Beranda > bahan bacaan > Kegiatan Membaca Menjadi Budaya Guru dan Siswa Kita. Mungkinkah?

Kegiatan Membaca Menjadi Budaya Guru dan Siswa Kita. Mungkinkah?


Author: Suhadi

 

Membaca adalah suatu proses untuk mendapatkan informasi atau pengetahuan dengan menggunakan indera mata dari sesuatu yang ditulis. Bahan bacaan atau sesuatu yang ditulis tadi dapat berupa bahan bercetak di atas kertas seperti buku, novel, majalah, koran, atau dapat juga melalui media layar komputer seperti internet, dsb. Kegiatan membaca sangat bermanfaat jika dilakukan, apalagi bila membudaya. Banyak hal bisa diperoleh dari membaca. Melalui membaca, siswa bisa menggali bakat dan potensi mereka, memacu peningkatan daya nalar, melatih konsentrasi, peningkatan prestasi sekolah, dll. Mengingat begitu banyak hal yang bisa siswa peroleh dari kegiatan membaca, adalah sangat penting bagi semua pihak untuk mendorong terciptanya suatu budaya membaca pada diri siswa.

 

Kita semua telah mahfum bahwa guru adalah komponen sekolah yang hampir setiap saat paling erat bertalian dengan siswa. Guru sebenarnya merupakan salah faktor penting yang dapat mempengaruhi budaya membaca pada siswa. Suka atau tidak, siswa akan menjadikan guru sebagai teladan dan sebagai profil yang menjadi acuan tindakan mereka. Sampai saat ini kegiatan membaca bagi guru sendiri, masih merupakan kegiatan yang belum menjadi budaya. Tanyalah guru di sekeliling kita, berapa banyak buku (selain buku pelajaran yang dia punya), yang telah dibacanya dalam tiga atau enam bulan yang lalu? Tiga buku? Dua buku? Satu Buku? Saya yakin, banyak guru yang sudah lama tidak membaca buku, selain buku pelajaran. Memang, ada banyak hambatan bagi guru atau siswa sehingga membaca susah untuk membudaya. Belum bisa merasakan kenikmatan dan manfaat membaca, pesatnya kemajuan teknologi informasi dan komunikasi yang begitu menarik minat semua kalangan, serta daya beli buku yang kurang adalah hal-hal yang dapat menghambat tumbuhnya budaya membaca.

 

Membaca, pada masa-masa sekarang ini harus diakui memang kalah saing dengan kegiatan guru dan siswa dalam menonton televisi. Banyak kalangan mencemaskan perilaku siswa kita yang terlalu getol menonton televisi sehingga melupakan belajar (membaca buku). Kenyataan bahwa menonton televisi adalah sebagai salah satu faktor yang sangat menurunkan aktivitas membaca memang harus disikapi dengan bijak. Kita tidak harus membendung budaya menonton televisi, karena lewat tontonan televisi sangat banyak informasi yang bisa guru dan siswa peroleh. Informasi yang diberikan media televisi lebih cepat terserap dan selalu aktual. Barangkali, yang lebih tepatnya adalah mengurangi tontonan yang kurang bermanfaat bagi perkembangan intelektul dan hanya berfungsi sebagai hiburan semata, kemudian menggantikannya dengan kegiatan membaca.

 

Barangkali banyak kalangan beranggapan bahwa tanggungjawab menjadikan siswa mencintai buku dan mempunyai minat terhadapnya adalah tanggungjawab orang tua. Akan tetapi, tanggungjawab ini juga mau tidak mau akan bergeser ke tanggungjawab sekolah sebagai lembaga yang diserahi amanah untuk memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada anak-anak atau siswa tersebut. Pemberian bekal ilmu di sini tentulah tidak seperti pandangan tradisional, di mana siswa dijejali dengan informasi oleh guru. Pemberian bekal ilmu, dewasa ini lebih merujuk pada pemberian kesempatan kepada siswa agar dirinya terstimulasi untuk menyerap informasi dan pengetahuan sebanyak-banyak dari berbagai sumber. Pastinya, sumber informasi dan pengetahuan itu utamanya adalah berupa bahan bacaan berupa buku.

 

Menjadikan membaca sebagai sebuah budaya bagi guru dan siswa kita sampai hari ini bukanlah hal yang mudah. Sebenarnya, bila guru dan siswa mau membiasakan diri untuk membaca, maka lamban laun akan tertanam dalam diri mereka suatu keadaan dan perasaan  selalu ingin tahu yang dapat menumbuhkan minat untuk selalu membaca. Mereka akan dapat merasakan kenikmatan membaca, hingga akhirnya kecanduan.

