Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Pembelajaran yang Terorganisasi dengan Baik

Motivasi Belajar—Pembelajaran yang Terorganisasi dengan Baik


Author: Suhadi

 

Alasan sederhana jika kita mencari sebab mengapa siswa tidak termotivasi belajar dalam sebuah kelas adalah: GURU TIDAK SIAP MENGAJAR.

 

Ketidaksiapan guru untuk mengajar seringkali disebabkan karena tidak adanya perencanaan yang matang oleh guru. Mereka mengajar seadanya. Pembelajaran yang digenjot oleh guru pada sebuah kelas seharusnya telah dirancang sedemikian rupa sebelumnya, agar pembelajaran berlangsung efektif dan efisien.

 

Pembelajaran yang terencana dengan baik akan terlihat dari organisasi materi ajar, organisasi waktu, organisasi siswa, dan organisasi bahan ajar saat pembelajaran itu dilaksanakan di kelas. Semua komponen tersebut akan saling menunjang untuk memotivasi belajar siswa dan akan berujung pada tercapainya keberhasilan pembelajaran.

 

Materi ajar yang kompleks harus dipecah-pecah menjadi sub-subbagian yang lebih sederhana untuk dikunyah-kunyah siswa, sehingga lebih mudah dicerna oleh pemikiran mereka. Guru dapat menggunakan ‘analisis tugas (task analysis)’ untuk ini. Selanjutnya materi ajar disusun sesuai urutan dari mudah ke sulit, dengan selalu memperhatikan pula urutan logis pengetahuan prasyarat yang diperlukan.

 

Siswa harus diorganisasikan sesuai tujuan pembelajaran yang diharapkan akan mereka capai. Perhatikan tugas apa yang cocok yang harus mereka lakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Perlu berkelompokkah? Atau hanya tugas belajar perseorangan? Perhatikan pula struktur tempat duduk yang paling efisien untuk pembelajaran yang dilaksanakan. Misalnya, bila guru ingin melibatkan partisipasi aktif seluruh siswa dalam diskusi kelas, guru dapat menempatkan mereka dalam susunan seperti huruf U, atau bentuk lainnya. Jika tujuan pembelajaran menuntut suatu tugas belajar untuk diselesaikan secara berkelompok, ada baiknya juga untuk diperhatikan bahwa setiap siswa tetap perlu diberi waktu dan kesempatan untuk membaca secara mandiri.

 

Pembelajaran yang terorganisasi dengan baik juga harus membagi-bagi alokasi waktu yang tersedia. Guru harus memperhitungkan berapa banyak waktu yang diberikan untuk tahap apersepsi, brainstorming, icebreaking, pemberian motivasi, kegiatan inti pembelajaran, penyimpulan pembelajaran oleh seluruh siswa, dan kuis singkat untuk mengecek pemahaman mereka. Setiap bagian ini dirancang dengan baik karena masing-masing mempunyai fungsi penting untuk membangun pemahaman siswa terhadap materi ajar atau tujuan pembelajaran yang ingin diraih. Dari seluruh alokasi waktu yang tersedia, siswa harus selalu terlibat (dilibatkan) secara mental dan atau fisiknya secara aktif dalam pembelajaran. Mereka selalu dalam tugas belaja, baik dalam bentuk minds on maupun dalam bentuk hands on, atau bentuk kombinasi dari keduanya. Guru harus memberikan batasan-batasan yang harus mereka penuhi dan instruksi-instruksi yang jelas, tetapi tetap mempertimbangkan kebutuhan dan potensi siswa. Tidak ada waktu untuk menganggur dalam sebuah pembelajaran yang terorganisasi dengan baik.

 

Selain itu, bahan ajar seperti bahan bacaan, lembar kerja siswa, alat dan bahan demostrasi atau praktik, handout, atau sumber pembelajaran lainnya yang diperlukan juga harus benar-benar telah disiapkan dan dipastikan akan berfungsi dengan baik saat dipakai.     

About these ads
  1. November 20, 2008 pukul 7:06 am

    saya mengalami degradasi motivasi neh pak. bisa bantu saya yang sudah bangkotan ini :D

  2. November 20, 2008 pukul 9:33 am

    pantesan dulu waktu SMA saya kurang semangat belajar pak, ternyata guru saya kurang persiapan. hehehehe

  3. November 20, 2008 pukul 9:52 am

    Wah, postingnya tentang guru terus nih. Lama ngilang, begitu datang lagi kayaknya penuh amunisi yang siap dimuntahkan nih. Hehe!

    Sejak kecil hingga dewasa rasanya saya sekolah di tempat-tempat di mana guru-gurunya selalu dikejar oleh beban kurikulum.

    Tak ada diskusi, tak argumentasi, tak ada pemaknaan lebih dalam. Semua hanya menyelesaikan paket yang harus dilahap. Guru mesti menyelesaikan, siswa juga menyelesaikan. Hasilnya: hanya deretan angka. Tak lebih!

  4. November 20, 2008 pukul 10:19 am

    Melihat sistem pendidikan kita yg masih carut marut ini, satu2nya jalan adalah orang tua murid ikut memantau hasil pendidikan yang didapat sang murid di sekolah. Ketika di rumah orang tua harus ikut mendidik anaknya terutama mengenai hal2 yang kurang mendapat tempat di sekolah, misalnya: diskusi, kreativitas, interaktivitas dan lain-lain. Sayangnya, tidak semua orang tua sadar, mau, mengerti atau mempunyai waktu untuk hal2 seperti itu.

    Jikalau orang tua dapat mengisi kekosongan para pendidik di rumah, maka saya yakin kita akan menghasilkan sumberdaya manusia yang lebih baik……

  5. November 20, 2008 pukul 10:25 am

    Pak, saya sepakat dengan Bapak.
    Kali ini saya juga sedang belajar jadi guru IPS. Menyenangkan Pak.

    Eh coba nilai ini http://cucuharis.wordpress.com/2008/11/20/bunga-cinta-yang-terbenam-fiksi-bag-2/

  6. November 20, 2008 pukul 11:01 am

    setuju. walaupun biasanya materi-materi itu terkesan ‘kejar tayang’, namun seharusnya memang harus sudah dipersiapkan sebaik-baiknya. kalo misal kita tidak siap mengajar waktu itu, (misal:dosen) kita gunakan jam pengganti saja agar kita bisa mempersiapkan segala materinya lebih baik lagi & agar siswa juga menerima materi dengan sebaik-baiknya.

  7. November 20, 2008 pukul 2:58 pm

    setuju pak suhadi. guru memang harus merencanakan setiap saat bila mau mengajar. hal yang selama ini berlaku, bahwa guru masuk kelas ibaratnya kopian (karena mengajarkan materi yang sama, berulang setiap tahun) harus dihindari. perlunya penyesuaian dengan situasi dan kondisi serta menyerap hal-hal yang baru perlu dilakukan.

    namun yang tak kalah pentingnya pula adalah kesiapan sekolah. gurunya sudah semangat dan penuh persiapan tapi tak didukung sekolah sama saja dengan bohong. sinergi di sini sangat dibutuhkan.

  8. ricnes
    November 20, 2008 pukul 4:48 pm

    klo saja smua guru spt ab….
    tipikal seorang pendidik….
    yg sangat dbutuhkan oleh negara ini neh….
    ayo bang semangat….
    jgn biarkan siswa2 ditangan pengajar…..

  9. November 20, 2008 pukul 8:20 pm

    senangnya ada teman bloger yang rajin menulis tentang dinamika kelas. efektivitas belajar di ruang kelas memang sangat tergantung kepada lingkungan belajar, mencakup tak hanya lingkungan fisik (kondisi fisik kelas, fasilitas dan bahan-bahan pelajaran), juga lingkungan psikis (dukungan staf pengajar).

    tentunya bukan tugas mudah, terlebih tiap pelajaran sudah memiliki alokasi waktu yang terbatas, jadi harus benar-benar dipertimbangkan agar tak ada waktu yang sia-sia.

    siip, suhu!

  10. November 20, 2008 pukul 8:54 pm

    Pak, saya adalah mahasiswa calon guru yang ingin menyusun skripsi, saya minta tlong dicariin ttg inovasi pembelajaran dan model-model pembelajaran yang berbasis PAKEM ( aktif, kreatif dan menyenangkan )

  11. November 21, 2008 pukul 12:58 am

    Tidak siap ngajar karena apa ya?

    ketika alasan sederhana dijadikan tampeng untuk lari dari tanggungjawab, audience (siswa) bisa serta merta “menggempur” pertahanan guru, guru bisa di cap sebagai……
    alhasil, citra guru dimata anak didik tak bernilai.

    Renstra dan SWOT, apakah masih berlaku disini?

  12. November 21, 2008 pukul 7:37 am

    Sepertinya selepas studi, saya melihat banyak sekali kemajuan di dunia pendidikan kita ya…

    Setidaknya dulu guru-guru saya ndak ada yang ngeblog dan mikir kayak gini kali ya.:)

  13. November 21, 2008 pukul 8:14 am

    Buat saya intinya adalah preparation before teaching. Penting untuk mengeset tujuan pembelajaran dan expected outcomes sehingga pengajaran kita terarah dan mampu mengakomdir siswa dengan learning style yang berbeda. Variasi media dan materi juga penting agak PBM berlangsung efektif dan efisien sesuai dengan students’ needs dan ability juga.

  14. November 21, 2008 pukul 12:48 pm

    jadi keinget satu Guru sayah sering dateng ke kelas trus nyuruh nyatet sampe jam abis…

  15. heryazwan
    November 21, 2008 pukul 4:33 pm

    Dalam sebuah seminar yang saya ikuti, katanya di negara tersebut, sejak umur 6 tahun (TK) sudah digunakan whiteboard yang bisa interaktif dengan komputer sehingga pembelajaran semakin menarik. Di sini kapan ya bisa seperti ini? 10 tahun lagi?

  16. November 23, 2008 pukul 2:48 am

    sudah bukan jamannya lagi sistem pembelajaran pake sistem feodal jaman dulu. perlu reformasi total dalam sistem sekolah. jangan jadikan anak didik sebagai celengan yang dicekokin mulu. bosen gw kalo dengerin ceramah mulu. sebagian besar yang gw dapetin waktu sekolah ternyata banyak yang tidak terpakai. thanx.

  17. tita ariyanti
    Mei 6, 2009 pukul 6:40 pm

    motivasi belajar pada anak tk ditentukan oleh gaya mengajar guru,bagaimana guru itu dapat mengarahkan minat belajar anak sesuai dengan potensi yang dimilikinya ,terapi paedagogis terhadap anak harus sering dilakukan untuk menemukan kesulitan-kesulitan yang dialami selama siswa itu belajar,tidak lupa para ortupun harus diberi pekerjaan rumah bukan pr untuk anak loh,sebagai tindaklanjut proses terapi paedagogis ehingga secara tidak langsung akan memberikan pola didik di masing-masing keluarga sehingga menumbuhkan motivasi belajar putra-putrinya

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: