Beranda > bahan bacaan, motivasi belajar > Engaged Time-Bagaimana Cara Mempertahankannya Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Di Kelas?

Engaged Time-Bagaimana Cara Mempertahankannya Dalam Kegiatan Belajar Mengajar Di Kelas?


Author: Suhadi

 

Tulisan ini dibuat karena terinspirasi dari pelatihan Bimbingan Teknis Peningkatan Pengembangan Profesional Guru SMP Tahun 2008 di Guntung Payung yang saya ikuti. Dari beberapa penyaji, ada sedikit penyaji yang sepertinya sama sekali tak perduli dengan engaged time para peserta pelatihan. Memang tidak mudah menjaga engaged time peserta pelatihan yang sebagian memang tampak sudah  unmotivated dari awal. Dari rumah. Entah apa yang mereka cari dalam pelatihan ini. Upss..saya bukannya orang yang sok pinter pun sok paling rajin. Tulisan ini cuma hasil renungan terhadap apa yang saya lakukan selama ini. Saya cuma ingin mengaca diri dan memperbaiki kekurangan saya. Syukur-syukur ada nilai manfaat bagi orang lain. So, jangan tersinggung ya…

 

***

Engaged time? Apaan sih itu?

Engaged time di sini maksudnya adalah waktu sesungguhnya yang digunakan pebelajar untuk belajar dalam sebuah KBM. Engaged time kadang dapat juga disebut time on task. Time on task (waktu berada dalam tugas) adalah waktu yang digunakan pebelajar untuk secara aktif terlibat dalam pembelajaran. Engaged time sangat penting, karena menurut para ahli macam Karweit, 1981; Walberg, 1988, menunjukkan sebagai aspek terpenting dalam pembelajaran.

 

Alokasi waktu untuk pembelajaran sama sekali tidak sama dengan engaged time. Guru atau dosen bisa saja mengajar dengan alokasi waktu 2 x 40 menit atau 2 x 60 menit pada sebuah pertemuan, tapi engaged time siswa dan mahasiswa pasti tak akan sebanyak itu. Seperti yang kita ketahui, alokasi waktu adalah sumber daya yang sangat terbatas, baik di sekolah maupun kampus. Karena itu, adalah sangat tidak bijaksana jika seorang pengajar mengabaikan seberapa besar engaged time siswa dan mahasiswanya dari keseluruhan alokasi waktu yang dimiliki.

 

Ambil tamsil begini, Pak Suhadi masuk kelas VII untuk mengajar IPA dari jam 08.00 – 09.20. Pasti alokasi waktu itu akan terpangkas oleh menghapus papan tulis, mengisi presensi (daftar kehadiran siswa), senyum sana- senyum sini sekedar jual tampang pada siswa baru, he..he… atau hal-hal lain seperti terlambat sampai ke sekolah karena harus ngantri bensin dulu di SPBU yang hampir sebulan ini susah didapat, kemogokan di jalan karena malas nyervis motor, ban bocor, dan disiplin Pak Suhadi yang rendah karena suka ngomong-ngomong sama rekan sejawat hingga lupa masuk kelas. Nah…lho!

 

Itu adalah sekedar contoh bahwa alokasi waktu sama sekali tak menunjukkan besar yang sama untuk engaged time siswa atau mahasiswa. Pun, bila semua itu sudah Pak Suhadi bisa reduksi, yaitu dengan papan tulis yang sudah bersih saat Pak Suhadi masuk ke ruang kelas, mengisi presensi cepat-cepat tanpa niat buang-buang waktu, ngantri bensin malem-malem atau sore biar gak ganggu jadwal mengajar, dan mulut dikurangi ngomong yang gak penting hingga lupa masuk kelas, engaged time tetap akan jauh dari alokasi waktu yang ada bila pembelajaran tidak dirancang dengan baik. Mengapa?

 

Engaged time sangat berkaitan dengan motivasi. Selanjutnya motivasi sangat berkaitan dengan atensi siswa terhadap pembelajaran (KBM) yang sedang berlangsung. Bila siswa atau mahasiswa tidak termotivasi mengikuti pembelajaran yang sedang kita laksanakan, bisa dipastikan siswa dan mahasiswa telah keluar dari engaged time. Mereka tidak terlibat secara mental dengan pembelajaran. Mereka tidak sedang belajar. Guru dan dosen boleh saja “mengurung jasad” siswa dan mahasiswanya di dalam ruang kelas, tapi pikirannya bisa bebas mengembara ke mana-mana.

 

Tidak mudah mendeteksi siswa dan mahasiswa yang tidak sedang berada dalam engaged time. Mereka bisa saja tanpa berkedip memandang guru dan dosen yang sedang memberi informasi, tapi kita tidak tahu apa yang ada di benak mereka. Barangkali saja karena gurunya ngganteng (*halah!). Barangkali mereka memandangi Pak Suhadi karena setelan baju dinasnya kumal sebab tidak sempat disetrika. Bisa saja mereka memandangi wajah Pak Suhadi karena ada sisa nasi kuning (saya suka sarapan pakai nasi kuning—khas orang Banjar) di sudut bibirnya—jorok amat sieeh. Who knows?

 

Bagaimana hal sedemikian bisa terjadi? Banyak sekali penyebabnya. Mungkin pembelajaran guru atau dosen tidak menarik. Datar, dan tidak menyenangkan. Perlu diingat bahwa kemampuan seseorang untuk fokus terhadap sebuah pembelajaran hanya sekitar 15 menit sampai dengan 20 menit. Setelah itu, atensi akan berkurang/menurun bersama waktu yang berjalan. Nah, dalam kaitannya dengan motivasi dan atensi serta engaged time, si guru atau dosen dapat melakukan pembelajaran bersiklus (ini salah satu alternatif). Istilahnya dalam English disebut learning cycle. Guru atau dosen dapat membagi alokasi waktu yang panjang seperti 2 x 40 menit dan 2 x 60 menit itu menjadi beberapa tahapan pembelajaran yang diselingi dengan tahapan Excite. Pada tahapan ini, guru menarik perhatian (atensi) siswa atau mahasiswa terhadap informasi yang akan diberikan.

 

Ada beberapa cara untuk membuat siswa menjadi excited, tertambat kembali atensinya pada pembelajaran. Salah satunya adalah dengan memberikan humor. Tapi sangat penting untuk dicatat bahwa humor yang baik dalam sebuah pembelajaran bukan sembarang humor. Lawakan yang diketengahkan harus berkaitan dengan konten (materi). Jangan sekali-sekali memberi humor yang tidak ada kaitannya, apalagi sering. Anda akan jadi badut saja di depan kelas. Useless! Alih-alih mau mendapatkan kembali perhatian siswa dan membuat siswa berada dalam engaged time, eh malah humor yang disajikan jadi pengalih perhatian terhadap konten (materi pelajaran). Rugikan? Humor bisa jadi pemusat perhatian pikiran siswa yang sudah mengembara entah kemana, bisa juga malah jadi distractor, jadi pengacau, dan bikin pengembaraan mental siswa makin jauh…jauh…dan jauh.

 

Saya pernah terkagum-kagum dengan cara seorang kolega (Ibu Dewy Yani) untuk memusatkan kembali perhatian siswa setelah menyelesaikan sebuah siklus belajar agar siap untuk siklus berikutnya. Setelah siswa Bu Dewy Yani menyajikan perihal osmosis dengan sangat menarik, eee diam-diam beliau di awal pembelajaran sudah menaruh sebuah gelas kaca bening berisi biji kedelai dan air ledeng. Wal hasil, setelah siswa menyelesaikan pembelajaran osmosis yang sudah dirancang dengan menarik, dan siswa mulai kehilangan atensinya karena sebab waktu (ingat atensi bisa bertahan 15 s.d. 20 menit!), tiba-tiba saja biji-biji kedelai di dalam gelas kaca bening itu seakan berlompatan keluar gelas. Sebenarnya bukan hal yang aneh, karena biji-biji kering itu melakukan imbibisi. Menyerap air. Sel-sel biji kedelai yang”kekurangan air” itu menyerap air, akibatnya, ukurannya jadi tambah besar. Biji-biji kedelai menggembung bersamaan. Selanjutnya, volume gelas tak cukup lagi menampung biji-biji itu, dan akhirnya “berlompatanlah mereka” jatuh dari bibir gelas. Anak-anak jadi kaget, memberikan atensi pada “keanehan” di meja guru dan mulai engaged kembali. Bu Dewy dan siswa-siswanya kemudian siap masuk ke siklus belajar berikutnya, yaitu membahas “imbibisi”.

 

Nah, contoh memusatkan perhatian yang dilakukan Bu Dewy itu adalah contoh yang bagus menurut saya. Siswa jadi termotivasi dan engaged time siswa terjaga.

 

Oh ya, sekedar nambah informasi, menurut Robert E. Slavin dari John Hopkins University pada bukunya Educational Psychology—Theory and Practice, 1997, mengatakan berdasarkan hasil penelitiannya bersama Karweit, engaged time dari sebuah pembelajaran yang dirancang dengan baik-pun hanya sekitar 60% dari total alokasi waktu yang tersedia (allocated time). Jadi, saya mengajak semua pendidik untuk serius merancang dan melaksanakan pembelajaran kita agar engaged time siswa atau mahasiswa bisa meningkat. Tidak wasting time gitu loh…

About these ads
  1. Juli 16, 2008 pukul 10:17 pm

    memang bukan hal yang mudah utk menjaga engaged time anak2, lebih2 siswa smp dalam kbm. konsentrasi otak anak utk fokus pada materi konon hanya sekitar 20 menit utk setiap tatap muka. belum lagi anak2 harus melibatkan indera mata dan telinga. dalam kondisi demikian, memang kreativitas guru menjadi solusinya. ada banyak cara yang bisa digunakan. CTL yang sekarang masih menjadi trend sebenarnya juga termasuk salah satu pendekatan utk menjaga engaged time anak2, termasuk model yang diterapkan oleh bu dewy itu. yang jadi persoalan, berapa persen sih, pak, guru yang peduli ke arah itu. repotnya lagi, masih banyak temen sejawat yang lebih suka mengejar target kurikulum daripada menciptakan atmosfer pembelajaran yang menari. ini postingan yang bagus banget, pak, utk masukan bagi temen2 guru, termasuk, saya, hehehehe :lol:

    =========
    to Pak Sawali Tuhutseya

    Betul Pak, pendekatan CTL (Contextual Teaching and Learning) salah satu alternatifnya juga.

  2. Juli 16, 2008 pukul 11:00 pm

    Pasti alokasi waktu itu akan terpangkas oleh menghapus papan tulis, mengisi presensi (daftar kehadiran siswa), senyum sana- senyum sini sekedar jual tampang pada siswa baru, he..he… atau hal-hal lain seperti terlambat sampai ke sekolah karena harus ngantri bensin dulu di SPBU yang hampir sebulan ini susah didapat, kemogokan di jalan karena malas nyervis motor, ban bocor, dan disiplin Pak Suhadi yang rendah karena suka ngomong-ngomong sama rekan sejawat hingga lupa masuk kelas.

    :roll: :lol:

    jadi inget jaman sekolah dulu, kalau gurunya gak enak ngajarnya, aku lebih sering pindah “kelas”, diwarung yang persis ada ditembok belakang sekolah :lol:
    *digaplok pak suhadi*

    tapi, itu juga sebuah contoh umum di sekolah-sekolah kita, bagaimana guru tidak mampu menarik minat siswanya yang bandel dan pemalas untuk fokus pada pelajaran.

    Lah kalau tertarik aja engga, gimana mau mempelajarinya dengan ikhlas dan senang hati .. halah :mrgreen:

    -salam pak-
    *dari mantan murid yang sering bolos dan gangguin guru*

    ==================
    to lainsiji

    Berarti sama dunk. Saya juga suka bolos, tapi gak sering-sering amat si. Yah, masih suka ngitung-ngitung biar masih bisa naik kelas. :mrgreen:

  3. Juli 17, 2008 pukul 12:49 am

    mungkin ini yang harus jadi fokus pertama para guru dan tenaga pengajar jangan sampai dah capek2 menjelaskan anak muridnya pada bosan dengan ajaran sang guru akhirnya teori2 yang dikeluarkan oleh guru enggak ada yang sampai diotak para murid :D

    *beda klo murid bosoh macam saya biar bagaimana pasti enggak paham2 juga

    ==============

    to gelandangan

    sebenarnya tidak ada orang bodoh, Gel. Cuman orang itu gak menggunakan semua potensinya dengan maksimal. Kamu gak keliatan bodoh kok. he..he…

  4. Juli 17, 2008 pukul 8:44 am

    Bagus. Lebih penting praktiknya tentunya. Selamat ngecas aki ya

    ===========
    to Pak Ersis Warmansyah Abbas

    Betul Pak, dengan pelatihan, ilmu pengetahuan yang mulai mengawang-hilang, bisa ditangkap dan diingat-ingat lagi. Juga nambah informasi dan ilmu baru. Lalu kenalan dengan banyak orang baru.

  5. agusampurno
    Juli 17, 2008 pukul 9:06 am

    Pak Suhadi,
    salam hormat saya dari Jakarta.

    Artikel anda khas artikel guru yang kreatif.
    Jangan khawatir Pak Suhadi, gunakan perencanan mingguan, maka semua akan baik-baik saja dikelas.

    ==================
    to Pak Agus Sampurno

    Wah, seorang guru kreatif dari “global jaya-Jakarta”, peseminar tangguh macam Bapak, berkenan membaca tulisan saya. Senangnya.

    Perencanaan mingguan ya, Pak.

  6. Juli 17, 2008 pukul 1:55 pm

    menurut saya ini sesuatu yang sulit…
    yang bisa saya lakukan adalah berusaha membuat suasana senyaman mungkin buat kita dan murid-murid… sehingga atensi mereka tetap pada pelajaran…

    ===============
    to Pak Bakhrian

    Saya sependapat dengan Pak Dosen. Kalau atmosfer kelas menyenangkan, pasti OK.

  7. Juli 17, 2008 pukul 4:13 pm

    engaged time = netto ya pak?

    pernah ditawari pindah ke banjarmasin pak???

    ===============
    to Cat(ra)

    Seratus buat Cat(ra)!
    Kamu bener banget

    Ditawarin ke Banjarmasin? Kalau buat ngajar pernah juga. Kebetulan ada kolega yang nawarin. Cuman, prinsip saya kota atau kampung: Sama Saja. Yang penting berbuat yang terbaik. Profesional gitu.
    Ada kepuasan tertentu kalau kita dari pelosok bisa membuktikan diri. Perjuangan untuk dikenal orang lebih berat. Lebih banyak tantangannya. Tapi mungkin nanti, beberapa tahun ke depan saya mo pindah ke kota amuntai (kota kabupaten). Udah ada yang nawari beberapa, termasuk Kadis. Sekarang saya mo buktiin ke guru-guru yang suka ngeluh itu, kalau di kampung kita bukan berarti MATI. He..he.. kok jadi narsis.

  8. Juli 17, 2008 pukul 9:09 pm

    kalo pake games bisa gak pak…karena saya lebih suka ngegames…hehehehe…

    o ya pak…jadi guru enak ya…saya dari dulu cita-cita jadi guru gak kesampaiannn tuhhh….

    ================
    to Imoe

    Games juga salah satu alternatif Moe. Kalau kamu kunjungan nemuin anak-anak, gunakan games. Itu bikin kita cepat akrab dengan mereka.

    Kamu kan guru juga Moe, bahkan lebih, kamu inspirator, motivator, entertainer, buat anak-anak. Tetap semangat Moe. Ya too!

  9. Juli 17, 2008 pukul 9:55 pm

    Untuk siap selalu menghadapi siswa yang anytime bisa kehilangan engaged time…guru harus siap dengan plan A, B dan C … perencanaan/persiapan sebelum mengajar memang penting ya pak. Makasi bagi2 ilmunya

    =============
    to 1nd1r4

    Setuju nd1. Guru itu juga seorang “decicion maker” bahkan di setiap detik, dan menit. Guru harus mengambil keputusan. Bayangkan ada 20 s.d 40 individu unik di dalam sebuah kelas. Lesson jarang sekali berada di track yang kita harapkan (sesuai lesson plan yang dibuat), kalau guru gak memanage-nya dengan baik saat pelaksanaan, atau terkendala hal-hal diluar kontrol guru. Jadi alangkah baiknya kalau guru punya plan B, atau bahkan sampai C … Sama-sama Nd1.

  10. Juli 17, 2008 pukul 10:18 pm

    saya setuju bahwa seorang pendidik tak harus jadi badut untuk menarik perhatian siswa buat ‘engage to learning’. kalau berlebihan malah tak hanya mengalihkan perhatian siswa sama sekali dari pelajaran, juga menjatuhkan martabat si pendidik.
    artikelnya menarik! superb deh!

    mau ngingatkan pak suhadi buat isi bensin malam ini aja, biar besok bisa mereduksi waktu yang terbuang.
    (percaya, saya percaya kalau pak suhadi guru hebat, gak seperti yang dianalogikan…)

    ==================
    to Marshmallow

    Bener percaya? He..he…

  11. Juli 18, 2008 pukul 11:09 am

    Assalamualaikum Suhadi, wah gambarnya pina kaya ustadz jualah. He…he….kaya apa di sekolah, pasti jadi guru kocak. ana tinggal di Martapura parak SMP 2, ana babini wan Nazmah, pacar bahari jua. Anak sudah ada tiga, lalakian baratan, Amar, Amir dan Yazein. Hub ana di 0511 730 2252 atau 08565365000

    =================
    to Adi Permana

    Ouw, kawan sekamar waktu sama-sama berjuang di Banjarmasin. Berapa tahun ya kita sempat berbagi kamar?

    Tampilannya haja kaya ustadz, kalakuan masih kaya bahari jua, wal-ai. Ha..ha… Kam tahu saurang. Tapi paling kada, bila aku pakai “bungkus” kaya itu ada “rem”-nya. Supaya kada “blong” tarus. Ha..ha… Isi masih berusaha menyesuaikan kemasan, ha..ha..

    Yang paling kuingat tentang kamu, kalau marah suka “ngdiemin, gak bicara” he..he.. Trus kamu masih main tenis kan? Sayang, prestasimu kalau gak dikeluarkan. Kamu paling mau menggitari aku menyanyi, walau suaraku ancor. Kalau Beni biasanya kan malas, he..he.. Sekarang kamu udah jadi wartawan hebat (aku bangga). Titip salam sama Nazmah. He..he… jadi ingat masa-masa dulu. Udah punya anak tiga. Aku ketinggalan jauh dong. Ntar aku telpon ya.

  12. Juli 18, 2008 pukul 10:59 pm

    artikel bpk bermutu.. salut deh.
    memang utk mengajar kita perlu mempersiapkan berbagai strategi.

    ==============
    to eNPe

    Makasih.
    Satujuuu

  13. Juli 19, 2008 pukul 1:25 pm

    Wuidih saya dari dulu pengen tau istilah namanya apa.

    Yg jelas, engaged time orangtua lebih parah dari anak2. Musti pintar2 cari akal

    ==================
    to utchanovsky

    Istilah dalam bahasa indonesia gak ada kayaknya. Maklum, teori psikologi pendidikan kita tertinggal 15 – 10 tahun barangkali. Gak banyak buku terjemahan di indonesia. Jadi istilah dalam bahasa indonesianya gak ada.

    Betul, seperti kata teman-teman di atas meng-“engage to learning” anak-anak sulit, orang dewasa mungkin lebih sulit lagi. Apalagi kalau mereka sudah merasa tua dan cukup, serta rasa ingin tahu (curiousity-nya) udah kurang.

  14. Juli 22, 2008 pukul 4:27 pm

    wah sangat sulit yah,,, kalo saya sih tinggal istirahat 15 menit main game n lanjut lagi…
    from http://blog.aprillins.com yes this is aprillins aprillins aprillins!

    =============
    to aprilins

    sulit, bagi banyak orang lho?
    sementara yang lain–si self regulated learner, bisa “menguasai-mengontrolnya”lho

  15. Juli 24, 2008 pukul 7:02 am

    Pak Suhadi, tulisan-tulisan seperti ini kalau dibukukan bisa jadi buku lho…

  16. Juli 24, 2008 pukul 7:05 am

    Sorry, maksudku kalau dikumpulkan, bisa jadi buku.

    =============
    to Daniel Mahendra

    Iya Mas Daniel, mudah-mudahan.

    Trus dengan dipublish di blog, nanti dengan adanya komentar teman-teman juga pembahasannya bisa lebih berkembang dan membuka pemikiran-pemiran baru untuk penyempurnaannya.

  17. Juli 24, 2008 pukul 11:30 am

    Salam! Saya dari Malaysia!

    Wah..seronok sungguh baca posting Pak Suhadi.

    Bila mengajar dan belajar memang penting hidupkan suasana yang ceria dan gembira dan positif.

    Tahniah, pak.

    ================
    to coachsha

    Salam juga!

    Thanks

    Betul, itu kunci awal sukses mengajar

  18. Juli 31, 2008 pukul 6:44 pm

    Saya adalah seorang guru baru, dan saya baru pertama untuk mengajar siswa smp kls v11. Saya mengajar B. Indonesia. Bagaimana ya cara pertama kali untuk mengajar ? Saya mohon pendapat dari kalangan guru yang sudah profesional. Thx

  19. Agustus 4, 2008 pukul 8:25 am

    Sangat bermanfaat… Keep doing that.. good work..

  20. Mia
    September 21, 2008 pukul 5:19 am

    artikel bapak, mencubit saya…….. trus terang ini saya suka mengevaluasi diri setelah pembelajaran……. anak-anak dapet apa sih hari ini ? kayanya cuman dapet bete……… dari 10 kali pertemuan kayanya yang bener bener bermakna hanya 3 kali aja, sisanya hanya melaksanakan kewajiban masuk kelas saja. Padahal kata temen-temen sih saya termasuk guru yang kreatif (katanya)
    Tidak hanya siswa, guru seringkali kehilangan konsentrasi dalam kegiatan pembelajaran.. HP bunyilah, ada tamulah, dipanggil KSlah, ada guru nyelonong masuk ngajak ngobrol, mikirin persoalan rumah…………..
    Perlulah kiranya kita masuk ke kelas dengan focus………..
    Do the best ajalah ………

  21. Ino
    Januari 11, 2009 pukul 3:09 pm

    Mas sya mau tanya neh?saya punya aki 55Ah,kalo mau dicas pake adaptor kira-kira berapa ukuran ampere adaptornya,gimana cara masang kabel min plus ke aki,apakah cukup dipasang yang plusnya saja?atao sebaliknya?trim

  1. No trackbacks yet.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: