Beranda > bahan bacaan > Peran Serta Masyarakat (PSM) terhadap Pendidikan

Peran Serta Masyarakat (PSM) terhadap Pendidikan


(Refleksi Pelatihan Penyegaran Tim Teknis Pendidikan Program Pilot Pendidikan – PNPM Mandiri Perdesaan Kab. Hulu Sungai Utara – Amuntai, 15 Desember – 20 Desember, 2008)

 

Author: Suhadi

 

Bukan hal yang asing, bila kita seringkali mendengar semboyan ini: Pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara pmerintah, orang tua, dan masyarakat. Tetapi pada kenyataannya, sampai saat ini, khususnya untuk Kabupaten Hulu Sungai Utara, peran serta masyarakat masih sangat kecil. Walaupun sekarang semua sekolah telah membentuk Komite Sekolah yang pada prinsipnya merupakan wakil masyarakat dalam membantu sekolah, namun belum berfungsi dan berperan sebagaimana yang diharapkan.

 

Beberapa sekolah memang telah mendapatkan dukungan dari masyarakat. Tetapi bila dilihat dari aspek kualitas, masih terkategori pada Tingkatan III dan Tingkatan IV. Lebih menyedihkan, beberapa sekolah kondisinya justru berada pada Tingkatan I saja.

 

Ada 7 tingkatan peran serta masyarakat (dirinci dari tingkat partisipasi terendah ke tinggi), yaitu:

  1. Peran serta dengan menggunakan jasa pelayanan yang tersedia. Jenis PSM ini adalah jenis yang paling umum (ironisnya dunia pendidikan kita!). Pada tingkatan ini masyarakat hanya memanfaatkan jasa sekolah untuk mendidik anak-anak mereka.
  2. Peran serta dengan memberikan kontribusi dana, bahan, dan tenaga. Pada PSM jenis ini masyarakat berpartisipasi dalam perawatan dan pembangunan fisik sekolah dengan menyumbangkan dana, barang, atau tenaga.
  3. Peran serta secara pasif. Masyarakat dalam tingkatan ini menyetujui dan menerima apa yang diputuskan pihak sekolah (komite sekolah), misalnya komite sekolah memutuskan agar orang tua membayar iuran bagi anaknya yang bersekolah dan orang tua menerima keputusan itu dengan mematuhinya.
  4. Peran serta melalui adanya konsultasi. Pada tingkatan ini, orang tua datang ke sekolah untuk berkonsultasi tentang masalah pembelajaran yang dialami anaknya.
  5. Peran serta dalam pelayanan. Orang tua/masyakarat terlibat dalam kegiatan sekolah, misalnya orang tua ikut membantu sekolah ketika ada studi tur, pramuka, kegiatan keagamaan, dsb.
  6. Peran serta sebagai pelaksana kegiatan. Misalnya sekolah meminta orang tua/masyarakat untuk memberikan penyuluhan pentingnya pendidikan, masalah jender, gizi, dsb. Dapat pula misalnya, berpartisipasi dalam mencatat anak usia sekolah di lingkungannya agar sekolah dapat menampungnya, menjadi nara sumber, guru bantu, dsb.
  7. Peran serta dalam pengambilan keputusan. Orang tua/masyarakat terlibat dalam pembahasan masalah pendidikan baik akademis maupun non akademis, dan ikut dalam proses pengambilan keputusan dalam Rencana Pengembangan Sekolah (RPS).

(Sumber: Buku Paket Pelatihan Awal untuk Sekolah dan Masyarakat, Menciptakan Masyarakat Peduli Pendidikan Anak Program Manajemen Berbasis Sekolah, 2006)

 

Merefleksi hasil kegiatan Program Pilot Pendidikan – Program Pengembangan Kecamatan (PPK) tahun 2007 lalu, rekan-rekan Tim Teknis Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Utara mengemukakan beberapa temuan mereka di 3 kecamatan: Babirik, Danau Panggang, dan Sungai Pandan, di mana akar permasalahan yang harus dipecahkan antara lain: rendahnya taraf ekonomi masyarakat perdesaan di 3 kecamatan tempat pelaksanaan program, pemahaman masyarakat akan arti penting pendidikan formal, dan kuatnya label agama sebagai pendidikan yang diposisikan sebagai sesuatu yang jauh lebih penting dibanding pendidikan formal.