 

Berbagai upaya lain mungkin dapat dilakukan oleh pihak-pihak yang berkepentingan seperti orang tua, sekolah, dinas pendidikan, atau pihak-pihak lain yang perduli dengan peningkatan budaya baca di sekolah, seperti berikut ini. Pertama, menumbuhkan minat baca sejak dini. Untuk menumbuhkan minat baca sejak dini seharusnya telah dilakukan oleh orang tua di rumah pada masa usia prasekolah, dan kemudian berlanjut di taman kanak-kanak dan sekolah dasar. Dengan mengenalkan buku sejak dini, siswa telah dilatih untuk mengenal hingga akhirnya dapat mencintai buku. Kedua, menyadarkan siswa dengan kampanye yang menarik bahwa bahan bacaan adalah sumber pengetahuan, informasi, dan hiburan yang punya karakter unik dan dapat dinikmati dengan cara yang berbeda dengan tontonan televisi. Ketiga, menyediakan suasana yang mendorong terbentuknya budaya membaca di sekolah. Hal ini misalnya dilakukan dengan membangun atau membenahi perpustakaan-perpustakaan sekolah yang telah ada. Perpustakaan-perpustakaan sekolah kita sampai saat ini pada umumnya lebih mirip gudang yang berisi lemari-lemari atau rak-rak yang dipenuhi dengan buku-buku berdebu. Tanpa pustakawan yang profesional yang memahami seluk-beluk perbukuan dan tata pengaturan perpustakaan yang baik. Banyak hal yang menyebabkan matinya perpustakaan-perpustakaan sekolah yang seharusnya merupakan salah satu sumber pengetahuan, misalnya kurang menariknya buku-buku yang tersedia serta tidak terperbaharui. Perpustakaan sekolah kita lebih banyak berisi buku-buku lama yang kebanyakan sudah tidak sesuai dengan selera zaman. Keempat, menggerakkan penulisan buku-buku oleh penulis daerah sendiri. Penulisan buku-buku oleh penulis dari daerah sendiri di sini maksudnya adalah, sekolah, dinas pendidikan, pemerintah daerah  atau bahkan sponsor yang perduli dapat memfasilitasi atau bahkan mengakomodasi penulisan dan penerbitan buku yang ditulis oleh siswa atau guru yang memiliki interest dan kemampuan dalam bidang tulis-menulis. Sudah menjadi rahasia umum, budaya menulis sangat berhubungan erat dengan budaya membaca. Kita bisa pula berlogika, bila di perpustakaan sekolah terpajang buku karya orang-orang yang dikenal baik, seperti guru mereka, kakak kelas, atau bahkan adik kelas mereka, siswa sekolah tetangga, dsb. pasti mereka akan tergerak hati untuk membacanya. Bahkan, bukan tidak mungkin, mereka akan melangkah ke budaya menulis. Budaya menulis, yang merupakan budaya tingkat lanjut setelah terbentuk budaya membaca. InsyaAllah.

About these ads
Kategori:bahan bacaan Tag:,
  1. November 16, 2008 pukul 9:52 pm

    saiya optimis. pasti bisa

  2. November 16, 2008 pukul 10:20 pm

    tulisan yang mencerahkan setelah sekian lama membiarkan kami merindukan tulisan sahabat ini.
    guru sebagai role model hendaknya mampu menularkan minat baca kepada anak didik melalui kebiasaan membaca dan menulis. setuju, suhu.
    sudah banyak kampanye gamar membaca di sekolah, yang kendalanya menurut penilaian saya, terlepas dari segi minimnya fasilitas, adalah akibat kurangnya panutan yang mampu memotivasi.
    mudah-mudahan kita mampu menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita, termasuk para anak didik.

  3. November 16, 2008 pukul 11:05 pm

    mengkampanyekan membaca juga tugas blogger kan pak?? ;)

  4. November 17, 2008 pukul 3:43 am

    Semua itu tidak bisa dibangun hanya dengan himbauan lewat kata-kata. Kegiatan membaca menjadi budaya guru dan siswa kita, mungkin saja. Tapi kuncinya tetap: melakukannya dengan perbuatan.

    Oke, di paragraf kedua sudah terawi seperti apa kondisinya. Namun justru di situlah kendala yang harus dikibaskan. Membaca tidak mesti membeli toh? Ada perpustakaan yang bisa dimanfaatkan. Soalnya adalah: membaca masih belum menjadi suatu kebutuhan yang mau tidak mau harus dilakukan setiap hari.

