Author: Suhadi
Malam ini Kayla kembali membuka jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Rasanya lebih damai bila ia duduk di depan jendela itu. Terutama saat prahara sedang berkecamuk di sekililing Kayla. Seperti saat-saat sekarang ini. Sering Kayla tenggelam dalam luasnya lautan alam pikirannya sendiri saat memandang bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di langit sana. Kayla akan senang bila langit malam cerah tak berawan. Kerlap-kerlip bintang itu demikian cantiknya. Seperti taburan permata di atas beludru hitam. Indahnya tak kepalang. Bisa membuatnya berlari menjauh dari rasa takut yang telah berbulan-bulan menghantuinya. Dengan memandanginya, Kayla bisa melupakan trauma pertengkaran-pertengkaran Mama-Papa. Kayla bisa melupakan agenda perceraian Mama-Papa yang sepertinya sudah semakin mendekati hari H-nya. Walaupun Kayla sadar, itu hanya sesaat.
Kayla sama sekali tak habis pikir, mengapa Mama-Papa yang beberapa tahun lalu begitu mesranya kini saling serang lewat media. Mama-Papa yang dulu begitu bergembar-gembor sebagai pasangan paling bahagia di dunia, yang begitu sayang dengan anak-anaknya, kini lebih mementingkan egoisme mereka masing-masing.
Terbayang kembali oleh Kayla, bagaimana bahagianya ia bersama Sammy dan Ray, saat Mama-Papa selalu meluangkan waktu buat mereka bertiga untuk berjalan-jalan di mall setiap akhir pekan. Nonton film bersama di waktu-waktu tertentu, bila ada film-film baru yang bagus untuk ditonton anak-anak seusia mereka. Bergantian mengantar-jemput Kayla dan Sammy ke sekolah. Atau, berlibur ke rumah Kakek-Nenek di Malang pada akhir semester atau akhir tahun ajaran.
Masih jelas di mata Kayla saat kemarin sore, hampir semua infotainment di tv-tv nasional menyiarkan gosip terbaru tentang agenda sidang perceraian Mama-Papa. Mama tampak demikian berang saat dikonfirmasi tentang pernyataan Papa yang mengatakan bahwa Mama tidak layak mengasuh Kayla, Sammy, dan Ray. Mama tidak layak mengasuh anak-anaknya sendiri. Papa mengatakan bahwa Mama selama ini terlalu sibuk dengan sinetron-sinetronnya yang kejar tayang. Kemudian, betapa selalu lekat di ingatan Kayla bagaimana Mama membalas pernyataan itu dengan mengatakan bahwa Papa-pun tidaklah pantas mengasuh mereka karena Papa juga bukan orang tua yang lebih baik. Apalagi dijadikan contoh dan teladan bagi anak-anak. Kata Mama, menurut undang-undang, hak mengasuh anak-anak dimiliki oleh ibu bila terjadi sebuah perceraian. Huh, Mama begitu menyebalkan!
Pun demikian papa, Kayla benci! Betapa kesalnya Kayla saat Papa tersenyum sinis penuh kesenangan di depan kamera bersama beberapa pengacara yang menemaninya. Para pengacara itu mengatakan bahwa hak pengasuhan anak pasti akan dimenangkan Papa yang selama ini jauh lebih memperhatikan anak-anak.
***
Bintang-bintang yang berkerlap-kerlip di langit malam itu mulai mengabur dalam pandangan Kayla, saat air mata mulai menggenangi pelupuk matanya. Jatuh bagai anak sungai, mengalir membasahi pipinya. Kayla membentur-benturkan kepalanya yang terasa demikian sakit ke bingkai jendela kamar.
Mama-Papa, kapan pertarungan di media akan kalian akhiri? Kenapa harus menjadi begini? Kayla tidak mengerti kenapa ada pengadilan agama, di mana di tempat itu para pengacara-pengacara yang bermulut manis selalu membisik-bisiki Mama-Papa? Mengapa harus ada pertengkaran-pertengkaran yang tak bisa Kayla pahami apa penyebabnya?