 

Berbagai usulan pemecahan masalah yang mungkin dapat diterapkan pada pelaksanaan Program Pilot Pendidikan – Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-Mandiri Perdesaan) antara lain:

  1. Transparansi dan akuntabilitas RAPBS, meliputi penggunaan dana-dana yang dimiliki oleh sekolah. Transparasi dan akuntabilitas juga harus dilakukan sekolah dalam kaitan proses kerja, dan hasil kinerja kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh sekolah.
  2. Penggalangan kepedulian, di mana untuk hal ini peran kepala sekolah menjadi sangat penting untuk memfungsikan secara optimal orang/lembaga di dalam sekolah.
  3. Sekolah harus mampu unjuk kebolehan/prestasi pada kegiatan-kegiatan yang bisa menjadi interest masyarakat. Terkait dengan kultur masyarakat di 3 kecamatan yang agamis, maka sekolah harus mampu menunjukkan kepada masyarakat bahwa murid-murid sekolah formal juga mampu melaksanakan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti yang bisa dilakukan pesantren (sekolah agama). Unjuk kebolehan ini dapat memanfaatkan momen-momen penting seperti acara pembagian raport/kenaikan kelas, hari besar Islam, dsb.
  4. Merespon dengan cara yang positif apapun bentuk tanggapan atau reaksi masyarakat terhadap sekolah, baik yang bernada positif maupun bernada negatif melalui komunikasi aktif. Kemudian menjadikannya sebagai masukan bagi perbaikan sekolah dan peningkatan PSM (peran serta masyarakat).

 

Meningkatkan Peran Serta Masyarakat (PSM) memang sangat erat berkait dengan pengubahan cara pandang masyarakat terhadap pendidikan. Ini tentu saja bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Akan tetapi, bila tidak sekarang dilakukan dan dimulai, kapan rasa memiliki, kepedulian, keterlibatan, dan peran serta aktif masyarakat dengan tingkatan maksimal dapat diperoleh dunia pendidikan, khususnya pada 3 kecamatan pelaksanaan program.

About these ads
  1. Desember 19, 2008 pukul 10:30 pm

    Sepertinya di Bajayau juga menghadapi masalah yang sama. Terutama kuatnya label agama. Parahnya lagi di masyarakat berkembang dikotomi sekolah umum dan sekolah agama. Akhirnya SMP jadi pilihan terakhir orang tua dalam menyekolahkan anaknya.

  2. Desember 20, 2008 pukul 1:05 am

    Peran Serta Masyarakat memang masiy kurang optimal kita rasakan di dunia pendidikan. Keterbatasan kemampuan baik secara materi, fungsi, dan dan pola pikir akan pentingnya keterlibatan masyarakat masiy kurang disadari
    Selain itu perlunya sekolah membuka diri (baca : aktif menggiring dan mengajak masyarakat) dengan mengadakan diskusi-diskusi, ceramah pakar, dapat membentuk pola pikir masyarakat baru terhadap sekolah bahwa sekolah juga memerlukan masyarakat sebagai kunci suksesnya dunia pendidikan.
    Pendidikan adalah proses…..
    Dengan dinaikkannnya anggaran pendidikan, harapan akan sistem pendidikan yang lebih baik pasti akan semakin meningkat….semoga

  3. Desember 20, 2008 pukul 1:58 am

    hhhmmmm… sekolah kayak penitipan barang di swalayan, pokoknya buanyak peraturan yang disisipkan di pos tersebut, mulai dari; jangan taruh barang berharga sampai kehilangan barang bukan tanggungjawab petugas.

    Tapi kita harus waspada dengan dampak kenaikan anggaran pendidikan, jangan-jangan masyarakat tahunya bersih, anaknya pinter, lulus dengan nilai buaik. khan Gratis? kata pamungkas yang sering terlontar dari beberapa ortu yang belum mengenal betul apa itu pendidikan di sekolah.
    waduh…… jangan sampai terjadi

  4. Desember 20, 2008 pukul 8:46 am

    Masih banyak anggota masyarakat yang berpendapat, mendidik anak adalah tugas para guru di sekolah. Inipun terjadi pula di kota besar.
    Saya masih ingat, temanku pernah komentar, karena melihat, diantara tugas kantor yang melelahkan, saya masih mengajari anak-anakku:

    “Mbok di leskan aja, biar ga pusing mikirnya. Di leskan aja ke gurunya,” kata temanku.

