Arsip

Posts Tagged ‘amuntai’

Amuntai Kebanjiran Lagi!

April 26, 2010 11 komentar

Ini kali kedua kota Amuntai mengalami banjir di tahun 2010 ini. Sepertinya, dari tahun ke tahun ketinggian air yang meluapi kota semakin tinggi saja. Dampak dari apa ini? Pembalakan hutan di daerah aliran sungai (DAS) dan hulu sungai? Aktivitas penambangan batu bara? Pengalihan fungsi lahan daerah resapan (rawa) menjadi pemukiman? Pendangkalan alur sungai karena perilaku warga masyarakat yang suka buang sampah di sungai dan erosi daerah gundul di hulu yang membawa lumpur? Atau perumahan penduduk di tepi sungai yang menghalangi kelancaran arus sungai? Entahlah. Perlu kajian mendalam tentang ini agar kita tidak saling menyalahkan satu sama lain. Dan, yang terpenting banjir bisa diatasi di masa-masa yang akan datang.

Saat-saat awal air mulai menggenangi SMPN 4 Amuntai. Semua melepas sepatu, mengangkat rok dan celana.

Hari Kamis (22/4/2010), SMPN 4 kedatangan tamu mahasiswa-mahasiswa UT dari kota Barabai yang harus melaksanakan Praktik Mengajar, "setengah dipaksakan" siswa belajar dalam kondisi kaki terendam air. Kasihan.

Pemandangan banjir di salah satu ruas jalan yang saya lewati kalau pergi ke sekolah. Sebenarnya di tengah kota (depan kantor Pemda Kab. HSU) banjir jauh lebih dalam, hanya saja saya malas melewati jalan itu kalau sekedar untuk mengambil foto, takut sepeda motor saya mogok.

Bagaimana dengan daerah tempat tinggal Anda? Kebanjiran juga?

Kategori:Uncategorized Tag:,

Dipindahtugaskan

April 30, 2009 20 komentar

suhadi61Author: Suhadi

Sejak 31 Maret 2009, saya dipindahkantugaskan ke SMPN 4 Amuntai, sebuah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang sedang berkutat menuju Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Sayang juga kalau Kabupaten Hulu Sungai Utara tak punya RSBI, padahal UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menuntut minimal empat (1 SD/MI, 1 SMP/MTs, 1 SMA, dan 1 SMK) Sekolah Berstandar Internasional (SBI) untuk tiap kabupaten/kota. Mudah-mudahan saya bisa ikut membantu mewujudkan cita-cita mulia ini. Semoga sekolah yang saya tinggalkan, SMPN 4 Danau Panggang juga semakin maju sepeninggal saya.

Mabruka Azzahra versus Film Horror

September 24, 2008 44 komentar

Author : Suhadi

 

Lama tidak menulis di blog ini ya? (kata siapa?) Ha..ha… kata orang ini dan yang ini. Mudah-mudahan para pembaca setia tak berpindah hati ke blog lain (*Woiiii!!!!!!!!! Memang kamu siapa????). Lama tidak menulis, bukan karena sibuk atau sakit, juga bukan karena tadarus Al Qur’an di masjid, he..he…. Akhir-akhir ini saya suka menghabiskan waktu dengan nonton film-film lewat keping-keping CD bajakan. (Ngaruh gak ya nilai puasanya?) Ha!!! Bajakan?? Ya iya, terpaksa Coy! Tidak ada rental DVD atau VCD asli di Amuntai (setahu saya). Juga tak ada bioskop (yang menyajikan film-film baru dan bagus). Huh! Kesal rasanya bila nanti orang-orang di blogosphere bicara tentang film Laskar Pelangi, saya harus ngomong apa ya? Saya sangat mengagumi versi tulisnya (novelnya). Heh, paling saya nonton lewat DVD bajakannya pula. Dasar! Hei, jangan sewot. Ini negeri pembajak, Bung! Apa saja bisa dibajak, bukan hanya film, bisa saja celana dalam yang sedang kamu pakai adalah bajakan. Mencatut merk-merk terkenal!

  Baca selengkapnya…

Kategori:about me Tag:,

Klimaks Cinta Rani

September 18, 2008 57 komentar

Cerpen ini sangat erat berkaitan dengan cerpen : “Kita Putus Saja, Bur!” yang sudah saya terbitkan beberapa waktu lalu di blog ini.

 

 

Author: Suhadi

 

“Papa dan Mama sudah saling membicarakan ini Sayang. Kami setuju saja. Kamu sudah sangat dewasa. Kalau kamu memang benar-benar yakin dan benar-benar mencintainya, kita selalu mendukung. Karaktermu benar-benar seperti Papa saat ingin menikahi Mama kamu dulu. Papa salut denganmu” Suara di seberang terdengar seperti terkekeh. Rani jadi tersenyum membayangkan air muka Papanya yang terkenang masa mudanya dulu.

“Terimakasih Papa, atas dukungannya. I love you, Pa.”

“Papa dan Mama juga cinta kamu Sayang.”

Dan koneksi handphone di seberang sana diputuskan.

 

***

 

Rani tersenyum lega, tak disangka Papa dan Mama menyetujui keputusannya.

Ditaruhnya handphone di atas meja. Perlahan diambil Rani tiga buah album foto berukuran besar yang tersimpan di rak paling atas lemari buku. Album-album foto dengan seseorang yang sedemikian dekat dengannya selama lebih dari tujuh tahun ini. Selama lebih sebulan bertugas di SMP Danau Panggang, tempat terpencil yang jauh dari kota kabupaten Amuntai yang berada di tengah rawa-rawa mahaluas itu, entah sudah berapa kali album-album foto itu menemani malamnya. Baca selengkapnya…

Kita Putus Saja Bur!

September 7, 2008 29 komentar

Author: Suhadi

 

“Kita putus saja, Bur….!” Demikian kalimat yang meluncur dari seberang sana.

“Apa…?!?!”

“Putus! Kita putus. Pacaran kita cukup sampai di sini!”

“Ada apa ini? Apa alas…”

“Tut..tut…tutt!” Terdengar bunyi koneksi yang diputuskan. Bahkan sebelum Burhan selesai dengan pertanyaannya.

Gila Si Rani, apa-apaan lagi ini. Burhan tak habis pikir.

“Akhhhhh…………..!!!!!!!!!!!!!!!”

Burhan berteriak, dibantingnya handphone yang baru saja dibelinya di Amuntai dua hari yang lalu dengan ditemani Rani. Tidak pecah memang, karena Burhan membantingnya ke kasur di kamarnya. Bukan di lantai.

“Burhan!! Ada apa?” suara ibunya dari dapur. Perempuan itu kaget karena pemuda penggembala kerbau rawa itu berteriak keras dengan nada sangat jengkel.

“Tak apa-apa, Bu! Cuma ingin teriak saja.”

Burhan berteriak sekenanya menjawab pertanyaan Hajjah Siti Aminah.

Ibunya yang di dapur geleng-geleng kepala saja. Sudah biasa. Memang begitu adat dan kelakuan Burhan. Anak yang aneh, pikirnya sembari tersenyum-senyum sendiri. Persis Haji Rahim, suaminya waktu muda dulu.  Baca selengkapnya…

Hampir Nabrak Bupati Di Pasar Wadai Ramadhan

September 3, 2008 40 komentar

Author: Suhadi

 

Setelah pulang dari kegiatan sore di sebuah bimbingan belajar, saya bergegas menuju arah kota Amuntai. Keramaian khas bulan puasa memang tampak di seluruh wilayah Propinsi Kalimantan Selatan. Tak terkecuali Amuntai yang punya julukan Kota Bertakwa ini. Pedagang-pedagang aneka es, seperti es buah, es nyiur, es rumput laut, es cendol, es campur, ada di pinggir-pinggir jalan. Mereka berkombinasi dengan pedagang-pedangan buah-buahan yang lebih marak dari biasanya. Hari kedua puasa ini saya tak tertarik dengan mereka. Saya sedang ingin mencoba amparan tatak, kue basah yang dikukus berbahan dasar tepung beras, santan, terigu, pisang talas dalam cetakan berbentuk bulat dengan diameter mencapai 60 cm dan ketebalan 7-9 cm. Rasanya manis dan lemak karena santan. Pasti enak untuk buka puasa. Baca selengkapnya…

SMPN 4 Danau Panggang, Lulus UN 50%…Alhamdulillah (Hiks..)

Juni 24, 2008 17 komentar

Senin 23 Juni 2008 lalu saya di daulat untuk ngisi materi Model-Model Pembelajaran Inovatif pada sebuah seminar untuk guru. Lumayan kaget juga pas sampai di lokasi. Kegiatan yang dipanitia-i oleh guru-guru SMAN 1 Danau Panggang ini ternyata dijubeli peserta. Pada saat panitia mengontak saya, Jum’at 20 Juni, mereka mengatakan bahwa peserta dibatasi hanya 60 orang. Ee.. ternyata, peserta membengkak hingga 200 orang. Dari guru SD hingga guru SMA. Banyak juga yang datang dari Amuntai dan Alabio, gak cuma seputaran Danau Panggang.Hoho.. untung saya sudah cukup persiapan. Segala materi presentasi, termasuk beberapa editan video pembelajaran dan selingan potongan-potongan klip-klip musik (Klip musik? Yups..! Tapi masih terkait materi lho!_Terkait materi? Kok bisa? Ya iyalah…Pak Suhadi….He..he..).

Di sela-sela ngisi materi untuk kegiatan itu, saya sempatkan nelpon ke sekolah. Ternyata persentase kelulusan anak-anak cuma 50%. Itu berarti dari seluruhnya siswa yang 16 orang, ada 8 orang yang tidak lulus. Agak kecewa juga. Tapi itu sudah hasil akhir perjuangan kami selama ini.

Ternyata dari ke-16 siswa, untuk IPA yang saya pegang secara bergantian dengan Bapak Kepala Sekolah, 14 orang sudah melampaui passing grade kelulusan. Dua (2) orang belum atau tidak lulus untuk IPA. Dari rekap nilai yang saya amati setelah kembali ke sekolah dari kegiatan seminar, ternyata ke-8 siswa yang tidak lulus itu disebabkan mereka tidak berhasil dalam mata uji Bahasa Inggris dan Matematika. Ironis ya…gurunya ikut natar kesana-kemari, ee…siswanya banyak yang gak lulus. Apakah karena sekolah kami letaknya di kampung? Ah..saya tidak ingin itu jadi alasan. Mudah-mudahan tahun depan bisa lebih baik.

Andai kami punya guru yang lebih lengkap…Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia… hiks.. (sudah! Jangan beralasan!)

Saya makin sedih ketika dua siswa yang terpandai ternyata tidak hadir saat acara pengumuman kelulusan. Setelah tanya sana-sini dengan anak-anak, maklumlah saya. Keduanya tak akan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini mereka telah bekerja. Seorang bekerja di sebuah perusahaan kayu lapis (cukup umur gak ya?), satunya lagi menjadi shop keeper di Palangka Raya. Ironis. Pintar kok disuruh bekerja oleh orang tuanya.

Kapan pendidikan menjadi prioritas nomor satu bagi orang-orang Danau Panggang?

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.