<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Suhadinet.wordpress.com</title>
	<atom:link href="http://suhadinet.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://suhadinet.wordpress.com</link>
	<description>Edukasi, Fiksi, dan Refleksi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 03 Nov 2009 00:52:16 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='suhadinet.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/60d751925568fa7fa69230e5717629bb?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Suhadinet.wordpress.com</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>Sastra Lisan Banjar Hulu dan Fahrurraji Asmuni</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/11/03/sastra-lisan-banjar-hulu-dan-fahrurraji-asmuni/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/11/03/sastra-lisan-banjar-hulu-dan-fahrurraji-asmuni/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Nov 2009 00:51:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[budaya]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[fahrurraji asmuni]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[sastra banjar]]></category>
		<category><![CDATA[sastra lisan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=576</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Laki-laki bersahaja itu bernama Fahrurraji, dan lebih dikenal di kalangan para sastrawan Amuntai dengan nama Fahrurraji Asmuni.Tetapi di balik kebersahajaan penampilan lulusan S1 FKIP Universitas Lambung Mangkurat Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) tersimpan minat dan gelora semangat terkait dunia tulis-menulis. Beberapa kali saya bercakap-cakap dengan guru senior di SMAN 1 [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=576&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a rel="attachment wp-att-579" href="http://suhadinet.wordpress.com/2009/11/03/sastra-lisan-banjar-hulu-dan-fahrurraji-asmuni/buku-fahrurraji-asmuni-2/"><img class="alignleft size-medium wp-image-579" title="buku-fahrurraji-asmuni" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/11/buku-fahrurraji-asmuni1.gif?w=239&#038;h=300" alt="buku-fahrurraji-asmuni" width="239" height="300" /></a>Author: Suhadi</p>
<p>Laki-laki bersahaja itu bernama Fahrurraji, dan lebih dikenal di kalangan para sastrawan Amuntai dengan nama Fahrurraji Asmuni.Tetapi di balik kebersahajaan penampilan lulusan S1 FKIP Universitas Lambung Mangkurat Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PBSID) tersimpan minat dan gelora semangat terkait dunia tulis-menulis. Beberapa kali saya bercakap-cakap dengan guru senior di SMAN 1 Amuntai tersebut, telah memberikan kesan tersendiri kepada saya, betapa beliau adalah pribadi yang amat menyenangkan. Mula keakraban kami terjalin saat setahun yang lalu saat beliau mengomentari penampilan saya sebagai pemakalah di sebuah seminar untuk guru. Di antara ratusan peserta, beliau ternyata diam-diam menyelinap sebagai peserta. Kata beliau, “Kamu kok jauh beda dengan penampilanmu di blog, ya?” //Hiii..hii baru tau, Pak Fahrurraji Asmuni kalau foto-foto yang saya pajang di blog penuh trik airbrush dari photoshop. “Emang kenapa, Pak Fahrurraji, penampilan saya sekarang?”// “..Ngggnggg…. gak..gak papa, gantengan yang di depan saya daripada yang di blog! Bener  lho! Sumpah!// Ha..ha….//</p>
<p>Terakhir, dalam kesempatan rehat saat kami sama-sama memberikan tutorial pada perkuliahan mahasiswa Universitas Terbuka UPBJJ Banjarmasin di Pokjar Amuntai, beliau menghadiahi saya sebuah buku terbaru beliau yang bertajuk: “Sastra Lisan Banjar Hulu untuk Pelajar dan Umum” . Buku setebal 96 halaman yang diterbitkan oleh Penerbit dan Toko Buku Hemat tersebut memuat banyak penjelasan mengenai berbagai jenis sastra lisan Banjar Hulu. Sesuai dengan peruntukannya, buku ini memang layak dimiliki para generasi muda dan masyarakat umum, utamanya yang dari etnis Banjar sendiri agar mengenal berbagai jenis sastra lisan yang kini sudah mulai menghilang dari pentas budaya. Adalah kondisi yang sangat menyedihkan jika kenyataan sekarang menunjukkan berbagai sastra lisan yang ada di tanah Banjar mulai menghilang karena  tergerus modernisasi. Sastra lisan Banjar Hulu perlu untuk dilestarikan, sebagai salah satu bentuk kearifan lokal yang mencirikan Suku Banjar. Sastra lisan Banjar Hulu adalah sebentuk ragam identitas yang kini mulai—atau bahkan telah—tercerabut dari budaya  Suku Banjar.<span id="more-576"></span></p>
<p>Pada Kata Pengantarnya di buku tersebut, Fahrurraji Asmuni menyatakan keprihatinan dan harapannya: dengan tersajinya buku ini diharapkan pembaca dapat mengetahui, mengenal, dan seterusnya mencintai Budaya sendiri terutama di bidang seni sastra Banjar klasik. Dan, kepada pembaca yang bukan dari etnis Banjar, tentu buku ini dapat menambah wawasan akan khazanah budaya nusantara. Menurut Fahrurraji Asmuni, sastra lisan Banjar Hulu merupakan salah satu cikal bakal sastra lisan dan sastra tulis Banjar. Beberapa sastra lisan yang dimuat dalam buku ini adalah baahui, baandi-andi, bacacapatian, balamut, bapantun, dindang, isim, madihin, mahala biu, mamanda, mangabuwau, manyair, papadahan, tutur candi, dan ungkapan. Terus terang, sebagai seorang generasi muda dari suku Banjar, saya sendiri hampir tak mengenal beberapa di antara ragam seni sastra lisan tersebut di atas.</p>
<p>Fahrurraji Asmuni mulai terjun di dunia tulis-menulis sejak tahun 1982. Karya-karyanya berupa esai, puisi, dan cerpen pernah dimuat di berbagai media seperti Banjarmasin Post, Serambi Ummah, Majalah Kiblat-Jakarta, Sahabat Pena, Suara Aisyiyah-Yogyakarta, Radar Banjar, dan Buletin Cangkal. Puisi-puisi terhimpun dalam antologi tunggal, di antaranya Darah Impian (1982), Elite Penyair Kalsel 1979-1985 (1988), Bintang-Bintang Kasuma I (Antologi 11 penyair Hulu Sungai Utara, 1984), Seribu Sungai Paris Berantai (antologi penyair Kalsel, 2006), Ronce Bunga Meka r (antologi penyair Banua Enam, 2007), Mahligai Junjung Buih (antologi puisi dan cerpen Sastrawan Hulu Sungai Utara, 2007), dan Tarian Cahaya Di Bumi Sanggam (antologi puisi Penyair Kalsel, 2008). Kumpulan cerpen dan cerita yang telah dirilisnya adalah Kuning Padiku, Hijau Hidupku (1984), Sang Guru (1990), Pengabdian (1995), Dialog Iblis dengan Para Shalihin (2000), Datu-Datu Terkenal Kalsel (2001), dan Kena Tipu (2005).</p>
<p>Saat ini Fahrurraji Asmuni berdomisili di Jalan Negara Dipa, Komplek 10 RT.8 No. 366 Kelurahan Sungai Malang, Amuntai. Anda juga dapat mengunjungi blognya (yang kata beliau dibangun dengan semangat besar plus pengetahuan minim tentang dunia maya) di <a href="http://wwwkaryaraji.blogspot.com/">http://wwwkaryaraji.blogspot.com</a></p>
Posted in bahan bacaan Tagged: budaya, buku, fahrurraji asmuni, resensi, sastra banjar, sastra lisan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/576/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/576/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/576/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=576&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/11/03/sastra-lisan-banjar-hulu-dan-fahrurraji-asmuni/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/11/buku-fahrurraji-asmuni1.gif?w=239" medium="image">
			<media:title type="html">buku-fahrurraji-asmuni</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Alifa Rahma Rizqina Suhadi</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 04:58:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=569</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Kehadiranmu melengkapi hidup kami, putriku
(dari ayah-bundamu: Suhadi &#8211; Nove Hasanah)
Lahir: Ahad, 27 September 2009
Posted in Uncategorized       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=569&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Author: Suhadi</p>
<p>Kehadiranmu melengkapi hidup kami, putriku</p>
<p>(dari ayah-bundamu: Suhadi &#8211; Nove Hasanah)</p>

<a href='http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/alifa1/' title='alifa1'><img width="119" height="150" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/10/alifa1.gif?w=119&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="" title="alifa1" /></a>
<a href='http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/alifa2/' title='alifa2'><img width="119" height="150" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/10/alifa2.gif?w=119&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="" title="alifa2" /></a>
<a href='http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/alifa3/' title='alifa3'><img width="124" height="150" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/10/alifa3.gif?w=124&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="" title="alifa3" /></a>
<a href='http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/alifa4/' title='alifa4'><img width="123" height="150" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/10/alifa4.gif?w=123&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="" title="alifa4" /></a>
<a href='http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/alifa5/' title='alifa5'><img width="117" height="150" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/10/alifa5.gif?w=117&#038;h=150" class="attachment-thumbnail" alt="" title="alifa5" /></a>

<p>Lahir: Ahad, 27 September 2009</p>
Posted in Uncategorized  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/569/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/569/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/569/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=569&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/10/20/alifa-rahma-rizqina-suhadi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Qaisra Shahraz-Perempuan Suci (The Holy Woman)</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/09/qaisra-shahraz-perempuan-suci-the-holy-woman/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/09/qaisra-shahraz-perempuan-suci-the-holy-woman/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 04:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[novel]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan suci]]></category>
		<category><![CDATA[perempuan terluka]]></category>
		<category><![CDATA[qaisra shahraz]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>
		<category><![CDATA[the holy woman]]></category>
		<category><![CDATA[thypoon]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=555</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Tak terlalu banyak novel bagus yang saya baca (alamak! sombong sekali kau!), dengan kemampuan mampu mengaduk-aduk perasaan saya sehebat Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata (buku 1 yang banyak bercerita tentang pendidikan kita) lebih dari setahun yang lalu hingga akhirnya sekitar seminggu yang lalu saya membaca Perempuan Suci  (versi aslinya: The Holy Woman) karya Qaisra Shahraz. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=555&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a rel="attachment wp-att-560" href="http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/09/qaisra-shahraz-perempuan-suci-the-holy-woman/s6300178/"><img class="alignright size-full wp-image-560" title="perempuan suci-cover" src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/09/s6300178.gif?w=348&#038;h=376" alt="perempuan suci-cover" width="348" height="376" /></a>Author: Suhadi</p>
<p>Tak terlalu banyak novel bagus yang saya baca (alamak! sombong sekali kau!), dengan kemampuan mampu mengaduk-aduk perasaan saya sehebat Laskar Pelangi-nya Andrea Hirata (buku 1 yang banyak bercerita tentang pendidikan kita) lebih dari setahun yang lalu hingga akhirnya sekitar seminggu yang lalu saya membaca Perempuan Suci  (versi aslinya: <em>The Holy Woman</em>) karya Qaisra Shahraz. Novel ini—yang sebenarnya sudah tahun 2006 lalu diterbitkan—merupakan sebuah novel yang  luar biasa. Dari belasan (puluhan?) novel yang saya baca belakangan ini, hanya novel ini yang benar-benar mampu menggugah rasa dan menimbulkan decak kekaguman sementara saya membolak-balik halaman-halamannya.  Ha..ha.. padahal pada awalnya saya tak suka covernya, telah lama saya melihat novel ini tergeletak di toko buku tempat saya biasa berbelanja buku, hanya karena saya merasa kecewa setelah sebelumnya membeli beberapa novel dari pengarang dalam negeri yang tak memberi greget apa-apa. Keterbatasan pilihan novel yang dijual di kota kecil Amuntai-lah yang membawa saya pada putusan meraihnya dari rak beberapa waktu yang lalu.</p>
<p>Perempuan Suci ternyata adalah karya pertama berwujud novel dari  Qaisra Shahraz. Novel ini benar-benar membuat saya ikut hanyut saat meresapi setiap kata dari dialog masing-masing tokohnya. Penulis kelahiran Pakistan yang kini tinggal di Manchaster ini memang hebat merangkai dialog. Suatu hal yang saya sangat kesulitan melakukannya dalam upaya belajar menulis fiksi. Semua dialog benar-benar logis dan mampu memunculkan konflik yang memberi kesan natural dalam imajinasi saya,tidak dibuat-buat, memunculkan karakter tokoh yang berdiri tegas dengan keunikannya masing-masing. Seluruh karakter tokoh yang ditampilkan dalam novel  setebal  517 halaman ini merupakan sebuah kekuatan tersendiri.</p>
<p>Ketika menggarap dialog-dialog para tokoh, yang menurut saya merupakan salah satu keunggulan lain novel ini, Qaisra Shahraz melakukannya dengan teramat baik. Jalinan kata-kata yang dipilih mampu—setelah memunculkan konflik, membentuk karakter para tokoh—sebagai sarana untuk penyelesaian konflik yang cerdas.</p>
<p>Membaca novel ini, bagi saya yang di tahun 2000-2005-an adalah penikmat sejati film-film romantik Bollywood (cieee….)<span id="more-555"></span> dengan pemain-pemain macam Ajay Devgan, dan Kareena Kapoor, <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' />   membawa imajinasi saya terbang ke negeri Pakistan (yang secara kultural dan historis amat dekat dengan India—pernah merupakan wilayah India sebelum memisahkan diri). Ya, saya bisa membayangkan dengan detil setting cerita ini berlangsung pada keluarga-keluarga tuan tanah yang dihormati—disegani, perbedaan status sosial antara para pecinta yang terlibat, para perempuan desa yang senang bergosip, selera mereka pada aneka perhiasan dan baju-baju gemerlap, hingga sawah, dan jalanan desa  yang menjadi pilar utama dalam membangun cerita. Nasihat saya: tontonlah beberapa film percintaan Bollywood yang romantik, lalu bacalah novel ini. He…he….he…..  :mrgreen:</p>
<p>Saya memetik buah hikmah, bahwa inti dari novel ini adalah cara pandang—tipikal?—kepribadian orang Pakistan yang memandang harga diri terkait status social/kasta (sesuatu yang sebenarnya sangat debatable bagi etnis/bangsa lain). Dalam Perempuan Suci kita digiring sehingga bisa memahami bagaimana seorang Chauharani Kaniz (janda seorang tuan tanah) yang merasa kehormatannya akan jatuh hina jika harus bermenantukan perempuan bernama Firdaus yang merupakan anak seorang tukang cuci. Atau, saat seorang Zarri Bano (tokoh sentral perempuan dalam novel ini) harus mengakui pada dirinya sendiri bahwa ia masih memendam cinta yang teramat luar biasa pada Sikander saat ia terpaksa harus mengawini lelaki yang pernah menjadi tunangannya itu demi keponakannya Haris (anak Sikander dari adik perempuannya: Ruby yang menjadi syuhada haji sewaktu thawaf di hadapan Baitullah). Konflik batin yang mahahebat menderanya. Zarri Bano harus berusaha sekuat tenaganya  melepaskan “harga diri” sebagai seorang perempuan suci yang tak boleh menikah (karena ia telah menikahi keyakinannya: Al Qur’an)dan membiarkan fitrahnya tumbuh kembali sebagai seorang perempuan yang selalu mendamba pasangan hidup: seorang lelaki, Sikander. Dalam pergulatan bati n itu Zarri Bano ternyata sangat tak mudah untuk melepaskan pangkat sebagai perempuan suci, padahal ia tahu persis bahwa penasbihanannya (mulanya secara paksa oleh ayahnya), sebagai seorang perempuan suci adalah hal yang tidak pernah tertulis dalam hukum Islam, dalam Al Qur’an atau Sunnah Rasul—bahkan tentu bertentangan dengan fitrahnya sebagai perempuan.</p>
<p>Sebagai seorang yang bercerita dengan amat bagusnya, Qaisra Shahraz telah membumbui konflik perang batin seorang Zarri Bano, seorang terpelajar berpendidikan magister, jurnalis,redaktur, aktivis  feminis yang sering berkeling dunia dan peduli pada masalah-masalah perempuan, ternyata tak mampu saat ia diharuskan menekuri peran yang diselempangkan padanya  sebagai seorang perempuan suci. Ia harus terpasung di bawah tirani partriarkat para lelaki (ayah dan kakeknya)—menjadi seorang perempuan yang harus mengenakan burqa (jubah hitam tertutup) dan menyerahkan seluruh hidupnya untuk ibadah (180 derajat berkebalikan dengan profil Zarri Bano).  Kemudian selanjutnya konflik dilanjutkan dengan konflik batin: pemulihan jiwa Zarri Bano agar kembali menjadi seorang perempuan normal yang sepantasnya juga menikah dengan orang yang dicintai-mencintainya tapi tetap berpegang pada agama/Islam.  Bumbu-bumbu manis, pedas, asin, dan asam telah dibubuhkan Qaisra Shahraz melalui konflik antara Zarri Bano-Sikander, Zarri Bano-Ruby, Zarri Bano-Habib, Chaudharani Syahzada-Habib, Chaudharani Kaniz-Fatima, Chaudharani Kaniz-Firdaus, dan Firdaus-Khawar. Oh..oh, semua menimbulkan chemistry yang luar biasa. Saya bahkan berpikir, bahwa Qaisra Shahraz tak pernah melupakan setiap dialog yang telah dibuatnya untuk setiap tokoh di halaman-halam depan untuk kembali dibuka dan dipertajam di halaman-halaman berikutnya, tanpa harus membuat kita menjadi bosan karenanya. Dia tidak mengulang sepenuhnya sebuah dialog, tapi pengulangan beberapa kata tertentu membuatnya menjadi penegasan yang luar biasa bahwa setiap tokoh punya memori masing-masing terhadap setiap peran yang diberikan Qaisra padanya.Semua karakter menjadi hidup. Harus saya akui, saya sering tergetar karenanya. Salut!</p>