    Prinsip ini yang saya tolak, kalau mau les adalah seperti kursus madrasah di sore hari, kemudian les piano, les bela diri dll. Sedang bagi saya, saat saya meluangkan waktu mengajar anak-anak, ada nilai kebersamaan, dan kenyataannya anak-anak senang…memang sih, capeknya setengah mati.

    Ini hanya orangtua yang punya anak usia sekolah…bagaimana yang tak punya anak, atau anaknya sudah besar2? Padahal pendidikan anak awalnya di rumah, kemudian di sekolah..keberhasilan pendidikan anak di sekolah juga didukung oleh pendidikan di rumah…begitu pula nantinya, anak bergaul di masyarakat.

    Hmm susah ya pak….entah bagaimana caranya…diperlukan pemimpin yang kuat, yang memberi perhatian dibidang apapun, termasuk bidang pendidikan….

  5. Desember 20, 2008 pukul 8:57 am

    satu harapan saya..Pendidikan Indonesia yang lebih maju dan bermutu

  6. Desember 20, 2008 pukul 9:54 am

    Sebenarnya seyogianya segenap lapisan masyarakat peduli akan perannya pada dunia pendidikan jikalau mereka masih mempedulikan kemajuan bangsanya. Bukan hanya PNS, tetapi juga segenap lapisan masyarakat. Bentuk peran tersebut bermacam2 seperti yang ditulis dalam artikel ini.

    Kenapa pendidikan butuh peran serta segenap lapisan masyarakat? Karena jikalau pendidikan maju, akan menghasilkan SDM berkualitas, dan SDM yang berkualitas (termasuk kualitas moral tentu saja) sangat menguntungkan bagi semua kehidupan di negeri ini, baik kehidupan berbangsa, bernegara hingga kehidupan bisnis dan ekonomi akan mendapat manfaat yang positif dari buah pendidikan yang baik ini. Dan Insya Allah, tentu hal ini akan meningkatkan kesejahteraan kita dan mengangkat derajad kita di mata dunia…..

  7. Desember 20, 2008 pukul 10:42 am

    Jelas sekali bahwa memfungsikan MBS dan Komite Sekolah merupakan upaya demokratisasi pendidikan yang menjadikan pendidikan berakar pada masyarakat yang tentunya mempunyai sustainability yang handal.

  8. Desember 20, 2008 pukul 11:49 am

    Benar pak. akur !

  9. Desember 20, 2008 pukul 1:43 pm

    Tentunya masyarakat (luas) akan peduli terhadap pendidikan kalau edukasi tentang penting pendidikan disadari betul. Sehingga pendidikan tak semata memasrahkan pada tenaga mengajar di sekolah.

  10. Desember 20, 2008 pukul 8:58 pm

    memang harus diakui, peran serta masyarakat selama ini belum bisa optimal, pak. banyak faktor yang memengaruhinya. selain belum membaiknya tingkat sosial-ekonomi, masyarakat juga belum memilikmi perhatian yang cukup baik terhadap dunia pendidikan. agaknya dibutuhkan kesadaran kolektif seluruh elomen dan komponen bangsa agar masyarakat benar2 mampy berkiprah dalam meningkatkan mutu pendidikan.

  11. Desember 21, 2008 pukul 12:15 am

    sekarang tinggal sistem di dunia pendidikan itus endiri…mampu ngak memposisikan bahwa sekolah, guru atau perangkat pendidikan lain harus menerima kritikan, saran yang membangun…sehingga kualitas pendidikan meningkat.

    saya pernah ikut rapat orang tua wali murid dengan pihak sekolah, saya coba mendebatkan program yang akan mereka luncurkan dan ternyata pihak sekolah tidak siap melakukan klarifikasi dan penjelasan terhadap program itu dan malah akhirnya saya di cap sebagai orang yang menentang…nah tuh pak…gimana tuh…

  12. Desember 21, 2008 pukul 7:21 pm

    Ass.

    Masih membingungkan (saya aja) tentang 7 tingkatan PSM di atas, apalagi bila dihubungkan dangan sistem sosial masyarakat di mana sekolah berada.

    Mungkin, perlu dicarikan ukuran tingkatan tersendiri, karena suatu daerah sangat berbeda dengan daerah lainnya, adanya penyeragaman dalam ukuran bisa menimbulkan bias yang sangat lebar dalam mengambil kesimpulan. Salah satunya, bisa melalui penelitian partisipatif yang dilakukan oleh para guru-guru yang mungkin lebih tepat dibandingkan dengan jenis pelatihan penyegaran tim teknis.

    Sebenarnya apa yang dikemukakan dari hasi temuan guru-guru tentang akar permasalahan merupakan suatu dasar dalam menentukan partisipasi masyarakat dan menentukan ukuran yang sesuai sehingga dapat menentukan pemecahannya.

    Akar permasalahan tersebut (copas di atas) antara lain: rendahnya taraf ekonomi masyarakat perdesaan di 3 kecamatan tempat pelaksanaan program, pemahaman masyarakat akan arti penting pendidikan formal, dan kuatnya label agama sebagai pendidikan yang diposisikan sebagai sesuatu yang jauh lebih penting dibanding pendidikan formal.

    Apalagi, masyarakat yang masih mementingkan pendidikan agama dari pada pendidikan formal, yang menunjukkan adanya suatu anggapan tentang pilihan prioritas bagi masyarakat setempat sebagaimana temuan di atas.

    Wass.

  13. Januari 12, 2009 pukul 7:15 am

    Sangat setuju dengan artikel pak Suhadi. Bahkan sekarang sudah muncul HOME SCHOOLING. Peran masyarakat lebih luas lagi dengan adanya Home Schooling ini. Peserta didik di Home Schooling dapat mengikuti ujian penyetaraan Paket A atau paket B atau paket C dan diakui oleh pemerintah.

    Salam edukasi
    haryonohadisp

  14. Februari 6, 2009 pukul 7:38 pm

    Perlu direnungkan kembali….
    Ketika kita memutuskan menjadi seorang guru berarti kita menyetujui untuk mendidik dan menerima anak didik yang jelas berbeda karakteristiknya untuk menjadi generasi yang berguna bagi agama,nusa dan bangsa.
    Begitu pula ketika kita memutuskan untuk menjadi orang tua berarti kita telah menyatakan diri siap untuk mendidik dan memperhatikan perkembangan anak.

  15. Aby
    Februari 27, 2009 pukul 4:42 am

    Saya setuju dengan pak sawali tuhusetya, peran serta masyarakat terhadap dunia pendidikan perlu lebih dioptimalkan dengan harapan pendidikan di Indonesia akan semakin baik.

  16. Agustus 11, 2009 pukul 2:21 pm

    tingkat kan mutu pendidikan di indonesia terutama di medan. oc
    cahyo teruzZ………, Ya cuy!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  17. liya fitriyah
    Oktober 14, 2009 pukul 9:04 pm

    ya…dalam pelaksanaan pendididikan sendiri erat kaitannya dengan peran serta masyarakat itu sendiri,dan lembaga pendidikan itu juga berada dalam lingkungan masyarakat.
    jadi perlu di perhatikan juga bahwa dalam proses pendidikan tidak sepenuhnya di ttik beratkan kepada masyarakat sekolah seperti komite sekolah,dewan sekolah,ataupun guru pengajar,akan tetepi hal ini juga menjadi perhatian penting bagi anggota keluarga,krna keluarga juga merupakan slah satu masyarakat terkecil juga.
    sebagai seorang guru juga sudah seharusnya mengetahui bagaimana ciri2/karakteristik peserta didiknya pula agar nantinya terjadi proses pendidikan yang sesungguhnya
    maju terus pendidikan indonesia..!

  18. CHANDDRA ARDA
    Desember 29, 2009 pukul 9:04 pm

    TQ TlaH BANYAK MENGKAJI Hal ini,,,,
    engan pengkajian ini masyarakat bisa membantu peran serta pendidik dalam sekolah-sekolah tertentu,,terima kasih.

  19. okky
    April 8, 2010 pukul 8:50 am

    thnks artikelnya bagus sekali.
    Akan lbh memotivasi saya untuk berbuat lbh baik dalam dunia pendidikan di Indonesia.

    ============
    @ okky
    bagus itu. Terima kasih kembali :)

  20. EMA MAESAROH
    Juni 4, 2010 pukul 12:10 am

    trim’s artikelnya jd bhn resume keilmuan kira bersama

  21. Juni 27, 2010 pukul 1:54 pm

    semoga dengan PSM, masyarakat indonesia dapt terus maju,, amin…

  22. Maret 1, 2013 pukul 11:13 am

    thankz for it Mr. Suhadiet

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: