juga? Teringat Madi akan lolongan-teriakan Amat yang demikian keras tadi malam saat tertangkap akan masuk lewat jendela. Diapakan Pak Ramdani sahabatnya yang selalu menurut padanya itu? Kenapa ia tak ada di sini? Kenapa Amat tak diikat bersama mereka? Dibunuhkah? Mudah-mudahan ia berhasil melarikan diri. Jika ia tewas, tak akan ada yang tahu kami terperangkap di sini. Oh, habislah sudah. Semua ini salahku. Akan diapakan aku dan teman-teman oleh kedua beranak itu? Mereka sedang menyiapkan sesuatu untukku. Menyiapkan apa? Digantungkah? Atau disiram larutan asam sulfat? Madi tak berani membayangkannya. Ia takkan sanggup menanggung rasa sakitnya.
Nyali Madi benar-benar sudah menciut. Tak ada lagi bayangan pesta pora penyekapan Bulan seperti yang mereka rencanakan saat di kamarnya tadi sore. Tak ada lagi desir kenikmatan ketegangan itu. Kini ia benar-benar tak berdaya. Bulan ternyata jauh lebih kuat dari dugaannya. Bulan ternyata bukan gadis lemah tak berdaya. Ia bahkan masih punya Pak Ramdani yang dikiranya telah tewas sepuluh tahun yang lalu.
Sampai kokok ayam hutan mulai terdengar, tak satupun, baik Galih maupun Rudi yang sadar dari pingsannya. Usaha Madi untuk melepaskan diri dari ikatan tali-temali yang menjerat tangan, tubuh, dan kakinya—sia-sia belaka. Lampu tembok masih menyala, walaupun salah satunya sudah mulai meredup karena—mungkin mulai kehabisan bahan bakarnya. Entah sudah berapa lama sejak ayam hutan berkokok bersahutan. Madi berusaha menggeser pergelangan tangannya. Tali nilon pengikat lengan itu begitu kencang dan kuat, sakit rasanya. Ia berhasil juga melirik jam tangan digital di pergelangan. Pukul 06.23. Sudah pagi rupanya.
Tak berselang lama, Madi mendengar langkah-langkah kaki di luar. Lalu bunyi pintu ruangan itu di buka. Bulan muncul dengan sosok mengerikan—Pak Ramdani. Senyum penuh kemenangan nampak jelas di sudut bibir gadis cantik bersepatu boot kulit itu. Sorot matanya dingin dan tajam. Sambil menyibakkan tirai compang-camping yang menutup jendela, gadis itu berbicara pada Pak Ramdani. Cahaya matahari pagi masuk lewat kaca kusam berdebu.
“Hoo, belum sadar juga dua cecunguk ini rupanya.”
“Argghhh mgrrrhhhhhaahhh.”
“Ya, mungkin ayah terlalu keras memukul si kacamata ini.” Kata Bulan sembari memeriksa kepala Galih.
Ia kemudian beralih mengamati kondisi Rudi yang pucat pasi. Gadis itu memegang sekitar pergelangan tangannya. Mungkin ia mencoba mencari nadi Rudi untuk memeriksa keadaannya. Ia juga memegangi jidat Rudi. Madi hanya dapat memandanginya saja.
“Mungkin temanmu yang satu ini sebentar lagi akan mati.” Kata Bulan tanpa ekspresi pada Madi, kecuali tatapannya yang dingin dan tajam. Suaranya bahkan terdengar datar tanpa intonasi. Read more…



Komentar Terbaru