Arsip

Archive for the ‘Makalah PTK’ Category

Etika dalam Penulisan Laporan Penelitian (Karya Tulis Ilmiah)

Author: Suhadi

Pernah membuat karya tulis ilmiah berupa laporan penelitian? Kalau Anda guru, mungkin Anda sudah beberapa kali melakukannya, misalnya menulis laporan penelitian tindakan kelas (PTK). Atau bentuk-bentuk penelitian lainnya. Dalam menulis sebuah laporan penelitian, paling tidak ada tiga hal yang harus kita perhatikan, sebagai tanda kita memiliki etika. Ketiga hal tersebut adalah:

Pertama: Kejujuran

“Kejujuran merupakan mata uang yang berharga di mana saja,” demikian sebuah untaian kata mutiara mengatakan. Kejujuran dalam penulisan laporan penelitian atau karya tulis ilmiah berkaitan dengan banyak hal. Kejujuran harus dijunjung tinggi, baik bagi kepentingan diri penulis laporan penelitian itu sendiri maupun bagi masyarakat luas yang akan membacanya. Dalam sebuah laporan penelitian, semua informasi atau data yang disajikan haruslah sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Adalah sangat tidak etis dan berbahaya jika data dimanipulasi sehingga tidak sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Jangan sekali-kali mengubah data karena ingin menampilkan bahwa penelitian yang Anda lakukan berhasil.

Kedua: Objektivitas

Objektivitas sangat berkaitan dengan kejujuran. Jika Anda bersikap objektif, maka dalam laporan penelitian atau karya tulis ilmiah yang Anda buat, penafsiran atau interpretasi data yang dilakukan disandarkan pada objektivitas. Bukan subjektivitas. Objektivitas yang tinggi akan mencerminkan hasil penelitian yang sesuai dengan keadaan sebenarnya, sedangkan objektivitas yang rendah akan dengan sendirinya menurunkan harkat dari penelitian yang Anda lakukan.

Ketiga: Pengutipan

Bila Anda mengutip pendapat orang lain, baik dalam mengambil kutipan langsung atau hanya mengambil intisari pendapat, maka sumber kutipan harus dicantumkan sebagai bentuk penghargaan kepada pemilik ide tersebut.

Manfaat Penelitian Tindakan Kelas (PTK) bagi Guru

Juli 19, 2009 1 komentar

Educational action research can be an emancimatory and liberating force. (Zeichner, 2001)

Apa yang manfaat yang akan didapat oleh guru jika mereka melaksanakan penelitian tindakan kelas (PTK)? Mengapa penelitian tindakan kelas (PTK) sangat perlu untuk dikembangkan?

Di Indonesia, pada saat ini PTK memang mendapatkan perhatian yang cukup besar dalam dunia pendidikan. Ada banyak hal yang menjadi alasannya. Di antaranya bahwa, hasil-hasil dari PTK dapat langsung dimanfaatkan untuk meningkatkan atau memperbaiki kualitas pembelajaran di dalam kelas guru yang bersangkutan. Beberapa pakar pendidikan dan penelitian memberikan beberapa alasan mengapa PTK penting untuk dilakukan guru di sekolah. Beberapa alasan itu antara lain:

Pertama

PTK menawarkan suatu cara yang baru untuk memperbaiki dan meningkatkan kemampuan atau profesional guru dalam kegiatan pembelajaran kelas (Suyanto, 1996). Sedangkan Cross (dalam Angelo, 1991) menyatakan bahwa hasil PTK dapat secara langsung dimanfaatkan untuk kepentingan kualitas kegiatan belajar mengajar di dalam kelas dan dapat meningkatkan wawasan pemahaman guru tentang pembelajaran.

Kedua

Melalui PTK guru dapat melakukan penelitian tentang masalah-masalah aktual yang mereka hadapi untuk mata pelajaran yang diampunya. Guru langsung dapat melakukan tindakan-tindakan untuk memperbaiki atau meningkatkan praktek-praktek pembelajaran yang kurang berhasil agar menjadi lebih baik dan efektif.

Ketiga

Saat seorang guru melakukan PTK, guru tersebut dapat tidak meninggalkan tugasnya, artinya guru masih tetap melakukan kegiatan mengajar seperti biasa, dan pada saat yang bersamaan secara terintegrasi guru melaksanakan penelitian. Oleh karena itu PTK sama sekali tidak mengganggu kelancaran kegiatan pembelajaran di dalam kelas (Kasihani, 1999).

Keempat

Karena permasalahan-permasalahan yang diteliti di dalam PTK adalah permasalahan-permasalahan yang dirasakan dan dialami guru sendiri, maka PTK dapat menjadi jembatan kesenjangan antara teori dan praktek. Karena setelah PTK guru akan memperoleh umpan balik yang sistematik mengenai kesesuaian antara teori pembelajaran dengan praktek yang mereka lakukan. Guru akan mengetahui teori yang tidak sesuai (tidak tepat) dengan praktek yang mereka lakukan. Selanjutnya guru dapat memilih teori yang cocok dan dapat diterapkan di kelasnya.

Kelima

PTK dapat pula dilaksanakan oleh guru secara kolaborasi bersama-sama dengan pihak lain yang terkait. Misal kolaborasi guru mata pelajaran sejenis, kepala sekolah, dan tenaga kependidikan yang lain untuk secara bersama-sama mengkaji permasalahan yang ada, untuk kemudian merencanakan tindakan-tindakan agar permasalahan-permasalahan yang ada dapat segera dicarikan jalan keluarnya.

Prinsip Dasar yang Harus Dipegang Saat Melaksanakan Penelitian Tindakan Kelas

Juli 4, 2009 1 komentar

Acquiescence is not a characteristic of an action tesearcher. He is resourcefull, commited, tenacious, and above all, curious. He will not be satisfied with a given system if he sees elements of the system as unsatisfactory. He will seek to change it. In doing so, he refuses to be a servant, but becomes an acting agent. He rises above the role of a skilled technician and becomes an educator. (Jean McNiff, Action Research, Principles and Practice, McNiff, 1988, 50).

Kasihani (1999) dan Suyanto (1997), mendaftar beberapa hal yang harus dijadikan sebagai prinsip dasar dalam melakukan penelitian tindakan kelas (PTK), sebagaimana disajikan berikut ini.

Pertama

PTK tidak boleh mengganggu tugas utama dari guru yaitu mengajar. Jadi bila seorang guru sedang melakukan PTK, maka ia sebenarnya sedang berusaha mengembangkan perannya sebagai guru yang profesional, karena salah satu ciri guru yang profesional adalah dapat mengajar dengan efektif sambil melakukan penelitian.

Kedua

Pada saat kegiatan pengumpulan data dalam PTK, tidak disarankan menggunakan waktu yang terlalu lama. Agar hal ini terlaksana maka peneliti harus sudah merasa pasti dalam memilih teknik yang tepat, termasuk pengumpulan data awal sebelum kegiatan PTK dimulai.

Ketiga

Metodologi yang digunakan dalam PTK harus tepat dan terpercaya. Bila metodologinya tepat akan memberi peluang bagi guru untuk memformulasikan hipotesis tindakan dan mengembangan strategi yang dapat diterapkan di kelasnya.

Baca selengkapnya…

Penelitian Tindakan Kelas, Sebuah Tinjauan Definisi

We must find a way of bridging the traditional divide between educational theory and professional practice. (Jack Whitehead. Action Research, Principles and Practice, McNiff, 1988, ix).

Semua orang pasti setuju bahwa kita harus selalu meningkatkan mutu pembelajaran. Tapi bagaimanakah caranya? Ada pendapat yang cukup ekstrem, sebagaimana pendapat Angelo (1991). menurutnya, seharusnya dunia pendidikan dapat ditingkatkan kualitasnya dengan memanfaatkan hasil penelitian dalam bidang pendidikan dan psikologi. Tetapi kenyataan yang terjadi adalah hasil-hasil penelitian kurang dapat menjawab peningkatan kualitas pendidikan.

Kenyataannya, bahwa para peneliti (dalam penelitian non kelas) telah gagal menjawab persoalan-persoalan praktis yang dihadapi guru di kelas. Para peneliti (penelitian non kelas) ini lebih tertarik kepada aspek publikasi ilmiah hasil penelitiannya, dibandingkan dengan kegiatan mengaplikasikan temuannya untuk peningkatan kualitas pendidikan. Mengapa hal seperti ini bisa terjadi? Menurut para pakar pendidikan, para peneliti tersebut di kegiatan penelitiannya hanya menjawab persoalan-persoalan umum dalam dunia pendidikan, bukan untuk melakukan aplikasi-aplikasi tertentu dalam kelas-kelas khusus. Itulah yang menyebabkan persoalan-persoalan teknis (praktis) yang mendasar dalam dunia pendidikan masih tetap belum terjawab.

Pada tahun 1986 dalam usahanya untuk menjembatani tercerai-berainya penelitian dengan praktik pembelajaran di kelas, Praticia Cross mengajukan sebuah cara sistematis untuk melakukan penelitian yang dilakukan di dalam sebuah kegiatan pembelajaran. Cross (dalam Angelo, 1991) berpendapat bahwa cara yang diajukannya tersebut (selanjutnya disebut: Baca selengkapnya…

Langkah-Langkah PTK Menurut Kemmis dan McTaggart

Juni 8, 2009 3 komentar

Action research as a legitimate form of educational inquiry and the value of the knowledge that it produces. (Zeichner, 2001, 279)

Kemmis dan McTaggart mengatakan bahwa penelitian tindakan adalah suatu siklus spiral yang terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan (observasi), dan refleksi, yang selanjutnya mungkin diikuti dengan siklus spiral berikutnya.

Dalam pelaksanaan penelitian tindakan kelas adalah mungkin peneliti telah mempunyai seperangkat rencana tindakan (yang didasarkan pada pengalaman) sehingga dapat langsung memulai tahap tindakan. Ada juga peneliti yang telah memiliki seperangkat data, sehingga mereka memulai kegiatan pertamanya dengan kegiatan refleksi. Kebanyakan penelitian tindakan kelas mulai dari fase refleksi awal untuk melakukan studi pendahuluan sebagai dasar dalam merumuskan masalah penelitian. Langkah selanjutnya adalah perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Berikut akan coba diuraikan satu persatu.

LANGKAH PERTAMA: REFLEKSI AWAL

Refleksi awal merupakan kegiatan penjajagan yang dimanfaatkan untuk mengumpulkan informasi tentang situasi-situasi yang relevan dengan tema penelitian. Peneliti bersama timnya melakukan pengamatan pendahuluan untuk mengenali dan mengetahui situasi yang sebenarnya. Berdasarkan hasil refleksi awal dapat dilakukan pemfokusan masalah yang selanjutnya dirumuskan menjadi masalah penelitian. Berdasar rumusan masalah tersebut maka dapat ditetapkan tujuan penelitian. Sewaktu melaksanakan refleksi awal, paling tidak calon peneliti sudah menelaah teori-teori yang relevan dengan masalah-masalah yang akan diteliti. Oleh sebab itu setelah rumusan masalah selesai dilakukan, selanjutnya perlu dirumuskan kerangka konseptual dari penelitian.

LANGKAH KEDUA: PENYUSUNAN PERENCANAAN

Penyusunan perencanaan didasarkan pada hasil penjajagan refleksi awal. Secara rinci perencanaan mencakup tindakan yang akan dilakukan untuk memperbaiki, meningkatkan atau merubah perilaku dan sikap yang diinginkan sebagai solusi Baca selengkapnya…

Langkah-Langkah PTK Model Cohen dan Manion

The clever man will tell you what he knows; he may even try to explain it to you. The wise man encourages you to discover it for your self, even though he knows it inside out. (Revans, 1980)

Dari model (Cohen dan Manion (1980), ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti dalam melakukan

Penelitian tindakan kelas (PTK). Beberapa langkah tersebut adalah sebagai berikut.

LANGKAH PERTAMA: MENGIDENTIFIKASI DAN MERUMUSKAN MASALAH

Mengidentifikasi dan merumuskan masalah yang dianggap penting dan kritis yang harus segera dicarikan penyelesaian dalam pembelajaran seharihari, antara lain meliputi ruang lingkup masalah, identifikasi masalah dan perumusan masalah.

a. Ruang lingkup masalah

Di bidang pendidikan, PTK telah digunakan untuk pengembangan kurikulum dan program perbaikan sekolah. Contoh PTK dalam pembelajaran berkaitan dengan: (1) metode/strategi pembelajaran; (2) media pembelajaran.

b. Identifikasi masalah

Masalah yang akan diteliti memang ada dan sering muncul selama proses pembelajaran sehari-hari sehingga perlu dicarikan penyelesaian. Ada beberapa kriteria dalam menentukan masalah yaitu: (1) masalahnya memang penting dan sekaligus signifikan dilihat dari segi pengembangan kelas dan sekolah;

2) masalah hendaknya dalam jangkauan penanganan; (3) pernyataan masalahnya harus mengungkap beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor, sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasar hal-hal fundamental ini dari pada berdasarkan fenomena dangkal.

c. Perumusan masalah

Pada intinya, rumusan masalah seharusnya mengandung deskripsi tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan. Dalam merumuskan masalah PTK, ada beberapa petunjuk yang dapat digunakan sebagai acuan yang disarikan dari Suyanto (1997) dan Sukarnyana (1997). Beberapa petunjuk tersebut antara lain: (1) masalah hendaknya Baca selengkapnya…

Penelitian Tindakan Kelas, Suatu Cara Menuju Guru Profesional

April 30, 2009 14 komentar

Author: Suhadi

Rahasia untuk menjadi guru profesional adalah terus tumbuh dan belajar. Guru yang berkeinginan untuk tumbuh dan terus belajar bagaimana menjadi guru yang baik dapat belajar dari pengalamannya sendiri. Bukankah ada pepatah yang mengatakan: Guru Terbaik adalah PENGALAMAN?

Melalui penelitian tindakan kelas (classroom action research), guru dapat terus-menerus memperbaiki pembelajaran yang dilaksanakannya di kelas beranjak dari kondisi pembelajaran riil mereka sendiri. Guru dapat memperbaiki kelemahan-kelemahan yang memang dianggap mereka penting untuk diperbaiki dan diawali dengan kesadaran diri bahwa kelemahan-kelemahan itu bersifat urgen. Baca selengkapnya…

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.