Akhirnya setelah sekian lama berjuang, berhasil juga aku menebarkan virus ngeblog ke seorang sahabat. (Hiks, masih kalah dengan Pak Zulmasri yang berhasil menyebar virus ke beberapa teman beliau di sekolahnya.)

 

Ya, gak papa-lah. Yang penting sudah ada satu korban. Korban lainnya pasti akan berjatuhan. He..he..

 

Namanya Hatmiati. Ibunda dari Fajar ini adalah guru Bahasa Indonesia yang sekarang cuti karena terpilih menjadi anggota KPUD Kabupaten Hulu Sungai Utara. Hatmiati, menurut saya adalah sebuah sosok penuh kegigihan, semangat dan tak pernah putus asa. Sebagai orang yang selalu sibuk dengan berbagai aktivitas, dari sebagai guru di SMPN 7 Amuntai (cuti), Dosen STIPER Amuntai, Dosen STAI RAKHA, tutor Universitas Terbuka Unit Belajar Jarak Jauh Sungai Pandan, tentor PRIMAGAMA Amuntai (cuti), serta seabrek kegiatan organisasi  lainnya, Hatmiati ternyata tetap begitu menggebu ingin memiliki blog sendiri. (*maruk amat sieh…. Bagi-bagi dong job-nya)

 

Ajaibnya (*sebenarnya gak ajaib-ajaib bener! ;) ), Hatmiati lewat penjelasan-penjelasan melalui percakapan telepon bisa membuat blog. Otodidak! Awalnya Hatmiati ingin membuat blog di belogsepot. Tapi saya sarankan untuk membuat di WP saja, soalnya (menurut saya) lebih user friendly.

 

Selamat buat Hatmiati. Semoga langkah yang sudah diambil tak berhenti di masa-masa awal. Blognya akan terus diisi dengan tulisan-tulisan untuk menambah jumlah guru yang memiliki blog. Berbagi pengetahuan dan pengalaman ke banyak orang.

 

Sekali lagi selamat buat Hatmiati!

Author: Suhadi

 

Pada aspal hitam panas berfatamorgana

Dan atmosfer berasap mesin-mesin kota

 

Di perempatan jalan rimba

Serta di bawah sergap halte buas berbahaya

Kaki-kakimu kecil tertatih letih tak punya kuasa

Dialasi sandal jepit hijau-biru tak rata

 

Haruskah selamanya kamu berlari berebut masuk ke pintu kesempatan?

Menjual belas kasihan

Yang terbaca lewat headline-headline koran

Yang terdengar lewat kecek-kecek tutup botol minuman

Yang terpandang lewat kulit berbakar matahari

Yang tercium lewat dekil baju berpeluh daki diperam hari

 

Jikalau titian makin terus tampak mendaki

Kapan kamu akan bisa membebas diri?

 

 Alabio, 7 Agustus 2008. (Belajar menulis puisi)

Author: Suhadi

 

Teringat kembali pengalaman saya waktu SMA dulu dan juga pengalaman beberapa rekan bloger yang dilempar pakai penghapus saat membuat keributan atau berperilaku menyimpang dari kegiatan belajar, membuat saya tertarik untuk mengupas penggunaan isyarat-isyarat nonverbal (nonverbal cues). (lihat komentar-komentar pada posting saya: Menghapus Papan Tulis). Isyarat nonverbal sangat patut dijadikan alat untuk menangani siswa-siswa yang berbicara di luar topik pembelajaran, mengganggu teman di sekitarnya, atau asyik dengan kegiatannya sendiri saat pembelajaran sedang berlangsung.

 

Menggunakan benda-benda semacam penghapus, kapur, atau apa saja untuk melempar siswa bukan perilaku terpuji seorang guru. Apalagi kalau nanti benda yang dilemparkan guru tidak mengenai sasaran. Tidak mengenai siswa yang dimaksud. Atau, bahkan dapat mengenai siswa lain yang sudah berperilaku belajar yang baik. Guru bisa jadi malu sendiri kan? Tengsin.. Cikgu! Continue Reading »

Author: Suhadi

Tulisan ini saya buat setelah terpicu oleh komentar seorang sahabat, Fitri Jamilah yang merupakan guru IPS dari SMPN 2 Karang Intan. Fitri adalah seorang guru profesional yang pertama kali saya kenal saat kami sama-sama mengikuti Lomba Inovasi Pembelajaran Tingkat Nasional tahun 2006 di Bogor. Dan untuk bidang IPS, Fitri berhasil mengharumkan nama Kalsel sebagai Juara I mengalahkan juara-juara perwakilan dari 32 propinsi lainnya. Hebat kan ni Bu Guru? Beberapa kali dia mengomentari tulisan-tulisan di blog ini, sampai akhirnya dia mengatakan tertarik untuk membuat blog juga. Ingin punya blog sendiri. Ternyata oh ternyata, sekarang Fitri muncul dengan tiga blog sekaligus, yaitu Black Zone, Puuuuuisi, dan Esai-Artikel. Salut!

Fitri, pada posting saya yang berjudul “Motivasi Belajar—Feedback Bisa Dijadikan Sarana Untuk Tujuan Ini Lho!”, memberikan komentar yang sangat menarik. Begini bunyinya:

·         Setelah saya ingat-ingat, feedback yang bapak contohkan selama ini sering saya lakukan, tapi saya tidak tau kalau itu namanya feedback. saya pikir itu yang namanya memberi penguatan. Apapun istilahnya, memang wajib dilakukan guru untuk memotivasi siswanya…,ya kan…

Pada prinsipnya saya sependapat dengan Fitri, bahwa “apapun istilahnya, memang wajib dilakukan oleh guru untuk memotivasi siswanya.” Sip!

 

Sekarang, yang membuat saya tertarik untuk menulis ini adalah Fitri berpikir bahwa apa yang telah dilakukannya itu namanya penguatan (reinforcements/reinforcers). Lalu, yang jadi pertanyaan adalah, samakah penguatan dengan feedback (umpan balik)? Saya telah menjawab komentar Fitri dengan mengatakan bahwa “kedua-keduanya bisa menjadi kabur saat kita menerapkannya di dalam kelas”. Kok bisa begitu? Ya, bisalah. He..he… Memang kita bangsa yang suka bikin kabur makna istilah-istilah khusus. (Fit, jangan marah, saya tidak menyalahkan kamu. Jangan ngambek. Cuma alangkah baiknya kalau kita sama-sama membuka lagi materi kuliah dulu waktu di FKIP Unlam  tentang apa itu penguatan dan apa itu feedback.) Sekali lagi saya tandaskan, bahwa ini cuma teori. Teori tanpa praktek sama saja dengan omong kosong, Continue Reading »

Next Page »