Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Motivasi Belajar—Menghubungkan Materi Pelajaran dengan Keseharian Siswa

Motivasi Belajar—Menghubungkan Materi Pelajaran dengan Keseharian Siswa


Author: Suhadi

 

Memberikan gambaran bahwa suatu materi pembelajaran penting untuk siswa kuasai adalah suatu hal yang dapat meningkatkan motivasi belajar. Bila siswa berkeyakinan bahwa materi pembelajaran tersebut penting untuk kehidupannya di luar sekolah atau akan penting pada jenjang pendidikan selanjutnya yang akan ditempuhnya, akan dapat memacu motivasi belajar mereka. Cara yang dapat dilakukan guru untuk menunjukkan pentingnya suatu materi pelajaran bagi mereka adalah dengan menghubungkannya dengan keseharian mereka.

 

Bisa jadi tidak semua konten (meteri) pelajaran di sekolah dengan mudah bisa dihubungkan atau dikaitkan dengan keadaan sehari-hari siswa. Akan tetapi, guru harus berusaha untuk ini. Semakin bagus gambaran yang diberikan oleh guru, tentang bagaimana sebuah materi pelajaran penting bagi kehidupan mereka di luar sekolah, semakin termotivasi anak untuk mempelajarinya.

 

Mengaitkan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa akan menjadikan pengetahuan yang mereka peroleh di sekolah sebagai pengetahuan yang bermanfaat. Bila guru memaksakan memberikan materi pelajaran tanpa menghubungkan dengan kehidupan di luar sekolah, maka yang akan terbentuk adalah sebuah pengetahuan “inert”. Sebuah pengetahuan yang terisolasi, terkucil, terkurung, dan tak bermanfaat yang hanya akan membuat sesak memori siswa. Ibaratnya, bagai penggunaan memori dalam sebuah disk hardware komputer. Ia adalah file rusak yang tak berguna. Contoh konkrit produk pendidikan macam ini sering kita lihat di masyarakat. Setelah lulus sekolah, seorang yang dulu punya peringkat bagus di kelas ternyata tak bisa berbuat apa-apa di masyarakat. Di suruh ini tidak bisa, diminta itu tidak mampu. Pengetahuan yang diperoleh di sekolah menjadi tidak bisa diaplikasikan. Walaupun tentu ini bukan semata diakibatkan karena mereka telah memperoleh pengetahuan “inert”, karena ada banyak faktor-faktor lain penyebabnya. Tapi, salah satunya adalah karena mereka tidak bisa menghubungkan apa yang telah diperoleh di bangku sekolah pada dunia nyata.

 

Walaupun beberapa materi pelajaran agak sulit untuk dihubungkan dengan keseharian siswa, banyak pula materi-materi pelajaran yang dengan mudah dapat kita hubungkan. Misalnya saat mempelajari persentase (%) pada pelajaran matematika, kita bisa tunjukkan bahwa pada zaman sekarang materi ini sangat penting. Bukankah dengan mengetahui seluk-beluk seputar perhitungannya kita bisa mengkalkulasi harga barang-barang di sebuah toko yang menyertakan label potongan harga? Contoh lain misalnya, dalam pelajaran IPA, saat kita akan membelajarkan siswa terkait materi sistem hormon, kita bisa katakan bahwa dengan mempelajari bahasan itu mereka akan dapat lebih memahami proses-proses yang terjadi di dalam tubuh mereka. Misalnya tentang pubertas, siklus menstruasi, dan sebagainya. Saya yakin, sebagai guru kita semua pasti bisa memotivasi siswa dengan menggunakan strategi ini. Semoga bermanfaat.

About these ads
  1. try
    September 10, 2008 pukul 3:45 pm

    pertamaxx!! *sebenarnya malu jadi pertamax :D
    ow, bapak guru IPA ya? saya dulu suka pelajaran Biologi loh, pak.
    pak, bagaimana kalo memotivasi siswa dengan cara belajar teori dibarengi praktek? misalkan kalo belajar tentang binatang purba kita dibawa ke Jurasic Park hehehe..becanda pak..Nuwun sewu..*sambil jongkok2 ala abdi dalem :p

  2. September 10, 2008 pukul 4:30 pm

    setojjooo, suhu!
    istilahnya “valuing and devaluing the subject” kalau saya gak silap.
    konten akan semakin jelas manfaatnya kalau pendidik bisa memberi “harga” yang pantas, disesuaikan dengan kondisi kebutuhan pelajar di kehidupan nyata.

    pernah dulu ada yang mengkategorikan konten itu sebagai: must know, need to know, sampai sekadar nice to know (yang terakhir ini nih yang cuman ngabisin memori hard disc kalau musti dihafalin juga).

    nice article, sobat!

  3. September 10, 2008 pukul 6:20 pm

    Setuju dengan pak Suhadi & uni marshmallow, valuing and devaluing subject matter memang penting, jadi siswa paham apa manfaatnya mereka mempelajari sesuatu. Dengan memahami tujuannya diharapkan akan tumbuh motivasi untuk belajar :-D nice article sir!

  4. September 11, 2008 pukul 7:14 am

    ahahaha.. waktu SMA saya benci sekali pelajaran matematika karena menurut saya itu gak ada gunanya. Ngutak-ngutik bilangan entah buat apa sebenernya saya gak ngerti.

  5. September 17, 2008 pukul 2:25 pm

    salam kenal……tukeran link yukkkkkkk

  6. andisugi
    September 20, 2008 pukul 4:01 pm

    Kalau yang ngasih pelajaran IPA modelnya kayak pak Suhadi sih , saya percaya muridnya akan selalu bilang, “more… more… more….!!” dan terpaku di kursinya masing2…

    Kalo ada waktu mampir ke http://www.dokterandi.com ya pak..

  7. zulfan
    November 13, 2008 pukul 3:11 pm

    Saya ingin cari teknik untk berjaya dalam plajaran.aku ingin berjaya dalam U P S R pada tahun hadapan.Tapi aku masih bnyak peluang untuk berusaha..

    “BEKHIDMAT UNTUK NEGARA”
    “BERSAMA MELONJAKKAN PRESTASI PENDIDIKAN”

  8. April 25, 2009 pukul 6:50 am

    salah satu penyebab masalah siswa bosan belajar adalah bahwa mereka tidak sepenuhnya mengerti untuk apa mereka belajar materi tersebut dan apa hubungannya dengan keseharian mereka. Pembahasan bapak tepat sekali.

  9. riyadi
    Agustus 7, 2009 pukul 6:57 pm

    ya bagus

  10. desy
    November 18, 2012 pukul 11:39 am

    kalau untuk materi peluang??

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: