Klimaks Cinta Rani
Cerpen ini sangat erat berkaitan dengan cerpen : “Kita Putus Saja, Bur!” yang sudah saya terbitkan beberapa waktu lalu di blog ini.
Author: Suhadi
“Papa dan Mama sudah saling membicarakan ini Sayang. Kami setuju saja. Kamu sudah sangat dewasa. Kalau kamu memang benar-benar yakin dan benar-benar mencintainya, kita selalu mendukung. Karaktermu benar-benar seperti Papa saat ingin menikahi Mama kamu dulu. Papa salut denganmu” Suara di seberang terdengar seperti terkekeh. Rani jadi tersenyum membayangkan air muka Papanya yang terkenang masa mudanya dulu.
“Terimakasih Papa, atas dukungannya. I love you, Pa.”
“Papa dan Mama juga cinta kamu Sayang.”
Dan koneksi handphone di seberang sana diputuskan.
***
Rani tersenyum lega, tak disangka Papa dan Mama menyetujui keputusannya.
Ditaruhnya handphone di atas meja. Perlahan diambil Rani tiga buah album foto berukuran besar yang tersimpan di rak paling atas lemari buku. Album-album foto dengan seseorang yang sedemikian dekat dengannya selama lebih dari tujuh tahun ini. Selama lebih sebulan bertugas di SMP Danau Panggang, tempat terpencil yang jauh dari kota kabupaten Amuntai yang berada di tengah rawa-rawa mahaluas itu, entah sudah berapa kali album-album foto itu menemani malamnya.
Sembari rebahan di atas dipan, Rani membolak-balik album-album foto itu. Tak banyak wajah pada tiap lembar foto-foto tersebut. Hampir setiap lembar hanya berisi dua wajah, yaitu Rani dan Gusti. Pikiran Rani dengan serta merta menerawang kembali ke setiap momen yang terekam dalam foto-foto itu. Lama sekali Rani terpaku pada lembar-lembar foto di album yang dibukanya dengan perlahan dan penuh perasaan.
Salah satunya adalah foto yang memotret momen saat Rani dan Gusti berada di Tawang Mangu. Latar pepohonan pinus yang menghijau segar tertangkap jelas di lembaran yang agak menguning karena telah berumur tujuh tahun itu. Itulah foto yang menangkap momen penting dalam perjalanan cinta dua orang anak manusia. Perjalanan cinta yang akhirnya sudah dapat diputuskan Rani bagaimana ketentuan ujungnya malam ini. Foto itu dengan amat bagusnya mengabadikan wajah-wajah berbinar karena luapan cinta yang penuh meluah di dalam dada mereka.
Foto-foto yang indah. Rani memandanginya dengan penuh takjub. Selalu demikian yang dirasakan di hatinya bila memandang mereka. Rani membuka plastik magnetik yang membungkus salah satu foto. Ia ingin melihat detail wajah itu dengan lebih jelas. Pada foto itu Rani dan Gusti sedang duduk minum teh botol di sebuah warung di sekitar areal air terjun Grojogan Sewu. Inilah momen yng terekam tujuh tahun yang lalu, sesaat setelah keduanya kelelahan berjalan melintasi track yang naik turun di areal wisata sejuk itu. Momen sesaat setelah Gusti menyatakan bahwa hanya Rani-lah yang diinginkannya untuk menjadi pasangan hidupnya dalam berumahtangga. Dan Rani menerima cinta Gusti.
***
“Rani, untung sekali kita bisa dipertemukan di sini. Sungguh ini tak pernah terbayangkan olehku sebelumnya. Kita yang masih ada hubungan keluarga, di Banjarmasin justru tak pernah bertemu. Kita dipertemukan di sini. Ini barangkali yang disebut jodoh, Sayang.” Pemuda berkulit bersih dan berwajah seganteng model-model iklan baju di majalah remaja itu meraih jemari Rani. Tangannya yang hangat mesra membuat aliran darah Rani berdesir-desir. Rani menghentikan langkahnya di undakan tangga di tengah-tengah track yang menanjak itu. Gusti juga berhenti, sedari tadi ia selalu mengikuti irama langkah kaki Rani. Rani memandang wajah pemuda gagah itu. Buitr-butir keringat di sudut-sudut dahi dan pelipisnya berkilau terkena sinar matahari pagi yang menelisik lewat kelebatan bunga-bunga Bougainvilla spectabillis berwarna oranye. Tampan sekali Gusti. Pastilah banyak gadis-gadis yang berlomba-lomba memikat hati anak pengusaha kaya di Banua itu, pikir Rani.
“Ha…ha…, jodoh?” Rani tergelak setelah telinganya benar-benar tergelitik oleh kata jodoh itu. Dan, Gusti kini telah pula mulai memanggilnya dengan kata SAYANG.
“Iya, jodoh. Kamu percaya dengan cinta pada pandangan pertama, Rani?” Gusti meremas jemari Rani dalam udara berkabut itu. Sungguh scene yang sangat romantis.
“Aku percaya. Sangat percaya, Gusti.” Rani menatap mata pemuda itu, tapi dengan segera tertunduk karena tak tahan pada selaksa panah Cupid yang menghunjam ke jantungnya. Selaksa panah yang melesat dengan kencangnya dari sorot mata elang itu.
Gusti kemudian meraih rampingnya pinggang Rani dengan kedua belah tangannya. Rani menyandarkan tubuhnya di dada Gusti. Rani bisa mendengar detak jantung sepupu jauhnya itu. Putra sulung rekanan bisnis Papanya itu.
“Aku masih ingat betul bagaimana pertama kali aku mengenalmu tiga bulan yang lalu Sayang.” Kata Gusti syahdu.
“Ya, aku juga masih ingat bagaimana kau menabrak motorku dengan mobil bagusmu itu. Harusnya aku kesal, Gusti. Ha..ha..ha…” Rani tergelak lagi.
“Ya, harusnya kau kesal, lalu marah-marah dan memaki aku. Telah kubuat sikumu berdarah-darah. Dan kue yang kau bawa itu…Ha..ha… Tapi nyatanya tidak. Ha..ha…”
“Heh, kau buat aku menjatuhkan kue itu, wadai amparan tatak yang kubuat khusus untuk acara buka puasa bareng mahasiswa Banua. Kau tahu bagaimana repotnya aku seharian membuat kue itu?” Rani mencubit manja lengan Gusti yang merangkulnya itu.
“Auuu! A…au…! Aku menabrak motormu waktu kau membawa wadai amparan tatak untuk buka puasa bersama itu. Motormu penyok, sikumu berdarah karena kau jatuh dari motor bersama ratusan potong wadai amparan tatak yang terserak di depan pagar halaman asrama. Ha..ha..”
Rani dan Gusti tertawa terbahak-bahak. Rani sampai mengeluarkan air mata karenanya. Beberapa pengunjung yang melintasi keduanya di track menanjak itu kelihatan agak risih dengan kemesraan yang mereka tunjukkan, tapi maklum. Mereka seperti bergegas melewati kedua sejoli yang sedang terbuai-buai bisikan Cupid itu. Menyadari reaksi orang-orang yang melintasi mereka, Rani dan Gusti kemudian saling tersenyum lalu beranjak dan meneruskan berjalan.
Seumur hidup Rani, tak pernah melihat pemandangan seindah hari itu. Rerumputan di sekitar undakan tangga track itu begitu hijau berseri. Bunga-bunga Bougainvilla spectabilis merah merona di antara variannya yang berwarna merah muda, putih, kuning, dan oranye. Deretan tandan-tandan bunga ungu anggrek Arachis flos-aeris di sisi kanan sebuah gazebo, yang sebenarnya biasa-biasa saja, tampak begitu berpendar. Dan, kuntum-kuntum Alamanda cathartica yang kuning cerah itu begitu indah berangkai pada daun-daunnya yang berkarang empat-empat dengan cabang-cabang menjuntai-mendeclinatus. Jauh lebih indah dari kenyataan sebenarnya. Semua yang terpandang di mata Rani membentuk harmoni. Areal wisata Tawang Mangu ini begitu indah. Jauh lebih indah dari empat bulan lalu saat Rani bersama Papa dan Mama mengisi liburan di tempat ini.
Tiba di sebuah bangku panjang yang dinaungi paku-paku pohon berukuran besar, Gusti membimbing lengan Rani untuk mengajaknya duduk. Dan, si tampan itu segera mengungkapkan rangkaian kalimat indah yang telah ditunggu Rani sejak mereka berkeliling di areal wisata ini tadi. Dengan membiarkan Rani duduk di bangku panjang itu, Gusti turun berlutut di atas tanah. Gayanya seperti Romeo merayu Juliet. Tangan kanannya mengambil sesuatu di balik sweater rajut biru tua itu. Oh…amboi, sekuntum mawar merah disorongkan ke hadapan Rani.
“Karena tadi telah kau katakan bahwa kau percaya dengan cinta pada pandangan pertama, maka izinkanlah aku mengaku. Rani Sayang, aku telah jatuh cinta padamu sejak pertama kali terpandang. Saat potongan-potongan wadai amparan tatak itu terlempar ke udara, dan jatuh terserak di halaman asrama mahasiswa. Saat itulah aku jatuh cinta padamu. Kujatuh cinta padamu Rani Sayang. Demi segenap perasaan hatiku yang kusertakan pada helai-helai lembut mahkota mawar merah ini, maukah kau menerima cintaku duhai Maharani Indah Setyati?”
Oh my God! Rani terpekik di dalam hati. Dadanya berdebur-debur kencang ditampar-tampar ombak kebahagiaan. Mukanya terasa panas. Malu. Tapi inilah yang dari tadi ditunggu-tunggu.
“Serius?”
“Ya, iya dong, Rani Sayang.”
“So sweet, Gusti. Tapi izinkanlah aku juga membuat sebuah pengakuan kepadamu. Aku ingin mengaku, bahwa aku juga mengalami hal yang sama. Aku telah jatuh cinta padamu pada pandangan pertama. Jatuh cinta saat wadai amparan tatak itu terlempar ke udara, dan jatuh terserak di halaman asrama mahasiswa. I love you too, Gusti.”
***
Rani tersenyum-senyum sendiri. Gusti memang romantis.
Tak terasa tujuh tahun kini sudah berlalu sejak Gusti menjadi kekasihnya. Pertemanan kedua orang tua mereka juga semakin mempererat ikatan cinta mereka.
Rani terus membolak-balik foto-foto di ketiga album itu. Momen-momen indah itu, begitu mudah terrefleksi lewat mimik-mimik mereka berdua. Begitu banyak foto yang menyeruakkan momen indah. Sesekali Rani terhenti, ada foto-foto saat makan sate kelinci di Kaliurang. Ada foto-foto saat akan naik andong dan makan goreng pisang sembari lesehan di Malioboro. Ada foto-foto saat mereka berdua sedang numpak becak di dalam benteng Keraton. Pada saat-saat lain, Rani terhenti dan senyum-senyum setelah memandangi koleksi foto yang lain, ingat bagaimana mereka menawar salak pondoh dan kain batik di Pasar Klewer. Dan tentu saja Rani tertawa sendiri saat terbuka foto-foto saat di Prambanan ketika teringat bagaimana Gusti dengan Bahasa Inggris yang terpatah-patah mencoba mengajak sejoli lanjut usia dari Belanda yang Bahasa Inggrisnya juga terpatah-patah untuk foto bersama.
“Kenangan yang indah Gusti. Bahkan hingga detik-detik ini.” Gumam Rani sendiri dengan perlahan sembari membuka plastik-plastik magnetik yang melapisi lembar-lembar foto itu. Rani mengambil foto-foto itu yang melepaskan seluruhnya dari ketiga album foto yang ada. Ia kembali menggumam. “Tapi hidupku takkan cukup dengan hanya sebagai pacarmu. Tujuh tahun penantian dan pengharapan. Sungguh itu bukan waktu yang singkat. Kamu tak pandai membuat klimaks kisah cinta ini, Gusti. Aku ingin hidup sebagimana orang-orang lain. Menikah dan punya anak.”
Rani bangkit dan mengambil sebuah gunting di sela-sela rak buku. Diguntingnya seluruh foto-foto itu tanpa meneteskan sedikitpun air mata. Akhirnya semua foto itu menjadi potongan-potongan kecil yang tak berarti. Rani menggumam lagi, “Kau adalah masa laluku Gusti. Kau akan terkejut bulan depan saat kukirim undangan perkawinanku padamu. Aku tak bisa menunggu seorang workaholic sepertimu. Seseorang yang tak pernah berhenti dengan ambisi-ambisi pencapaian prestasi kerja. Komitmen-komitmen kerja yang kau buat untuk membelenggu dirimu sendiri dengan pekerjaan. Ternyata baru kusadari bahwa indahnya cinta yang kau berikan selama ini hanyalah sebuah penyiksaan panjang bertahun-tahun. Maafkan aku, Gusti. Dan dengan tegar akan kukenalkan suamiku nanti kepadamu, seorang yang sama gagahnya denganmu. Seorang yang walaupun tak berpendidikan setinggi kamu, tapi tahu bagaimana cara mencintai seorang wanita. Tahu bagaimana membuat sebuah klimaks roman percintaan. Gusti, ini bukan perkara dendam atau pelarian cinta. Seperti mula cinta kita bersemi karena pandangan pertama. Cinta kami mulanya bersemi juga karena pandangan pertama, dan pada suatu momen yang tak kalah romantisnya.”
Rani meraup potongan-potongan guntingan kertas foto itu, kemudian menjejalkannya ke sebuah tempat sampah di bawah meja tulisnya. Lalu Rani segera mencoba menyusun kata-kata. Ia ingin memberikan surprise buat pemilik hatinya, Burhan. Ah, pemuda penggembala kerbau rawa yang telah memberikan klimaks pada romantika percintaan Rani. Pemuda yang telah melamarnya itu harus mendapat kejutan yang pantas, saat Rani menyatakan telah menerima lamarannya.
Cerpen ini dibuat karena iseng saja. Tak ada maksud apapun kecuali sekedar untuk bersenda-gurau dengan salah seorang sahabat saya.
(Alabio, 17 Sepember 2008)



Rani lagi… Rani lagi… Ada apa dengan nama Rani?
Nggak mau dikenalkan dengan calon suaminyaaa………
Nggak mauuuuuuuu……………..!!!
====================
to DM
kenapa? Gusti takut kalah ganteng? Hua..ha..ha..
Terbangkan saja, Rani… Terbangkan.
Terbangkan saja potongan-potongan foto yang telah kau gunting-gunting itu.
Biarkan ia terbawa angin savana.
Terbang ke seluruh penjuru mata angin.
Agar ia tak perlu kau kenang lagi.
Hidup memang mesti tetap terus berjalan, Rani.
Sudahi saja menungguanmu.
Terbangkan, Rani… Terbangkan…
================
to DM
Ya, tentu saja Gusti. Hua..ha..ha..
Tak perlu ada yang kau simpan, Rani. Tak perlu.
Karena itu akan membuat hatimu tersayat dan gulana.
Lupakan foto-foto itu.
Jangan ada yang tersisa.
Cinta memang tetap membutuhkan logika.
Tapi kau tidak bisa memilih kedunya.
Kau bisa memilih cinta, tapi tidak logika.
Kau bisa memilih logika, tapi jangan bermimpi akan cinta.
Kalau kau memilih logikamu, lupakan cinta.
Seperti halnya kau melupakan aku (ucap Gusti di atas padang rumput savana).
Karena kutahu, cintamu hanya padaku.
(kok jam 2 dini hari gini aku jadi liar begini nulis komen. Hehe! Sorry, Suhu
)
====================
to DM
Hey, setelah ngepost ini ceritera, saya langsung kasih komen di tempatmu. Trus tidur. Kalau di sana jam 2, berarti di sini jam 3. Selisih 1 jam Bro.
@ Daniel Mahendra Waka..ka..ka..kak! Glek! (Sial, ketelan permen relaksa).
Woohh…endingnya ternyata lebih romantis. Jadi terharu nih. Memang banyak muda-mudi pacaran kelamaan tanpa jelas kapan menikahnya. Berarti lebih hebat si Burhan dong, nggak begitu lama langsung tembak di tempat. Ajak nikah/kawin. Iya nggak?
==================
to Syamsuddin Ideris
Betul banget tu Syam…
ending nya juga gak ketebak pak,,,romantis abis.
pak kapan di bukukan nih cerpennya…
ayo pak!!!
================
to catra
kamu memang penyengamat yang hebat cat. Thanks.
yahhh…
kasian gusti.
*menghela napas panjang*
itu mungkin karena mereka berdua makan sate kelinci, suhu.
ini komen serius loh.
kelinci itu bukan untuk dimakan, tapi disayang.
(jangan nelen permen raksasa lagi ya, sobat?)
@DM:
desperado banget komennya, DM?
emang gak bisa ya milih cinta dan logika sekaligus?
makanya jam segitu udah waktunya istirahat: di kasur, bukan di depan komputer.
==================
to marshmallow
Bisa karena makan sate kelinci, bisa juga karena pergi pacaran di grojogan sewu. Kata orang sana, jangan pacaran di situ, bisa putusan.. (*halah, tahayul kok dipercaya)
Kenapa mesti kasian sama Gusti, dia udah nggantung Rani 7 taun. Tujuh taun Bu! Kalau bikin anak, itu sudah dapat berapa ekor, eh orang ya?
Soal DM yang tampak desperst banget, tanya aja deh sama orangnya.. Ha..ha..
ih, si suhu ya!
iseng aja jadi satu cerita.
ceritaku kapan kelarnya nih?
huadddooohh…
banyak distraksi!
=========
to marshmallow
Gak tau ya, kok tadi malam lancar nulis. Biasanya banyak cerita yang gagal setelah ditulis separuh jalan. Distraksi, sama.. di sini juga banyak distraksi. Coba bawa semedhi dulu. Wa…. ka..ka..ka..kak..
@ Suhadinet:
Nggak mau, bukan apa-apa. Khawatir Rani malah berubah pikiran. Haha!
@ DM
Kepedean lu! Wa..kaka..ka..kak..
Kasian juga si gusti, tapi kok kebetulan ada teman yang kejadiannya serupa cerita di atas yah. Sama2 menunggu 7 tahun, tapi bedanya dia lum menikah…hehehehe
================
kasian in…. Mudah-mudahan segera kawin deh, ha…ha..
Hebat euuuyy.. senda gurau menghasilkan cerpen. luar biasaaaaaaa.. saya terus terang iri loh pak! hiks..
================
ayo bikin fiksi juga mas gempur
Wah asik ceritanya dilanjutin
==============
iseng saja bu guru
wah hebat sekali pak suhadi ini. cuma dalam satu jam bisa
bikin cerpen begini bagus. saya coba menulis pengalaman pribadi aja gak kelar-kelar. saluuut.
salam
================
kebetualn aja ris. Kamu gak boleh terlalu merendah begitu, ntar kalau jadi cebol beneran gimana?
jah gantung neh pak
==========
jadi gak bagus nggantung gitu kan Fanz?
Kaka, ulun umpat bekomentar lah?
boleh kada?
Boleh banar, ading sayang. He..he… Handak bekomentar apa pian?
Betul kt Pa Syamsuddin nggak perlu lama2 pacrn, mending sprt Burhan aja langsung dilamar, romantis bgt… Sebnrny ending cerpen ini mengingtkn ulun dgn seseorng nih.. Wadai amparan tatak?? Jdi ingat yg kemarin… Ma’af ya Ka..
Kadapapa, nyaman kalu amparan tataknya? Kita kan kada lawas jua kalu. Langsung tembak kaka. Ha.ha.. Seseorang, nang di barabai tu kah ding? Kadada hubungannya. Asal tulis haja kaka.
saya tunggu cerpen 2 yg sdh dibukukan saja ya… salut!