<p>Pada saat-saat membaca novel ini, beberapa kali saya tercenung, bagaimana mungkin konflik yang sekilas dalam pikiran saya adalah sebuah konflik yang teramat sulit, dapat diselesaikan menjadi sesuatu yang begitu manis dan indah saat Qaisra menyelesaikannya pada bab-bab tertentu. Huh, itu selalu membuat saya menjadi bernapas lega, karena begitu terpengaruhnya emosi saya. Saya terkagum-kagum dengan caranya menyelesaikan konflik, walaupun itu baru bisa selesai dengan dialog-dialog panjang dan saling debat antar tokohnya—tapi disitulah menariknya. Novel ini tak menimbulkan efek tak ingin berhenti membaca (tak bisa berhenti sampai selesai) sebagaimana Andrea Hirata melakukannya pada Tetralogi Laskar Pelangi, Perempuan Suci karya Qaisra Shahraz dapat dinikmati dengan santai tanpa terburu-buru—setiap saat kita memegang buku ini kita akan menikmatinya dan membuat perenungan terhadapnya. Andai saya punya kemampuan seperti penulis ini…….. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_sad.gif' alt=':(' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Banyak pelajaran yang bisa kita petik dari novel ini misalnya ini:</p>
<blockquote><p>Komentar Khawar yang menyakitkan padanya masih membekas. Firdaus mulai belajar bahwa keangkuhan adalah sebuah fenomena jahat yang tak akan menghasilkan apa pun, selain jurang di antara orang-orang yang saling mencinta (h.420).</p></blockquote>
<p>Novel ini juga penuh dengan kalimat-kalimat indah, yang terkadang juga kalimat-kalimat sarkastis bahkan konyol. Namun, mohon maaf Qaisra Shahraz, ternyata saya juga menemukan sedikit kejanggalan dalam novel ini, di mana saat Qaisra Shahraz mencoba bercerita tentang penyadapan karet di Malaysia, ia melakukan kekeliruan. Saya pikir wanita yang hingga umur 8 tahun masih tinggal di Pakistan ini tidak begitu tahu tentang pohon karet, ha..ha…ha….:</p>
<blockquote><p>“Assalamu’alaikum!” sapa laki-laki itu yang ternyata penyadap karet. Ia segera tahu dari jilbab hitam Zarri Bano bahwa mereka Muslim seperti dirinya. Sambil tersenyum lebar, ia membawa mereka ke dekat sebuah pohon karet, dan dengan sebilah pisau khusus, ia menunjukkan Bagaimana karet disadap. Zarri Bano dan Sikander mengamatinya dengan kagum saat cairan kental seperti jel yang berwarna jingga keluar dari pelepah terluar batang karet itu (h.501).</p></blockquote>
<p>Ada-ada saja, masa pohon karet mengeluarkan getah seperti jel yang berwarna jingga—bukannya putih susu? Lalu pohon karet ada pelepahnya—kaya pohon kurma saja. He..he… Namun, tak apa-apa, itu hanya cela kecil, dan tak ada lagi cela lain yang saya lihat.</p>
<p>Buku ini ada lanjutannya, tapi sayang saya belum menemukannya di sini (tak banyak toko buku yang menjual novel di sini. Judulnya aslinya Thypoon (versi terjemahannya: Perempuan Terluka, Mizan 2007). Hm, mudah-mudahan saya bisa menemukannya. Saya terlanjur jatuh cinta pada permainan kata-kata Qaisra Shahraz… Oh oh&#8230; <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in bahan bacaan Tagged: buku, novel, perempuan suci, perempuan terluka, qaisra shahraz, resensi, the holy woman, thypoon <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/555/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/555/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/555/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=555&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/09/qaisra-shahraz-perempuan-suci-the-holy-woman/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/09/s6300178.gif" medium="image">
			<media:title type="html">perempuan suci-cover</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Al Fakieh (Pada Sebuah Rumah Sakit)</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/08/al-fakieh/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/08/al-fakieh/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 07:21:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[apotik]]></category>
		<category><![CDATA[bocah]]></category>
		<category><![CDATA[hantu]]></category>
		<category><![CDATA[malpraktek]]></category>
		<category><![CDATA[rumah sakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=549</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Dua bocah kecil kakak  beradik yang hanya selisih umur 2 tahun itu berjingkat-jingkat di balik pintu. Mata mereka menoleh ke setiap sudut rumah sakit, ke arah taman kecil di sekitar tangga menuju lantai dua yang langsung berseberangan dengan laboratorium, ke arah bangku-bangku kecil yang tampak apik di depan kamar-kamar pasien bedah, hingga ke koridor [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=549&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Author: Suhadi</p>
<p>Dua bocah kecil kakak  beradik yang hanya selisih umur 2 tahun itu berjingkat-jingkat di balik pintu. Mata mereka menoleh ke setiap sudut rumah sakit, ke arah taman kecil di sekitar tangga menuju lantai dua yang langsung berseberangan dengan laboratorium, ke arah bangku-bangku kecil yang tampak apik di depan kamar-kamar pasien bedah, hingga ke koridor panjang berubin putih yang menuju ruang radiologi dan ruang operasi. Sepi, kelihatannya tidak ada orang sama sekali. Situasi ini membuat keduanya bersitatap dengan sorot yang sama nakalnya. Tidak ada seorangpun yang melihat  mereka, begitulah pasti arti masing-masing gerak bola mata itu. Tak sepersekian detik, keduanya terkikik dan segera berhamburan menuju pintu ruangan yang sedikit terbuka itu, sebuah ruangan yang di bagian atas pintunya itu bertuliskan: KAMAR MAYAT.</p>
<p>Rifki dan Rais, kedua bocah itu sesaat saja telah berkeliaran di antara dua buah meja yang terdapat di salah satu sisi jalan masuk. Rifki—sang kakak, segera melompat ke atas kursi empuk dan berputar-putar sambil bersandar sambil cekikikan. Kegembiraan meluap di hatinya. Kenakalan kanak-kanaknya bersama adiknya Rais memunculkan perasaan gairah dan debar-debar tersendiri.Dan ia sangat menikmati itu. Sementara Rais—sang adik yang berusia 4 tahun itu berusaha menarik-narik lengan kursi yang diduduki Rifki, merengek ingin ikut duduk bersama. Si Rais memang selalu menjadi pengikut yang setia. Bocah itu tak pernah jauh dari kakaknya.<span id="more-549"></span></p>
<p>Mereka berdua telah berhari-hari berada di kamar no.15—tempat di mana mama mereka terbaring setelah jantungnya kembali melemah. Ibu mereka menderita penyempitan arteri koronaria. Penyakit jantung koroner, begitu lebih umum disebut orang awam. Keduanya bosan jika harus bermain bersama papa mereka yang lebih banyak melamun dan tak terlalu suka—lagi—berbicara, sejak terakhir mama mereka dirawat di sini. Laki-laki itu lebih suka menggenggam tangan istrinya yang beberapa hari belakangan ini telah semakin sering merasakan nyeri dada.Kakak-adik itu, keduanya seringkali menyelinap ke depan pintu kamar-kamar lain, diajak bercakap-cakap oleh para keluarga pasien rawat inap yang lain, juga dengan para petugas rumah sakit.</p>
<p>Bosan bermain di sekitar kamar no.15, mereka menjelajah kamar-kamar lain, sampai akhirnya masuk ke kamar mayat yang lupa dikunci oleh petugas jaga: Pak Jon, yang sekarang pergi meninggalkan mejanya untuk istirahat makan siang di kafetaria.</p>
<p>Takkan terlihat oleh kedua bocah itu—juga orang-orang di rumah sakit tersebut, seorang pemuda kurus pucat berbaju setelan pasien rumah sakit, sedari tadi telah mengamati mereka dan membuntuti . <em>Heh, dasar bocah-bocah badung! Mereka itu tidak kenal takut atau tak sempat, atau tak bisa  membaca papan kecil nama ruangan di atas pintu yang sedikit terbuka itu? Ah, pasti keduanya tak menyadari bahwa mereka telah memasuki kamar mayat rumah sakit ini. </em>Fakieh tersenyum geli.</p>
<p>“Mereka harus dibikin jera”<em>. </em>Demikian mulutnya berbicara sendiri, walaupun tentu takkan tega ia berbuat demikian.<em> </em></p>
<p>Puas berlagak seperti seorang dokter di ruang prakteknya, Rifki turun dari kursi. Rais buru-buru mengikutinya. Ruangan tempat kedua meja itu tidak besar. Bahkan dapat dikatakan cukup sempit, hanya berukuran sekitar 5&#215;4 meter, dimana separuhnya tempat telah terpakai untuk menampung dua meja jaga, dua buah kursi, dan sebuah lemari besi plat yang dingin dan sedikit mulai berkarat—tempat menyimpan dokumen-dokumen yang mencatat berbagai keterangan tentang mayat-mayat yang pernah dimasukkan ke dalam ruangan tersebut. Mata Rifki melebar saat menyadari bahwa di bagian belakang ruang itu masih terdapat ruang lain. <em>Mungkinkah ada sesuatu yang lebih menarik di dalam sana? </em></p>
<p>“Is…….. Rais! Kita lihat ke situ yuk,”ajaknya.</p>
<p>“Hayo.” Buru-buru Rais turun dari kursinya yang masih sedikit berputar. Hampir saja bocah itu terjerembab karena kaki-kaki pendeknya tersangkut kaki meja saat turun. Walaupun sedikit kesulitan, Rais tampaknya bocah yang tangguh. Benturan cukup keras telapak kakinya dengan kaki meja hanya cukup membuatnya meringis—tapi segera tak dihiraukannya karena melihat Rifki telah mendorong pintu kayu berdaun dua itu pelan. Bunyi engsel yang menautkan daun-daun pintu itu dengan tembok beton tebal menimbulkan derit panjang.</p>
<p><em>Anak-anak ini suka bermain-main sepertinya. Ini sungguh tidak baik. Berkeliaran di rumah sakit tanpa pengawasan akan membahayakan keduanya, </em>pikir Fakieh. Pemuda kurus pucat itu kini telah berdiri di balik pintu. <em>Aku harus mendahului mereka</em>—kata hatinya. Ia melangkah cepat, menembus pintu.</p>
<p>Rifki dan Rais telah melangkah masuk. Mereka kagum melihat ruangan itu begitu lapang. Hampir tak ada apa-apa di ruangan ini kecuali sebuah tempat tidur beroda yang kosong, dua buah lemari yang hampir seluruhnya terbuat dari kaca—kecuali rangkanya yang terbuat dari logam aluminium—berisi berbagai peralatan, dan sebuah meja besar di sudut yang lain juga dengan beberapa macam peralatan di atasnya. Di bagian dinding yang berhadapan dengan pintu mereka masuk tadi tampak beberapa deret laci berukuran besar yang berlekatan langsung dengan dinding. Ada sebuah pintu lagi di ujung deretan laci-laci besar itu—Rifki mendekatinya. Bocah berusia 6 tahun itu mencoba mendorongnya, tapi pintu itu—yang terbuat juga dari semacam plat besi terlalu berat untuknya. Melihat sang kakak tak berhasil mendorong pintu itu, Rais mencoba membantu. Sebenarnya, tak ada tambahan cukup tenaga dari Rais. Jadi, pintu itu tetap bergeming.</p>
<p>“Berat sekali.” Kata Rifki—lebih mirip desisan, tapi terdengar bergema di ruangan dingin itu.</p>
<p>“Iya, belat betul. Lais gak kuat mendolongnya.” Sahut si kecil Rais. Tanpa menanggapi Rais, Rifki kini mulai mengalihkan perhatiannya pada laci-laci besar yang melekat dan menjadi satu bagian rata dengan tembok itu. Bocah itu bergeser. Tangan mungilnya mulai meraba-raba sebuah tarikan laci besar yang terasa sejuk di kulitnya.</p>
<p>“<em>Tak bisa dibiarkan lebih lama lagi, aku tau apa isi laci besar itu. Itu adalah jasad Bang Maksum yang tadi siang angkotnya bertabrakan dengan truk batubara. Pemandangan yang terlalu mengerikan buat bocah-bocah itu..” </em> Fakieh, melayang menembus udara dingin ruang itu. Sekarang ia sudah berdiri di belakang Rais. Ia kemudian meraih pundak Rifki dan Rais, bersamaan ketika tangan-tangan mungil Rifki yang terjulur ke atas itu mulai berhasil menarik laci besar tersebut. Meskipun berat tubuh Bang Maksum lebih dari 80 kg—dia berperawakan tinggi besar dan tambun, roda-roda pada alas di mana tubuh kaku berlumuran darah itu membuatnya menjadi mungkin bagi  tenaga anak-anak Rifki untuk menariknya. Kepala yang pecah dengan otak dan darah yang telah mengental menyeruak keluar dari tembok pada laci besar itu bersamaan dengan kekagetan Kedua bocah itu ketika merasakan sentuhan tangan orang dewasa di pundak mereka. Tanpa sempat terpandang pada kepala Bang Maksum yang lebih tinggi dari kepala mereka, kedua bocah itu telah memalingkan wajah ke belakang. Fakieh berdiri di hadapan mereka kini. Pemuda kurus pucat, memakai setelan pasien itu, tersenyum. Ia berusaha agar kedua bocah itu tak ketakutan tertangkap basah. Rifki dan Rais terdiam. Biar bagaimanapun wajah mereka pias. Mereka pasti sadar bahwa merek tak punya hak untuk berada di ruangan ini. Ada rasa bersalah kekanak-kanakan yang polos pada kedua wajah itu.</p>
<p>“Anak-anak, kalian tak boleh masuk ke sini. Kalau kalian terkunci di sini, Bagaimana? Siapa yang tau? Jangan-jangan papa kalian sedang mencari….e..e..…Rifki dan Rais.” Fakieh memperingatkan mereka sambil sedikit membungkuk supaya pandang matanya tak terlalu jauh dari kedua pasang bola mata lincah itu sementara tangan kirinya—yang pergelangan tangannya tampak menempel selembar plester bekas perekat jarum atau selang infus . Rais, bocah kecil itu, mengingat-ingat apakah ia pernah mengental pemuda kurus pucat itu sebelumnya—<em>rasanya tidak</em>. Kedua anak itu menunduk, malu.</p>
<p>“Maafkan kami, Kak.” Sahut Rifki dengan masih menunduk. Ia sama sekali tak berani menatap wajah Fakieh.</p>
<p>“Iya, maafkan kami, Kak.” Kini Rais menimpali.</p>
<p>Fakieh tersenyum lebar. “Tidak apa-apa. Ayo, kakak antar keluar.”</p>
<p>Dengan menggandeng Rais dan Rafki di kanan dan kirinya, Fakieh melangkah keluar. Tiba di ambang pintu, Fakieh segera menyadari bahwa Pak Jon telah kembali dari makan siangnya. Lelaki berkumis tebal itu hanya tinggal beberapa langkah dari belokan koridor di depan ruang radiologi. Fakieh bisa dan telah biasa mendengar langkah-langkah sepatu kulitnya yang berhak keras dan tebal.</p>
<p>“Anak-anak, sekarang segeralah ke kamar mama kalian di rawat. Ingat, jangan menyelinap kemana-mana lagi, ya.” Telunjuk Fakieh mengacung mengingatkan keduanya.</p>
<p>“Baik, Bang.” Sahut sang kakak—Rifki. Keduanya segera berlarian kecil menuju koridor dan segera berpapasan dengan Pak Jon.  Melihat kedua bocah kecil itu, secara otomatis mata Pak Jon langsung menyorot ke arah pintu kamar mayat yang menjadi tanggung jawabnya. Pintunya sedikit terbuka. Tangannya meraba kunpulan kunci dalam saku celana linennya yang berwarna putih. Ia sadar, ia telah lupa mengunci pintu itu saat tadi meninggalkannya untuk makan siang. Bersamaan dengan kesadarannya akan keteledorannya, ia terkesiap mendengar pintu yang tadi setengah terbuka itu terhempas, menutup. Pak Jon bergegas, sampai di depan pintu ia segera masuk, ia melihat-lihat seluruh ruangan—yakin tak ada Siapa-siapa di sana, bahkan semilir angin yang dapat menggoyangkan anak rambut di pelipisnya pun tak ada. Bulu kuduknya otomatis menegang.</p>
<p>Kini Fakieh sudah berada di antara kerumunan orang-orang yang antri di depan loket pengambilan obat: APOTEK. Ada beberapa buah loket—tepatnya 3 buah. Salah satu merupakan loket yang paling ramai. Loket paling ramai ini ternyata melayani berbagai macam pasien yang rawat inap sampai yang rawat jalan, dari yang memiliki asuransi kesehatan macam Askes hingga Kartu Sehat untuk rakyat miskin.  Loket yang paling sepi adalah loket di mana orang-orang—sedikit orang—yang berdiri di depannya, sebentar saja di sana dan segera menerima bungkusan obat-obatan lalu harus  menukarnya dengan segepok uang ratusan ribu yang berwarna merah. Orang-orang yang sedang antri mengambil obat sering berbisik-bisik begini: “Itu loket untuk obat paten.”</p>
<p>Setelah dari kamar mayat mengatasi bocah-bocah nakal yang menyelinap tadi Fakieh segera bergegas ke sini. Ia merasa ada sesuatu yang salah. Ia selalu bisa merasakan bila telah, atau akan terjadi sesuatu yang salah. Untungnya kesalahan-kesalahan di rumah sakit ini tak selalu terjadi setiap hari, jadi kadang-kadang ia bisa bersantai. Ia sudah berada di antara kerumunan orang-orang itu.</p>
<p>“Huh, ini kesalahan yang cukup fatal dari petugas apotek: Pak Ihsan,” gerutunya sendiri, tapi tak seorangpun dari kerumunan orang itu yang mendengarnya.</p>
<p>Fakieh mengamati seorang pemuda berusia tujuhbelas tahunan tergesa-gesa berjalan di sepanjang koridor setelah menerima bungkusan obat-obatan dengan label Nyonya  Nor Asiah yang berisi alat-alat suntik, beberapa ampul infus, termasuk di dalamnya beberapa botol obat injeksi  intravena yang akan digunakan lewat selang infus. <em>Dia tidak membaca nama yang tertera di bungkusan itu.  Kasian perempuan itu yang sedang terinfeksi Salmonella typosa stadium 3 itu. Obat-obatnya telah tertukar dengan obat-obat Nyonya  Nor Aisyah yang menderita tetanus akibat terinjak paku karatan plus diabetes yang mulai mengganas. </em></p>
<p>Cuaca siang yang panas dan gerah, perut Pak Ihsan yang keroncongan, banyaknya orang yang harus dilayani, sementara waktu istirahat makan siang akan segera habis membuatnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Kesalahan tak disengaja ini ini juga disebabkan nama pasien yang mirip, tulisan tangan yang jelek dan asal-asalan pada kertas resep di bagian kolom identitas pasien. Salah Siapa ini bila bungkusan-bungkusan obat yang diserahkan Pak Ihsan keliru orang?</p>
<p>Pak Ihsan telah selesai memasukkan obat-obatan untuk resep Nyonya Nor Asiah ke dalam kantong plastik. Ia segera berseru meneriakkan nama pasien yang sebenarnya keliru. “NOR AISYAH!” Suaranya serak, karena tenggorokannya telah kering. Ia telah melayani orang-orang ini sejak jam 9 tadi.</p>
<p>Seorang laki-laki separuh baya beranjak dari bangku panjang yang dijejali pantat-pantat penat lainnya. Ia bertanya dengan suara tercekat ragu—ia seorang lugu dari desa terpencil di ujung wilayah tersebut—ia bukan seorang yang dengan mudah menyuarakan kejanggalan yang dirasakannya pada saat itu. Ia merasa Pak Ihsan salah menyebut nama istri tercintanya, akhirnya dengan ragu mulutnya membuka bertanya, “untuk Nyonya NOR AISYAH-kah?”,sembari  tangannya gemetar menyambut bungkusan yang keluar dari celah kaca itu.</p>
<p>“Ya, resep untuk Nyonya NOR AISYAH.”</p>
<p>“Fuih! Salah Pak Ihsan, jangan sampai kejadian seperti yang saya alami setahun yang lalu terulang lagi! Kalian telah membunuhku tanpa sengaja! Jangan terulang lagi pada kedua perempuan itu!  Suami Nyonya NOR AISYAH tak bisa menulis-membaca! Beliau buta huruf!” Fakieh setengah menjerit, tapi tak ada seorangpun yang mempedulikannya, karena memang tak ada orang yang bisa mendengarnya.</p>
<p>Laki-laki separuh baya itu berpaling sembari  memandangi bungkusan obat. Ia menatap nanar huruf-huruf yang ditulis dengan spidol hitam di bungkus plastik besar itu. Ia menggerutu. Ia toh tak bisa membaca! Laki-laki itu dengan langkah berat mulai beranjak dari depan loket. Ia benar-benar merasa ada yang salah, tapi tak tahu apa itu.</p>
<p>Fakieh bergegas ke arahnya. Ia menyenggol dengan sengaja siku laki-laki itu hingga bungkusan di tangannya jatuh. Botol-botol obat dari kaca beradu dengan ubin putih yang keras. Satu atau dua—barangkali—pecah berderai. Suami Nyonya Nor Aisyah itu merasa ada orang yang menyenggolnya, tapi saat ia mencari di sekelilingnya, sama sekali tak ada orang yang patut dicurigai: semua berdiri atau duduk pada jarak yang mustahil bisa menyenggolnya. Semua memandang lelaki itu, juga Pak Ihsan si petugas apotek. Dengan gemetar lelaki separuh baya itu memungut  bungkusan plastik yang sebagian isinya telah pecah itu. Ia merasa apa yang digenggamnya justru bisa membahayakan istrinya. Lelaki itu bangkit dari posisi jongkoknya dan berpaling pada Pak Ihsan.</p>
<p>“Maa….af,aa ada yang pe…pe..cah, saya tak sengaja menjatuhkannya.”</p>
<p>“Hati-hati dongPak! Obat-obatan mahal.” Pak Ihsan memberi penekanan pada kata ‘mahal’, hingga kata itu terasa menyengat di telinga laki-laki paruh baya itu. Kulit mukanya memerah, tapi ia memang telah menjatuhkannya. Ia menahan sabar dan memandang Pak Ihsan dengan pandangan minta seribu maaf.</p>
<p>“Ya, sudah sini!” Pak Ihsan meraih bungkusan yang disodorkan suami Nyonya Nor Aisyah lewat celah loket. Saat menggenggam ujung bungkusan plastik itu, seseorang menyenggol sikunya. Kini ia yang menjatuhkan bungkusan itu persis di atas kotak berisi tumpukan catatan tanda terima yang sudah ditandatangani para keluarga pasien yang mengambil obat-obatan tersebut. Ia menoleh ke belakangnya, tak ada siapa-siapa dalam pandangannya—sebenarnya ada Fakieh di sebelahnya kini. Ia yakin sekali, tadi seseorang telah menyentil ujung sikunya sehingga membuatnya kaget dan menjatuhkan bungkusan obat-obatan dari tangan lelaki separuh baya yang kini berdiri keheranan di depan loketnya. Sekali lagi Pak Ihsan menoleh ke sekelilingnya, tak ada sesiapa. Yang ada juga Si Asrul dan Aliyah, sejawatnya di ruang lain di bagian dalam apotek itu, tapi mereka sedang sibuk mencari dan memasukkan obat-obatan ke dalam bungkus-bungkus plastik untuk pasien yang lain, dan mereka terlalu jauh untuk menyenggolnya.</p>
<p>Pak Ihsan mengambil bungkusan itu. Fakiehpun dengan serta merta mengangkat tanda terima obat-obatan Nyonya Nor Aisyah sebelumnya yang tadi telah ditandatangani oleh putera Nyonya Nor Asiah, pemuda tujuh belasan itu. Fakieh melepaskan kertas berwarna kuning itu hingga melayang-layang. Mata Pak Ihsan terpukau oleh kejadian aneh itu: Kertas itu terangkat ke udara lalu melayang-layang turun hingga ke dekat ujung sepatunya di atas lantai. Matanya segera tertumbuk pada kolom identitas tanda terima obat itu: NYONYA NOR AISYAH.  Lalu ia memandang tanda terima obat di atas meja loketnya yang tadi baru saja ditandatangani—atau lebih tepatnya sekedar dicoret dengan tanda centang—oleh suami Nyonya Nor Aisyah, sebuah tanda terima untuk obat NYONYA NOR ASIAH. Subhanallah, obatnya tertukar! Pak Ihsan tak habis pikir bagaimana kejadian aneh dihadapannya: lelaki separuh baya itu menjatuhkan bungkusan obat, lalu ia selanjutnya juga menjatuhkannya, kemudian saat ia meraih bungkusan obat yang jatuh itu sehelai kertas—tanda terima obat-obatan itu—melayang naik ke udara dan jatuh di dekat  ujung sepatunya, hingga akhirnya ia menyadari bahwa ia telah salah memberikan bungkusan obat kepada kedua pasien yang mempunyai kemiripan nama tersebut.</p>
<p>Dengan buru-buru Pak Ihsan meminta suami Nyonya Nor Aisyah menunggu, lalu ia segera berlari menuju kamar tempat Nyonya Nor Asiah dirawat untuk mengambil obat yang keliru diberikannya itu. Laki-laki separuh baya itu, menarik napas lega, nalurinya ternyata benar: tadiia telah menerima obat yang salah.</p>
<p>Fakieh tersenyum dan segera menjauh dari kerumunan itu. Gerahnya koridor sempit yang dipenuhi para pengambil obat itu tak dirasakannya. Ia harus bergerak ke bagian lain rumah sakit itu dengan menembus tembok.  Seorang pasien baru masuk melalui gerbang Unit Gawat Darurat, sementara seorang perawat yang harusnya berjaga di meja penerimaan tertidur dalam posisi tersandar di kursinya. Ia takut perawat lelaki yang kelelahan itu membahayakan pasien baru tersebut. Ia akan menjaga pasien baru itu, dengan cara-caranya sendiri. Ia telah bersumpah untuk itu di sekitar penghujung ajalnya setahun lalu.</p>
<p>(Alabio, 8 September 2009 )</p>
Posted in cerpen Tagged: apotik, bocah, hantu, malpraktek, rumah sakit <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/549/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/549/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/549/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=549&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/09/08/al-fakieh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Komunikasi Pembelajaran yang Efektif</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/21/komunikasi-pembelajaran-yang-efektif/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/21/komunikasi-pembelajaran-yang-efektif/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 21 May 2009 14:06:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[guru efektif]]></category>
		<category><![CDATA[komunikasi pembelajaran]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran yang efektif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=519</guid>
		<description><![CDATA[Author : Suhadi
Bahasa yang digunakan dan proses berpikir yang sedang dilakukan seorang guru sangat berkaitan erat dengan kejelasannya dalam berkomunikasi dengan siswa-siswanya. Komunikasi yang jelas dalam sebuah pembelajaran adalah salah satu syarat pembelajaran dapat berlangsung efektif. Jadi bila kita ingin menjadi guru yang efektif, marilah kita bersama-sama memperbaiki kemampuan kita berkomunikasi kepada siswa-siswa kita pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=519&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Author : Suhadi</p>
<p><strong>Bahasa</strong> yang digunakan dan <strong>proses berpikir yang sedang dilakukan</strong> seorang guru sangat berkaitan erat dengan <strong>kejelasannya dalam berkomunikasi</strong> dengan siswa-siswanya. Komunikasi yang jelas dalam sebuah pembelajaran adalah salah satu syarat pembelajaran dapat berlangsung efektif. Jadi bila kita ingin menjadi guru yang efektif, marilah kita bersama-sama memperbaiki kemampuan kita berkomunikasi kepada siswa-siswa kita pada setiap pembelajaran yang kita laksanakan. Setuju?</p>
<p>Ada beberapa komponen dalam komunikasi pembelajaran yang efektif, yaitu: <strong>(1) penggunaan terminologi yang tepat; (2) presentasi yang sinambung dan runtut; (3) sinyal transisi atau perpindahan topik bahasan; (4) tekanan pada bagian-bagian penting pembelajaran; dan (5) kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal dengan tingkah laku komunikasi nonverbal.</strong></p>
<p>Yuk kita pertajam satu-satu. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /><br />
<span id="more-519"></span><br />
<strong>Penggunaan terminologi yang tepat</strong> akan mencegah siswa-siswa dari kebingungan, keragu-raguan, dan kerancuan pada pemahaman siswa. Guru yang efektif berkomunikasi akan menggunakan terminologi yang tepat. Ingat, banyak istilah-istilah khusus yang berbeda makna pada konten pelajaran yang berbeda bukan? Yah, taruh contoh mudah misalnya begini. Guru fisika tidak boleh sembarangan menyebut <strong>berat </strong> dan <strong>massa</strong> karena dua istilah ini mempunyai makna yang berbeda. Sebagaimana yang banyak saya lihat, guru-guru kadang-kadang keceplosan menyebut istilah <strong>massa</strong> dengan istilah <strong>berat</strong> karena pengaruh dari penggunaan bahasa sehari-hari yang jarang sekali menggunakan istilah massa. Selain itu, masih terkait dengan penggunaan terminologi yang tepat ini, guru juga sebaiknya mengurangi atau menghindari penggunaan kata-kata: <strong>barangkali, bisa saja, mungkin, kadang-kadang,</strong> atau <strong>kata-kata sejenis</strong> yang juga akan menimbulkan keraguan siswa, ketidakpastian, bahkan sebagai efek negatif lainnya siswa dapat menganggap guru tidak siap, kurang paham dengan apa yang sedang dibicarakannya, atau gugup. Ketidakpercayaan pada kemampuan atau kesiapan guru sangat berpengaruh pada hasil belajar siswa.</p>
<p><strong>Presentasi harus sinambung dan runtut</strong>? Ya iyalah&#8230; masa iya dong, he..he&#8230; !!!<br />
Ini masuk akal sekali bukan? Melakukan presentasi yang bagus memang gampang-gampang susah. Gampang, kalau kita memang sudah memikirkan apa yang akan kita bicarakan di kelas. Susah, kalau kita masuk kelas tanpa perencanaan tentang apa yang mau disampaikan. Peresentasi yang sinambung dan runtut itu merupakan salah satu aspek penting dalam kejelasan komunikasi guru yang efektif. <strong>Cirinya</strong> adalah, presentasi atau diskursus tidak terdistraksi oleh hal-hal yang tidak penting, apalagi yang sama sekali tak ada kaitannya dengan pembelajaran. Presentasi fokus pada hal-hal yang memang ingin dibicarakan. Singkatnya, <em>gak ngalor-ngidul gitu</em>.</p>
<p><strong>Sinyal trasisi atau perpindahan topik bahasan</strong> adalah poin penting lain dalam komunikasi pembelajaran yang efektif. Sinyal transisi memungkinkan siswa mengetahui kapan suatu segmen bahasan atau topik berakhir dan dilanjutkan dengan bahasan atau topik baru. Tak semua siswa dengan mudah dapat menyadari segmen-segmen bahasan pembelajaran. Jadi, alangkah baiknya jika kita beranjak dari satu bahasan ke bahasan lainnya mereka kita beri sinyal. Misalnya dengan cara seperti ilustrasi di baah ini:</p>
<p>“Baiklah anak-anak, tadi kita sama-sama sudah melihat contoh-contoh mendiskusikan tentang ciri-ciri daun tumbuhan dikotil yang mempunyai urat daun menjala atau retikulata, sekarang kita akan melihat dan mendiskusikan berbagai contoh-contoh dan ciri dari urat daun tumbuhan monokotil. Kita akan lihat perbedaannya. Siap?”</p>
<p>Nah, pada ilustrasi di atas jelas guru memberi sinyal transisi. Guru menghentikan pembahasan tentang daun tumbuhan dikotil yang mempunyai urat daun menjala (retikulata), kemudian guru mengatakan bahwa ia akan melanjutkan pembelajaran kepada daun tumbuhan monokotil.</p>
<p><strong>Tekanan pada bagian-bagian penting pembelajaran</strong> adalah komponen komunikasi guru efektif lainnya. Perhatikan ilustrasi ini:</p>
<p>“ Saat kalian menyelesaikan persamaan-persamaan seperti ini, ingat, apa saja yang kamu lakukan pada salah satu ruas persamaan, maka kalian juga harus melakukan hal yang sama pada ruas persamaan lainnya.”</p>
<p>“Perhatikan, saat kalian membaca paragraf-paragraf tulisan kawanmu, beri tanda dengan pensil bila kamu menemukan kesalahan penulisan.”</p>
<p>“ Kalau kalian menemukan tumbuhan dengan ciri-ciri akar, daun, batang, atau bunga yang meragukan apakah tumbuhan itu termasuk tumbuhan monokotil atau dikotil, maka yang harus kalian ingat sebagai penentu utama penggolongan adalah jumlah keping bijinya. Sekali lagi saya katakan, penentu utama penggolongan adalah jumlah keping bijinya. Bila dua berarti dikotil, bila satu berarti monokotil. Pegang itu kuat-kuat.”</p>
<p>Selain <strong>melalui kata-kata</strong> seperti ilustrasi-ilustrasi di atas, guru juga dapat <strong>menambah kekuatan penekanan dengan mengkombinasikannya dengan isyarat-isyarat nonverbal misalnya dengan jari yang diacung-acungkan (bisa membayangkan maksud saya kan?), menulis ulang di papan tulis lalu menggarisbawahinya, atau menyebutnya secara berulang-ulang dan jelas</strong>.</p>
<p>Ada pepatah yang mengatakan: <em>“It is not what you say; it is how you say it!”</em><br />
Nah, kayaknya pepatah itu cocok untuk mengilustrasikan poin kelima ini. Pepatah itu sebenarnya mengacu pada <strong>komunikasi nonverbal.</strong><br />
<strong>Kesesuaian antara tingkah laku komunikasi verbal dengan tingkah laku komunikasi nonverbal</strong> juga merupakan komponen penting komunikasi guru efektif. Guru yang melakukan komunikasi efektif dengan siswa-siswanya mempunyai kesesuaian antara komunikasi verbal dengan komunikasi nonverbalnya. </p>
<p><strong>Ilustrasi:</strong><br />
Jam pelajaran Bahasa Indonesia. Bu Mariana sedang membimbing Jodi, seorang anak yang agak lamban menangkap pelajaran hari itu dengan lebih intensif di deretan bangku depan, sementara di deret bangku yang arahnya di punggung Bu Mariana dua anak, Doni dan Catra sedang bersenda gurau. Bu Mariana mengenali keduanya dari suara mereka yang terdengar. <strong><em>Tanpa menoleh ke belakang, Bu Mariana menegur Doni dan Catra sembari menandai dengan pensilnya oret-oretan Jodi</em></strong>.<br />
“Doni, Catra, sudah jangan bergurau melulu. Kerjaannya sudah selesai belum?”<br />
Doni dan Catra berhenti dan sekilas memandang Bu Mariana. Mereka yang melihat Bu Mariana masih asyik dengan Jodi kembali bergurau walaupun dengan berbisik-bisik.</p>
<p>Ilustrasi di atas menunjukkan bahwa komunikasi verbal Bu Mariana tidak bersesuaian dengan komunikasi nonverbalnya. <em><strong>Bu Mariana ingin Doni dan Catra berhenti bergurau, tetapi ia tidak terlalu menunjukkan itu kepada mereka berdua-ia bahkan tak melirik ke arah mereka-ia hanya berbicara lewat punggungnya</strong></em>, jadinya Doni dan Catra terus saja melakukan tingkah laku menyimpang dari belajar itu.</p>
<p>Pada intinya, yang ingin saya ungkapkan pada poin kelima ini adalah, <strong>apapun yang kita ucapkan harus diikuti dengan kesesuaian sinyal-sinyal komunikasi nonverbal seperti mimik, gerak tangan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, kontak mata, dll. Bahkan penggunaan ruang seperti bergerak mendekati atau menjauhi siswa. Nah, dengan demikian siswa dapat menangkap motiv, keinginan, dan harapan kita kepada mereka.</strong> Adalah sangat tidak mungkin berkomunikasi secara efektif dalam pembelajaran jika tidak terdapat kesesuaian antara komunikasi verbal dengan komunikasi nonverbal guru. <em>Wokeh?</em></p>
<p><strong>Saran untuk dicoba:</strong><br />
Cobalah besok Anda rekam suara Anda dengan <em>handphone</em> saat sedang mengajar. Ingat, rekamlah sepanjang pelajaran. Lalu putarlah ulang saat suasana tenang. Anda akan menemukan hal-hal yang tak pernah Anda duga sebelumnya. Dan, jadikanlah ia bahan untuk memperbaiki bagaimana Anda berkomunikasi dengan siswa Anda di lain kesempatan. <strong>Percayalah, bahkan seorang guru senior..or..or akan terkejut dengan hasil rekamannya</strong>. <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';)' class='wp-smiley' /> </p>
Posted in bahan bacaan Tagged: guru efektif, komunikasi pembelajaran, pembelajaran yang efektif <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/519/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/519/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/519/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=519&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/21/komunikasi-pembelajaran-yang-efektif/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>33</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pemodelan oleh Guru</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/pemodelan-oleh-guru/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/pemodelan-oleh-guru/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 08:35:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[guru]]></category>
		<category><![CDATA[modelling]]></category>
		<category><![CDATA[panutan]]></category>
		<category><![CDATA[pemodelan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=491</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. (sebuah pepatah dalam buku usang Bahasa Indonesia tingkat SD)
Ilustrasi I:
	“Bu Sari ‘kan mengajar di kelas VIIA juga, di kelas itu saya salut dengan anak yang bernama Daniel,” kata Bu Wida. “Dia anak yang cerdas dengan tingkah laku yang sopan dan menyenangkan. Bukankah demikian, Bu Sari?”
	“Betul, Bu Wida. Dia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=491&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Author: Suhadi</p>
<blockquote><p>Guru kencing berdiri, murid kencing berlari. (sebuah pepatah dalam buku usang Bahasa Indonesia tingkat SD)</p></blockquote>
<p><strong>Ilustrasi I:</strong><br />
	“Bu Sari ‘kan mengajar di kelas VIIA juga, di kelas itu saya salut dengan anak yang bernama Daniel,” kata Bu Wida. “Dia anak yang cerdas dengan tingkah laku yang sopan dan menyenangkan. Bukankah demikian, Bu Sari?”<br />
	“Betul, Bu Wida. Dia anak yang sangat cerdas dengan kepribadian yang sangat menyenangkan. Sebenarnya itu tidak terlalu mengherankan buat saya. Saya kenal baik dengan kedua orang tuanya. Ayah dan ibunya juga merupakan orang-orang cerdas dengan kepribadian yang sangat menyenangkan. Tentunya, Daniel memperoleh sifat-sifat demikian dari keduanya,” jawab Bu Sari.</p>
<p><strong>Ilustrasi II:</strong><br />
	“Huh, dasar anak-anak. Apa Pak Baderi perhatikan akhir-akhir ini? Banyak anak-anak putra memakai jelly <em>wetlook</em> pada rambut mereka. Meniru gaya rambut anak-anak band di TV,” kata Bu Arfiyanti seusai keluar kelas pagi itu.</p>
<p><strong>Ilustrasi III:</strong><br />
	Di sebuah koridor menuju ruang kelas tampak Dian dan Rahma berjalan menuju kelas mereka.<br />
	“Sebaiknya kita bergegas, Rahma. Sebentar lagi bel tanda masuk akan berbunyi. Berikutnya ‘kan pelajaran Matematikanya Pak Heri. Kamu tau ‘kan gimana Pak Heri?” kata Dian setengah menarik lengan Rahma yang masih asyik menikmati sekotak <em>softdrink</em>.<br />
	“Ya iyalah, Dian,” jawab Rahma. “Beliau selalu menganggap semua materi pelajaran matematika itu penting. Saa..aaangaaat penting!”<br />
	“Apakah PRmu sudah dikerjakan?”<br />
	“Becanda, kamu?” jawab Rahma lagi. “Berani tak mengerjakan PR matematika, mati kamu!”<br />
	“Yup, betul. Tak ada yang pernah berani main-main dengan Pak Heri.”<br />
	“Eh, kemarin aku ‘kan gak ngerti tentang persamaan kuadrat yang dijelaskan beliau pada pertemuan Jumat lalu. Hari Sabtu berikutnya aku temui beliau. Beliau baik banget! Beliau jelasin hal-hal yang masih belum kumengerti. Beliau benar-benar ingin kita bisa.”</p>
<p><strong>Modelling atau pemodelan </strong>adalah <span id="more-491"></span>peniruan secara langsung suatu tingkah laku hasil pengamatan terhadap seorang model/panutan. Pemodelan adalah hal yang sangat lumrah kita lakukan. Barangkali, model rambut kita saat ini adalah model rambut yang kita tiru dari seorang penyanyi dangdut terkenal, atau dari seorang ibu negara, bahkan pemain bola. Model baju yang kita kenakan bisa jadi kita tiru dari seorang tokoh dalam sebuah tayangan sinetron yang sedang <em>booming</em>. Begitu pula dengan siswa kita di sekolah, mereka meniru berbagai tingkah laku dan gaya dari ekspresi jutaan pemodelan yang berjam-jam mereka tonton lewat layar kaca. <strong>Ilustrasi I dan ilustrasi II </strong> menunjukkan bahwa sebenarnya proses belajar seorang anak/siswa terbanyak dilakukan melalui pengamatan dan peniruan tingkah laku orang lain yang telah mereka amati.  </p>
<p>Sebenarnya, telah begitu banyak pula hasil penelitian yang menyebutkan bahwa guru adalah sumber pemodelan yang sangat luar biasa kuat bagi diri siswa. Guru betul-betul panutan dan teladan (baik dalam artian positif maupun negatif). Banyak laporan penelitian dan literatur yang menyebut hal ini (Good and Brophy, 1991). Hanya saja sayangnya proses yang terjadi dan efek yang dihasilkan seringkali berada di luar kendali guru. Guru tak menyadari hal ini. Guru sering tak sadar setiap tindakan dan tingkah lakunya akan menjadi sumber pemodelan dan selalu berada dalam pengamatan siswa-siswanya. Guru juga sering tak sadar dampak yang akan ditimbulkan dari pemodelan tindakan dan tingkah laku yang tak disadarinya itu. Akibatnya, seringkali tindakan dan tingkah laku guru justru menginspirasi siswa, atau bahkan memaksa siswa untuk bertindak kontraproduktif dengan tugas mereka: belajar. </p>
<p>Pemodelan pada hakikatnya bukan dalam bentuk kata-kata (klaim) dari seorang guru. Pemodelan lebih berwujud tindakan dan tingkah laku, walaupun dapat dipertegas dengan kata-kata. Dalam pengertian lain: kata-kata, tindakan, dan tingkah laku guru sebagai seorang model harus konsisten. Menurut Bryan and Welbeck, 1970, bila guru inkonsisten antara kata-kata dengan apa yang mereka lakukan, maka siswa cenderung akan meniru tingkah laku. Bukan kata-kata guru.</p>
<p>Pada <strong> ilustrasi III </strong> yang diberikan kita bisa melihat bagaimana pendapat Dian dan Rahma, bahwa Pak Heri menganggap materi pelajaran matematika sangat penting, sebagai hasil pemodelan yang dilakukan beliau. Apa yang ditangkap oleh Dian dan Rahma dari Pak Heri bukan berasal dari kata-kata Pak Heri, tetapi semua itu adalah muara dari tindakan-tindakan dan tingkah laku yang dimodelkan oleh Pak Heri terhadap siswa-siswanya. Jadi, sebagai guru adalah benar dan baik jika kita selalu memikirkan terlebih dahulu setiap tindakan dan tingkah laku sehingga membentuk suatu pemodelan yang berdampak positif bagi semua siswa, bahkan mungkin semua komponen sekolah dan orang-orang lain di sekitar kita.</p>
Posted in bahan bacaan Tagged: guru, modelling, panutan, pemodelan <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/491/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/491/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/491/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=491&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/pemodelan-oleh-guru/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Guru, Variabel Paling Berpengaruh pada Perancangan dan Pelaksanaan Pembelajaran</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/guru-variabel-paling-berpengaruh-pada-perancangan-dan-pelaksanaan-pembelajaran/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/guru-variabel-paling-berpengaruh-pada-perancangan-dan-pelaksanaan-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 04:09:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=487</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Jenis guru macam apa Anda? Apakah Anda jenis guru yang berprinsip: yang penting saya mengajar dan menjalankan tugas tanpa keinginan untuk menjadi pembelajaran yang digenjot menjadi lebih baik? Ataukah Anda adalah jenis guru yang berprinsip: semua siswa yang belajar di kelas saya harusnya bisa menguasai materi ajar, dan saya punya tanggung jawab besar dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=487&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.ctf-fce.ca/images/Teaching%2520in%2520Canada/teacher_in_classroom.jpg&#38;imgrefurl=http://www.ctf-fce.ca/e/teaching_in_canada/teacher_exchange_programs.asp&#38;usg=__IIZFINZy1cHIndSMLA0cXbsaDVY=&#38;h=339&#38;w=421&#38;sz=47&#38;hl=id&#38;start=4&#38;um=1&#38;tbnid=bZnRWA_Owfpz9M:&#38;tbnh=101&#38;tbnw=125&#38;prev=/images%3Fq%3Dteacher%2Bteaching%26hl%3Did%26um%3D1"><img src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/05/guru.jpg?w=125&#038;h=101" alt="guru" title="guru" width="125" height="101" class="alignright size-full wp-image-486" /></a>Author: Suhadi</p>
<p>Jenis guru macam apa Anda? Apakah Anda jenis guru yang berprinsip: yang penting saya mengajar dan menjalankan tugas tanpa keinginan untuk menjadi pembelajaran yang digenjot menjadi lebih baik? Ataukah Anda adalah jenis guru yang berprinsip: semua siswa yang belajar di kelas saya harusnya bisa menguasai materi ajar, dan saya punya tanggung jawab besar dalam hal ini?</p>
<p>Prinsip yang guru pegang dalam menjalankan profesinya sangat mempengaruhi perancangan pembelajaran. <span id="more-487"></span>Guru yang punya misi sebagai pembimbing siswa dalam belajar dan percaya bahwa semua siswanya dapat mempelajari suatu materi ajar akan berperan lebih aktif dalam pembelajarannya. Guru jenis ini punya pengharapan yang tinggi akan keberhasilan siswa-siswanya, bekerja lebih keras dari guru lain yang hanya sekedar meluruhkan kewajiban mengajar di pundaknya. Guru yang punya prinsip bahwa semua siswanya bisa dan harus bisa menguasai materi ajar akan lebih berupaya keras membantu siswa-siswa yang lamban dalam menerima pelajaran. Secara pribadi, mereka jauh lebih merasa bertanggung jawab. </p>
<p>Kepercayaan mereka akan kemampuan seluruh siswa untuk menangkap pembelajaran akan muncul secara alamiah melalui pancaran sinar wajah yang lebih antusias dalam mengajar, ekspresi bersahabat, dan gerak-gerik yang menyenangkan bagi semua siswa. Guru akan menunjukkan keinginan agar siswa-siswanya belajar dengan baik melalui keluasan dan kedalaman pertanyaan-pertanyaan yang diajukannya saat pembelajaran. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memicu siswanya untuk menggunakan seluruh kemampuan yang dimiliki dengan cara yang menyenangkan tanpa ada perasaan terperas otaknya. Juga, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan guru tersebut membimbing siswa agar menemukan sendiri konsep-konsep yang ingin dibelajarkan.  </p>
<p>Proses perancangan pembelajaran, dan tentu juga pelaksanaan pembelajaran dengan sangat hati-hati dilakukan oleh guru jenis ini. Mereka akan selalu berpikir reflektif seusai melaksanakan sebuah pembelajaran, mencoba memindai kembali kelemahan-kelemahan dan kelebihan-kelebihan pembelajaran yang telah mereka rancang dan laksanakan, untuk selanjutnya diperbaiki pada perancangan pembelajaran berikutnya.</p>
Posted in bahan bacaan Tagged: perencanaan pembelajaran <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/487/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/487/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/487/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=487&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/guru-variabel-paling-berpengaruh-pada-perancangan-dan-pelaksanaan-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/05/guru.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">guru</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Variabel-Variabel yang Mempengaruhi Perancangan Pembelajaran</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/variabel-variabel-yang-mempengaruhi-perancangan-pembelajaran/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/variabel-variabel-yang-mempengaruhi-perancangan-pembelajaran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2009 04:04:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[bahan bacaan]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=484</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Ada sejumlah variabel yang berpengaruhi dalam merancang sebuah pembelajaran. Varibel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:
1) Guru
Guru adalah variabel yang paling mempengaruhi proses perancangan sebuah pembelajaran. Pengaruh guru dapat beranjak dari pendapat mereka tentang apa yang seharusnya dipelajari oleh siswa, kapasitas mereka untuk memfasilitasi pembelajaran (penguasaan psikologi pendidikan dan metode mengajar), komitmen mereka terhadap profesi, keyakinan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=484&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://apakabarpsbg.files.wordpress.com/2009/04/para-peserta-pelatihan-kerja-kelompok-kerja-guru-di-pangaribuan-sedang-asyik-belajar-membuat-rpp-yang-pakem-kamis16-april-2009.jpg&#38;imgrefurl=http://apakabarpsbg.wordpress.com/2009/04/19/peningkatan-mutu-belajar-mengajar-dbe2-gelar-pelatihan-paket-bahasa-indonesia-di-taput-c2/&#38;usg=__BawaizpaxA6Dfo2ZrUvyPjUplZs=&#38;h=768&#38;w=1024&#38;sz=159&#38;hl=id&#38;start=9&#38;um=1&#38;tbnid=CqNh4P0NieEerM:&#38;tbnh=113&#38;tbnw=150&#38;prev=/images%3Fq%3Drencana%2Bpelaksanaan%2Bpembelajaran%26hl%3Did%26sa%3DN%26um%3D1"><img src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/05/perencanaan-pembelajaran.jpg?w=150&#038;h=113" alt="perencanaan pembelajaran" title="perencanaan pembelajaran" width="150" height="113" class="alignleft size-full wp-image-483" /></a>Author: Suhadi</p>
<p>Ada sejumlah variabel yang berpengaruhi dalam merancang sebuah pembelajaran. Varibel-variabel tersebut adalah sebagai berikut:</p>
<p>1) Guru<br />
Guru adalah variabel yang paling mempengaruhi proses perancangan sebuah pembelajaran. Pengaruh guru dapat beranjak dari pendapat mereka tentang apa yang seharusnya dipelajari oleh siswa, kapasitas mereka untuk memfasilitasi pembelajaran (penguasaan psikologi pendidikan dan metode mengajar), komitmen mereka terhadap profesi, keyakinan akan kemampuan siswa menangkap pelajaran, hingga latar belakang bidang keilmuan mata pelajaran yang diampu.<br />
<span id="more-484"></span><br />
2) Siswa<br />
Berbagai keputusan yang diambil guru dan dimuat dalam perencanaan pembelajaran juga sangat dipengaruhi oleh usia, tingkat kematangan berpikir, latar belakang pengetahuan yang telah mereka miliki, tingkat motivasi, hingga minat mereka.</p>
<p>3) Materi Pelajaran (Konten)<br />
Saat merancang sebuah pembelajaran, sudah barang tentu harus mempertimbangkan dari sisi konten, terkait dengan tipe materi pelajaran yang akan dibelajarkan: apakah materi pelajaran berupa konsep, prinsip, fakta, atau keterampilan. Setiap tipe materi pelajaran memerlukan strategi yang berbeda-beda dalam penyampaiannya agar siswa terfasilitasi belajarnya. </p>
<p>4) Material dan Sumber Daya yang Tersedia<br />
Material dan sumber daya yang tersedia di sekolah sangat besar dampaknya dalam perancangan suatu pembelajaran. Kelengkapan material dan sumber daya di sekolah sangat membantu guru untuk mempermudah perancangan pembelajaran. Walaupun demikian, seringkali pada guru-guru ahli, mereka punya kemampuan untuk mencari pengganti material atau sumber daya tertentu yang tidak tersedia di sekolah dengan material atau sumber daya lain yang terdapat di sekolah atau lingkungan sekitar.</p>
<p>5) Waktu<br />
Waktu yang tersedia mempengaruhi proses peracangan pembelajaran. Kemampuan guru untuk memilah-milah berbagai kegiatan pembelajaran dan materi pelajaran esensial sangatlah penting, sehingga waktu yang ada dapat bermanfaat semaksimal mungkin bagi proses pembelajaran. </p>
Posted in bahan bacaan Tagged: perencanaan pembelajaran <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/484/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/484/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/484/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=484&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/05/12/variabel-variabel-yang-mempengaruhi-perancangan-pembelajaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/05/perencanaan-pembelajaran.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">perencanaan pembelajaran</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Dipindahtugaskan</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/dipindahtugaskan/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/dipindahtugaskan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 06:11:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[about me]]></category>
		<category><![CDATA[amuntai]]></category>
		<category><![CDATA[danau panggang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/?p=477</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Sejak 31 Maret 2009, saya dipindahkantugaskan ke SMPN 4 Amuntai, sebuah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang sedang berkutat menuju Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Sayang juga kalau Kabupaten Hulu Sungai Utara tak punya RSBI, padahal UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menuntut minimal empat (1 SD/MI, 1 SMP/MTs, 1 SMA, dan 1 SMK) [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=477&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><a href="http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/dipindahtugaskan/suhadi61/" rel="attachment wp-att-480"><img src="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/04/suhadi61.jpg?w=145&#038;h=198" alt="suhadi61" title="suhadi61" width="145" height="198" class="alignleft size-full wp-image-480" /></a>Author: Suhadi</p>
<p>Sejak 31 Maret 2009, saya dipindahkantugaskan ke SMPN 4 Amuntai, sebuah Sekolah Standar Nasional (SSN) yang sedang berkutat menuju Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI). Sayang juga kalau Kabupaten Hulu Sungai Utara tak punya RSBI, padahal UU No. 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas menuntut minimal empat (1 SD/MI, 1 SMP/MTs, 1 SMA, dan 1 SMK) Sekolah Berstandar Internasional (SBI) untuk tiap kabupaten/kota.  Mudah-mudahan saya bisa ikut membantu mewujudkan cita-cita mulia ini. Semoga sekolah yang saya tinggalkan, SMPN 4 Danau Panggang juga semakin maju sepeninggal saya.</p>
Posted in about me Tagged: amuntai, danau panggang <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/477/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/477/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/477/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=477&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/dipindahtugaskan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>20</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://suhadinet.files.wordpress.com/2009/04/suhadi61.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">suhadi61</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penelitian Tindakan Kelas, Suatu Cara Menuju Guru Profesional</title>
		<link>http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/penelitian-tindakan-kelas-suatu-cara-menuju-guru-profesional/</link>
		<comments>http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/penelitian-tindakan-kelas-suatu-cara-menuju-guru-profesional/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 30 Apr 2009 05:57:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>suhadinet</dc:creator>
				<category><![CDATA[Makalah PTK]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian tindakan kelas]]></category>
		<category><![CDATA[profesionalisme guru]]></category>
		<category><![CDATA[PTK]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/penelitian-tindakan-kelas-suatu-cara-menuju-guru-profesional/</guid>
		<description><![CDATA[Author: Suhadi
Rahasia untuk menjadi guru profesional adalah terus tumbuh dan belajar. Guru yang berkeinginan untuk tumbuh dan terus belajar bagaimana menjadi guru yang baik dapat belajar dari pengalamannya sendiri. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: Guru Terbaik adalah PENGALAMAN?
Melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research), guru dapat terus-menerus memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas beranjak dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=474&subd=suhadinet&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Author: Suhadi</p>
<p><strong>Rahasia</strong> untuk menjadi guru profesional adalah <strong>terus tumbuh dan belajar</strong>. Guru yang berkeinginan untuk tumbuh dan terus belajar bagaimana menjadi guru yang baik dapat belajar dari pengalamannya sendiri. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: <strong>Guru Terbaik adalah PENGALAMAN?</strong></p>
<p>Melalui penelitian tindakan kelas (<em>classroom action research</em>), guru dapat terus-menerus memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas beranjak dari kondisi pembelajaran riil mereka sendiri. Guru dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang memang dianggap mereka penting untuk diperbaiki dan diawali dengan kesadaran diri bahwa kelemahan-kelemahan itu bersifat urgen. <span id="more-474"></span></p>
<p>Penelitian tindakan kelas menyediakan suatu metode pengembangan profesi yang bersifat sistematis. Saat melaksanakan penelitian tindakan kelas, guru akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dirinya sendiri tentang metode apa yang dapat dipakai untuk memperbaiki kondisi ini, strategi apa yang harus dilakukan, keterampilan mengajar apa yang harus saya lakukan, teknik penilaian yang bagaimana yang paling tepat untuk mengatasi persoalan ini, dst. Guru berkesempatan untuk melakukan inkuiri atas pembelajaran di kelasnya, merancang pembelajaran yang lebih baik, mengumpulkan data-data sebagai bahan analisis, dan merefleksinya sebagai bahan untuk tindakan selanjutnya. Penelitian tindakan kelas juga dapat dikatakan sebagai pengambilan tindakan untuk memperbaiki kegiatan belajar mengajar melalui studi yang sistematis terhadap tindakan tindakan yang telah diambil dan konsekuensi-konsekuensinya. Penelitian tindakan kelas yang pada hakikatnya termasuk penelitian terapan ini dengan demikian, dirancang oleh guru (praktisi pendidikan) yang mengambil dan menganalisis data yang mereka dapatkan dari kelas mereka masing-masing. Penelitian tindakan kelas selanjutnya akan membawa guru ke tingkat keprofesionalan manapun yang guru bersangkutan inginkan.</p>
<p>Saat ini, sebagian besar guru merasa masih belum mampu melakukan penelitian tindakan kelas. Ketidakmampuan mereka itu lebih disebabkan oleh <strong>ketidakmauan dan ketidakpercayaan akan diri sendiri</strong> untuk mencoba, padahal penelitian tindakan kelas bukanlah sesuatu yang sulit untuk dilakukan.</p>
Posted in Makalah PTK Tagged: penelitian tindakan kelas, profesionalisme guru, PTK <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/suhadinet.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/suhadinet.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/suhadinet.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/suhadinet.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/suhadinet.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/suhadinet.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/suhadinet.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/suhadinet.wordpress.com/474/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/suhadinet.wordpress.com/474/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/suhadinet.wordpress.com/474/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=suhadinet.wordpress.com&blog=3292914&post=474&subd=suhadinet&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://suhadinet.wordpress.com/2009/04/30/penelitian-tindakan-kelas-suatu-cara-menuju-guru-profesional/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/95ba18e3efd0cca221d28bac48460c2c?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">suhadinet</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>