Anak sungai di pipi Kayla membanjir. Mama-Papa, sedemikian bodohnyakah kalian? Mengapa tak menyadari bahwa para pengacara yang berbisik-bisik di telinga Mama-Papa itu melakukannya hanya demi keuntungan mereka semata? Demi ketenaran nama perusahaan jasa advokasi mereka. Demi uang yang mereka keruk dari kantong Mama-Papa. Mengapa Mama-Papa demikian senangnya bila para pemburu berita bercampur gosip yang hanya membuat makin panas suasana itu menyambangi Mama-Papa untuk wawancara? Mengapa Mama-Papa demikian mudahnya mengikuti saran dan manggut-manggut seperti manusia bego saat orang-orang dari lembaga-lembaga yang mengaku perduli terhadap kemaslahatan anak-anak itu merecoki Mama-Papa? Kayla ingat betul bagaimana orang-orang dari lembaga perlindungan anak itu tersenyum dan menyapa Kayla, Sammy, dan Ray dengan ramah. Mereka mencoba memikat hati Kayla, Sammy, dan Ray. Tahukah Mama-Papa, bahwa bagi Kayla, Sammy, dan Ray mereka tetap orang-orang asing? Mereka berjanji akan memberikan mediasi kepada Mama-Papa. Mempersatukan Mama-Papa kembali. Mendamaikan. Tapi mana buktinya? Apa hasil mediasi itu? Bukankah agenda sidang vonis perceraian itu sudah sedemikian dekatnya?
Kayla menghapus jejak-jejak bening di pipinya. Kayla tahu ini sudah larut malam. Kayla tak perduli. Kayla cuma ingin memandangi bintang-bintang itu. Toh, tak ada Mama atau Papa yang akan membacakan buku cerita. Atau mendongeng, sebelum Kayla pulas dibuai mimpi-mimpi indah tentang Alice in The Wonderland. Atau tentang si mungil yang cantik, Thumbellina yang lahir dari sekuntum bunga. Atau dongeng tentang anak durhaka Si Malin Kundang dan Sangkuriang. Atau fabel tentang Kancil dan Buaya. Tak ada Mama-Papa yang meminta Kayla untuk menutup jendela, agar ia tak masuk angin. Tak ada Mama-Papa yang mencium keningnya saat ia mulai diserang kantuk. Tak ada Mama-Papa yang mematikan lampu di samping tempat tidurnya setelah merapikan selimut tebalnya yang hangat.
***
Pikiran-pikiran kusut-melilit ini bagai rantai-rantai besi yang terlalu berat untuk dipikul Kayla di kepalanya. Apalagi diuraikannya. Pertanyaan-pertanyaan tentang mengapa kehidupan bahagia yang dulu telah tertoreh selama berpuluh tahun itu harus menggelinding menuju jurang perceraian Mama-Papa, terlalu sulit untuk dijawab Kayla. Jauh lebih sulit dibanding saat harus menjawab soal-soal matematika yang memang merupakan mata pelajaran terlemah Kayla. Pertanyaan-pertanyaan itu terlalu sulit. Bahkan mungkin buat semua anak-anak kelas V SD seumur Kayla.
Bintang-bintang di atas langit yang bagaikan taburan permata di atas beludru hitam itu mencoba menghibur Kayla dengan kerlap-kerlipnya. Kayla menghapus lagi bulir-bulir bening yang menderas kini, dengan punggung tangannya.
Kayla benci dengan dengan Tante Vin yang selalu dekat-dekat Papa. Macam-macam saja alasannya. Minta ditemani rekaman-lah, diskusi tentang lagu baru-lah, ngajak syuting iklan-lah. Macam-macam. Sebal!
Kayla benci Tante Cherryl yang selalu bikin sibuk mama dengan mempersiapkan kontrak dan jadwal-jadwal baru untuk syuting. Kayla benci orang-orang media pemburu berita, pembikin gosip. Kayla benci para pengacara, hakim, jaksa, dan gedung pengadilan. Kayla benci Kak Deni dan lembaganya yang mengaku melindungi Kayla, Sammy, dan Ray atau anak-anak tak beruntung lainnya. Kayla benci Pak Marzuki, guru bimbingan dan konseling di sekolah yang telah mengirim surat kepada Papa, kalau Kayla semakin jeblok nilai-nilai ulangannya. Kayla benci Bu Lastri, guru wali kelas V-nya yang selalu mencoba berbaik-baik pada Kayla. Seolah-olah perduli dengan apa yang terjadi pada Kayla. Kayla benci semuanya!