    Tidak ada contoh kongkrit yang dapat dilihat anak-anak agar menjadi kebiasaan. Kan kita tidak bisa membangunnya dengan kata-kata semata. Bagaimana mungkin anak-anak bisa suka membaca, kalau ibunya tak suka membaca. Kalau ayahnya tak pernah pegang buku. Kalau guru-gurunya merasa membaca tak perlu dicontohkan.

    Jadi, kegiatan membaca menjadi budaya guru dan siswa kita, mungkinkah? Kukatakan: tidak mungkin. Tidak mungkin kalau tidak ada contoh kongkrit.

  5. November 17, 2008 pukul 9:44 am

    Penyakit struktural, obatnya membongkar basis kultur masyarakat dari budaya lisan ke budaya tulis. Solusi harus dijalankan, salah satunya seperti yg diusulkan Pak Hadi. Lainnya? Buanyaaak banget! Mungkin modelnya top-down dulu, mengingat pola paternalistik. Salam kenal Pak Hadi dari Malang… :D

  6. November 17, 2008 pukul 11:51 am

    membaca dan menulis, yap, dua aktivitas yang saling berkaitan. yang satu keterampilan reseptif, satunya lagi keterampilan produktif. kedua aktivitas ini agaknya akan menjadi sebuah budaya jika didukung oleh situasi yang kondusif, di sekolah, guru memberikan teladan. jika perlu, ketika masuk kelas, guru perlu banyak membawa buku referensi, sebagai langkah sugestif utk siswa agar mereka meniru langkah gurunya. di lingkungan keluarga dan masyarakat, orang tua juga perlu membangun budaya membaca yang baik, sedangkan pihak pemerintah perlu menyediakan buku2 bermutu dg harga yang murah. semoga dengan cara semacam ini, budaya literasi di negeri ini bisa berkembang dengan baik, pak suhadi.

  7. November 17, 2008 pukul 7:22 pm

    Insyah Allah mas pasti bisa kalau lapisan masyarakat itu berfikir sama dengan mas. mari menkampanyekan gerakan Indonesia Suka Membaca :D

  8. November 17, 2008 pukul 8:33 pm

    Guruku, alangkah indah ketika buku ada di genggaman dan terbaca di cermin mata.

  9. November 18, 2008 pukul 8:15 pm

    Saya masih ingat masa kecil saya, ayah ibu seorang guru, hidup pas2an…tapi kami semua suka membaca, walau hanya pinjam dari perpustakaan.

    Mungkin yang penting adalah menumbuhkan minta membaca…rasanya saya dulu tak diajari membaca…namun entah kenapa karena ayah suka mengerjakan tugas di rumah, ibu juga, jadi anak-anak terpengaruh. Keluhan temanku yang anaknya tak suka membaca, karena ibunya dirumah suka nonton TV…lha ya anaknya ikutan.

  10. November 18, 2008 pukul 10:09 pm

    masyarakat kita masih baru sampai ‘menonton’ makanya sinetron jadi laku ketimbang membaca koran…hehehehe

  11. AL
    November 19, 2008 pukul 4:50 pm

    Yup pak, guru itu role model siswanya. Apalagi saya sebagai guru SD itu merasakan sekali betapa anak-anak itu ngefans sama guru, huahhhh!!! Apapun yang saya bilang keren, mereka ikut bilang keren.

    Meningkatkan minat baca, memang mau gak mau gurunya harus rajin baca dulu. Dan tidak males atau malu memperlihatkan, menceritakan dan bahkan mengapresiasi suatu buku yang baru saja dibaca olehnya kepada anak-anak. Saya malah punya pengalaman yang agak ‘lucu’, kebetulan saya suka membaca. Jadi setiap hari saya pasti membawa buku yang akan saya baca jika ada kesempatan misalnya saat jam kosong atau saat anak-anak pulang sekolah. Nah, kadang buku tersebut tertinggal (eh gak sih, sengaja tertinggal heheh..) diatas meja saya di kelas. Besok paginya anak-anak akan langsung melihat-lihat dan bertanya-tanya buku tersebut bagus gak. Tau-tau, salah satu atau beberapa anak jadi punya dan ikut membacanya. Misalnya, saya meninggalkan Laskar Pelangi, tau-tau ada anak saya yang sibuk baca buku yang sama, miliknya sendiri saat istirahat.

