Arsip

Posts Tagged ‘novel’

Tipes dan 24 Wajah Billy

September 28, 2010 11 komentar

Author: Suhadi

Sudah belasan hari ini saya kolaps tak berdaya. Saya sedang sakit tipes atau demam tifoid (catatan: tipes atau demam tifoid tidak sama dengan penyakit tifus). Sungguh penyakit yang membuat saya teramat menderita. Selama beberapa hari ini saya berjuang menahan sakit kepala yang tak pernah mereda, perut yang perih, mual lalu muntah, demam lalu kedinginan, dan seluruh badan yang terasa sakit. Sebelum pemeriksaan darah di laboratorium, pengobatan yang diberikan dokter sepertinya tidak ada efeknya sama sekali, walaupun ketika ditanya istri saya, saya selalu berkata kepadanya kalau saya sudah merasa lebih baikan. Padahal, kepala saya melulu sakit.

sumber: dokumen suhadinet

Hasil tes darah itulah yang telah menunjukkan bahwa saya telah positif terinfeksi bakteri Salmonella – Typhi O, Salmonella P – Typhi AO, Salmonella P – typhi BO, dan Salmonella Typhi H. Bakteri jahat ini , menurut informasi yang saya peroleh dari sana-sini, biasanya berasal dari makanan-minuman atau peralatan makan yang tidak bersih, lalu menyebabkan infeksi di usus halus. Bakteri ini kemudian terbawa bersama aliran darah. Salmonella berkembangbiak terutama di hati dan limpa, kemudian dari kedua organ ini bakteri masuk kembali ke peredaran darah dan menyebar ke seluruh tubuh, utamanya kelenjar limfoid di usus halus. Akibatnya menyebabkan usus halus terluka, bahkan bisa terjadi kebocoran usus (Wah ngeri juga! Mudah-mudahan usus halus saya belum bocor).

Terimakasih pada hasil tes laboratorium yang membantu diagnosa menjadi lebih pasti dan, tentu saja 2 butir kapsul cacing yang dibawakan seorang guru saya waktu di SMP yang kini jadi kolega saya (kini saya dapat tambahan lagi kapsul cacing dari tetangga dan kerabat dekat istri saya). Berkat itu semua dan do’a orang-orang yang menyayangi dan mencintai saya, kini kondisi saya sudah mulai membaik.

Berhari-hari sakit kepala yang tak pernah berhenti barang lima belas menitpun, dan tidak enak badan plus perasaan mual dengan isi perut yang terasa bergolak, membuat saya tak bisa apa-apa. Kini, setelah agak baikan saya tanpa sengaja terpandang pada sederet buku-buku koleksi saya di atas rak sebuah lemari. Lagi tak ada bacaan, dan rasanya sepi sekali di rumah. Cuma berbaring dan duduk-duduk saja. Saya ambil salah satu novel yang sudah sangat lama saya beli tapi belum saya selesaikan membacanya karena pada waktu dulu terasa kurang sreg dengan banyaknya kata-kata “nggak” dalam novel tersebut. Saya telah mengambil “24 Wajah Billy” yang merupakan terjemahan dari “The Minds of Billy Milligan”, sebuah novel yang diangkat dari kisah nyata Billy Milligan karya Daniel Keyes. Buku yang saya pegang tersebut adalah cetakan ke VI tahun 2007, diterbitkan oleh Penerbit Qanita PT Mizan Pustaka.

Saya ingat, dulu saya membelinya karena tertarik melihat judul dan covernya. Nyatanya, setelah membaca sekitar 100 halaman saya berhenti karena kurang suka dengan kalimat-kalimat terjemahannya, utamanya pada banyaknya kata “nggak” di dialog-dialog dalam novel tersebut.

Perlahan-lahan dengan sedikit rasa pening di kepala saya mulai membaca, tidak lagi dari depan karena saya malas melakukannya dan rasa-rasanya masih bisa mengingat-ingat ceritanya yang telah saya baca dulu, langsung saya bergerak ke arah halaman yang ada penandanya yang ternyata persis masih terletak di mana saya dulu berhenti membacanya. Halaman demi halaman saya ikuti. Saya coba mengenyahkan rasa tak nyaman Read more…

Qaisra Shahraz-Perempuan Suci (The Holy Woman)

September 9, 2009 18 komentar

perempuan suci-coverAuthor: Suhadi

Tak terlalu banyak novel bagus yang saya baca (alamak! sombong sekali kau!), dengan kemampuan mampu mengaduk-aduk perasaan saya sehebat Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata (buku 1 yang banyak bercerita tentang pendidikan kita) lebih dari setahun yang lalu hingga akhirnya sekitar seminggu yang lalu saya membaca Perempuan Suci  (versi aslinya: The Holy Woman) karya Qaisra Shahraz. Novel ini—yang sebenarnya sudah tahun 2006 lalu diterbitkan—merupakan sebuah novel yang  luar biasa. Dari belasan (puluhan?) novel yang saya baca belakangan ini, hanya novel ini yang benar-benar mampu menggugah rasa dan menimbulkan decak kekaguman sementara saya membolak-balik halaman-halamannya.  Ha..ha.. padahal pada awalnya saya tak suka covernya, telah lama saya melihat novel ini tergeletak di toko buku tempat saya biasa berbelanja buku, hanya karena saya merasa kecewa setelah sebelumnya membeli beberapa novel dari pengarang dalam negeri yang tak memberi greget apa-apa. Keterbatasan pilihan novel yang dijual di kota kecil Amuntai-lah yang membawa saya pada putusan meraihnya dari rak beberapa waktu yang lalu.

Perempuan Suci ternyata adalah karya pertama berwujud novel dari  Qaisra Shahraz. Novel ini benar-benar membuat saya ikut hanyut saat meresapi setiap kata dari dialog masing-masing tokohnya. Penulis kelahiran Pakistan yang kini tinggal di Manchaster ini memang hebat merangkai dialog. Suatu hal yang saya sangat kesulitan melakukannya dalam upaya belajar menulis fiksi. Semua dialog benar-benar logis dan mampu memunculkan konflik yang memberi kesan natural dalam imajinasi saya,tidak dibuat-buat, memunculkan karakter tokoh yang berdiri tegas dengan keunikannya masing-masing. Seluruh karakter tokoh yang ditampilkan dalam novel  setebal  517 halaman ini merupakan sebuah kekuatan tersendiri.

Ketika menggarap dialog-dialog para tokoh, yang menurut saya merupakan salah satu keunggulan lain novel ini, Qaisra Shahraz melakukannya dengan teramat baik. Jalinan kata-kata yang dipilih mampu—setelah memunculkan konflik, membentuk karakter para tokoh—sebagai sarana untuk penyelesaian konflik yang cerdas.

Membaca novel ini, bagi saya yang di tahun 2000-2005-an adalah penikmat sejati film-film romantik Bollywood (cieee….) Read more…

Jerami 8

Maret 23, 2009 11 komentar

Author: Suhadi

Baca dulu ………….Jerami 7

Di Kota Kecamatan Pandan Barambang, di Kantor Polisi Sektor, tampak beberapa orang petugas sedang melayani pengaduan warga. Kegemparan di Desa Sisir Punduk telah mengawali kejadian ini. Seorang anak berumur delapan tahun, bernama Muji telah menghilang. Muji di duga tersesat masuk ke dalam Hutan Beringin yang angker di tepi desa.

Seorang perempuan berumur empatpuluhan, Bu Hasnah dan seorang lelaki, Pak Jarin duduk di kursi berseberangan meja dengan Pak Darto. Perempuan itu tak berhenti-henti menagisi anaknya, Muji. Sang suami berusaha menenangkannya tapi seakan tak berhasil karena hatinyapun tak kalah gundah.
“Jadi kapan Muji terlihat?” tanya Pak Darto sambil mengetik keyboard komputernya.
“Terakhir mereka bermain bola di tepi desa bersama kawan-kawannya kemarin pagi.”
“Teman-temannya tak ada yang tahu ke mana Muji pergi setelah bermain bola?”
“Tidak ada, Pak. Setelah bermain bola mereka pulang. Tak ada yang memperhatikan apakah Muji juga pulang.”
“Yakin anak itu tersesat di dalam Hutan Beringin? Bukannya bermain di sungai atau tempat lainnya setelah bermain bola?”
“Yakin benar sih tidak Pak, cuma yang jelas anak itu tak pernah berani main ke sungai. Ia tak pandai berenang. Dan sudah beberapa kali anak-anak hilang dan tersesat di Hutan Beringin sebelum ini. Kami juga menemukan sandalnya yang tertinggal di sawah itu.” Seorang penduduk lainnya memberikan masukan.

Pak Darto mengetik lagi di keyboardnya.

“Selain Muji, Si Acin yang tinggal di tepian Hutan Beringin juga menghilang Pak. Ia tak pernah lagi muncul. Mungkin penunggu hutan itu sedang marah dengan penduduk, Pak.” Seru salah seorang penduduk yang ikut mengantar ayah dan ibu Muji melapor.

“Jadi selain Muji, ada juga seorang warga yang menghilang. Warga itu bernama Acin?” Tanya Pak Darto sambil mengelus kumis tebalnya.

“Benar, Pak. Acin itu pemuda yang agak terbelakang mental. Pondoknya tak jauh dari tempat anak-anak bermain bola itu.” Sambung sang pelapor lainnya.

“Baiklah. Laporan Bapak-Bapak saya terima. Kita sebaiknya berkoordinasi dengan kepala desa agar dapat membantu mengerahkan warga untuk mencari Muji di hutan itu. Kita perlu banyak orang. Bapak-Bapak pasti maklum kalau kami tak punya cukup orang di kantor polisi ini untuk melakukan pencarian. Bagaimana?”

“Tentu, Pak. Kami sudah berbicara dengan kepala desa, sekarang beliau memang tidak bisa ikut ke sini karena ada urusan keluarga di Amuntai.”

“Bagus! Tapi kita harus bergerak cepat. Kalau benar anak itu tersesat di sana kita harus segera menolongnya.”

Mendengar itu, semua orang manggut-manggut memaklumi. Bisa dibayangkan bagaimana keadaan seorang anak sekecil Muji yang hanya berumur delapan tahun di tengah Hutan Beringin yang angker itu. Si perempuan yang merupakan ibu Muji itu semakin terisak. Beberapa saat saja, orang-orang itu segera meninggalkan tempat itu, selain Pak Darto ada dua orang polisi muda lain yang mengikuti mereka itu melakukan pencarian.

***

Di sebuah rumah kecil yang agak terpencil dari rumah-rumah lainnya karena dikelilingi kebun singkong yang amat luas, seorang perempuan yang dikenal dengan nama Mak Antung sedang mencoba mengobati seorang pasien. Pasien itu adalah seorang anak kecil berumur sekitar sepuluh tahun.
Read more…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 28 pengikut lainnya.