====================
thanks, boleh deh kalau mo nungguin. Cuman kita nunggu penerbitnya dulu ya. He..he…
cerpen iseng tapi mantap juga, pak suhadi. kira2 siapa nih sahabat pak suhadi yang sedang diajak bersenda-gurau, haks. mas DM-kah? kekekekeke ….
===============
makasih Pak, berkat belajar dari bapak juga kan,…he..he…
Udah 1 bulan purnama aku ngga’ nimbrung disini, lagi-lagi pak Hadi bikin DEG jantungku, belum lama aku baca Stupid Thing Called LOVE dari La Nina, dan ternyata disini juga ada panah cupidnya.
Yang paling tidak dinyana (diperkirakan) cerita bisa nyebrang ke Grojogan Sewu. Dahsyat. Ciamik.
========================
Mas Gama, kalau memuji jangan ketinggian dong. Ha..ha… Thanks anyway…..
@Sawali Tuhusetya:
Nah kan, aku jadi terdakwa tanpa pengadilan begini…
Halo… Siapa ini hakimnya? Mana pembelanya?
Ck-ck!
Salam
dan love at the first sight, wow i believe that tapi sayang sekali ga kesampean he..he.. *curcol*
“beranjak dewasa kakakku Rani tercinta…” *singing SO7 mode;ON*
hmm saya suka cerita ini, patah tumbuh hilang berganti, realisitis bow
===============
saya juga suka SO7, begitulah seharusnya cinta. Patah tumbuh hilang berganti. Jangan sampai ada rumus patah hati berkepanjangan deh…
wew…jago bikin cerpen nich….
=========
gak juga, masih belajar.
ikutan gabung di cerpenista ga pak ?
====================
belum tuh, wah soalnya saya bukan cerpenis. Kok namanya cerpenista?
suhu, dengan segala kerendahan hati saya mempersilakan suhu mengkoreksi tulisan saya yang sederhana di my virtual diary.
please give it feedback and critique.
=============
Oh, off course, dear mate!
Aih, hebat tulisannya, Pak!
==================
DV, kamu bisa saja. Bikin saya kegeeran.
hantam terus. bikin yang lebih banyak. terus…. bukukan.
=================
pak zul bisa saja……….ha..ha..
bersenda gurau aja elur ceritanya menyita perhatian dan memaksa mengeja demi satu kata yang dituliskan pak Suhadi …Klimak yang bagus dan mengandung pesan yang berarti bagi laki laki yang seperti gusti ……..Potong saja ……
==============
kebetulan aja mas antok, pas lagi mood aja kali. Btw, apanya yang dipotong? Anunya? Wah..wah..
wahh makin keren aja pak
==============
makasih zoel
Saya gak komentar, tulisane bagus banget…
Saya senang bisa ketemu seorang guru yang blogger…
*ingat pak sawali, hehehe
salam kenal
============
salam kenal juga. Pak sawali, beliau yang menggugah saya untuk belajar nulis fiksi
wadaow..komentnya udah bejibun. Jadi pelajaran juga nih, jangan lama-lama mengejar mimpi dan ambisi. Tapi kalau itu demi pembuktian diri? gimana donk pak Su?
@ SQ Ah, saya dulu juga begitu. Baru saya sadari, kenapa gak merengkuh sekali dua. Kenapa harus memilih salah satu. Kedua-duanya bukan hal yang saling antagonis. Kedua-duanya bisa jalan sinergis.
aduh duh, mo komeng apa ya…anu…engg,…anu….++dasar,bilang ajah gak mbaca…++
=========
gak papa bu is, yang penting udah mampir.
tujuh tahun dikalahkan satu bulan? jangan2 gara-gara intensitas trus jadi cinlok pak
====================
barangkali sobat, Taliguci is back!!!! SOBAAAT!!!!! Kemana aja????
Ya ya ya, siiip.
=========
siip! haks..
Luar biasa……klimaksnya tak terduga…
===========
makasih ririn
hmm…. photo-photo itu siapa yang moto ya?? ada orang ketiga ini pasti… pasti…
================
nah lho???!!!
klimaks bagus pak..
( OOT : kalau ingat tags amuntai, ingat Bung karno pertama kali pidato tentang negara NKRI di sini, di Amuntai )
==============
makasih, betul banget tu mas imam. Begitu pula masyarakat amuntai.
sebuah pertanyaan tentang siapa rani?
============
jadi siapakah rani? he..he..
ah…cinta tidak hanya bicara kemesraan…cinta rani bicara logika juga rupanya…
salut, bagus cerpennya…
================
harus imbang kan ya… Senangnya ladangkata mampir ke sini.
makanya jgn terlalu sibuk kerja, hrus pinter2 bagi waktu bt org2 terdekat qt jg bth perhatian, gitu kan pak hadi ???
huehehe..
==========
betul banget jeung dheeta
ending yang menyenangkan, bagi pembaca pak rasanya kok kita juga bisa larut dalam kebahagiaan Rani
===================
ah, begitu ya… He..he… bisa saja mas sholeh.
Mba
Minal Aidin Wal Faidzin
Saya mo mudik rabu ke Ciamis
jadi mungkin jarang ngeblog
=============
ya, gak papa choey. kan nanti ke bogor lagi kan sehabis lebaran? Atau menetap di ciamis? Mat lebaran aja, mat pulang kampung.
Hehe
Pak maaf salah tulis
Bukan maksud
Maafin lahir bathin ya
Waaah terbuai aku dengan ceritanya. Kenapa musti 7 tahun sih Pak? Dan saya tadi udah siap-siap utk menangis pikirnya akhirnya sedih… eee … seneng juga si Rani yang jadi pemenang hehehhe
Kok aku seakan jadi Rani nya ya? Meski tidak langsung tapi 7 tahun menanti tapi membuat keputusannya itu sama.
Gawat nih.
Salam kenal pak…saya datang dari blognya DM.
=============
ikkyu-san. Dari blog DM, sudah sering baca komen bagusmu di DM, cuma saya belum sempat mampir. Thanks udah duluan ke sini ya..
Mana ini tulisan barunya ini… Mana ini…
*menunggu di teras rumah*
===========
sabar…tuh udah dimunculin kan.
@DM:
eh, ada mas DM di teras rumah suhu.
saya juga lagi nunggu suguhan baru nih.
bareng ya?
*sambil ikutan menunggu*
@Marshmallow:
“Eh ada Marshmallow… Sudah lama? Sedang nunggu Suhu juga ya? Emh… kemana ya dia?”
@DM:
gak tau nih, mungkin suhu lagi tadarus di mesjid?
kamu gak tadarus nih, ngomong-ngomong?
kita telepon aja yuk?
takutnya suhu lagi keenakan tidur bulan puasa, lupa nulis.
hihihi…
@Marshmallow:
*duduk di samping Marshmallow*
“Suhu?! Tadarus?! Ahuhuhu! Becanda aja kamu. Suhu memang kerap ke mesjid… Tapi tau nggak, dia itu suka tidur di balik mimbar siang-siang. Katanya sih ibadah. Tapi ya gitu, ibadahnya tuh molooorrr… mulu. Hihihi. Jadi gimana? Kita telpon aja dia? Habis lama juga nih nunggu tulisannya nggak nongol-nongol.”
@DM:
*geser duduk, jauhan dikit takut pahala puasa batal*
gitu?
wah, gak nyangka ya?
by the way busway, cerpen ini katanya buat ngolok-olok kamu.
kenapa? karena kamu mirip rani atau gimana?
tapi cerpennya bagus ya? aku suka lowh…
eh, telepon aja deh. kamu masih ada pulsa kan?
pulsaku kan itungan dolaaar…
*sambil kedip-kedip ganjen*
(sori, suhu! sori! lagi pada edan nih nungguin tulisan baru!)
======================
it is ok, marshmallow
hihihi lucu banget baca adu-komentarnya DM dan marshmallow …
ikkyu_san a.k.a emiko
biar iseng tapi temen aku mendalami peran rani