    Pada suatu hari, saya ditelpon ortu murid. Mereka sedang ada di Gramedia, dan si anak melihat sebuah buku yang sempat dilihatnya saya sedang asik membaca buku yang sama di kantor. Orangtuanya beranggapan buku tersebut terlalu berat untuk anak-anak dan meminta saya memberi tahu hal itu kepada si anak. Biografinya Soe Hok Gie!! Besok harinya saya mengadakan classmeeting bahwa terkadang ada buku yang memang belum saatnya dibaca anak-anak tapi orang dewasa sudah boleh. Karena itu mereka mendingan nurut kalau orangtua bilang bahwa buku tersebut belum saatnya. Lalu anak-anak saya cerita bahwa mereka pernah minta beliin beberapa buku yang juga pernah saya baca (keliatan saya lagi baca buku itu aja sekilas) tapi gak boleh saat minta dibeliin. Buku apa saja? Anak-anak saya bercerita, Dunia Sophie, Perjalananku Keliling Dunia (Nawal el Saadawi), Pram yang Gadis Pantai. Weleh-weleh…

    Saya juga gak setuju dengan peraturan ‘tidak boleh membawa buku cerita ke sekolah’, menurut saya asal ada kesepakatan antara guru dan murid bahwa:
    1. Tidak dibaca saat pelajaran sedang berlangsung
    2. Buku apapun yang dibawa harus diperlihatkan dulu (AKA diperiksa) oleh guru.
    ya gak masalah. Memang pertama-tama anak-anak akan membawa komik-komik yang gak jelas, tapi itulah tugas guru untuk meningkatkan selera baca anak. Kita gak akan bisa meningkatkan selera baca anak hanya dengan slogan-slogan dan nasihat tanpa mau mengajarkan anak untuk mengapresiasi bacaan yang baik. Kita dulu mengapresiasi, tunjukan dan tularkan itu kepada anak-anak kita.

  12. November 21, 2008 pukul 7:59 am

    Saya percaya budaya ini bisa membumi di Indonesia, kuncinya adalah kerjasama dan komitmen semua pihak dalam pelaksanaannya. Guru harus bisa menjadi contoh, begitu juga orang tua dan sekitar. Perpustakaan masih jadi tempat ‘bersejarah’ buat anak2, karena identik dengan lembab, suram, debu dan penjaga perpustakaan yang cerewet dan tidak ramah. Buku dan membaca adalah jendela dunia yang membuka mata kita hingga melihat sampai ujung dunia :D

  13. November 21, 2008 pukul 9:48 pm

    Membaca bagi seorang guru merupakan suatu keharusan, bagaimana tidak, apabila guru tidak pernah meng up date pengetahuannya bagaimana ia bisa memberi pengetahuan kepada peserta didik, sedangkan pengetahuan itu selalu berkembang. sangat ironis memang apabila guru sampai ketinggalan informasi terkini. oleh karena itu agar guru tidak bersikap jadul, maka mulai sekarang semua guru wajib membaca berbagai informasi, dan kebiasaan membaca itu harus ditularkan kepada peserta didik yang dididiknya. Dengan demikian bangsa Kita akan menjadi bangsa yang gemar membaca, apabila bangsa kita gemar membaca sudah barang tentu Indonesia akan menjadi bangsa terdepan dalam segala bidang. jadi MARI KITA GEMAR MEMBACA mulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekitar.

  14. Januari 12, 2009 pukul 11:36 am

    saya setuju, kalau mau mintarin orang kamu harus pintar dulu. makanya banyak2 baca

  15. Februari 13, 2009 pukul 7:59 pm

    meNuRuT PeNdApAt SayA apAkAh SEmUA aNaK dI InDoNeSia mEmEnTiNgKaN KeGiAtAn mEmBaCa hAnyA FikTIf beLaka Saja KaReNa aNaK YaNG hAnyA mEmILIKI wAwASaN lUaS saJA yANg BiSA mEmaHaMi tEntAng pENtInGnYa daN BaNyAKny mANfAaT DaRi keGIAtAN memBaCA………… sekian……

  16. Mei 8, 2009 pukul 9:41 pm

    Berkunjung dan baca infonya, mudah-mudahan bermanfaat bagi banyak orang, sukses ya.
    I Like Relationship.

  17. Januari 21, 2010 pukul 3:00 am

    Begitu indah dan kaya Indonesia ini, mari bersama kita lestarikan budaya kita,, salam kenal dari Pernikahan Adat Di Indonesia

  18. Juni 9, 2012 pukul 2:22 pm

    JJika di Indonesia ada sebuah program seperti di Australia “PRC” Primary Reading Challenge, apakah mungkin program tersebut membantu dalam membudayakan membaca kepada anak-anak?

  19. Oktober 28, 2012 pukul 11:46 am

    makasi sudah membantu tugas saya :)

  20. Agustus 3, 2013 pukul 10:29 am

    Pastinya mungkin, yg penting dimulai dari diri sendiri, ditularkan ke keluarga, pasangan, teman dan kepada semua orang. Untuk guru, yeah tularkan kepada murid kita budaya membaca…

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 43 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: