Beranda > cerpen > Ikhlas Untuk Kepergian Orang-Orang Tercinta

Ikhlas Untuk Kepergian Orang-Orang Tercinta


makam baqi'
makam baqi’

Author: Suhadi

Setelah berpisah dengan isteri dan Bunda yang ingin jalan-jalan mencari oleh-oleh untuk keluarga, aku berjalan menerobos kerumunan laki-laki aneka bangsa di depan komplek makam Baqi’. Ya, hanya laki-laki. Karena perempuan memang dilarang masuk komplek makam. Hitam, putih, kuning—semua perbedaan warna berbaur—melebur menjadi satu: hamba Allah yang mengharap ridhoNya. Baqi’—hamparan tanah kuburan untuk penduduk Madinah sejak jaman jahiliyah sampai sekarang. Jamaah Haji yang meninggal di Madinah juga dimakamkan di sini. Dahulu komplek makam Baqi’ terdapat di pinggiran kota Madinah. Sekarang, karena perluasan dan pengembangan Masjid Nabawi, Baqi’ telah menjadi satu kesatuan dengan Masjid. Setiap pagi, seusai sembahyang shubuh, komplek makam yang terdapat di sebelah timur Masjid Nabawi ini dibuka hingga menjelang waktu dzuhur.  

 

 

 

Semilir angin pagi yang masih dingin di penghujung November justru menyegarkan tubuhku yang tadi malam beri’tikaf di Masjid Nabawi hingga pukul dua. Menyerahkan segenap kefakiran diri kepadaNya. Memohon belas kasih dan ampunanNya. Meminta kepada Sang Maha Pemberi akan kekayaan hati—penuh bahagia. Menangis di hadapan sang Rabb, Tuhan bagi sekalian alam. Lalu kembali lagi saat alarm di telepon genggamku berdering di pukul setengah lima. Berangkat tergesa untuk shalat shubuh di hamparan sajadahNya.

 

Secara fisik aku memang sangat lelah. Apalagi tujuh hari yang lalu aku telah menyelesaikan rangkaian ibadah haji di Mekkah. Ditambah kepergian ayah untuk selamanya ketika bis kami menyuguhkan pemadangan kubah hijau makam Rasulullah lewat kaca jendela. Ayah menghembuskan nafas terakhirnya. Sungguh sebuah pengalaman spiritual tak ada tara. Aku berjalan mengalir bersama para peziarah yang lain. Mudah-mudahan ini bukan hari terakhir kali aku berada di Madinah. Malam nanti kami akan dijadwalkan ke Jeddah untuk kembali ke tanah air. Kembali pulang dan meninggalkan segala bentuk kenangannya. Ini mudah-mudahan bukan kali terakhir aku menjejak kaki di Tanah Haram ini. Tanah yang mencatat jejak-jejak perjuangan Nabi Akhir Zaman. Mudah-mudahan ini bukan kali terakhir aku bisa menatap pusara ayah. Suatu saat aku ingin kembali ke ini jazirah.

 

Mengikuti iring-iringan peziarah lain, aku menaiki anak-anak tangga dari marmer dengan warna-warna khaki. Siapapun pasti akan terpesona dengan keindahan susunan ubin yang membentuk mozaik beraksen persegi tumpang tindih dan simetris dengan presisi yang sangat rapi. Ciri khas ornamen Islam. Untuk memasuki gerbang yang selalu dijaga oleh puluhan askar, kita memang harus terlebih dahulu menaiki anak tangga. Posisi pintu gerbang jauh lebih tinggi dari halaman Masjid Nabawi. Tiga atau empat meter barangkali. Mungkin aslinya makam Baqi’ memang demikian, berada di atas bukit. Atau, barangkali ini disebabkan karena komplek makam Baqi’ selalu ditinggikan. Diurug dengan material tanah baru karena komplek pemakaman itu tentu sudah penuh dengan kuburan. Aku bisa bayangkan bagaimana posisi kuburan-kuburan itu. Pasti terdiri dari beberapa lapisan kuburan untuk mengakomodasi pemakaman dari jaman dulu hingga sekarang.

 

Bila aku alihkan pandangan ke barat, kulihat bangunan megah yang anggun dan cantik. Masjid Nabawi. Entah sudah berapa kali kudengar pujian para jamaah tentang keindahan masjid Nabi ini saat duduk bersebelahan dengan mereka. Akupun tentu takkan menyanggahnya. Dari awal melihat aku sudah menyanjungnya. Kubah hijau makam Rasulullah di sebelah timur Raudhah menggetarkan dada—Assalamu’alaika ya ayyuhan Nabiyu wa rahmatullahi wa barakatuh… Sementara itu, sepuluh menara anggun dan enam di antaranya menjulang setinggi sembilan puluh dua meter ke angkasa. Berlatar langit biru jernih tak terkira. Pintu-pintu raksasa nan megah yang berjumlah sembilan puluh lima. Ratusan menara-menara lampu besisi enam dari marmer kualitas terbaik, berornamen lekuk tumbuhan dari metal berwarna emas—atau barangkali memang terbuat dari emas, dengan lampu-lampu cantik di bagian puncaknya menghias halaman luas masjid saat matahari kembali ke peraduannya. Halaman yang senantiasa wangi—bersih tak berdebu. Oh nikmat rasanya bila sesekali aku berbaring-baring di halaman itu sembari bercakap dengan beberapa saudara dari negeri-negeri nun jauh di sana. Mendengar berbagai cerita tentang negeri mereka. Sekedar melepas penat setelah berkeliling area pertokoan cindera mata Al Haram di selatan Masjid. Sekedar menawarkan beberapa oles counter pain untuk Si Tinggi Besar dari Turki yang sedang memijit-mijit lututnya. Sekedar berbagi permen sugus pada Si Hitam Maskulin dari Somalia. Sekedar menjepretkan kamera untuk mengabadikan sebuah momen bersama Si Sipit dari Cina, atau sekedar memberi sekeping parasetamol untuk Si Kumis dari India yang sedang sakit kepala. Semua tak sekedar bersahabat, tapi juga bersaudara dan boleh bercengkerama. Oh damainya.

 

Aku sampai di depan gerbang.

Assalamu’alaikum. Mudah-mudahan sejatera atas kamu sekalian wahai penghuni tempat kaum beriman. Apa yang dijanjikan kepadamu—yang masih ditangguhkan besok itu, pasti akan datang kepadamu, dan kami Insya Allah akan menyusulmu. Ya Allah, ampunilah ahli Baqi’ Al Gorqod. Setelah masuk melewati gerbang yang merupakan satu-satunya akses keluar-masuk peziarah, aku menjauh dari kerumunan orang yang di bagian depan makan Baqi’. Kerumunan orang memang terjadi di bagian depan saja. Setelah menjauh dari tempat itu, aku bisa berjalan santai dan leluasa.

 

Kerumunan orang di depan lebih disebabkan oleh karena di tempat itu terdapat beberapa board hijau berukuran besar bertuliskan penjelasan tentang komplek makam Baqi’. Sebagian sedang membacanya. Di bagian depan ini juga terdapat beberapa makam yang merupakan makam dari istri Nabi SAW, seperti  Siti Aisyah  r.a., Ummi Salamah,  Juwairiyah, Zainab, Hafsah binti Umar bin Khattab dan Mariyah Al Qibtiyah. Di bagian lain tak jauh dari deretan board hijau juga ada makam putera dan puteri Rasulullah, di antaranya Ibrahim, Siti Fatimah, dan Zainab. Lalu di bagian lainnya ada makam Khalifah Usman bin Affan r.a. dan Ruqayya Halimatus Sa’diyah, ibu susu Rasulullah.

 

Di bagian depan ini, orang-orang berkerumun mendengarkan penjelasan dari pemandu ziarah kelompok mereka masing-masing. Mereka membentuk kelompok-kelompok dan mendengarkan penjelasan-penjelasan dengan berbagai bahasa yang berbeda. Tergantung dari negara mana mereka berasal. Di sela-sela kerumunan orang-orang tersebut aku juga melihat askar atau petugas yang berjaga-jaga. Seragam atau gamisnya berbeda dari peziarah. Sorban merah mereka rapi terpasang di kepala. Khas pula dengan handie-talkie di tangan. Pernah dua hari yang lalu saya bertanya kepada mereka tentang letak kuburan-kuburan keluarga, sahabat, dan kerabat Rasulullah yang terdapat di komplek ini. Mereka hanya menjawab,. “tak tahu.” Awalnya saya heran juga dengan jawaban itu. Tapi setelah saya tanyakan dengan pembimbing ibadah dari kloter, maklumlah saya. Mereka menjawab “tak tahu” karena mereka takut kita akan melakukan ritual berlebihan terhadap kuburan-kuburan itu. Mereka takut kita akan mengkeramatkan kuburan—meminta sesuatu lewat do’a pada tanah kering berbatu itu. Mereka sangat takut bila kita, saudaranya—seagama jatuh terjerembab ke dalam dosa besar. Syirik kepada Allah Azza Wa Zalla.

 

Aku semakin menjauh dari hiruk-pikuk suara-suara pemandu dan petugas yang sesekali menegur secara persuasif para peziarah yang berlaku menyimpang dari syariat ziarah kubur. Kususuri jalur-jalur yang dibentuk apik dari bebatuan gunung. Batu-batu sejenis yang berukuran sebesar kepala kerbau berserakan di kanan kiriku sebagai penanda kuburan. Jalur-jalur itu membagi komplek makam yang luas—seluas mata memandang, menjadi beberapa bagian. Tiga hari yang lalu saat kucoba mengelilingi komplek makam Baqi’ bersama Abdullah—teman sebelah kamar, terasa sekali luasnya tempat ini. Perlu lebih dari satu setengah jam untuk mengelilinginya. Aku tidak tahu pasti berdasarkan apa mereka membagi-bagi lahan luas ini dengan jalur-jalur untuk pejalan kaki itu. Lahan pekuburan tidak dibagi berdasarkan luas area. Bentuknya jadi beraneka. Mungkin jalur-jalur dibuat berdasarkan kontur kemiringan lahan yang berbukit-bukit. Tetapi semuanya—jalur-jalur bersusun batu, tanah Baqi’ yang berkerikil—berdebu, dan deretan batu-batu penanda kuburan berwarna abu-abu—menimbulkan harmoni yang melapangkan. Tidak ada suasana angker, bisu, dan menakutkan. Tak ada semak belukar, rumput ilalang, atau pohon-pohon beku mematung kamboja—seperti komplek-komplek pemakaman di kampungku. Hanya sesekali terdengar kepak merpati-merpati terbang setelah memungut aneka bijian yang dilemparkan oleh peziarah semalam. Kurasa Baqi’ adalah tempat peristirahatan yang penuh kedamaian.

 

Aku terus berjalan menuju ke suatu area di mana terdapat pusara ayah. Satu dari sekian tanda batu itu adalah miliknya. Area di mana gundukan-gundukan tanah longgar masih kentara. Area yang letaknya tak jauh dari sekelompok orang bergamis putih dan dua buah mobil putih dari Bulan Sabit Merah berada.

 

Ada yang meninggal, pikirku. Ah tentu saja iya. Tadikan saat shalat shubuh ada shalat kifayah. Hampir setiap waktu setelah shalat fardhu—ada kifayah. Tak di Mekkah saja, di Madinah juga. Jenazah ayahku juga baru tujuh hari yang lalu dishalatkan.

 

Aku berdiri menatap pusara ayah. Aku telah kenali betul batu abu-abu penandanya. Barangkali aku beruntung tujuh hari yang lalu, karena aku diberi kesempatan bersama beberapa teman untuk mengantar ayah untuk memakamkannya.

 

Kali ini aku tak boleh menangis. Bukankah aku telah mengikhlaskannya? Bukankah aku telah berusaha memberikan balasan yang terbaik padanya? Walau tentu tak setara. Mungkin keikhlasanku belum sempurna. Aku tetap merasa ada yang hilang di dalam dada. Kubendung sesuatu yang mulai menghangat di pelupuk mata. Aku tak kan menangis. Jangan sampai menangis.

 

Begitu banyak kenangan kebahagiaan bersama ayah. Sebuah sosok yang telah membentukku menjadi manusia. Aku masih ingat bagaimana dia mengajarkanku tentang kehidupan.

“Ingatlah anakku, jadilah manusia yang berguna. Karena semulia-mulia manusia adalah manusia yang punya nilai guna bagi sesama.”

 

Aku hanya mengangguk-angguk. Saat itu aku masih begitu kecil untuk meresapi makna. Tapi kata-kata itu, yang meluncur dari sosok yang begitu kucinta—tetap terngiang setiap kala di kepala. Kata-kata yang meluncur dari sosok yang sesekali merotan kaki karena malas ke mushola. Bukan tanda murka, tetapi lebih bermakna cinta. Ayah, sosok yang telah mengajariku bagaimana mencintai tanah dan segenap alam ciptaanNya. Mengajariku berkotor ria di antara belut-belut, cacing, kodok, lumpur sawah, dan cangkul desa—karena bertani bukan pekerjaan hina. Memanjat kelapa dan sesekali meresapi kicau prenjak di atas ranting-ranting mangga. Sebuah sosok yang rela berkorban apa saja untuk biaya pendidikan anaknya.

 

Aku menarik nafas, menghela udara. Ah, do’a ayah-bunda telah membuat hidupku bahagia—berkeluarga. Hidup mapan berkecukupan, tak kurang suatu apa. Ah, tidak. Aku tak boleh menangis lagi. Aku tak kan menangis. Jangan menangis lagi. Paling tidak aku telah membantu sosoknya menggapai cita mulia. Menunaikan rukun kelima walau di usia senja. Ya, dengan usaha tambak ikanku yang cukup maju, aku bisa mengajak ayah-bunda ke tanah suci bersama isteri tercinta.

 

Suara mesin-mesin mobil jenazah bulan sabit merah membuyarkan lamunanku. Kupandangi kelompok pria bergamis putih itu. Mereka bersalam-salaman. Beberapa bercakap sebentar sekedar berbela sungkawa kepada seorang pemuda. Beberapa di antaranya, yang kukira petugas memasukkan beberapa peralatan penguburan seperti sekop dan tandu ke dalam mobil. Aku mendekati mereka.

 

Kusalami mereka satu persatu. Mereka tersenyum seraya mengucapkan salam dan terimakasih. Sejenak aku tertegun ketika kulihat dari dekat pemuda itu—berusia tujuhbelasan sedang menghapus air mata. Aku tahu betul bagaimana rasanya jika air bening itu membasahi mata. Aku tahu betul apa yang berkecamuk di dadanya. Tak mudah meredam sesuatu yang ada di sana. Tujuh hari yang lalu, aku juga mengalaminya. Kudekati pemuda itu. Kujabat erat tangannya. Tak ada kata bisa kubuka untuk meringankan jiwanya. Aku tak tahu mengapa. Kuraih pundaknya, saat ia lebih dulu melakukan hal yang serupa. Aku merangkulnya. Sekilas terbersit bahwa ini bukan adat kebiasaan buatku. Tapi ledakan tangisnya membuatku menepuk-nepuk punggungnya. Aku bisa merasakan ledakan membahana di dalam jiwanya. Hmm..seseorang yang telah dikubur tadi di sana, pastilah bukan orang biasa untuknya.

 

Tak ada kata yang bisa kubuka untuk bertanya. Tak ingin aku mengganggunya dengan hanya sekedar basa-basi tanya: “Apakah dia ibumu, Nak?” atau “Apakah itu ayahmu, seperti ayahku yang terbaring di sana?”

 

Tak ada kata bisa kubuka untuk bertanya. Tapi itu lebih kusuka, karena memang tiada guna. Kubiarkan beberapa tetes air mata membasahi punggungku. Hingga beberapa saat lamanya sampai hujan itu mereda.

 

Seorang lelaki setengah baya yang tampak sebagai kerabatnya atau mungkin sahabatnya, atau entah siapa, menepuk-nepuk pundaknya. Pemuda itu melepaskan rangkulannya. Dia tersenyum dan mengangguk kepadaku. Kujabat erat sekali lagi tangannya. Membersihkan sisa-sisa di dalam dadaku dan di dadanya. Ikhlas untuk kepergian orang-orang yang kami cinta.

 

Cerpen ini ditulis untuk orang-orang muda yang beberapa hari ini menginspirasi saya:

Catra Prathama

Taruma Sakti Megariansyah

Marshmallow

 

Cerpen ke-5 saya. Ditulis karena ada kata kunci nyasar di blog saya: haji dan umrah

Karena masih dalam tahap belajar, saya sangat mengharap kritik dan saran Anda yang berkenan membaca.

Alabio, 19 Juni 2008

 

 

 

About these ads
  1. Juni 20, 2008 pukul 7:52 pm

    wah, jadi teringat ayah saya yang juga sudah almarhum beberapa tahun yang lalu.
    terima kasih juga untuk cerpennya yang pake pesan “dedikasi” ya, pak?
    teteup cerpen pak suhadi deskripsi setting-nya jelas.
    ada beberapa unsur yang pengalaman pribadi rasanya.

  2. Juni 20, 2008 pukul 8:08 pm

    To Marshmallow

    Yap, sebagian kecil di antaranya.
    Misalnya pelukan di pemakaman itu sungguh kenyataan. Tanpa kata-kata. Biasanya saya banyak bicara, tapi melihat anak itu…saya tak dapat bersuara.
    Selebihnya fiksi.

  3. Juni 20, 2008 pukul 9:06 pm

    ada kritiknya pak hadi…membangun yaa ini. Deskripsinya bagus, tapi terlalu panjang, untuk alur cerita kurang ada sense nya, datar.. Saya dari awal nyari2 dimana letak gregetnya..tapi sampe akhir belum nemu.Heheh..kita sama2 masih taraf belajar kok pak… Saya link yaa..terimakasih.

  4. Juni 20, 2008 pukul 9:36 pm

    To Ummu Mumtazah… Wah makasih mampir lagi. Kritiknya ibu benar. Saya sadari itu. Mulanya saya ingin menjadikan deskripsi sebagai poin plus pada cerita ini. Tapi kayaknya jadi overloaded ya. He.he..mungkin karena itu alurnya gak kerasa trus juga jadi datar dan blm terasa gregetnya. Thanks for supporting my learning process. Eit, saya juga sambil belajar english ya bu. Kalau tidak pas kasih tau saya.. :D

  5. Juli 11, 2008 pukul 6:06 pm

    @bu mumtazah
    wah kalau saya deskripsi nya itu lho yang bikin keren…

  6. Juli 11, 2008 pukul 6:07 pm

    @bu mumtazah
    wah kalau saya deskripsi nya itu lho yang bikin keren…
    yang bikin cerpen ini lebih hidup

  7. suhadinet
    Juli 11, 2008 pukul 8:00 pm

    To Catra

    Karena kamu nambahin komen di posting ini, aku masukin deh fotonya, dulu males upload soalnya ukurannya gede banget.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 39 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: