Author: Suhadi
Sebuah cerpen yang dibuat saat suntuk, terjepit berbagai setoran pekerjaan yang menggunung….. Damn, sungguh saya hampir tak punya waktu buat menulis..
Setelah dibukakan pintu, Henardi bergegas masuk. Fennita, istrinya yang sedari tadi menunggunya dengan penuh sabar mengekor di belakang.
Henardi duduk di sofa. Menghempaskan tas kerja, dan juga pantatnya yang terasa lebih penat dari biasanya. Ia menarik napas panjang sambil melonggarkan dasi yang terasa mencekik leher. Lelaki itu mencoba menyamankan diri dengan duduk menyandar.
“Capek ya, Kak?”
“Hemmm…”, Henardi mengangguk. Terlihat agak kikuk.
“Fennita buatkan kopi dulu ya, Kak?”, istrinya yang sudah lima tahun hidup serumah itu tersenyum penuh kelembutan. Senyum ikhlas yang—biasanya—mampu meneduhkan badai apapun yang dihadapi Henardi.
“Terima kasih, Sayang.” Lelaki itu mengangguk kemudian tersenyum, tapi tak sempurna mengembang. Ada sesuatu yang teramat besar yang akan meledak hari ini. Dan, tak bisa Henardi tunda-tunda lagi.
Harus hari ini…. , batin Henardi.
Henardi membuka satu kancing kemeja. Lalu, dua. Panas masih terasa udara. Ah harus hari ini…. tak bisa ditunda-tunda lagi. Aku harus bicara pada Fennita… Kata hatinya berulang-ulang memantapkan diri.
“Ini kopinya, Kak.” Perempuan cantik berumur tigapuluhan itu telah kembali dari belakang. Fennita membungkuk, menghaturkan secangkir kopi dan sepiring kecil cookies buatan tangannya yang terampil. Apapun yang diracik oleh tangan halus itu selalu enak dan nikmat.
“Diminum dulu kopinya, pasti bisa lebih menyegarkan.”
Lalu tubuh semampai berbalut blus berwarna kuning cerah yang meronakan kulit putih mulusnya itu duduk menyampingi Henardi. Tubuh indah itu menggelayut manja pada lengan Henardi. Jemari lentiknya memijit-mijit. Dalam suasana biasa, jari-jari lentik itu mampu meregangkan otot-otot punggung dan pinggangnya yang tegang dan kaku karena seharian bekerja di kantor. Usapannya jemari lentik itu—biasanya—mampu membuatnya rileks dan melupakan tumpukan berkas-berkas kontrak kerja perusahaan yang harus diteliti kata-per-kata, kalimat-per-kalimat, paragraf-per-paragraf, hingga kesatuan utuh maknanya, yang menjadi keseharian tugasnya. Dan, suara serta desah napas istri tercintanya—Fennita, akan mampu melenakannya. Tapi sepertinya tidak untuk hari ini.
Walaupun demikian dibiarkan Henardi, istrinya memperlakukannya bak seorang maharaja. Ia tak meresapi dan tak menikmati. Bukan tak ingin, tapi tak bisa. Ia sedang berusaha menyusun kata-kata. Ungkapan yang sehalus-halusnya, kalau mungkin. Henardi tak ingin melukai pasangan batinnya itu. Ia tak ingin menggores, apalagi mengiris dan menyayat Fennita. Itulah sebabnya sampai hari ini, Henardi tak pernah sanggup mengungkap apa yang akan disampaikannya.
“Honey….”
“Hmm…..?”
“Kakak mau menyampaikan sesuatu.” Henardi tersenyum kecut. Sayang, kesan itu tak tertangkap oleh Fennita, karena wanita itu juga sedang asyik dengan pikirannya sendiri.
“Berita gembira lagi…?”
“Sebuah kejutan… tapi….”
“Tapi Kakak tak ingin aku menganggap ini kejutan bukan? Karena Kakak menganggap ini bukan sesuatu hal yang besar, seperti liburan seminggu penuh ke Bali bulan lalu, kan?” Fennita mencoba menebak seadanya, karena perempuan ayu itupun sedang berusaha menyusun kata-kata. Fennita juga punya sesuatu di saku celananya. Ia ingin menyampaikan sesuatu yang pastinya bisa membuat kaget—gembira—suaminya tercinta itu.
“Ya, kakak tak ingin Fennita jadi kaget, karena ini memang sebuah kejutan. Kakak tidak ingin Fennita jadi shock dan pingsan. Jantung Fennita-kan suka ndak kuat,” jawab Henardi sembari tersenyum. Ragu-ragu, lelaki itu berusaha menenangkan dirinya sendiri. Ia betul-betul tak ingin istrinya shock. Ia harus bicara pelan-pelan agar Fennita bisa memaklumi keadaannya.
“Kalau begitu, biar Fennita saja yang bicara dulu ya, Kak? Fennita juga punya sesuatu untuk Kakak.” Jemari lentik itu menggamit lengan Henardi dengan lebih mesra. Ia merapatkan tubuhnya yang hangat. Lelaki itu makin jadi tak karuan.
“Fennita punya sesuatu yang bisa membuat Kakak amat senang?” tanya Henardi. Gundah, tapi sekali lagi sayang, kesan ini tak tertangkap oleh mata Fennita.
“Hmm, ya…” Fennita mengerling manja.
“Ah, apapun yang Fennita punya atau berikan untuk Kakak, pasti bisa membuat Kakak senang. Sebuah arloji-kah? Atau…….” Henardi tersenyum lagi. Tapi kini dengan kecut yang kian meraja. Ia siap meledak. Henardi harus bicara…..
“Fennita punya in……”
Sekejap telunjuk Henardi diletakkan di atas bibir Fennita, menahan Fennita yang akan bicara. Perempuan itu terhenti…
“Lebih baik, Fennita dengarkan kabar dari Kakak dulu, ya..?”
Fennita mengangguk. Mengalah. Bersabar membendung kata-kata yang hampir melontar dari bibir mungilnya yang padat sensual. Tangannya memasukkan kembali sebuah benda kecil yang tadi berangsur ingin dikeluarkannya dari saku celana panjangnya.
“Kakak menikah lagi, Fennita…. Sudah hampir tiga bulan dan kini…. Anneke telah mengandung….,” lirih suara Henardi. Wajahnya tertunduk. Suara itu pelan keluar dari bibir lelaki berkumis tipis itu. Tapi efek yang diakibatkan sungguh luar biasa.
“Menn…ni…ka..hh..!!!???!!!” Istri Henardi yang cantik itu ternganga tak percaya. Ia benar-benar shock, lalu lunglai dan jatuh pingsan.
“Nita…. Fennita…..!!!” Henardi menyergap tubuh yang jatuh tak berdaya itu. Ia mengguncang-guncang bahu istrinya. Henardi meluruskan kaki dan memperbaiki posisi lengan Fennita. Sebuah benda kecil panjang berwarna putih tiba-tiba terjatuh di atas lantai. Benda yang tadi berada dalam genggaman Fennita. Benda yang tentunya akan ditunjukkan pada Henardi, tapi berangsur diurungkan dan kembali dimasukkan Fennita ke dalam saku karena Henardi ingin terlebih dulu menyampaikan sesuatu. Sungguh sebuah kebetulan saat mata Henardi menangkapnya. Lelaki itu kemudian segera memungut benda kecil itu. Benda yang hampir sama dengan yang tadi pagi Anneke—istri mudanya, tunjukkan padanya. Sebuah stik kecil dengan dua garis ramping berwarna merah muda.
Ya Tuhan…. Fennita hamil….
Penuh penyesalan Henardi menggenggam stik berwarna putih itu. Test pack itu telah menunjukkan bahwa Fennita hamil. Inilah yang dimaksud Fennita, “sesuatu” yang akan membuat ia amat senang. Kehamilan yang selama ini mereka rindukan. Buah cinta perkawinan mereka yang telah direnda selama lima tahun. Sayang, Henardi tergoda bujuk saudara-saudaranya agar menikh lagi secara diam-diam karena ia tak ingin menyakiti Fennita yang amat dicintainya. Anak, dambaan Henardi yang telah membuatnya membohong pada Fennita. Nikah siri. Kawin di bawah tangan, tanpa sepengetahuan Fennita. Saat Anneke—istri mudanya itu hamil dan ia mencoba mengungkapkan kebohongan besarnya selama ini pada Fennita, ternyata perempuan yang benar-benar belahan batinnya itu juga hamil. Kehamilan yang telah lama mereka tunggu-tunggu kehadirannya.
Henardi lemas tak berdaya. Tak bisa berhenti ia mengutuki dirinya sendiri.
Alabio, 6 Februari 2009.
Komentar Terbaru