Kayla kembali membentur-benturkan kepalanya pelan-pelan di bingkai jendela. Kayla meratapi nasibnya. Juga nasib Sammy dan Ray, adik-adiknya. Rasa sakit di kepala Kayla semakin menikam. Kayla membenturkan lebih keras kepalanya. Lebih keras dan semakin keras!
***
Anak sungai kembali mengalir di sudut-sudut mata Kayla. Ia menyandarkan tubuhnya di bingkai jendela. Dipejamkannya mata. Kayla sesenggukan, menahan tangis yang tak bisa tertahan. Kayla menghapus untuk kesekian kali bulir-bulir bening, dengan punggung tanggannya. Kayla memandangi bintang-bintang yang terus berkerlap-kerlip. Oh, andai peri mungil Thinker Bell yang baik hati itu muncul di hadapan Kayla. Andai Thinker Bell muncul bersama si anak yang tak pernah mau beranjak dewasa: Peter Pan, yang akan mengajak anak-anak tak bahagia seperti Kayla dan adik-adiknya ke Neverland. Muncul dengan senyum dan tawa nakal mereka di depan jendelanya secara tiba-tiba. Kayla ingin terbang bersama Thinker Bell dan Peter Pan, melupakan semua prahara yang ada di sini. Kayla ingin terbang menuju bintang-bintang yang berkerlap-kerlip menghiburnya itu, di mana salah satunya adalah arah jalan menuju Neverland.
Kayla tergugu. Sesenggukan. Aku hampir gila, pikirnya. Atau barangkali memang sudah gila. Mana ada Neverland. Mana ada Thinker Bell. Mana ada Peter Pan. Itu kan cuma cerita fiksi saja. Kayla tertawa sendiri. Getir.
Kayla menghapus sisa-sisa air matanya. Sudah terasa lengket kedua kelopak mata, pipi, dan punggung tangannya oleh sisa air mata yang mengering. Entah sudah berapa banyak terkuras bening itu. Rasanya, mata Kayla sudah sedemikian perihnya. Tapi, tentu jauh lebih perih rasa hatinya.
***
Bintang-bintang di langit malam terus berkerlap-kerlip menemani Kayla. Memandangi butir-butir berkilau di angkasa itu membuatnya bisa mengembara ke mana saja. Melarikan diri dari prahara di rumah cintanya ini.
Kadangkala Kayla bisa berkhayal sebagai seorang gadis kecil, anak seorang petani bersahaja di sebuah lereng pegunungan yang sejuk. Ia membayangkan bagaimana berlari di sepanjang pematang bersama Sammy dan Ray yang sesekali terjerembab saat mengejar kupu-kupu bersayap kuning. Berlari-lari mengejar kupu-kupu di antara batang-batang singkong dan jagung. Kemudian memanggil-manggil Papa yang berlepotan lumpur mencangkul sawah untuk pulang saat tiba waktu makan siang. Bercanda bersama sembari makan dengan lauk tahu-tempe di sebuah rumah mungil bersih dan indah. Rumah berdindingkan gedek bambu, berlantaikan tanah desa yang wangi berpadu bau jerami dan asap kayu bakar yang sedang menyala di tungku Mama. Bersantai di atas bale-bale yang berderit-derit reyot karena si kecil Ray berlonjak-lonjak di atasnya saat mendengarkan dongeng dari Mama tentang Timun Mas yang dikejar Raksasa yang ingin memakannya.
Oh, alangkah indahnya. Tak ada yang mengusik kehidupan rumah cinta mereka. Tak ada Tante Vin. Tak ada Tante Cherryl. Tak ada orang-orang dari media. Tak ada pengacara-pengacara, hakim, jaksa, dan tak ada sidang pengadilan agama. Hanya mereka bertiga: Kayla, Sammy, dan Ray yang menjadi tumpuan perhatian dan kasih sayang Mama-Papa.
Kayla rela menimba air di sumur dan mencuci piring-gelas setelah makan. Kayla ikhlas mencuci baju sendiri dalam shubuh berkabut di sendang, sebelum mandi dan berangkat ke sekolah. Kayla-pun yakin Sammy, adiknya yang berumur tujuh tahun itu mau menggembala bebek dan kambing. Lalu Ray, adiknya yang berumur lima tahun itu pasti tak rewel biarpun tidak punya mainan robot anjing buatan Jepang yang benar-benar bisa bertingkah seperti anjing betulan itu. Ray pasti tertawa senang saat dibuatkan mainan pistol-pistolan atau kuda-kudaan dari pelepah daun pisang. Mereka bertiga bisa bermain wayang-wayangan dari daun singkong, atau barangkali bermain jual-jualan. Kayla bisa berperan sebagai penjual gado-gado yang dibuat dari irisan daun-daun kenikir dan waru. Sedangkan Sammy dan Ray sebagai pembeli di warungnya. Pasti seru dan menyenangkan.
***
Kayla menghela nafas. Berat dan panjang, karena terasa demikian sesaknya. Kayla membentur-benturkan pelan kepalanya ke bingkai jendela. Malam semakin merambat larut. Saat awan mendung mulai berarak pelan menutupi bintang-bintang yang bak taburan permata indah itu, Kayla muram. Dan Kayla semakin muram saat pintu kamarnya diketuk. Bukan oleh Mama atau Papa. Kayla hafal betul bagaimana bunyi ketukan pintu Mama-Papa.
“Kay, belum tidur?”
Kayla malas sekali menjawabnya.
Pintu terkuak perlahan. Seorang perempuan berwajah lembut masuk ke dalam kamarnya. Mbak Dian, babysitter Ray yang juga sahabat Kayla dan Sammy itu menghampirinya.
“Ayo tidur Kay.” Katanya sembari tersenyum lembut.
Kayla tak menjawab, dan tak pula tersenyum. Kayla menutup daun jendela. Di luar, langit malam semakin kelam dan bintang-bintang yang tadi terang semakin buram tersaput awan.
Kayla menuju tempat tidurnya. Merebahkan badan dan kepalanya yang penat—berat. Kayla memasukkan tubuh yang membalut jiwa lelahnya ke dalam selimut. Dipalingkan Kayla wajahnya menghadap tembok, dengan tanpa sepatahpun kata.
Mbak Dian mengecup pipi Kayla dengan perasaan iba. Gadis kecil itu telah banyak berubah. Menjadi begitu pendiam dan sering menyendiri. Hilang rona keceriaan dan kegembiraan di wajahnya. Tak ada hasrat bermain-main selayaknya anak di usianya. Mbak Dian lalu bergegas merapikan selimut Kayla. Di dalam dada perempuan muda itu tak ada harapan, selain harapan agar keluarga yang dulu begitu bahagia ini kembali seperti semula.
***
Sepeninggal Mbak Dian, Kayla berdo’a di dalam hati. Semoga besok malam, langit kembali cerah dan bintang-bintang yang bersinar terang itu akan kembali bersamanya.
Alabio, 30 Juli 2008.

kenapa ya… kalo saya baca suatu cerita yang pakai nama kayla.. selalu mengingatkan saya ke novel jenar…
padahal kan jenar pakai nama nayla…. dan saya juga ga terlalu mengerti novel jenar…
bingung…..
===============
to bakhrian
saya lebih bingung, soalnya belum pernah baca novelnya Jenar yang ada tokohnya bernama Nayla, judulnya apa si?
takut kehilangan privilege jadi pertama.
*kebat-kebit*
mudah-mudahan emang pertama…
pak, bagus bgt
saya makin termotivasi
tu terus belajar
bisa sehebat Bapak
============
to achoey sang khilaf
Makasih choey, mari sama-sama terus belajar dari saling memotivasi
babe!
kenapa kesempatan pertamax-ku disambar?
*menarik lengan baju tinggi-tinggi*
eh, lupa. itu kan aurat.
*tetep sebel sama babe*
membacanya saya jadi ikut larut dalam pemikiran sederhana anak kecil yang mendamba keluarga lengkap dan utuh.
penokohannya bagus, pak.
dan biasanya lagi, anak-anak suka introvert, menyalahkan diri mereka sendiri, saat terjadi kasus-kasus seperti ini.
kalau saja banyak orang dewasa yang bisa mendalami psikologi anak-anak seperti pak suhadi ya…
===============
to marshmallow
ini baru belajar menerapkan psikologi ke cerpen, psikologinya juga sambil belajar. Dalam cerita ini Kayla memang menjadi introvert, tapi tidak menyalahkan diri sendiri. Dia menyalahkan semua orang yang ada di sekelilingnya. Thanks feedbacknya.
Nah pak…saya teringat kasus perebutan hak kuasa asuh yang pernah kami tangani di Padang. Sepasang keluarga China minta bantu kepada kami karena bersengketa karena hak kuasa asuh. Kahirnya kami memberikan rekomendasi kepada hakim bahwa sang ayah yang lebih baik memelihara anaknya, karena sang ibu terbukti melakukan tindakan kekerasan terhadap anak-anaknya. Setiap kami minta si anak melukiskan gambar keluarga menurut mereka, yang selalu di gambar adalah ayah, nenen dan adik. Tak ada secuilpun ibu di dalam gambar itu.
Tetapi akhirnya kami juag sadar dan memebrikan rekomendasi juga, agar si Ibu juga di berikan keleluasaan untuk menemui anaknya, karena walalu bagaimanapun anak berhak untuk mengenal ibunya. Mudah-mudahan ibunya lebih baik…
Mantap cerpennya pak./…..
===================
to imoe
saya yakin dan percaya bahwa kamu dan seluruh teman-teman yang bergelut dengan masalah perlindungan anak adalah orang-orang yang penuh dedikasi. Kasian anak itu ya Moe. Mudah-mudahan bersama papanya ia bisa bahagia.
Dalam cerita ini, ya Kayla menyalahkan semua orang termasuk Kak Deny dari perlindungan anak dan guru-gurunya sendiri. Mudah-mudahan tak ada anak yang mengalami keadaan setragis Kayla.
cerpennya mantap? Makasih Moe
aduhhh irinya…
saya iri pak..
iri ma co.cc nya…
bisa ajarin saya ndak ?
saya dah buat..
tapi trus di suruh naruh DNS…mulai situ saya gak paham..
hiks..
==============
toeastjafunk
saya ndak pernah makai co.cc maksudnya apa macam punya domain sendiri yang dari co.cc itu? Saya ndak pakai. Adalah lihat blog saya pakai akhiran co.cc? Heran?
terus berkarya,pak Suhadi.
aku tunggu cerpen2 yang lainnya
salamku
==================
to langit jiwa
makasih Mas Paundra
wah, kisahnya bagus banget pak.
hidup, terasa nyata, dihiasi gaya bahasa kiasan yang indah.
ini bakal diterbitkan di koran juga, pak? seperti yang kemaren….
atau bakal dikumpulin dalam satu buku kumpulan cerpen ya, pak?
saya dukung pak suhadi, deh.
sukses buat pak suhadi.
=================
to kucing pemalu
Maksih cing, kalau ada publisher yang tertarik sih boleh juga
Masukin koran lagi, Pak Guru!
Terus semangat!
==============
to Donny Verdian
makasih mas DV
Kubaca dulu ya, Pak Guru…
============
to Daniel Mahendra
Silakan Mas Daniel, jangan lupa kasih feedback ya……
Sulit sekali buat saya untuk menokohkan anak-anak dengan pikiran anak-anak, sebab, sering sekali yang keluar adalah anak-anak dengan pikiran bukan anak-anak. kalaupun bisa, jadinya malah cerita anak..
Selamat pak, terus berkarya
===================
to taliguci
Ini juga belajar, baru pertama bikin yang kayak gini
Bagaimana caranya pak, kok bisa buat cerpen sebagus itu, sukses selalu untuk bapak
==============
to achmad sholeh
Gimana ya……..emmm latihan, terus nulis. He..he… Senangnya dibilang cerpennya bagus.
saya save ya pak!!, maaf saya kopas ke HDD saya..
==================
to Catra
silakan Cat, silakan…….. he..he..
Saya = Kayla ….
===============
to Rindu
Uuw………. turut bersedih. Tapi kamu sudah bisa mengatasi badai itu kan Rin?
Yah…. begitulah….. semua yang ada di infotainment semuanya hanya kosmetik…. penuh “kepalsuan” hanya demi nama baik masing2 agar popularitas tidak turun. Kenyataannya.
=================
to Yari NK
kasian anak-anak jadi korban ya Pak.
malang sekali kau, nak.
Oh Kayla….
=================
to yodama
gak papa, ini cuma fiksi
Semoga kita menjadi orang tua yang dapat dibanggakan anak-anak kita, tidak malah sebaliknya menghancurkan asa mereka dengan menggelar drama percerain. Amiin!
=================
to musyafak
amien, mudah-mudahan pak
hmmm..bagus..bagus cerpennya pak.
.
Salam kenal aja, ya pak
============
to try
makasih try, salam kenal
mas ceritanya bagus ,saya butuh waktu untuk membaca..
saya save aja….
saya link blog nya…
===================
to yakhanu
silakan disave, silakan dilink. Makasih.
Hebat euy mas suhadi… sekarang karyanya makin mengalir. Moment yang ditangkep untuk jadi tema dalam cerpen kali ini juga ngena banget, masalah kawin cerai. Dan sudut pandang yang dipilihnya juga hebat. Melalui sudut pandang anak (Kayla), mas Suhadi cukup bagus melawan masalah dampak dari perceraian ini.
Semoga sinar makin terang!
===============
to qizinklavia
Makasih mas qizin pujiannya. Mudah-mudahan bisa semakin terang! O ya, jangan takut mengkritik, apalagi Mas Qizin pernah nggarap bagian sastra di Radar Banten kan..
hehemmmm dulu pas liat judulnya…… lanjut bacanya…
pengacara yang berbisik-bisik di telinga Mama-Papa itu melakukannya hanya demi keuntungan mereka semata? Demi ketenaran nama perusahaan jasa advokasi mereka, Demi uang yang mereka keruk dari kantong Mama-Papa. Mengapa Mama-Papa
Iaya juga ya kenapa hal ini gak kepikiran ya terutama bagi mereka yg sedang tersangkut paut???
Idungku ampe mampet pas baca bagian2 terakhir…..Ini bisa aja terjadi dimana2… Ceritanya seperti keadaan sehari2
Kenapa gak dikomersilakan lewat buku dan dipasarkan pak… ini sdh pantas banget begitu juga crita2 sebelumnya…
=================
to Rita
Makasih Bu, ini lagi tebar pesona, he..he… kali aja ada yang nawarin bikin antologi cerpen….. (*masih jauh kali ya, soalnya cerpennya baru beberapa biji)
wah, cerpennya realis banget, pak suhadi, ndak seperti cerita bersambung kemarin dg mendedahkan imajinasi yang lebih liar. tapi bagus juga, kok, pak. diksinya menarik. mungkin pak suhadi ingin mengeksplorasi tema yang beragam. ada juga kritik sosialnya, khususnya perilaku advokad yang melakukan pembelaaan terhadap klien hanya sekadar ingin mencari keuntungan. selamat berkreasi, pak suhadi. makin beragam tema yang diangkat makin menarik! salam kreatif!
====================
to sawali tuhutseya
Makasih Pak, saya kan muridnya Bapak (*mudah-mudahan diakui). Iya, saya suka sedih kalau liat wajah anak-anak artis yang doyan kawin cerai itu Pak. Terus para pengacara yang ngomongnya berapi-api, seakan-akan mereka lah yang berperkara.
selamat malam,Kayla.
====================
to langitjiwa
selamat malam juga Mas Langitjiwa
wah gak paham aku pada sohib ku ini, kok bisa-bisanya bikin cerpen segala. bagus lagi. gimana kabar sertifikasi dah keluar lom tunjangannya
======================
to Budisan68
Masih sedang belajar Pak Budi. Sertifikasi udah dapat 3 bulan.
horeeeeeeeee… akhirnya baca cerpen lagi
=============
to Zoel Chaniago
baru nyadar zoel, lama saya gak posting cerpen
salam kenal dan kl sampat pian ba elang wadah ulun : http://diamoncity.blogspot.com
===================
to beware
salam kenal juga, insyaAllah disempatkan, sama-sama urang banua.
suhu lagi sibuk bikin cerpen baru ya?
koq gak nongol-nongol?
*nunggu cerita-cerita berikutnya*
setuju sama pak sawali, makin beragam tema makin menarik. bagi suhu sendiri, makin menantang kan?
@ Pak Sawali dan Marshmallow ;) kok dipanggil suhu, belum pantas. He.he.. Saya memang sedang mencoba mengeksplorasi ranah dan tema berbeda. Mau lihat, sampai batas mana kemampuan saya. Kalau tulisan-tulisan sebelumnya deskriptif dan thriler horor, sekarang saya mencoba menggarap sisi psikisnya, kalau bisa dari tokoh anak atau paling tidak melibatkan tokoh anak. Berusaha supaya tak terpancang mati pada suatu gaya atau tema. Bereksperimen. Makasih supportnya.
Salam dari Malaysia….Aduhh..bagus banget cerpennya sih..Semoga terus berkarya….
——————-
Kalam Abu Musaddad
http://ibnismail.wordpress.com
=====================
to abu musaddad
Makasih cikgu, posting cikgu tentang senam kucing itu menarik sekali. Saya save di HDD. Lucu.
cerpen yang menarik, meninjau perceraian orang tua dari sudut pandang anak kecil…., setting yang jarang dituangkan dalam cerpen. Ditunggu karya cerpen berikutnya…
=================
to Fitri J
Makasih, silakan menunggu…….He..he…
ah saya bacakan di kelas ah.. Ntar saya bilang sama anak-anak, cerpenis ini kenalan ibu hehehe…
=====================
to alifia82
wah senangnya, mo dibacakan di kelasnya bu alifia, mudah-mudahan bisa memberi manfaat bagi pembelajaran di kelas ibu. He..he….
wouw….
moga2 sukses selalu deh….
aminn….
==========
to ma2nn-smile
wouw juga. moga sukses selalu juga. aminnn.
semangat!
==========
o achoey sang khilaf
semangat!
hehe2….
kek kasus artis2 sekarang ya pak…
menyedihkan…
sukses selalu utk bapak dan keluarga
=================
to dewi
ide ceritanya saat saya secara gak sengaja nonton infotainment bu. Saya bukan penikmat acara itu, e taunya dapat ide dari sana. Sukses selalu juga buat bu dewi dan keluarga
sering kita melupakan tunas-tunas yang baru tumbuh karena keegoisan kita ingin menebang pohon
salam budaya Pak
===================
to tommy arjunanto
amin. salam budaya juga tom
para ortu sebaiknya baca cerita ini biar memahami perasaan anak jadi gak pada egois.
===============
to harini
mudah-mudahan. Makasih mau membaca.
Pokoknya semakin menjadi. Selamat.
================
to Pak Ersis Warmansyah Abbas
semakin menjadi apa Pak? Moga-moga jadi makin bagus, he..he… lagi-lagi bapak bikin saya tersanjung. Pingin sekali ketemu Bapak.
Salam kenal juga… Cerpennya lumayan bagus, saya baru baca.
Saya baru setengah tahun ini juga blogging, sempat vakum waktu ujian, lalu lanjut lagi sampai sekarang….
Keep writing!
=================
to Blognya pengamat politik
makasih mas rizky, ujian harus lebih utama ya. Lagi di jogja? I’ll try Mas. Makasih.
cerita sedih seperti yang dialami kayla kalo dituangkan ke dalam karya sastra kaya cerpennya pak guru ini malah bisa mengambil simpatik kita utk bisa merasakan apa yang mereka (kayla-kayla..) alami karena ego (atau gaya hidup?) orang tuanya.
ditunggu lagi karya yang lain pak. anw, saya suka nama ‘Kayla’
====================
si dion
makasih, anw, punya kenangan khusus dengan nama kayla?
Duhai Kayla…
==============
to daniel mahendra
kenapa mas daniel? bersimpati dengan kayla? He..he..
Salah satu blog sastra…
Hebat, Pak…
saya dulu juga pengen bisa bercerita kayak gini, tapi kandas…
==============
to sapimoto
kenapa merasa kandas, saya baru mulai 4 bulan ini belajar nulis. Masih banyak rintangan dalam diri saya. Ayo semangat, semua pasti bisa. Baca saja karya-karya orang lain banyak-bayak untuk pembelajaran. Latih, asah terus.
He..he…bikin saya jadi geer! Belum nyastra ini….
wah nama anakku tuh kayla
===============
to blog bisnis
Nasibnya jangan sampai kayak yang di cerita fiksi ini ya……
hoho.. ndak ada pak, cm suka aja sm kata Kayla
hoho.. ndak ada kenangan khusus dengan nama Kayla pak, cuma seneng sajah